MUSE

MUSE
S7 ~ SALAH PAHAM



MUSE S7


EPISODE 11


S7 \~ SALAH PAHAM


\~Sekarang Leon semakin salah sangka padanya. Masalah grayang menggrayang anu belum selesai, eeee.... sudah ketambahan masalah ciuman. Mana ga bisa bilang kalau Leoni tenggelam. Bisa nambah mati Levin nanti. \~


___________________


Leoni kembali menatap hujan. Hujan yang turun semakin deras membuat Leoni tersadar. Kenapa tak mencari kegiatan yang ia suka. Mungkin dengan begitu ia bisa melupakan segala hal bodoh yang berhubungan dengan Levin. Mungkin menjauhi cowok itu adalah pilihan yang terbaik. Tak perlu lagi berurusan dengan Levin. Terserah video itu mau menyebar atau tidak. Leoni cukup mengisi telinganya dengan hal-hal yang ia suka. Mengabaikan suara sumbang dan ledekan semua orang.


Hmm ... tapi apa? pikir Leoni. Selama ini dia tak punya keinginan apapun. Tak mengkoleksi apapun, tak pernah mengerjakan apapun.


Leoni tak pernah tertarik pada dunia make up seperti Kanna mamanya, atau dunia seni keramik seperti Leon papanya. Leoni terus memikirkan segala macam hal menarik yang bisa ia coba tekuni. Yang menantang dan menarik minatnya.


Tak butuh waktu lama, mobil mereka telah terparkir pada sebuah restoran cepat saji —tak jauh dari kompleks perumahan. Resto yang menyajikan ayam goreng dengan sejuta bumbu rahasianya itu terlihat penuh. Banyak orang mengantri karena memang jam makan siang. Anak-anak remaja sekolahan juga banyak terlihat untuk sekedar nongkrong menanti eskul atau mengisi perut sebelum kembali ke rumah.


“Ayo, Sayang.” Kanna menggandeng Leoni turun. Leoni menurut. Dengan berlari kecil ketiganya masuk ke dalam resto.


Alangkah terkejutnya Leoni saat terburu masuk ke dalam dan menabrak antrian paling belakang. Sangking ramenya, antrian itu menyentuh bingkai pintu. Dan yang paling bikin Leoni terkejut adalah, Kalau ternyata Levin yang ia tabrak punggungnya.


“Singa?!”


“Biar kerok??”


Levin langsung menurunkan nada suaranya ketika melihat Leon dan Kanna berdiri di belakang Leoni. Sepertinya mereka belum tahu kalau anak gadisnya hampir mati tenggelam di sekolahan.


“Kakimu sudah nggak apa-apa?” tanya Levin lirih.


“Sstt ... diem, nanti papa sama mama tahu. Tadi dokter koas Jomblo itu memberiku salep dan obat anti nyeri, dan juga surat pengantar rotgen. Tapi aku belum berani bilang pada mereka.” Leoni berbisik pada Levin. (Pliss Leoni ga usah disebutin juga statusnya.)


Levin melirik ke bawah, kaki Leoni telah tertutup dengan kaos kaki panjang.


“Mending nurut deh! Ntar daripada nambah parah.” Ujarnya.


“Ck, nggak usah sok perhatian. Bukannya kau sukakan kalau aku sakit!” Tuduh Leoni.


“Emang ya, mulut cewek itu beracun! Cowok mana pernah bener. Jujur aja bisa jadi salah, mending ga usah ngomong aja sekalian.” Levin berdecak sebal, lalu maju lebih depan menyesuaikan antrian.


“Marah?”


“Enggak.”


“Marah?”


“Enggak, S-I-N-G-A!!” Levin sebal.


“Sorry deh kalau aku ketus. Habis kau biasanya usil banget.” Leoni ikut maju, menyeret kakinya.


“Bukankah sudah kau balas? Dengan menggerayangi bokong dan anu-ku.” Levin bergeleng sebal saat mengingatnya.


“Sebenarnya apa itu A-N-U?!” Suara Leoni terdengar agak keras, dari tadi Levin cuma bilang ona anu aja, bikin bingungkan.


“Sssttt!!!” Levin menaruh tangan di depan mulut, takut Leon dan Kanna dengar.


Namun terlambat, Leon dan Kanna melirik tajam pada kedua bocil di depan mereka. Masih belum percaya pada pendengarannya. Anak gadis mereka menggerayangi sesuatu milik pria?!


“Apa yang kalian maksud dengan 'ANU'? Lalu apa maksud 'Saling balas menggerayang'?! Hei??!! Jelaskan ini semua Leoni! Levin!! Sekarang!!” Leon menjewer daun telinga keduanya, membawa mereka duduk pada meja panjang di pojok ruangan. Sedangkan Kanna menempati urutan antrian Levin. Walaupun marah mereka tetap harus makan siang bukan.


Leon menatap tajam pada keduanya. Levin menyangga wajah dengan kedua telapak tangan, mendadak lemas. Begitu pula Leoni, menepuk jidat sambil bergeleng pelan. Sebenarnya salah paham apa lagi ini?!


“Vin, ada apa? Ada apa? Apa kau diculik?” Bryan berlari cepat ke belakang Levin.


“Siapa om-om preman ini? Apa kata Bryan benar, dia berusaha menyulikmu?” Farel menatap Leon, agak seram juga sih penampilannya.


Levin semakin memejamkan mata, teman-temannya bukan menolong malah semakin membuat suasana memanas.


“Hei Singa! Kenapa kau juga berada di sini?” Chico kaget, Kenapa Leoni juga berada di samping Levin.


“Apa kalian berdua sedang diculik?”


“Tapi kenapa posisinya seakan-akan kalian ingin dinikahin? Singa meminta pertanggungan jawab akan ciumanmu tadi, Vin?” Ucap Farel. Ketiganya tergelak sampai bengek. Hanya Levin dan Leoni yang terdiam, takut dengan ekspresi wajah Leon yang semakin memerah, menahan amarah.


Farel mengacak rambut Leoni sampai terlihat lebih mengembang. Kini ekspresi Leoni mirip singa kepleset daun pisang. Sebal tapi tak berkutik.


“Diam kalian!” Levin menginjak kaki Farel. Yang satu ini kelewat nggak tahu diri mulutnya.


“Jadi siapa OM ini? Penghulu sewaan Leoni?” tanya mereka bertiga serempak.


“Dia Papaku.” Leoni menoleh patah-patah.


Ketiganya melotot, terus ngelihat lagi Leon, terus Leoni, terus Levin. Terus keringatan. Keringat dingin bercucuran, baru sadar sudah kelewatan nge-ember.


“Hahahaha ... kita nggak salah dengerkan gaes?” Bryan tolah toleh.


“Dengernya nggak salah, mulut kalian itu yang salah. Anying!!” Levin menatap ketiga sahabatnya sebal. Sekarang Leon semakin salah sangka padanya. Masalah grayang menggrayang anu belum selesai, eeee.... sudah ketambahan masalah ciuman. Mana ga bisa bilang kalau Leoni tenggelam. Bisa nambah mati Levin nanti. (Lihat alasannya pada dua episode sebelumnya)


Wajah Leon semakin merah kehitaman. Apa lagi yang anak-anak ini lakukan diluar pengetahuannya?


“Duduk kalian semua!” sergah Leon. Farel, Bryan, dan Chico menelan ludahnya nurut. Dengan perlahan mereka mengambil tempat di sebelah Levin atau Leoni.


“Mereka yang ciuman kok, Om! Kami nggak ikut-ikut!” ujar Farel.


“Brengsek!! Diem lo!” Levin mendelik galak.


“Kami nggak ikutan, Om. Cuma sorakin aja.” Chico yang biasa diam juga ikut-ikut.


“Anying!!”


“Sudah-sudah, jangan begitu. Levinkan melakukan itu karena terpaksa. Leoni yang minta.” Bryan membela Levin.


“Anying!!” Kali ini Leoni yang mengumpat. Leon mendelik galak pada putrinya.


“LEONI!!!”


“Waaa!! Ampun Papa.”


...— MUSE S7–...


...Wah, wah, tambah ramai. Tambah heboh salah pahamnya. Tambah luar biasa juga kegaduhan mereka....


...Jadi kasihan sama Levin 😝😝...


...Komen dan like! Jangan lupa vote!...