MUSE

MUSE
S5 ~ GOOD BYE, LUCAS



MUSE S5


EPISODE 24


S5 \~ GOOD BYE, LUCAS


\~Bella mengelus perutnya, di jari manisnya masih melingkar cincin emas pemberian Lucas. Bella tak mampu melepaskannya, rasa cintanya masih begitu besar untuk Lucas.\~


_________________


AUTHOR POV


TENG!!


Ronde pertama dimulai, Lucas memasang kuda-kuda dengan menaruh kedua kepalan tangannya di depan dada. Ia tengah berlatih dengan seorang petinju lain.


Buk!! Bak!!


Lucas memukul lawannya, namun lawannya menghindar dan berhasil memukul wajah Lucas. Zap!!


“LUCAS FOKUS!!” teriak pelatihnya.


Lucas kembali memberikan hook keras dan tetap saja lusut. Lucas geram, apa lagi lawannya dengan mudah mempermainkannya sore ini. Lawan latihannya menyeringai dan terus menghindari Lucas, membuat Lucas naik darah.


“Kenapa denganmu?? Kau tak seperti biasanya?” Pelatih berteriak lagi, menghujani Lucas dengan cercaan.


Lucas memandang tajam ke arah lawannya, ia lantas memberikan hook dan juga zap keras yang membabi buta. Satu pukulannya kena, lawannya terpelanting ke belakang. Lucas bergegas mendatangi lawannya, menyikut dengan lututnya, tanpa ampun Lucas melayangkan beberapa tinjunya ke wajah pria itu. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. Lucas yang tengah emosi tak bisa membendung amarahnya.


“LUCAS HENTIKAN!!” teriak pelatihnya.


Lucas tak mengindahkan suara pelatihnya, pria tua itu terpaksa masuk ke dalam ring untuk menghentikan aksi Lucas yang menghajar lawannya sampai hampir pingsan.


“HENTIKAN, dia bisa mati, Lucas!!” Pelatih dibantu dengan beberapa orang di sasana tinju melerai Lucas. Ia menghentikan aksi pria itu melampiaskan emosinya pada orang yang tidak bersalah.


“Shit!!” Lucas melepaskan sarung tinjunya dan meloncat keluar dari ring tinju.


Setelah membersihkan diri, Lucas membanting badannya di atas kasur empuk. Ia menerawang jauh ke luar jendela apartemennya. Hujan sedang turun dengan deras. Dulu ia memeluk Bella sambil merasakan rinai hujan yang sama. Tiap Kenangan manis mereka seakan tersimpan dalam tiap buliran air yang menetes dari langit.


Lucas terbayang wajah Bella yang sensual dan senyumannya yang hangat. Hati Lucas berdenyut sakit, nyeri mulai menggerogoti hatinya, ia begitu tersiksa saat merasakan desirannya. Baginya yang terikat oleh kematian mamanya, perpisahan dengan Bella adalah hal yang paling menyakitkan.


“Ella!!”


“Kenangan akan dirimu membuat hatiku terasa begitu sakit. Ini menyakitkan, Ella.” teriak Lucas.


— MUSE S5 —


Bis yang membawa Bella sudah sampai ke kota sebelah, semua orang di dalam bis memandang Bella dengan heran. Tak ayal mereka heran, calon mama yang satu ini penampilannya benar-benar kacau, bajunya acak-acakan, rambutnya terpotong dengan sangat tidak rapi karena Bella memotongnya dengan pisau. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam, bahkan Bella tak bisa menutupi darah yang terus mengucur dari siku tangannya karena goresan kaca.


Bella merasa sangat lelah, ia tertidur di dalam bis. Sampai akhirnya bis telah mengantarkannya pada provinsi lainnya di negara ini. Bella terbangun saat kernet bis membangunkannya.


“Nona, ini pemberhentian terakhir,” ujarnya.


“Ah, ma-maaf, kita di mana sekarang?” Bella mengerjapkan matanya.


“Kota B, ujung paling timur pulau J,” jawab pria tua itu sambil tersenyum.


“Ah, sudah sampai sejauh ini??” Bella terkejut.


“Benar, Nona. Ini sudah jam 3 dini hari. Anda mau ke mana?” tanya pria tua itu dengan iba, ia tak tega melihat gadis kecil seperti Bella penuh dengan luka.


“Saya akan turun. Apa di dekat sini ada penginapan?” Bella malah balik bertanya.


“Tidak ada hotel di sini. Tapi di sana ada motel kecil. Cukup nyaman dan juga murah.”


“Terima kasih, Paman. Aku akan membayar ongkos bisnya.” Bella mengeluarkan kartu tapping untuk membayar bis, namun saldonya tidak cukup. Ia tak pernah mengisinya untuk keluar kota, tentu saja saldonya sangat minim.


“Sudahlah tak usah di bayar, kau pakai untuk berobat saja,” ucapan pria itu membuat Bella terharu, ternyata masih ada juga orang baik di dunia ini yang mau menolongnya.


“Te—terima kasih,” sahut Bella sesunggukan.


“Aku tak tahu apa yang menjadi masalahmu, Nak. Tapi aku harap hidupmu akan lebih baik ke depannya.”


“Iya, Paman. Aku akan hidup dengan baik.”


Setelah menerima senyuman hangat dari pria tua itu, Bella berjalan menuju ke motel terdekat. Ia menyewa sebuah kamar, motel itu tidak besar namun cukup bersih. Biasanya sopir bis dan para kernetnya akan menghabiskan malam mereka di motel ini sembari menunggu tarikan selanjutnya.


Bella tersenyum setelah menerima sebuah kunci. Ia bergegas menaiki tangga menuju ke kamarnya. Bella langsung membanting tasnya dan membersihkan diri. Bella membasuh semua kotoran yang menempel pada tubuhnya, juga darahnya yang mulai mengering menjadi kerak kecoklatan. Bella berdiam diri sejenak dalam derasnya air hangat. Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total seperti ini. Bahkan sekarang ia berada di kota lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Merantau seorang diri tanpa tujuan yang pasti.


Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Pikir Bella.


“Yah, yang pasti aku harus mengisi perutku dan juga merapikan rambut.” Bella memandang bayangan tubuhnya yang terpantul di atas cermin.


“Terima kasih, ya, sudah mau bertahan,” lirih Bella sambil mengelus perutnya.


Setelah merebahkan diri sejenak, Bella membuka gorden jendela. Matahari mulai terbit, mengganti kegelapan dengan terang, menghapus dingin dengan kehangatan.


Bella bergegas mengambil dompetnya, ia membeli gunting, makanan, dan juga sekotak susu hamil siap minum. Tak lupa Bella membeli obat merah, hansaplast, dan juga perban dari mini market.


“Semuanya 150 ribu,” ucap petugas kasir.


“Ini.” Bella mengeluarkan uang dan membayarnya.


“Terima kasih.”


“Iya, sama-sama.”


Bella kembali ke dalam kamarnya. Ia menggunting dan merapikan rambutnya sembari meminum susunya dengan cepat. Bella memotong rambutnya sebahu, setelah merasa cukup rapi Bella bergegas mengambil obat-obatan yang di belinya, ia mengoleskan obat merah ke setiap luka gores dan lecet.


“Auch ...!” Bella meringis kesakitan.


Setelah merasa semuanya selesai, Bella mulai duduk termenung. Dia tak punya siapa-siapa saat ini, tak ada yang bisa di datanginya, Bella tak memiliki kerabat karena Fransisca diusir dari rumah orang tuanya, tak ada yang mau mengakui Bella dari pihak mamanya. Sedangkan papa Bella berasal dari panti asuhan.


“Tunggu!! Ada Bibi Elise,” pekik Bella saat teringat saudara papanya yang berasal dari panti asuhan yang sama. Bella hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali saat kecil. Ia tak pernah mendengar kabarnya lagi setelah kematian papa.


Tapi di mana Bibi Elise sekarang? gumam Bella dalam hatinya.


Bella mengambil ponselnya, seingatnya Elise adalah seorang guru yoga profesional. Mungkin ada secerca harapan yang di dapatkannya dari internet. Media elektronik saat ini begitu modern bukan, tak sulit menemukan seseorang lewat sosial media.


#yoga #yogamaster #yogawoman


Bella mengetik hastag yang mungkin saja bisa memuat wajah bibinya itu.


“Ketemu!!” pekik Bella kegirangan.


“Pulau B?? Dia tinggal di sana saat ini?!” Bella melihat lokasi yang tertera pada tiap foto-foto bibinya.


“Aku harap dia tak melupakanku, akan harap dia bisa membantuku.” Bella melirihkan ucapannya.


Bella bergegas menuju ke bank, ia hendak mengambil secara tunai semua uangnya. Ternyata ada 420 juta pada saldo rekeningnya. Bella terheran-heran dengan banyaknya uang yang diterimanya dari Lucas selama ini. Ternyata pria itu sama sekali tidak berbohong dengan bayaran empat juta per jam.


Setidaknya uang ini akan cukup menghidupiku sampai anak ini lahir. pikir Bella senang.


Bella mengeluarkan semua uangnya dan menggantinya dengan akun pada bank lain. Ia tak boleh meninggalkan sedikit pun jejak agar mamanya tak bisa melacak keberadaan Bella. Bella juga telah mengganti nomor dan membeli ponsel baru. Bella membelanjakan sedikit uangnya untuk membeli beberapa potong baju ganti dan juga makanan untuk perjalanan berikutnya.


Bella akhirnya memutuskan berangkat ke pulau B dengan bis terakhir malam ini. Dalam hati ia berdoa agar bibinya masih mengenalinya, agar bibinya mau membantunya, dan juga menerimanya.


Malam mulai gelap, terminal sudah sepi. Bella duduk pada deretan kursi depan dekat sopir. Kursi pada bis terisi penuh, banyak orang yang juga ingin pergi ke pulau B, untuk berlibur atau mencari pekerjaan. Pulau B memang terkenal dengan pariwisata dan hiruk pikik dunia hiburan malamnya.


Bertahan, Nak, kita akan segera membentuk hidup yang baru, yang penuh dengan kebahagiaan dan juga cinta. Bella mengelus perutnya, di jari manisnya masih melingkar cincin emas pemberian Lucas. Bella tak mampu melepaskannya, rasa cintanya masih begitu besar untuk Lucas.


“Good bye, Lucas. Hiduplah juga dengan bahagia.” Bella memutar-mutar cincinnya sambil berusaha untuk tertidur.


— MUSE S5 —


SEKILAS INFO :


Julius: kok cemberut Thor?


Author: Hari ini author sebel banget!! Soalnya para anak piyik di rumah pada bertengkar rebutan kadal. 😒


Julius : kadal thor?


Author : iya, hari ini pada nangkep kadal di taman 🙈


Julius : terus Thor.


Author : terus naik pitamlah author, kasihan itu si kadal udah hampir mecedel buat rebutan dua anak piyik.


Julius : bisa marah ya Thor?


Author : bisalah, hari ini author marah sampai jadi dragon beranak.


Julius : anu Thor, dragon nggak beranak thor, bertelor.


Author : oh iya!! Wkwkwkwkkw lupa. yang beranakkan mamalia. Duh, Bagaimana kalau authornya ikutan beranak sama kamu aja, Jul?


Julius : inget bucin di rumah Thor.


Author : author ma kalau ketemu cowok kece dikit mendadak amnesia 😝😝😝


Julius : ckckckc... dah gaes lupain author rengginan. Cepetan di like sama di comennt. Jangn lupa di vote!!! See yuu gaes!! We love yu