
MUSE S6
EPISODE 19
S6 \~ BUKAN AKU
\~ Apakah hal manis yang baru saja terjadi di antara mereka juga penuh kepalsuan? Desahan nikmat yang terdengar merdu? Rasa hangan yang tak kunjung menghilang? Ucapan cinta yang terus menggema di telinganya?? Apakah itu semua palsu?!\~
______________________
GLEGAR!!
Suara gemuruh dan keclapan kilat membuat suasana pada vila kediaman milik Ivander semakin mecekam. Gabby melirik ke arah nakas, sebuah pisau tergeletak, dengan cepat ia menyahut pisau yang dipakai Ivander mengupaskan apel untuknya pagi tadi.
“Gabby?? Kau mau apa?” Ivander terlihat syok dengan tingkah Gabby yang mendadak berubah.
“Katakan padaku alasannya?! Katakan kenapa kau begitu kejam padanya?!” Gabby terus menjerit.
“Gabby, aku sungguh tidak tahu apa maksudmu?” Ivander mencegah Gabby, mengangkat kedua tangangannya, mencoba untuk meraih pisau dari tangan Gabby. Namun terlambat Gabby dengan tatapan bengisnya sudah mengangkat pisau itu lebih tinggi di atas kepala.
“Jangan pura-pura, Ivander. Kau yang membunuhnya, kau yang menyiksanya sebelum ia menghembuskan napasnya. Kau merenggutnya dariku, kau menyia-nyiakan segala yang ia korbankan untukmu!” Air mata Gabby turun dengan deras, detak jantungnya melaju dengan cepat.
“GABBY!!!” hardik Ivander, ia mencoba membuat Gabby sadar.
“KENAPA???” balas Gabby.
“Siapa?? Siapa yang kau maksud?” Ivander semakin kebingungan, cemas, dan takut.
“KRYSTAL!! Kenapa kau membunuhnya?? Kenapa kau membunuh Krystalku??” Gabby berteriak, mata Ivander membelalak.
Gabby mengayunkan pisaunya, hendak menancapkan benda tajam itu pada dada bidang Ivander, membunuhnya dengan cara yang sama dengannya membunuh Krystal.
SLASH ...!
Suara sayatan pisau terdengar miris.
Tes ... tes ... tes ...
Darah segar menetes dari ujung pisau, membasahi wajah dan tubuh Ivander. Gabby menghentikan ayunan pisaunya dengan telapak tangannya yang lain. Mata pisau menyayat dagingnya, membuat merahnya darah mengalir. Ternyata Gabby benar-benar telah jatuh cinta pada Ivander, ia bahkan tak tega membunuhnya demi membalaskan dendam Krystal.
“TIDAK!!” jerit Ivander, ia langsung bangkit, merebut pisau dari tangan Gabby.
Gabby menatap nanar pada telapak tangannya yang terluka, menganga cukup dalam. Gabby terdiam, ia bahkan tak bisa lagi merasakan rasa sakitnya.
“Tidak, kenapa kau menyakiti dirimu sendiri, Schatz?” Ivander panik, rasa cemas menggelayuti hatinya.
Dengan cepat Ivander mengambil pakaian dan membungkus telapak tangan Gabby, menghentikan pendarahannya dengan kain seadaanya.
“Krystal? Kenapa kau membunuhnya?” Gabby meneteskan lagi air matanya.
“Aku tidak membunuhnya, Gabby. Bukan aku pelakunya.” Ivander bergegas memakai kembali pakaiannya, ia juga membantu Gabby memakai pakaiannya.
“Tidak mungkin! Krystal bilang kau akan menemuinya malam itu.” Gabby menundukkan kepalanya.
“Gabby, ayo bangkit, obati dulu lukanya.” Ivander telah bersiap, ia mendekati Gabby, mengajaknya pergi ke puskesmas terdekat untuk menjahit lukanya.
“Dia bilang kau mengajaknya bertemu.” Gabby sesunggukan.
“Demi Tuhan, Gabby!!! Aku tidak membunuhnya. Sebrengsek apapun diriku aku tak mungkin membunuh Krystal!” Ivander memaksa Gabby, menggendongnya.
Gabby terdiam, ia menangis di atas dada Ivander. Benarkah Ivander tidak membunuh Krystal? Kalau benar begitu, apa Gabby boleh bernapas lega sekarang, karena kali ini cintanya tidak datang pada orang yang salah?
“Berhenti menangis, Gabby, darahnya semakin mengucur.” Ivander memasukkan tubuh Gabby ke dalam mobilnya.
“Sungguhkah kau tidak membunuh, Krystal?”
“Ck, sudah berapa kali aku bilang padamu??! Bukan aku yang membunuhnya!” Ivander dengan cepat memutar kemudi mobilnya, melaju kencang pada jalanan desa yang berkelak kelok, mencari rumah sakit daerah terdekat.
“Jangan bicara lagi!! Bukankah jemarimu kau gunakan untuk memainkan biola?! Apa kau tak mau bermain lagi?! Kenapa kau seteledor itu??! Kenapa kau tak tusuk saja aku sampai mati?!” Ivander memukul setirnya, melihat Gabby terluka terasa lebih menakutkan dibanding merasakan sakit pada tubuhnya sendiri.
“Maaf, Ivander,” lirih Gabby menyesal.
Akhirnya mobil Ivander tiba pada sebuah klinik kecil. Ia langsung menggendong Gabby masuk, Gabby langsung mendapatkan perawatan karena lukanya cukup dalam. Beruntung pendarahnya sudah berhenti karena pertolongan pertama yang diberikan oleh Ivander.
•
•
•
Operasi ringan itu tak memakan waktu lama. Dokter menjahit luka Gabby dengan rapi dan melilitnya dengan perban yang cukup tebal. Gabby tak boleh terkena air terlebih dahulu. Dan Gabby bisa bernapas lega karena lukanya tak merobek sampi ke ototnya, jadi begitu sembuh Gabby bisa memainkan kembali biolanya.
“Syukurlah.” Ivander tak henti-hentinya menggenggam tangan Gabby yang tidak terluka. Ia tertunduk sambil menucapkan syukur.
“Kenapa? Kenapa kau masih saja baik padaku? Padahal aku hampir saja membunuhmu?!” tanya Gabby.
“Sudah ku bilang, Gabby, aku mencintaimu.” Ivander mengecup genggamannya, rasa hangat dan basah pada punggung tangan Gabby membuat perasaannya jauh lebih baik saat ini.
“Kalau bukan kau yang membunuhnya lalu siapa?” Gabby bersandar pada dinding, mengetukkan pelan kepalanya pada dinding keramik.
Siapa yang tega membunuh Krystal dengan begitu kejamnya?
“Siapa yang menemukannya? Kalau benar Krystal mendapatkan pesan dariku, siapa yang bisa menghack nomorku?” Ivander ikut menerka.
“Adrian ... Adrian yang menemukannya.” Gabby berkedip beberapa kali, mencoba berpikir andai saja Adrian adalah pelakunya. Bisa saja kan dia mengambil ponsel Ivander saat lengah dan mengirimkan pesan pada Krystal. Tapi untuk apa?!
“Tidak mungkin, Adrian tidak memiliki cukup nyali untuk membunuh seseorang,” cibir Ivander.
“Lagi pula apa motifnya membunuh, Krystal?” Gabby menatap langit-langit, Adrian, Krystal, dan Gabby sudah berteman cukup lama. Bagaimana mungkin Adrian tega?!
“Kenapa kau terus memikirkan hal itu, Gabby? Apa hubunganmu dengan Krystal? Kau tak harus mencari kebenaran akan kasus ini seorang diri, serahkan masalahnya pada kepolisian. Hal ini berbahaya, salah-salah malah nyawamu yang terancam,” tutur Ivander panjang lebar.
“Krystal adalah cintaku, Van. Yang pertama dan yang paling spesial, aku menghabiskan 10 tahun dengan mencintainya diam-diam.” Gabby menatap wajah Ivander.
“Cinta?? Erm ... tunggu, tunggu? Love as a sister?” Ivander bingung.
“Aku pecinta sesama jenis, Van,” jawab Gabby, ia menunduk.
“What???” Ivander melongo.
“Aku mencintai Krystal. Dengan hati! Bahkan aku mendekatimu demi membalaskan dendam kematiannya, bahkan bila aku harus merenggut nyawamu dengan tanganku sendiri.” Air mata menetes dari sudut mata Gabby yang lancip.
“Jadi kalian l*sbian?” Ivander menutup mulutnya, pantas saja gadis ini susah sekali ditaklukan olehnya, pacaran namun tidak menyentuh Adrian sama sekali. Ternyata dia seorang pecinta sesama jenis.
Ivander menatap wajah cantik Gabby, mencari kepastian. Benarkah terkaannya?
“Tidak, Krystal tak menjawab cintaku, karena dia begitu mencintaimu.” Gabby menghapus air matanya, pilu juga mengakui bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
....
Kini Ivander yang terdiam, tak tahu harus menjawab bagaimana. Dia mencintai wanita dihadapannya saat ini, tapi wanita itu mencintai wanita yang pernah hinggap pada ranjangnya. Bukankah ini hal yang sangat rumit? Gabby ternyata mendekatinya hanya untuk membalaskan dendam atas kematian Krystal, cintanya. Ia bahkan rela bila harus masuk penjara dan membunuh Ivander.
Lalu bagaimana sebenarnya perasaan Gabby padanya? Apakah hal manis yang baru saja terjadi di antara mereka juga penuh kepalsuan? Desahhan nikmat yang terdengar merdu? Rasa hangat yang tak kunjung menghilang? Ucapan cinta yang terus menggema di telinganya?? Apakah itu semua palsu?! Tunggu!! Gabby tak pernah mengungkapkan cinta, ia tak pernah menyatakan cintanya pada Ivander. Selama ini selalu Ivander yang menyatakannya.
“Liebst du mich?” tanya Ivander.
(Apa kau mencintaiku?)
Air mata Gabby kembali menetes dengan deras. Akhirnya pertanyaan yang paling susah dijawab olehnya kini keluar juga dari mulut Ivander.
“Ini sulit Ivander,” lirih Gabby. Ia menaruh dahinya pada dahi Ivander.
“Ungkapkan saja apa isi hatimu, Gabby. Ungkapkan saja apa yang kau rasakan?!”
“Aku ....”
— MUSE S6 —
PENGUMUMAN!!
Giveaway datang lagi!!!
Kumpulin poin kalian terus vote pada GORESAN WARNA PELANGI DAN DAPATKAN KESEMPATAN UNTUK MEMENANGKAN 3 buah buku dari AUTHOR!!!
Caranya gampang:
- Follow IG @dee.Meliana
- Share pengumuman preorder Goresan Warna Pelangi di media sosial kalian, IG, Facebook, dll. (Screen shoot)
- Lalu vote sebanyak-banyaknya.
Vote Di tutup tanggal 1 Oktober 2020 jam 12 siang. Diumumkan tanggal 2 Oktober 2020.
Bagi yang sudah vote terbanyak tapi nggak ada bukti share di media sosial kalian terpaksa author anulir ya, soalnya sudah termasuk syarat give away!!
Lop yu gaes!! A lot!!