MUSE

MUSE
S3 ~ ZEAN



MUSE S3


EPISODE 112


S3 \~ ZEAN


\~ Aku menyukai gayanya, dia memang terlihat sangat imut. Kalau memang bidadari itu ada, Kanna mungkin adalah perwujudan salah satu dari mereka.\~


________________


Aroma kopi memenuhi ruang kerjaku. Sudah hampir pukul lima sore dan aku masih berkutat di antara tumpukan dokumen-dokumen trading yang seakan tak pernah ada habisnya.


“Ini, yang terakhir, Tuan.” Orela kembali masuk dengan file case yang baru.


“Baiklah, Orela. Terima kasih,” ucapku seraya menerima dokumen dari tangannya.


“Anda tak meminum kopinya? Sepertinya sudah dingin, apa anda mau saya buatkan yang baru?” tanya Orela.


“Tidak perlu, aku akan keluar bersama dengan teman-temanku,” jawabku. Orela mengangguk tanda mengerti dan berjalan meninggalkan ruanganku.


Aku mengamati ponsel pintarku saat sebuah nada dering tanda chat berbunyi. Ajakan nongkrong kembali setelah sekian purnama. Kesibukanku menjelang hari raya terbesar di negara ini membuatku tak bisa sering-sering berkumpul dengan mereka. Saat hari raya, trading barang-barang dari produk dalam dan luar negeri semakin banyak.


Aku mengendurkan dasiku, mata dan tanganku bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk ini.


“Selesai!” seruku bahagia.


Aku langsung menyahut jas dan kunci mobil untuk menuju sebuah bar di utara kota J.





AVE BAR AND LOUNGE.


Bar ini merupakan sebuah bar esklusif dengan nuansa remang-remang. Tak seperti club malam yang penuh dengan hingar bingar dan hiburan dari wanita murahan. Bar ini cenderung melayani para esekutif muda dengan hiburan kelas atas. Para wanita murahannyapun berkelas dan menjajakan diri mereka dengan harga selangit.


Lantunan musik klasik dari sexofone langsung menyabut kedatanganku. Bar yang terletak di rooftoop sebuah hotel berbintang lima ini sedikit sepi karena malam belum terlalu larut. Aku bertolah-toleh untuk mencari keberadaan kedua sahabatku.


“Zean!! Kami di sini.” senyumku langsung mengembang saat melihat William melambaikan tangannya padaku.


“Apa kabar, Bro?! Susah banget ketemu sekarang?” William ber- high five sebelum menepuk bahuku.


“Dia sibuklah!!” Hans ikut bangkit dan melakukan hal yang sama.


“Biasa, mau hari rayakan.” Aku duduk dan menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa, memposisikan tubuhku senyaman mungkin.


Hans dan William adalah temanku saat berkuliah. Mereka juga tipe pekerja keras sepertiku, sukses diusia muda dan mendapatkan sendiri perusahaan mereka saat ini. Yang berbeda dari kami adalah, mereka berdua b*jingan yang sering bergonta-ganti wanita, sedangkan aku tipe pria yang lebih menjaga diri. Menghindari nafsu sesaat yang bisa merusak kehidupan.


Bukannya aku munafik, tak ada pria yang tak tergoda dengan kecantikan wanita. Aku juga menyukai sosok wanita yang cantik dan sexy, namun aku tak pernah meniduri mereka. Aku yang terlahir dengan jiwa perfecsionis menginginkan pasangan yang juga sempurna. Dan aku tak akan merusak diriku sendiri dengan nafsu sesaat.


“Kau tak ingin memesan wanita? Apa kau mau pinjam dia sebentar?” Hans menyodorkan seorang wanita cantik yang dari tadi duduk di sampingnya.


“No, Thanks,” tolakku. Aku lebih memilih untuk menyalakan rokok elektrik dan menghisapnya dalam.


“Waaa, kau benar-benar hebat, Zean! Di depanmu berdiri wanita secantik ini dan kau sama sekali tidak terangsang?!”


“Mungkin gerakkannya kurang panas. Coba kau bergoyang, honey!” William menepuk pantat wanita itu.


“Oke!” Wanita itu bergerak sensual di depanku, lalu duduk di antara pahaku. Aku langsung merasa jijik! Aku mendorongnya sampai terjungkal.


“Wkwkwkwk...!” tawa keduanya dengan lantang.


“Zean..., Zean..., dasar g*y!!” umpat keduanya sambil saling beradu tinju salam.


“Sialan kalian! Jangan permainkan aku!” kataku sebal.


William menolong wanita itu dan mendudukkannya pada paha, mereka berciuman dan bercumbu di depanku. Aku menggaruk dahiku sedikit canggung. Biasanya aku tidak masalah, namun kali ini entah kenapa rasanya begitu menyebalkan?


“Hentikan! Itu menjijikkan!” protesku.


“Zean, apa kau sedang PMS? Galak sekali!” kekeh William, ia melepaskan ciumannya dan menyuruh wanita itu pergi, “go, bae!”


“Carilah istri, Zean! Biar kau bisa merasakan nikmatnya bercinta!” Hans menyambung.


“Kau jangan hanya bicara! Carikan dia istri juga, Hans!!” senggol William.


“Selera, Zean terlalu tinggi. Susah mencarikannya istri.” Hans menuangkan wiskey pada gelas dan meneguknya.


Aku melakukan hal yang sama, menuang sedikit wiskey dan meneguknya sampai habis. Kami mengobrol dan mengenang masa lalu, sesekali kami memainkan ponsel pintar kami masing-masing.


“Wah, bidadari Kanna mengunggah fotonya.” William menunjukan ponselnya pada Hans.


William menepis tangan Hans dan kembali melihat ke arah layar ponselnya. Kelakuan mereka menggelitik rasa ingin tauku.


“Siapa?”


“Kau tak tahu bidadari, Kanna?” William memutar layar ponselnya agar aku bisa melihat feed pada jejaring sosial miliknya.


“Cantik...,” pujiku.


“Dia tidak hanya cantik!! Kau lihat bodynya!! Dadanya besar dan kencang! Ditambah dengan lesung pipinya yang manis ini? Dia sempurna, Bro!!!” Hans menepuk pelan pipiku.


“Sialan!” Aku menampik tangan Hans.


“Coba kau follow akunnya, Zean. Kau pasti akan membayangkannya setiap malam.” ledek William.


“Siapa tadi namanya?!” tanyaku, kini aku penasaran.


“Kanna, Arkanna. Kau ketik saja, akun aslinya yang pakai bandana kelinci.” jawab Hans. Ada beberapa akun yang dibuat menirunya atau mungkin akun fans clubnya.


Aku membuka akun sosial media milik wanita itu. Wajahnya memang sangat cantik dan imut. Giginya begitu rapi dan putih, bibirnya tipis, matanya lebar, dan hidungnya mancung. Make upnya tak berlebihan dan itu membuatnya terlihat begitu mempesona. Rambut ikal panjangnya berwarna coklat keemasan. Aku menyukai gayanya, dia memang terlihat sangat imut. Kalau memang bidadari itu ada, Kanna mungkin adalah perwujudan salah satu dari mereka.


“Apa kalian tak pernah mengajaknya kenalan?” tanyaku sedikit heran, tak mungkin pria ganjen seperti mereka tak menggoda wanita ini.


“Aku sudah pernah mencari info tentangnya, juga nomor ponselnya. Tapi dia mengacuhkanku. Ia tak pernah menjawab ajakkanku bertemu.” jawab Hans.


“Yup, bahkan aku menjanjikan sebuah mobil kalau dia mau tidur denganku.” tambah Willian.


“Trus??!”


William mengacungkan jari tengahnya, “itu jawabannya.”


“Kyahahaha, lagian kalian pikir semua wanita bisa dibeli dengan uang?” tawaku dengan nada menghina.


“Mana ada wanita yang nggak suka sama uang?” William menenggak minumannya.


“Kalian tak berusaha lebih keras?”


“Dia mem- black list nomor juga akunku.” Hans melipat tangannya di depan dada, nampaknya rasa sebal pada wanita bernama Kanna masih membayangi pikirannya.


“Harga diri kalian pasti jatuh!” hinaku, akhirnya aku bisa membalas hinaan mereka padaku tadi.


“Shit!” umpat Hans.


“Apa kau tak mau mencobanya, Zean?!”


“Aku?”


“Dia wanita sempurna, bukankah mencari wanita yang sempurna?” William menyahut botol wiskey yang hampir habis.


“Benar, Zean. Dia bisa jadi pialamu. Apa lagi yang kau cari? Kau sudah mendapatkan semuanya, kesuksesan, kekayaan, hanya kurang wanita sempurna yang bisa mendampingi hidupmu, bukan?”


Aku mengangguk, ucapan mereka tidaklah salah. Aku sudah punya segalanya, hanya tinggal pendamping hidup yang sempurna saja yang belum bisa ku dapatkan.


“Akan aku coba mendekatinya,” senyumku sambil memandang wajah manisnya pada layar ponselku.


“Itu baru semangat, Bro!! Ayo Toss biar Zean sukses!!” Hans mengangkat gelasnya.


Tunggu aku Kanna, aku pasti akan mendapatkan dirimu.


— MUSE S3 —


Akhirnya Zean muncul.


😘😘


Love yu Zean!


Like dan commentnya!!


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!