MUSE

MUSE
S4 ~ JATUH CINTA? RA?



MUSE S4


EPISODE 14


S4 \~ JATUH CINTA? RA?


\~ Inggrid diam membisu, tak menjawab penuturanku. Sekejap aku menjadi takut, bagaimana kalau nyatanya ada sedikit perasaan yang juga mulai terpecik di dalam hatinya untuk Ra?!\~


____________________


KEN POV


“Kau mau apa brengsek!!” Ra berteriak padaku semalaman ini. Entah apa yang dia pikirkan, kenapa dia marah hanya karena aku bercumbu dengan Inggrid sore ini.


“Apa kau cemburu?” tanyaku.


“Tidak! Aku hanya tak ingin kau merusak masa depan Keano?! Bagaimana kalau Inggrid sampai hamil hanya karena cinta satu malamnya denganmu?” teriakannya menggema dalam benakku.


Ra memang benar sih, aku terlalu menggebu-gebu dengan luapan rasa cinta dan rinduku pada Inggrid. Untung saja Inggrid bisa menghentikanku, bagaimana kalau hal itu terlanjut terjadi dan aku merusak masa depannya?


Ah, tapi pesona Inggrid terlalu susah untuk ditolak!! Kembali terbayang dalam benakku, wajahnya yang cantik merona begitu merah. Degupan jantungnya dan deruan napasnya yang melaju cepat. Juga aroma manis dari peluhnya dan juga lengguhan lirihnya.


“Jangan jadi sampah, Ken!” Ku nasehati diriku sendiri.


“Benar kau sampah!” tambah Ra.


— MUSE S4 —


•••


RA POV


Malam ini entah kenapa aku merasa sangat jenuh. Aku tak ingin melakukan apapun, sepertinya melihat Ken bercumbu dengan Inggrid membuat mood ku memburuk.


“Untung saja Inggrid tak mengikuti kemauan si mesum, Ken!” dengusku sebal.


Aku menyahut jaket bomber berwarna kuning kunyit gelap dan juga papan skate. Mencoba mencari angin malam agar pikiranku tak melayang lebih jauh pada bayangan wajah Inggrid.


Aku menyelusuri jalanan basah menuju ke taman kota. Hujan terus mengguyur kota ini sore tadi, menyisakan aroma basah dan juga rasa lengket saat angin menerpa kulit. Aku terus mendorong laju papan seluncur sampai akhirnya berhenti pada jalanan di belakang perumahan.


“Inggrid? Ngapain malam-malam di sini?” tukasku heran.


Tanpa menunda aku membelokkan papan skate menuju ke tempatnya berada. Cewek bar-bar itu terlalu berani, memakai celana pendek di malam hari. Lagi pula angin berhembus cukup keras, apa dia tidak kedinginan?


“Hei!”


“Oh, Ra, sedang apa kau malam-malam di sini?” tanya Inggrid. Bukankah seharusnya aku yang bertanya. Kenapa malah dia yang balik bertanya?


“Kau sendiri kenapa malam-malam di sekitar sini?! Bagaimana kalau ada orang jahat?!”


“Aku sedang melihat-lihat, mencari foto dan mempelajari lingkungannya.”


“Kenapa?”


“Aku berjanji pada Ken untuk menghidupkan area ini,” jawab Inggrid.


Aku menggertakkan gigiku geram. Bagaimana bisa Ken membiarkan ceweknya keluar malam-malam demi dirinya? Bagaimana kalau dia di serang preman atau orang jahat. Mana bajunya selalu minim bahan di bagian bawah. Menyebalkan, kenapa dia suka pakai outer lengan panjang tapi celananya minim?


“Ken tau kau melakukan semua ini?”


“Dia tidak tau.”


“Ck, harusnya kau minta dia menemanimu.”


“Bukankah tiap malam dia berubah menjadi dirimu?!” cela Inggrid. Benar juga ucapannya.


“Kau bisa minta a—aku untuk menemanimu,” ucapku sedikit canggung, kenapa aku malah mengajukan diri? Wah! Nampaknya mulai ada yang salah dengan diriku.


“Kau salah makan apa?” tanya Inggrid.


“Ya, sudah kalau nggak mau!” jawabku, aku menundukkan wajahku karena malu telah tertolak.


“Haha, cowok arogan bisa juga tersipu?” Tiba-tiba Inggrid mencuri pandang dan meledekku. Dengan jemarinya yang lentik ia menyentuh pipiku yang memerah.


“Hei!” tampikku pelan.


“Hahaha,” tawanya riang.


“Ayo cepat selesaikan pekerjaanmu, malam semakin larut.” Secara tidak langsung aku memaksanya agar mau menerima tawaranku untuk menemaninya.


“Oke.”


“Oh, ya, pakai ini.” Aku melepaskan jaketku dan mengikatnya pada pinggang Inggrid.


“Ra??”


“Pake!! Dingin!! Lagian pahamu terlihat, jangan sampai orang lain berpikiran buruk tentangmu.” Aku berjalan mendahuluinya.


Aku menemani Inggrid berjalan menyelusuri jalanan sampai ke ujung jalan. Dia banyak mengambil foto dan juga mengukur lebar jalan dengan langkah kakinya. Mencatatnya dalam sebuah buku jurnal bergambar kartun kesukaannya.


Outer lengan panjang dengan motif kotak-kotak hijau terlihat melambai karena terpaan angin. Rambutnya yang eksentrikpun kini tak kalah berantakan karena angin. Terpaksa aku melepaskan topiku, menggulung naik rambutnya dan menguncinya di dalam topi. Kini ada ponytail sederhana yang menyembul dari lubang belakang topi.


“Erm ... thanks, Ra.”


Langkah kami terhenti di ujung jembatan. Kami menuruni beberapa anak tangga, ada sebuah taman di pinggir sungai. Lampunya masih menyala temeram. Beberapa sejoli dan juga pedagang masih terlihat memadati area itu, padahal sudah hampir tengah malam.


“Ayo duduk di sana, Ra!” ajak Inggrid.


“Cewek macam apa yang berkeliaran malam-malam!” Sentilanku tepat mengenai dahinya. Bukannya pulang malah ngajakin nongkrong.


“Aduh!!” pekik Inggrid.


“Hei, apa kau mau sesuatu yang hangat?” tawarku saat melihat penjual minuman.


“Hmm, wedang ronde kelihatannya enak.” Inggrid menunjuk seorang pedagang minuman hangat.


“Tunggu di sana! Jangan ke mana-mana, OK!” Aku menunjuk bangku taman yang terbuat dari cor beton.


“Oke.”


Aku memesan dua mangkok pada penjual wedang ronde dan kembali padanya. Aku memberikan sebuah pada Inggrid dan sebuah lagi untukku. Inggrid menghirup aroma jahenya yang harum sebelum menyendoknya perlahan masuk ke dalam mulut.


“Enak?”


“Iya, enak. Thanks, Ra.”


“Sama-sama.”


Aku kembali berkutat dengan mangkok milikku. Mengaduk beberapa bola manis dari beras ketan berisikan kacang tanah dan gula aren. Lalu juga ada irisan kolang kaling berwarna merah dan sangraian kacang. Dan yang paling membuat wedang ronde terasa nikmat diminum waktu malam hari adalah kuah jahenya yang pedas. Pedas, harum, dan juga manis. Apa lagi saat kau memakan bola ketannya, rasa manisnya pecah dan bercampur dengan kuah jahe yang pedas. Top banget!


“Ah, kenyang.” Inggrid mengelus perutnya, entah kenapa aku malah memikirkan tubuhnya saat bersama Ken tadi sore.


“Ra! Wajahmu memerah, apa jahenya terlalu pedas?!”


“Tidak.”


“Benarkah?”


“Sudah sana urusi dirimu sendiri. Mulutmu belepotan tau!” Aku mengalihkan pandanganku dari tubuh Inggrid.


Inggrid mengambil tisu dari backpack berbentuk kepala Buttercup, salah satu anggota power puff girl kesukaannya itu. Sudah SMA masih pakai tas seperti ini. Apa dia tidak malu, ya? Namanya juga idola, tentu saja dia malah bangga saat memakainya.


“Kau juga belepotan tau!” Inggrid mengusapkan tisu pada sekitar mulutku, membuatku salah tingkah dan sontak berdiri. Kuah jahe ditanganku tumpah dan mengenai celana, “ADUH PANAS!”


“WWAAHH ...!!!” Inggrid ikut berteriak, dia mengusap bagian yang basah dengan tisu.


“Jangan Inggrid!” cegahku.


“Kenapa? Kan basah,” tanyanya dengan polos, apa dia tak sadar telah mengusap di dekat bagian paling sensitif milik seorang cowok?!


“Biar aku sendiri saja.” Aku merebut tisu dari tangannya.


Setelah membereskan kekacauan kecil tadi, aku kembali duduk di sampingnya. Inggrid memandang langit malam yang penuh dengan bintang. Ia langsung menyandarkan kepalanya di pundakku begitu tahu aku kembali duduk.


“Pinjam, ya, aku anggap kau, Ken. Pasti rasanya sangat bahagia saat melihat bintang bersama dengan Ken.”


Mengetahui Inggrid begitu mencintai alter egoku itu membuatku geram. Namun aku juga tak ingin melepaskan kesempatan untuk merasakan sedikit saja dekapannya dalam tubuhku saat ini. Ah, Aku ternyata semakin melemah juga, cewek bar-bar ini benar-benar membuatku kehilangan jati diri.


“Bintangnya jatuh, Ra.” Tunjuk Inggrid.


“Itu pesawat ******!”


“Hahaha, anggap sajalah! Kau itu nggak ada romantis-romantisnya!”


“Dasar.”


“Kalau ada bintang jatuh aku akan memohon sesuatu.”


“Apa?”


“Kau menghilang dari tubuh Keano,” kata Inggrid.


Deg ...!!


Rasa apa ini? Rasa sakitnya begitu membuncah dan membuatku nyeri. Sakit sekali. Aku sudah tahu kalau Inggrid membenciku, aku sudah tahu kalau dia akan memilih Ken dibanding dengan diriku. Tapi mendengarnya ingin membuatku menghilang terasa begitu sangat menyakitkan.


“Kau ingin aku menghilang?” tanyaku lagi.


“Iya, soalnya kau jahat! Kau kejam dan arogan!” Inggrid menarik tubuhnya bangkit.


Kini Inggrid berdiri di depanku dan aku duduk di depannya. Kami saling memandang. Aku memandangnya penuh rasa kecewa dan dia memandangku dengan sedikit amarah karena mengingat sikapku belakangan ini.


“Aku pulang, ya!” pamitnya.


“Tunggu!!” Aku menggenggam tangannya dan langsung menariknya ke dalam pelukkanku.


“Hei!! Kenapa? Tiba-tiba!!” Inggrid menggeliat.


“Aku juga tidak tau, aku hanya ingin memelukmu! Ijinkan saja aku begini, sebentar saja,” pintaku.


Aku mendekap erat tubuh Inggrid, memeluknya dengan penuh rasa kecewa. Kenapa aku kecewa? Bukankah aku membencinya?


Aku mengelus rambutnya yang panjang dan lembut, menghirup aromanya yang manis. Tanpa sadar air mataku menetes, satu tetes, dua tetes dan tiga tetes. Kenapa? Benarkah aku telah jatuh hati padanya?


Rasa sakit ini menandakan bahwa aku tak kuasa menerima penolakan dirinya.


“Inggrid, aku mencintaimu.”


“Ra?”


KEN POV


Kenapa tiba-tiba Ra masuk dan berganti denganku? Bukankah tiap malam adalah jatahnya! Lalu apa ini? Air mata? Apa Ra sedang menangis?


“Aku, Ken,” jawabku saat Inggrid salah memanggil nama. Mungkin dia kira aku masih Ra.


“Ken?? Hlo, Ra mana? Sudah masuk?!” Inggrid melongo dengan heran.


“Iya, aku sedang tertidur lalu tiba-tiba terbangun.”


“Oh, begitu.”


“Kenapa kau ada di sini, girl? Kenapa kau berpelukan dengan Ra?” tanyaku cemburu.


“Huh? Aku tak tau, dia yang memelukku lebih dahulu.” Inggrid menaikkan bahunya.


Apa yang sedang ku lewatkan? Kenapa Ra memeluk Inggrid? Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Kalau iya, sungguh menyebalkan. Saat ini saja aku semakin susah mengotrol keberadaannya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia punya tujuan untuk semakin menguasai tubuh Keano.


“Jangan pergi dengan, Ra! Jangan ngobrol dengan, Ra! Jangan bertemu dengannya lagi!” pintaku, aku tau aku mulai gila. Cemburu buta pada belahan jiwaku sendiri.


Tapi, pesona Inggrid tak mungkin tak membuat Ra menunduk padanya. Apa lagi tubuh ini begitu menyukai keberadaan Inggrid. Yah, setidaknya aku harus menjauhkan Inggrid dari Ra terlebih dahulu sebelum perasaannya semakin mengakar lebih dalam.


“Baiklah!” jawab Inggrid.


Aku lega mendengar jawabannya. Aku menggandenganya, mengajaknya berjalan pulang ke rumah. Malam sudah semakin larut dan itu tidak baik untuk gadis seusianya.


“Ken.”


“Heung?!”


“Apa tadi kau mengung—, ah, lupakan.” Inggrid menepis sendiri pertanyaannya.


“Kenapa? Kau nampak gusar?” tanyaku.


“Sepertinya aku melakukan kesalahan, Ken.”


“Pada, Ra?”


“Iya, tanpa mempedulikan perasaannya aku mengatakan ingin membuatnya menghilang dari tubuh Keano.” Inggrid menunduk, sepertinya menyesal.


“Apa yang dikatakan, Ra?”


“Dia hanya memelukku.”


Aku terdiam, dugaanku benar. Ra mulai mencintai Inggrid, atau bahkan telah mencintainya. Air matanya adalah bukti kesungguhan perasaannya terhadap Inggrid. Ra hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya.


“Jangan pedulikan, Ra! Pedulikan saja aku Inggrid.” Aku menggenggam tangannya, Inggrid langsung memandangku dengan tajam.


“Kenapa kau jadi kejam Ken?”


“Kenapa kau marah Inggrid? Bukankah kau memang ingin dia menghilang dari antara kita?”


Inggrid diam membisu, tak menjawab penuturanku. Sekejap aku menjadi takut, bagaimana kalau nyatanya ada sedikit perasaan yang juga mulai terpecik di dalam hatinya untuk Ra?!


“Jangan membuatku cemburu, girl!”


“Apaan sih?! Siapa yang suka sama cowok arogan seperti Ra!” tukas Inggrid lalu masuk ke dalam rumahnya.


“Inggrid!” panggilku.


“Apa lagi?”


“Kau belum menciumku.” Aku mendekatinya untuk menagih pajak kekasih.


“Ehem!!” Tiba-tiba deheman keras mengagetkan kami berdua.


“Daddy!” Inggrid mencelos.


“Papi!” Begitu pula aku.


“Jam berapa ini? Kalian dari mana?” pertanyaannya membuatku dan Inggrid sama-sama menelan saliva karena takut.


“Minum wedang ronde, Dad.”


“Kau ajak anakku keluar semalam ini cuma buat minum wedang ronde?!” Papi Arvin melongo tak percaya. Memang aneh sih, kencan di jam segini dan hanya minum jahe saja.


“Maaf, maaf, lain kali nggak Ken ulangi.” Aku meminta maaf pada Papi Arvin sebelum wajahnya semakin tertekuk marah.


“Pulang sana!! Inggrid masuk!! Awas kalau kalian keluyuran lagi malam-malam!” ancamnya sembari melirik tajam padaku.


“Baik, Pi.”


Aku menghela napas panjang begitu Papi Arvin kembali ke dalam rumahnya dengan Inggrid. Aku tak tahu apa yang terjadi malam ini, apa yang mereka bicarakan dan lakukan. Aku bahkan tak menyicipi wedang ronde itu, dan lebih apesnya lagi aku yang kena omel dari Daddynya Inggrid.


“Sialan kau, Ra!” Ku tendang kerikil kecil sebelum kembali mendorong papan skate melaju lebih jauh.


— MUSE S4 —


Semakin seru nih, rebutan yang terjadi dalam satu benak yang sama.


Ah Inggrid. Beruntungnya dirimu. Dapet dua bucin sekaligus.


Auw...❤️❤️❤️


Lop yu gaes. Jangan lupa di like, comment, dan juga VOTE!!


Yuk biar MUSE FEMES.


Author rengginannambah kece.