MUSE

MUSE
S7 ~ CIUMAN



MUSE S7


EPISODE 24


S7 \~ CIUMAN


Farel mancekal pinggang Leoni, menarik gadis itu masuk dalam dekapannya sebelum mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Leoni. Mata Leoni membulat sempurna, ada rasa basah dan sedikit hangat menempel pada bibirnya.


_____________________


Aroma sedap semerbak khas mi instan langsung menggelitik hidung keduanya. Uap panas masih mengepul saat Leoni memasukkan sosis siap makan ke dalam kuah mi. Memotongnya dengan sumpit kayu sekali pakai sebelum mengaduknya bercampur dengan bumbu.


Farel menatap Leoni sesaat sebelum melakukan hal yang sama. Ia tersenyum melihat kebiasaan Leoni yang tidak berubah.


“Wah, pedas.” Leoni menyeruput kuah mi, dan kepedasan, hari ini mi yang dibelinya memang punya rasa yang pedas.


“Ini.” Farel membuka tutup botol minuman ringan. Leoni menerimanya dengan segera menenggak isi minuman itu sampai rasa pedasnya berkurang.


“Ahh .... maksih, Rel!” Leoni tersenyum pada Farel.


“Jangan ambil yang pedas kalau nggak kuat pedas. Dasar!” cela Farel.


“Habis, suasana hatiku sedang tidak enak, makanya ingin makan yang pedas-pedas.” Leoni memutar mi dengan sumpitnya.


“Kenapa?” tanya Farel.


“Aku lagi sebal sama Levin. Seenaknya saja dia muncul dalam pikiranku belakangan ini. Buat nggak konsen belajar, padahal hampir ujian kelulusan.” Leoni mendesah resah. Hatinya memang dibuat tak tenang oleh Sosok Levin belakangan ini. Sikap dinginnya selalu membuat Leoni tertantang untuk mencairkannya.


“Ah, Levin.” Farel mengangguk. Masih saja harus mendengar namanya dari bibir Leoni.


“Kau masih membenci Levin? Kenapa kau pergi tanpa pamit pada semua temanmu? Kau tak persiapan ujian? Kau pindah kemana? Pindah sekolah juga? Kau juga ikut ujian kan?” cerca Leoni panjang lebar, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Farel. Kenapa cowok itu pergi, bagaimana dengan kehidupannya sekarang. Apa dia hidup dengan baik?


“Aku putus sekolah.” Farel menggaruk dahinya.


“Eehh??” Leoni terbelalak, bahkan hampir tersedak.


“Yah, seperti yang kau tahu, aku membolos hampir satu bulan, jadi pihak sekolahan membuat keputusan untuk men-DO-ku.” Farel bercerita sambil menikmati mi nya.


“Tapi baguslah, karena sudah tak sekolah aku malah bisa mengembangkan bakatku. Kami pindah ke kota lain, Kak Firza membangun bengkel modofikasi, aku juga mencari beberapa sponsor,” tutur Farel.


“Apa berhasil?”


“Tentu saja. Aku bergabung dalam sebuah geng motor besar. Mereka setuju mensponsoriku.”


“Geng motor? Bukan club?”


“Apa bedanya? Aku juga pernah mengikuti balapan liar bukan?” Farel tersenyum miring.


“Tapi, Rel. Bukankah geng motor itu ilegal? Banyak tersiar kabar di TV mereka menodong orang, merampok.” Leoni menatap heran pada sosok Farel.


“Itu tak semuanya benar, Televisi terlalu lebay.” Farel bergeleng pelan.


“Tetap saja. Itukan hal yang salah!”


“Tetap saja, kami semua menghasilkan uang yang banyak.” Sela Farel sembari menghabiskan sisa mi dari cupnya sampai habis.


“Farel, kau tidak terlibat sesuatu yang jahat bukan?” Leoni mencegah Farel meminum botolnya.


“Hei, izinkan aku minum dulu.” Farel terkikih.


Leoni tampak tak tenang, kenapa setelah lama tak bertemu Farel malah menjadi anak yang nakal?


“Aku hanya bermain sebagai joki untuk mereka kok, aku tak pernah ikut-ikutan hal yang jahat. Hanya sebagai joki balapan liar. Aku selalu menang dan menghasilkan banyak uang untuk mereka, mereka lantas membayarku dengan harga yang pastas. Setidaknya mereka lebih setia kawan dibanding sahabat yang menikam dari belakang.” Farel terbahak, melihat raut wajah cemas Leoni justru membuatnya geli.


“Farel, Levin tan pernah mengkhianatimu, pria berjas hitam yang menyuruhnya masuk ke sana. Ayah dan Kakakmu harusnya tahu. Levin, dia tidak bersalah,” tutur Leoni.


“Dia bersalah atau tidak semuanya sudah terlanjur menjadi bubur Leoni. Aku tetap saja tak bisa mendapatkan sponsor. Dan yah, sekarang aku berakhir seperti ini.” Farel menengok dirinya sendiri.


“Aku minta maaf, Rel. Harusnya aku tak mengatakan tentang lomba itu pada Levin dan teman-temann lainnya.” Leoni meneteskan air matanya.


“Ah, sudahlah! Aku tak pernah menyesali keputusanku ini.” Farel menghapus air mata Leoni.


“Berhentilah, Rel. Berhentilah dari geng motor dan lanjutkan saja sekolahmu.” Leoni menggenggam tangan Farel.


“Kenapa kau perhatian padaku, Singa? Aku nanti bisa salah paham hlo.” Farel mengusik kepala Leoni.


“Jangan rusak masa depanmu!”


“Bukankah sudah terlanjur rusak?” Farel bangkit dari bangkunya.


“Rel...!” Leoni ikut bangkit.


“Senang bertemu lagi denganmu Leoni. Kau semakin cantik dan dewasa. Tak lagi rata seperti dulu.” Goda Farel. Wajah Leoni merona kemerahan.


“Farel, tolong pikirkan kata-kataku! Kau tidak seharusnya merusak hidupmu.” Leoni lagi-lagi berusaha mengingatkan Farel, menarik ujung kaosnya.


Farel menatap lamat ke arah Leoni, sungguhkah dua tahun berpisah masih tak bisa melupakan perasaannya yang berdegup untuk gadis itu.


Farel mancekal pinggang Leoni, menarik gadis itu masuk dalam dekapannya sebelum mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Leoni. Mata Leoni membulat sempurna, ada rasa basah dan sedikit hangat menempel pada bibirnya.


“Sudah ku bilang jangan buat aku salah paham dengan perhatianmu,” ucap Farel setelah melepaskan panggutannya.


Leoni masih membeku, beberapa detik barusan membuatnya kehilangan kesadarannya. Blank!! Apa itu tadi? Rasanya aneh.


“A—apa yang kau lakukan Farel?” Leoni mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


“Menciummu, Singa!” Farel tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Leoni hampir menangis karena ciuman pertamanya hilang begitu saja.


“Itu ciuman pertamaku!” Leoni menatap galak Farel.


“Bukankah ciuman pertamamu dengan Levin di kolam renang?” Farel terkikih.


“Kau jahat, Rel!” tuduh Leoni. Farel mengelus rambut Leoni yang tak lagi mengembang karena rajin perawatan.


“Oh iya, Besok aku bertanding, makanya aku ada di kota ini. Datanglah bila kau mau mendukungku. Kalau tidak juga tak masalah. Ah, ada baiknya kau beri tahu Levin juga. Siapa tahu dia ingin bertanding ulang denganku,” tutur Farel.


“Aku tak akan memberitahunya,” sergah Leoni.


“Ya sudah, masih ada Bryan dan juga Chiko yang akan memberitahunya.”


“Farel!!”


“Bye, Girl. Senang bertemu lagi denganmu.” Farel mengelus wajah Leoni sebelum pergi meninggalkan gadis itu.


Kenapa? Kenapa masih menaruh dendam pada Levin kalau sudah tahu tentang kebenarannya? pikir Leoni, ia menatap punggung Farel yang menjauh pergi dengan mata sembab.


...— MUSE S7 —...


...Next Episode rematch antara Farel dan Levin ya....


...Siapa yang akan menang?...


...💋💋💋💋...