
MUSE S3
EPISODE 129
S3 \~ DEPRESI
\~ Tangisku pecah. Aku masih terus meronta di dalam pelukkannya. Air mata, keringat, dan juga darah yang terus menetes dari lubang infus bercampur menjadi satu. Menyambut sebuah rasa yang disebut dengan penyesalan.\~
______________
Aku mengambil ponselku, melihat ke dalam gallery foto. Melihat beberapa foto hasil USG putri kecilku yang telah tiada. Aku mengelusnya perlahan. Meminta maafpun sudah tak ada artinya. Aku telah kehilangan dirinya.
Padahal aku berharap bisa menggendongnya. Aku berharap bisa bermain dengannya. Aku bahkan rela kehilangan apapun asal bukan dirinya. Tapi kebodohanku sekali lagi membawa sesuatu yang berharga pergi meninggalkanku.
“Maafin Mama, ya, Nak,” tangisku kembali pecah.
Aku tak mengizinkan siapapun menjengukku sekarang. Termasuk keluargaku sendiri. Aku ingin merenungi kesalahanku, menghukum diriku sendiri.
Semakin hari dalam kesendirian aku semakin bersedih. Aku tak mau makan, tak mau minum, tak mau melakukan apapun selain menangis dan tidur. Aku merasa hidupku sudah tak ada artinya lagi.
Leon dan Zean terus bertengkar. Mereka bahkan memperebutkan anak kami. Tak ada satupun yang mau mengalah. Bahkan pihak rumah sakit sampai melaporkan keduanya pada pihak berwajib.
Tak lama setelah kepergian mereka berdua, seorang wanita cantik bernama Lova datang ke kamarku. Padahal aku sudah mewanti-wanti suster agar tak mengizinkan siapapun masuk menemuiku. Mungkin dia bahkan tidak izin pada suter untuk datang kemari. Atau mungkin bukan aku yang dia cari.
Benar saja, dia mengaku sebagai tunangan Leon. Dia memang tak ada niat menjengukku. Dia hanya mencari tunangannya. Dia berkata bahwa semua ini kesalahanku. Sikap Leon, Sikap Zean, kehilanganku, semuanya karena diriku.
Aku menangis...,
Tapi dia benar...,
Semua salahku....,
Disaat aku bisa meninggalkan obsesiku aku tak melakukannya.
Disaat aku bisa meninggalkan popularitas dan mengikuti kata Leon aku tak melakukannya.
Disaat aku bisa lebih membela Leon dibanding dengan egoku aku tak melakukannya.
Disaat aku bisa mengatakan pada Leon bahwa bayi yang ku kandung anaknya aku tak melakukannya.
Disaat aku bisa berkata jujur pada Zean kalau aku hamil aku tak mengatakannya.
Semua akar permasalahan ini ada pada diriku yang terlalu lemah. Aku plin plan, aku tak bisa mensyukuri semua yang aku miliki. Aku hanya terbuai dengan kebahagiaan semu semata.
Tuhan, semua telah terjadi.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis. Aku begitu lemah, aku begitu bodoh, dan aku begitu naif.
Aku serakah karena menginginkan semuanya....
Dan sekarang...,
Aku malah kehilangan segalanya....
— MUSE S3 —
•••
Aku berjalan pelan menyelusuri koridor sepi menuju ke atap rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku terus bergumam.
“Maafkan Mama, Nak.”
“Tidak...! Hahaha, Mama nggak mau kehilanganmu.”
“Pergi!! Jangan bawa anakku!!”
Kadang aku tertawa, lalu memangis, kadang sedih, kadan menerawang kosong, kadang menatap lawan bicaraku dengan penuh kebencian. Aku mulai menggila, aku mulai depresi, seakan-akan terus berhalusinasi ada bayangan hitam yang membawa pergi anakku, membawa pergi bayiku. Merebutnya dariku.
Tiap malam aku selalu bermimpi buruk. Tiap malam aku selalu mendengar tangisan bayi di dalam benakku. Tiap malam aku terus melihat wajah Leon dan Zean yang menyalahkanku atas kematian putri kami.
Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan mati malam ini dan mengambil kembali bayiku. Aku akan bersatu dengannya. Aku akan kembali bertemu dengan putri kecilku. Aku akan meminta maaf padanya. Kecerobohan dan kebodohan Mamanya memang tak terampuni. Namun tak ada salahnya mencoba, tak ada salahnya menemaninya.
KRRIIET..!
Bunyi pintu besi terdengar nyaring.
Angin malam berhembus sangat kencang. Dingin menerpa wajah, membuat kulit menjadi kaku. Aku terus berjalan sampai ke ujung pembatas. Melirik ke bawah, ternyata sangat tinggi. Cocok untuk pergi, cocok untuk mengakhiri hidupku yang memuakkan.
“Tunggu Mama, sayang!” gumamku.
Aku sudah naik ke atas pembatas. Menutup mataku dan menetapkan hati untuk melompat. Namun tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tanganku.
“Jangan, Kanna!”
“Kenapa kau melarangku?” tanyaku lirih.
“Bukankah kau senang kalau aku tiada? Aku akan menemui putriku. Jadi lepaskan!!” lanjutku, aku menarik tanganku, namun cengramannya lebih erat dan tenaganya lebih kuat.
“Jangan bodoh! Jangan tinggalkan aku!”
“Aku ingin bersama dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya.”
“Kanna!!” tangannya menarik tanganku sampai aku terjatuh dalam pelukkannya.
“Kenapa???!!!” teriakku padanya.
Tangisku pecah. Aku masih terus meronta di dalam pelukkannya. Air mata, keringat, dan juga darah yang terus menetes dari lubang infus bercampur menjadi satu. Menyambut sebuah rasa yang disebut dengan penyesalan.
“Karena aku tak bisa hidup tanpamu, Kanna.” tangannya terus mengelus rambutku, mencoba untuk menenangkanku.
— MUSE S3 —
Siapa??
Siapa yang menyelamatkan Kanna?
Zean atau Leon?
Selamat memperingati hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan.
Mohon maaf lahir batin.
Bagi banyak cinta untuk sesama
❤️❤️❤️
Lap yu gaes..
so much..