
MUSE S2
EPISODE 57
S2 \~ PERTAHANKAN AKU
\~ Aku mengubahnya, membentuk kehidupan baru yang lebih baik, dan yang berguna bagi banyak orang.\~
•••
Aku masih membeku saat memandang wajahnya, Anggapun punya reaksi yang sama. Matanya sama tak berkedipnya denganku.
“Kalian saling mengenal?” tanya Arvin.
“Iya. Kami...,” jawab Angga.
“Kami teman sekolah dulu,” selaku menyambung kalimatnya. Entah kenapa aku tak mau Arvin tahu kalau Angga adalah mantan kekasihku dulu.
“O..., begitu.”
“Baik, silahkan dinikmati kopinya. Aku masuk dulu,” pamitku. Aku tak ingin berlama-lama berada di sana.
Aku kembali masuk ke dalam cafe, meletakan dengan sedikit kasar nampan ke dalam bak cuci piring.
“Kenapa, Boss?” tanya Caca heran.
“Nggak, Ca. Bukan hal penting.”
“Sampai banting nampan gitu? Digodain Kak Arvin lagi?” tanya Caca.
“Nggak kok,” senyumku, berusaha meredakan rasa ingin tahu Caca.
Aku mengatur napasku, mencoba mencari sedikit ketenangan agar hatiku tak lagi merasa gundah. Pertemuan dengan Angga begitu membuatku syok. Bagiku sosoknya memang begitu spesial karena dulu aku pernah mencintainya.
“Baby?” suara Arvin terdengar dan memaksaku kembali pada kenyataan.
“Ah, kenapa, Kak?”
“Aku pulang dulu, ya. Aku akan kemari lagi besok.”
“OK,” tanganku membentuk tanda OK dengan ibu jari dan telunjuk.
“Jangan nakal, baby!” bisik Arvin sesaat sebelum meninggalkan cafe.
Apa dia tahu tentang hubunganku dengan Angga? Apa Angga mengatakan padanya? Ah..., emang apa peduliku kalau Arvin tahu?
“Boss, sudah malam. Tutup, yuk. Tugas kuliahku menumpuk banyak.” Caca melepaskan apronnya dan bergegas menyahut tas.
“Ayuk, udah beres semuanyakan?” tanyaku, sekedar memastikan bahwa cafe sudah kembali bersih.
“Sudah, bossku.” lapornya.
“OK, hati-hati pulangnya, ya,” lambaiku.
Krrriiingclingg Kliing.. 🎶
Suara lonceng terdengar, bersamaan dengan masuknya Angga ke dalam cafe.
“Maaf kami sudah tutup.” Caca menolak kedatangan Angga.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Kalila.” jawab Angga.
Caca menoleh dan mengangkat alisnya meminta jawabanku, aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Mengizinkan Angga masuk dan berbicara.
“Masuklah, Ngga,” izinku.
Mata Caca mengikuti langkah Angga yang berjalan masuk ke dalam cafe. Sepertinya si tomboi terkesima dengan kegantengan Angga.
“Boss, boleh aku ikut mengobrol?” teriakannya membuatku hampir tertawa.
“Tadi kau bilang lagi banyak tugas?” balasku berteriak.
“Oh, iya.”
Dasar Caca, lihat cowok bening dikit aja nggak bisa. Akhir-akhir ini dia juga dia jadi lebih rajin pasti karena Arvin. Tugasnya menumpuk demi lihat cowok cakep, kalau begini siapa yang bucin coba? Dasar bucin teriak bucin.
“Aku pulang dulu, boss.” pamit Caca.
“Oke, Ca,” lambaiku untuk yang kedua kali.
Aku mengambil napas panjang dan mencoba untuk tenang sebelum menghadapi Angga.
“Hallo.” Aku berbasa basi.
Angga tak menjawab, dia masih diam dan terus memandang wajahku. Membuatku sedikit salah tingkah.
“Bagaimana kabarmu, Kalila?” tanya Angga.
“Baik, kau sendiri bagaimana?” Aku balas bertanya.
“Aku merindukanmu, Kaila.”
“Ee..., itu bukan jawaban yang tepat.” Aku menggaruk kepalaku, merasa canggung dengan keadaan kami saat ini. Bagaimana bisa ia berkata merindukanku padahal dia sendiri yang pergi meninggalkanku?
“Maafkan aku, Kalila.” pandangan matanya menyiratkan kesungguhan hatinya.
“Ah, sudahlah, itu sudah lama berlalu.” Aku berpura-pura menyibukkan diri dengan mengelap meja bar berulang-ulang, padahal sudah bersih.
“Aku masih mencintaimu Kalila. Aku terus memikirkanmu, belakangan ini rasa sesaknya terus bertambah parah.” ucapan Angga terdengar keras.
Tiba-tiba, “HHUUUAAAA....!” Keano menangis, nampaknya suara keras Angga membangunkannya.
“Ken...?!” Aku bergegas menuju ke kamar belakang.
Angga mengikutiku, ekspresinya sama dengan Arvin saat melihat Keano untuk pertama kali. Pasti akan ada kesalah pahaman yang sama lagi.
“Cup, sayang,” ku belai rambut Keano, bayi itu kembali tertidur dalam gendongan nenny nya.
“Iya, Bi.”
Angga langsung menyambutku dengan wajahnya yang menegang tak percaya. Sudah ku duga pasti reaksinya akan begini. Bukan pertama kali aku melihat reaksi yang sama.
“Kau sudah punya anak?” tanya Angga.
“Iya, Keano anakku. Kita ngobrol di luar saja, ya,” ajakku.
Aku melangkah keluar cafe dan duduk pada tangga teras. Ada dua anak tangga pendek sebelum masuk ke dalam cafe. Angga ikut duduk di sampingku. Kini jarak kami hanya terpisah oleh sejengkal tangan.
“Kau sudah menikah?” tanya Angga.
Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.
“Lalu bagaimana kau punya anak? Siapa laki-laki itu, siapa ayahnya, Kalila?” Angga kembali bertanya, wajahnya terlihat begitu serius.
Sudah dua tahun kami tak bertemu, garis rahangnya tampak lebih tegas. Rambutnya juga lebih panjang, dan badannya sedikit lebih berisi. Hanya tatapan matanya yang tak pernah berubah, dari dulu ia selalu memandangku dengan binar matanya yang luar biasa berkilauan.
“Kau sudah makan?” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Aku tanya siapa laki-laki itu?” nada suara Angga agak meninggi.
“Keano bukan anak kandungku, dia anak Melody,” jawabku.
“Melody?” Angga tak percaya.
“Iya, Melody teman sekelasku dulu. Kau juga mengenalnyakan?”
“Kenapa anaknya ada padamu?”
“Ayahnya di rawat di RS dan meninggal kemarin sore. Besok dia akan pulang dan mengambil Keano. Aku hanya menjaganya sementara waktu.” Aku beralih memandang bintang di langit malam.
“Maaf, aku turut berduka cita.”
“Kau mudah emosi sekarang?” senyumku.
“Maaf, aku kira kau sudah punya pacar. Aku cemburu.” Angga menunduk.
“Kau mau makan sesuatu? Aku lapar,” ku pegang perutku sebagai isyarat tanda kelaparan padanya.
“Mau pesan online?”
“Boleh,” jawabku.
“Nasi goreng? Aku masih ingat itu makanan kesukaanmu.” Angga mengambil ponselnya dan mengetik cepat.
Aku masuk dan kembali dengan dua cangkir teh panas. Kami menunggu ojol mengantarkan nasi goreng pesanan kami.
“Hidupmu dulu pasti sangat berat, La?” Angga menoleh padaku.
“Yah, begitulah.”
“Aku benar-benar menyesal, Kalila. Harusnya dulu aku tak menerima permintaan putusmu.”
“Hal yang terjadi tak akan pernah bisa berubah Angga. Tapi walaupun banyak kesalahan yang terlanjur terjadi, setidaknya kita masih bisa berkaca dan mengubahnya menjadi lebih baik dimasa mendatang.”
Aku bercermin pada diriku sendiri, setelah Papa Mama meninggal dan aku terlanjur menjual tubuhku pada Arvin, aku tak lantas berlarut-larut menyesali keputusanku. Aku mengubahnya, membentuk kehidupan baru yang lebih baik, dan yang berguna bagi banyak orang. Termasuk cafe ini, Palette cafe tak hanya sekedar cafe biasa, karena walupun nggak banyak, tapi donasinya bisa tersumbang dengan lancar pada yayasan amal setiap bulannya.
“Kalila, kau masih ingat dengan lagu yang pernah aku nyanyikan dulu?” tiba-tiba Angga mengenang masa lalu.
“Masih, kenapa? Kau mau menyanyi lagi?” kikihku menggodanya.
“Kalau kau mau mendengarnya.” Angga ikut tertawa.
“Baiklah,” anggukku memberinya izin untuk nya bernyanyi.
“Dengarlah cinta hatiku remuk redam. Jika tak ada kamu. Menemani aku,” Angga mengawali nyanyiannya.
“Dengarlah cinta ku memanggil namamu. Disetiap malamku, Ku memikirkan kamu,” sambungku ikut bernyanyi.
“Aku sepi sepi sepi sepi.... Jika tak ada kamu. Aku mati mati mati mati.... Jika engkau pergi.” Angga bernyayi sambil tertawa geli.
“Dengarlah kesayanganku. Jangan tinggalkan aku. Tak mampu jika ku tanpamu, Dengarlah kesayanganku. Hidup matiku untukmu. Kumohon pertahankan aku!” Aku mengikuti suaranya. |*
Suaranya masih merdu seperti dulu. Masih tetap saja berhasil membiusku untuk ikut bernyanyi dengannya. Angga menggenggam tanganku begitu nyanyiannya selesai. Rasanya sangat hangat. Angga mendekatkan kepalanya dan bersandar pada sebelah pundakku.
“Pertahankan aku, Kalila.” lirihnya.
— MUSE S2 —
|* AL GHAZALY - KESAYANGANKU
MUSE UP
Nah lo... author galau to! Pilih mana hayo?? Arvin yang kasar, tampan, dan bucin sejati,
Atua Angga yang lembut dan pintar nyanyi?
VOTEEEEE!!!
Like like like
Commeeent yang buanyak..
Biar semangat gitu hlo sayangkuh..
Jangan lupa vote berhadiah..!! ❤️❤️❤️❤️
Kurangi limbah plastik
Sayang i bumi
Bagi cinta untuk banyak orang.
Walaupun masih stay at home yang penting body and mindnya harus tetap stabil ya readers. Banyak berdoa, olah raga ringan, dan makan-makanan yg bergizi.