MUSE

MUSE
S5 ~ TUGAS AKHIR



MUSE S5


EPISODE 28


S5 \~ TUGAS AKHIR


\~Aku tersenyum manis, Bellapun tersipu karena panggilanku. Ia melepaskan kaca mata hitamnya dan memandangku dengan binar mata yang menyiratkan rasa rindu dan juga penantian. \~


__________________


NICK POV


BRUM BRUM!!


Terdengar suara motor sportku saat melaju kencang memasuki area kampus institut khusus seni di Pulau B. Sudah 4 tahun aku berkuliah di sini. Aku mengambil fakultas seni perfilman dengan jurusan videografi. Yah, sudah cita-citaku membuat film action atau pun super hero seperti batman, spiderman, atau pun ultraman.


Sudah dari kecil aku menyukai action figur dan tokoh-tokoh anime seperti one piece, dragon ball, kamen rider, dll. Kalian pasti pernah mendengar kata-kata ‘otaku’ bukan? Orang yang sangat gemar dengan anime dan berbagai macan pernak perniknya. Mungkin kegemaranku ini menurun dari mommy yang gemar menggambar dan juga daddy yang seorang gamers.


Oke, well, tahun ini adalah tahun terakhirku berkuliah. Karena aku adalah anak daddy Arvin tentu saja aku harus mencari nafkan sendiri. Daddy tak memberiku uang saku selain uang sekolah. Biaya hidup semua aku tanggung sendiri. Ia selalu menyuruhku untuk membangun kerajaan bisnisku sendiri. Padahal saat itu aku hanya anak SMA, kejamkan?!


Yah, kini sih kehidupanku sudah lumayan, tak lagi mengirit dan jadi fakir miskin. Pasalnya aku sudah mulai terjun dalam industri perfilman tanah air. Kadang menjadi asisten sutradara, kadang menjadi kamera-man, kadang jadi tim kreatif. Pokoknya job apa pun aku terima asalkan menghasilkan uang.


Aku juga melakukan jual beli berbagai macam hot toys atau action figure. Pada tahun ke duaku berkuliah aku telah berhasil membuka sebuah toko mainan dan juga perlengkapan surfing. Karena Pulau B ini terkenal dengan keindahan alam, tentu saja pantainya sangat indah dan surfing adalah sebuah kegiatan yang cukup digemari oleh turis mancanegara.


Aku memiliki toko kecil di pinggir pantai, menjual dan menyewakan peralatan surfing, baju renang, sandal, bahkan sampai kaos pantai. Bukan mengelola uang besar sih, tapi setidaknya semua usahaku cukup untuk membeli sebuah rumah kecil di dekat pantai dan juga kebutuhan hidup.



(Credit pict to owner)


“Nick!”


“Heung?” Aku menoleh.


“Apa kau ada acara malam ini? Bagaimana kalau kita nonton?!” Seorang teman wanita seangkatan langsung menghampiriku. Aku meliriknya sepintas saat memarkirkan motor.


“Nggak bisa, Tia, aku ada jadwal konsul dengan dosen pembimbing,” tolakku halus.


“Kalau besok?” tanyanya lagi.


“Besok juga ada jadwal, terus besok, terus lusa, terus besok lusanya lagi, dan seterusnya.” Aku menolaknya dengan tegas. Yah, aku memang terkenal dengan image cowok cool, bukan nggak normal, aku masih suka cewek! Aku tidak seperti Gabby yang menyukai hubungan sesama jenis.


“Nick!!” Panggil seorang cewek lain.


“Ya?!” tanyaku.


“Boleh duduk bareng kamu nggak hari ini? Boleh, ya, ya, ya?” renggeknya.


“Sorry, aku lagi pengen sendiri,” celaku lantas segera berpaling darinya.


“Nick!!!”


“Siapa lagi??? Mau apa lagi?!”


“Ck, ganteng-ganteng kok judesnya nggak ketulung, sih?! Belum juga ngomong! Yah, tapi emang gaya cool-mu itu yang bikin semua cewek di sini klepek-klepek,” katanya panjang lebar seperti bebek.


Inilah yang membuatku ilfil dengan para ladies yang ada di kampus, mereka sangat gencar mendekatiku setiap hari. Aku jenuh mendengar ocehan dan juga suara mereka yang memenuhi telingaku mulai dari tiba sampai pulang kampus.


“Ada apa?” celetukku.


“Di panggil Pak Ketut.”


“Oh, OK. Thanks buat infonya.” Aku sedikit melunak.


“Sama-sama, Nick. Malem minggu ini a ...,” ucapannya langsung aku Cut!!


“No!! Aku mau kerjain Tugas Akhir!!” selaku.


“Yah ... oke deh.”


Aku lantas bergeleng dan meninggalkan mereka semua menuju ke kantor dosen.


“Permisi, apa Anda memanggil saya, Pak?” tanyaku sopan pada Pak Ketut, dosen pembimbing Tugas Akhirku.


“Benar, Nick!! Kemarilah!” Pak Ketut menutup laptop dan menyuruhku untuk duduk di depannya.


“Bagaimana, Pak?” Aku mulai berdegup kencang. Aku berharap-harap cemas proposal Tugas Akhir yang aku ajukan padanya di ACC.


“Ehm ... sebenarnya saya suka konsepmu. Tapi, apa kau pernah pergi ke club? Pernah melihat stripter, gadis penuang minum, atau pole dancer sebelumnya?” tanya dosen setengah tua itu dengan alis berkerut.


“Belum, Pak. Saya hanya melihatnya di internet.”


“Ck, makanya penjabaranmu kurang bagus. Coba kamu jalan ke club-club malam, Nick. Kalau memang kau mau membuat film pendek tentang kehidupan seorang penari dalam hiburan malam harusnya kau tahu seputar kehidupan mereka juga.” Pak Ketut memberiku masukan.


“Baik, Pak. Sabtu malam saya akan main ke club,” tandasku dengan mantab.


“Ini, cobalah, ada primadona yang sedang naik daun. Sayang tak ada yang boleh mengambil gambarnya saat menari.” Pak Ketut menyodorkan sebuah pamflet dengan inisial BQ pada nama penarinya. Wajahnya tertutup topeng, bisa kulihat bentuk tubuhnya yang benar-benar bagus.


“Baik, Pak. Saya coba ke sana,” jawabku, ternyata dosen juga manusia, doyan hal macam gini. Ah, atau mungkin aku yang terlalu kuper karena hidupku hanya berkutat dengan pahlawan super, bahkan aku belum pernah menyentuh tempat bernama club.


“OK, semoga sukses.”


“Terima kasih, Pak.” Aku bangkit dan keluar dari ruang dosen.


Well, saat ini aku sedang mengambil mata kuliah Tugas Akhir. Aku rencananya akan membuat sebuah video clip dari penyanyi indi setempat. Lagu mereka berkisah tentang seorang wanita pekerja malam yang mencari rupiah dalam balutan kesedihan hati. Film singkat ini harusnya bisa langsung diterima oleh masyarakat mengingat hal seperti ini sangat menantang keingin tahuan, apa lagi bagi kaum Adam.


Aku melihat sepintas pada pamflet hiburan malam itu. Aku harus menyisihkan waktu malam minggu ini agar bisa mencari inspirasi dan juga seorang MUSE.


— MUSE S5 —


Aku mendatangi sebuah bar and club terlihat begitu riuh dengan hingar bingarnya. Hentakan keras dari musik DJ, dan sorot lampu berwarna warni, serta teriakan dan canda tawa para tamu yang sedang asyik berjoget ria memenuhi atmosfirnya. Beberapa orang pelayan terlihat mondar mandir mengantarkan minuman keras dan juga makanan ringan.


Aku masuk dengan kikuk. Mereka langsung menyita ponselku dan juga alat perekam lainnya saat aku masuk. Mereka bilang privasi penari tidak bisa disebar luaskan begitu saja. Aku menurut, yah, dari pada nggak bisa masuk ke dalam.


Aku berjoget pelan, mengimbangi musik DJ yang mengalun keras. Berusaha membaur dan menikmati suasana club yang penuh dengan wanita berbusana seksi dan pria-pria petualang pastinya. Asap rokok, bau alkohol, sampai cumbuan mesra menjadi pemandangan yang biasa di sini, tapi tidak biasa untukku, sedikit aneh.


Tiba-tiba lampu meredup, musik dari DJ sedikit melembut walaupun masih terdengar beat yang menghentak. Aku melirik ke kanan dan ke kiri, semuanya berkumpul, melingkar pada sebuah tiang.


Lampu sorotpun langsung beralih untuk menyorot panggung bundar itu.


Musik mulai mengalun saat seorang wanita masuk ke dalam area club dan naik ke atas panggung. Dia dibantu oleh seorang pria kekar saat naik karena menggunakan sepatu heels yang luar biasa tinggi, berapa ya? Mungkin 20-25 cm.


“BELLA!!!” teriakan riuh para pengunjung club memanggil namanya, Ah, ternyata itu nama primadona di club saat ini.


Aku mengamati wajahnya yang sangat cantik dan sensual, juga tubuh Bella yang sangat indah. Dadanya begitu sintal dan kencang, pantatnya terlihat montok dan bulat. Membuatku ikut menelan ludah seperti kebanyakan lelaki di sini.


Bella menggerai rambut panjang hitamnya yang bergelombang indah. Bella bergerak perlahan mengitari tiang, tangannya sesekali mengelus pelan pahanya sampai ke pangkal kaki. Gerakkan sensualnya mampu membuat semua mata lelaki yang berada di sana tak berkedip, termasuk aku.


(🎶 Oh no, did I get too close oh? Oh, did I almost see what's really on the inside? 🎶)


Music mulai terdengar. Mengalun lembut mengiringi gerakan-gerakan sang primadona. Menimbulkan decakan kagum dan tepuk tangan riuh dari semua penontonnya. Aku diam mengamatinya, air mulai turun di sekeliling panggung seakan membentuk sangkar. visualnya menimbulkan kesan sensual yang lebih mendalam saat terkena semburat cahaya kemerahan.


(🎶 All your insecurities, All the dirty laundry. Never made me blink one time 🎶)


Bella mulai mengayunkan tubuhnya, memberikan momentum pada gerakan pertamanya agar tubuhnya bisa berputar berkali-kali pada tiang dansa. Dengan cepat Bella memanjat tiang, lalu berputar dengan menekuk kakinya. Sesekali Bella membuka kakinya dan bergerak turun sambil seakan-akan menendang ke arah langit. Bella menggerakakan tubuhnya, mengunci tiang dengan siku lengan dan juga kaki, lalu berputar meliukkan badannya sampai ke atas. Lembut dan sensual, itulah kesan yang ku dapatkan. Keindahan yang luar biasa.


(🎶 Unconditional, unconditionally, I will love you unconditionally 🎶)


Pandangan mata kami bertemu. Saat itu entah kenapa waktu seakan berhenti berputar. Tiap gerakan tubuhnya berubah menjadi slow motion di hadapanku. Aku sampai memandangnya dengan mata yang sama sekali tak berkedip. Bella yang melihatku tak bisa menahan rasa gelinya dan mengerling ke arahku. Membutku kikuk dan salah tingkah. Aku hanya bisa melambaikan tanganku untuk membalas sapaannya. Apa aku sedang ke Ge-eR -an?


(🎶 There is no fear now, Let go and just be free. I will love you unconditionally 🎶 )


Bella membagi senyuman mautnya pada semua orang sambil tetap menari di atas sepatu heels gemerlapan setinggi 20 cm. Tarian berdurasi kurang lebih satu jam itu akhirnya selesai. Aku langsung bergegas mencari informasi tentangnya. Mengambil ponselku dari tangan security, menyogok mereka dengan sedikit uang agar mengizinkanku ke belakang panggung untuk berbincang dengan Bella. Aku harus menjadikannya model untuk Tugas Akhirku bagaimana pun caranya.





“Hei, tunggu!!” Aku mendatangi Bella di belakang panggung. Bella tengah bersiap untuk pulang. Ia telah menghapus riasannya dan berganti dengan pakaian yang tertutup. Wah, aku kira dia akan memakai pakaian seksi seperti kebanyakan wanita malam lainnya.


....


Bella tak menjawabnya. Wanita di depanku saat ini tengah mengacuhkan panggilanku dan tetap melangkah pergi. Wah, padahal biasanya aku yang begini kalau di kampus. Ternyata rasanya tidak enak di acuhkan, semoga kalian memaafkanku para fansku.


“Tunggu, kau mengerling padaku tadi!” Kutahan bahu Bella agar tidak melangkah lebih jauh.


“Itu hanya contact mata dengan penonton saja. Tak lebih.” Bella menepis tanganku.


“Aku ingin menawarimu sesuatu.” Aku bergegas mencari ponsel untuk menunjukan video klip yang sedang ku garap. Berharap dia tertarik, tentu saja aku akan memberinya uang sebagai bayaran.


“Sorry, aku tidak tertarik untuk tidur denganmu,” jawab Bella.


“Apa?? Siapa yang ingin tidur denganmu?” Aku mencelos karena syok, apa aku terlihat seperti lelaki hidung belang yang ingin mengajaknya tidur? Well, bisa juga sih, tak bisa kupungkiri kalau adik kecilku memang terbangun saat melihatnya menari tadi. Tapikan itu respon alami seorang lelaki!


“Lalu apa maumu?” Bella terus berjalan keluar, wajahnya memerah.


“Aku ingin kau menjadi modelku.” Dengan cepat aku mengikuti langkah kaki Bella.


“Lupakan, aku tidak tertarik.” Bella keluar dari pintu belakang, Seorang pria kekar menyelimutkan mantel bulu pada pundaknya.


“Tunggu! Kau bahkan belum mendengar tawaranku.” Aku hendak menjangkau pergelangan tangan Bella. Namun ...,


“Easy Kid!” Tiba-tiba tangan kekar pria di depanku ini langsung menghalangi aksiku.


“Setidaknya biarkan aku tahu namamu, Nona.” Aku berteriak pada Bella, aku tahu namanya Bella, tapi pastinya itu hanya nama panggungkan? Dia pasti punya nama asli, aku tinggal mencarinya di sosial media.


“Siapa yang tidak mengenalku di club ini?” Bella berjalan kembali ke arahku, wajahnya terlihat kaget karena aku tak mengenalnya.


“Aku baru pertama kali ke club.” Aku menggaruk kepala padahal tidak gatal.


“Siapa namamu? Logatmu seperti dari kota S?” Bella malah balik bertanya.


“Nicholas, panggil saja aku Nick. Aku memang dari kota S,” jawabku.


“Menarik, aku juga berasal dari sana. Namaku Belaciaquin. Senang mengenalmu Tuan ‘Pertama Kali’.” Bella tersenyum sembari mengejekku yang baru merasakan pertama kali pergi ke club malam. Namun aku bahagia saat mengetahui kalau kami berasal dari satu kota yang sama. Apakah ini tandanya aku dan dia bisa akrab?


“Boleh aku memanggilmu Queen?” teriakku.


“Terserah kau mau memanggilku apa, karena malam ini akan menjadi perjumpaan kita yang terakhir.” Bella kembali berjalan menuju ke arah mobilnya, sesekali ia menggoyangkan tas rantai hitam di tangannya.


“Kita pasti bertemu lagi, lihat saja nanti!” Teriakku, sayangnya aku tak bisa menyusul Bella karena masih terhalang lengan kekar pria ini. Bella hanya melambaikan tangannya sebagi jawaban sebelum akhirnya deruan mesin mobil mengakhiri perjumpaan kami!!


— MUSE S5 —


Oke here I’m, kembali lagi ke club malam itu di hari berikutnya, kemudian lusanya, kemudian besok lusanya lagi. Namun Bella tak terlihat, ia tak menari di club itu lagi. Aku mengumpati diriku, padahal harusnya ucapan ini di tunjukan untuk para fansku yang berrebut ingin kencan denganku, hlah tapi kenapa malah kena di aku, ya? Apa ini karma karena aku selalu mengacuhkan mereka dengan dingin?


Huft ... bahkan setelah tahu namanya pun aku tak berhasil menemukan satu pun sosial media miliknya. Tak ada akun atas nama Bella ataupun Belaciaquin yang seorang penari tiang.





“Ck, menyebalkan.” Aku berdecak sebal sembari bersandar santai pada kursi malas di depan toko. Padahal aku berhasil menemukan kandidat yang sempurna untuk mengisi MUSE pada tugas akhirku. Tapi aku malah kehilangan jejaknya.


“Boss, kita kehabisan stok air mineral. Bisa tolong kau belikan? Toko semakin ramai.” Pinta pegawaiku.


“Baiklah!”


Aku menyahut kaca mata hitam dan berjalan menuju ke pasar terdekat untuk membeli air mineral. Tiap menyewa papan seluncur/pelampung keselamatan memang ada promo free sebotol air mineral. Jadi aku harus segera mencari air mineral untuk memenuhi suply toko agar pelanggan tidak marah.


Tiba-tiba beberapa butir jeruk menggelinding sampai ke bawah kakiku. Aku mengambilnya, seorang wanita datang menghampiriku. Ia memakai baju tank top ketat berwarna kuning kunyit, sebuah kain pantai berwarna putih bergambar bunga-bunga kecil melilit pinggulnya. Ada kelopak bunga jepun terselip pada daun telinga. Rambutnya yang hitam, panjang, dan bergelombang kacau karna tertiup hembusan angin pantai.


Angin membaurkan aroma bunga yang manis dan kesegaran citrus dari tubuhnya. Sayang, wajahnya tak terlihat jelas karena kaca hitam besar yang menutupi matanya.


“Wah, terima kasih, aku tak sengaja menjatuhkannya,” ucapnya saat menerima jeruk dariku, aku mengenali suara itu. Bukankah suara itu adalah suara dari wanita yang aku cari beberapa hari belakangan ini?


“My Queen?”


“Ya?!!”


“Ini aku,” jawabku sambil melepaskan kaca mata, “apa aku bilang!! Kita pasti bertemu lagi, My Queen!!”


Aku tersenyum manis, Bellapun tersipu karena panggilanku. Ia melepaskan kaca mata hitamnya dan memandangku dengan binar mata yang menyiratkan rasa rindu dan juga penantian.


Kenapa?


— MUSE S5 —


Nah hlo Lucas!! Nick datang untuk merebut Bella.


Hola readers.. jangan lupa like comentnya.


❤️❤️❤️