
MUSE S7
Episode
S7 \~ BENCI TAPI CINTA
\~Leoni memejamkan matanya. Hatinya begitu membenci cowok itu, tapi juga sangat mencintainya. Susahkan!!\~
__________
Levin mengeluarkan sepeda dari garasi. Pagi ini ia telah sampai ke kota S dan melepaskan rindu dengan keluarga. Arvin, Kalila dan juga Inggrid.
Meski sedang bercengkrama dengan mereka pun Levin tak pernah mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Sudah seharian Levin mencoba menghubungi Leoni, namun gadis itu masih mengacuhkannya.
“Kenapa?” tanya Kalila yang sadar dengan perubahan sikap si bontot.
“Enggak kok.” Levin bergeleng.
“Bertengkar dengan Leoni??”
“Enggak kok.” Levin menyembunyikan kenyataan bahwa ia memang sedang bertengkar karena tak ingin Kalila khawatir.
“Daddy sudah membeli mobil yang kau minta. Ini kuncinya.” Arvin melemparkan kunci mobil pada Levin.
“Range Rover hitamkan??”
“Yup. Keluaran terbaru,” jawab Arvin sembari mengusap pucuk kepala Levin seakan ia masihlah bocah kamarin sore. Kebiasaan yang tak bisa hilang karena memang Levin adalah anak bungsu.
“Irinya.” Celetuk Inggrid.
“Levin membelinya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri Inggrid.” Kalila menjawab si sulung.
“Sudah aku pergi dulu.” Levin tak sabar untuk menemui Leoni.
“Kau sudah mau pergi?” Kalila melirik jam, memang sudah senja sih. Tapi apa Levin tak mau makan malam dulu, dia kan baru saja pulang.
“Yup, aku harus menjemput Leoni di sanggar balet.” Levin bergegas mencium pipi Kalila dan berhigh five dengan Arvin sebelum keluar dari rumah.
Levin mengkayuh sepeda lamanya. Sepeda yang punya kenangan indah bersama dengan Leoni saat mereka remaja. Sepeda ini pula yang membawa keduanya sampai terjatuh dan harus di larikan ke rumah sakit.
Levin bergegas menuju ke sanggar balet. Hembusan angin malam mulai menerpa wajah tampannya. Senyuman manis terulas begitu belokan demi belokan jalan terlampaui. Semakin dekat jarak, semakin manis pula senyuman Levin. Ia sungguh tak sabar untuk bertemu dengan Singa manisnya.
.
.
.
(Sementara itu di sanggar balet.)
Leoni bangkit, menuju ke ruang ganti bersama dengan para gadis muda lainnya. Rata-rata berumur 15-20 tahun, mereka sudah mengikuti kelas balet sejak kecil. Hanya Leoni yang mengikuti kelas ini sejak dua tahun yang lalu. Sejak ia mulai menangis karena memikirkan cowok brengsek berstatus pacarnya itu, — yang pergi mengejar impian bodohnya. Kanna yang khawatir menyuruh Leoni untuk memikirkan hal lain, mengisi waktu dengan kegiatan berfaedah. Siapa tahu anak gadisnya nanti bisa punya postur tubuh yang anggun dan feminim. Setidaknya mirip dengannya, bukan kasar dan beringasan seperti papanya, Leon.
“Kau sedang PMS? Kenapa aura di sekeliling wajahmu gelap sekali?” tanya salah seorang dari mereka pada Leoni di ruang ganti.
“Nggak, terbalik! Suasana hatiku sedang bagus, hanya saja aku juga sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang rumit.” Leoni tersenyum kecut.
“Gadis aneh! Apa yang begitu rumit sampai membuat wajahmu tertekuk, hah?!” Kikihnya sambil menutup pintu loker, memandang ke arah Leoni yang masih sibuk dengan sisir rambutnya.
“Huft ... aku akan bertemu dengan pacarku sebentar lagi, dia bilang akan menjemputku.” Leoni menutup pintu lokernya.
“So?! Ya baguskan, kenapa kau malah menghela napas?! Kenapa malah menganggap ini suatu hal yang rumit?”
“Dia sudah lama tidak pulang! Dan aku gugup, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi perasaanku padanya.” Leoni bersandar pada lemari loker, mengantukkan kepalanya pelan dengan pintu loker.
“Emang kenapa? Apa dia selingkuh? Kau sudah nggak cinta? Atau kau bimbang karena mencintai lelaki lain?” Cerca gadis itu.
“So what?? Kalian bisa melepas rindu setelah sekian lamakan? Kenapa mesti sebal?” tanyanya heran.
“Aku benci saat melihat wajahnya karena aku akan merasa kalah. Aku benci saat melihat wajahnya karena aku akan kembali luluh. Kau tahu, aku sangat benci dengan impiannya. Dia meninggalkanku selama tiga tahun karena impian bodohnya. Dan kini aku harus bertemu lagi dengannya, berdebat untuk sesuatu yang tidak penting baginya, tapi penting bagiku!” Leoni memejamkan matanya. Hatinya begitu membenci cowok itu, tapi juga sangat mencintainya. Susahkan!!
“Wah, wah, emangnya apa impiannya?”
“Dia ....”
“Leoni, ada yang mencarimu!” Tiba-tiba, ada yang menyela obrolan mereka. Melambai-lambai pada Leoni dari balik pintu masuk ruang ganti.
Teman-teman yang lain juga terperana dengan kehadiran seorang cowok di sanggar khusus wanita itu. Yang lebih membuat mereka tak berkedip adalah, cowok itu ganteng banget.
“Ya, Tuhan, ganteng banget!” celetuk mereka.
“Ugh, berdiri saja aura panasnya bikin meleleh.”
“Gerah!”
“Siapa?” Leoni bergegas keluar, teman-temannya mengekor.
Leoni terkesiap melihat siapa cowok yang mencarinya. Tubuh jangkung dan perawakannya tetap sama. Bahunya tetap tegap, wajahnya masih tampan dan bahkan kini jauh lebih tampan. Hanya rambut dan kulitnya yang berbeda, rambutnya sedikit gondrong dan kulitnya kecoklatan. Sepertinya dia banyak berjemur akhir-akhir ini.
Mata Leoni berkaca-kaca melihat kehadirannya. Namun berusaha tegar agar air mata itu tak tertumpah, bukankah dia sedang ngambek padanya? Sedang marah?
“Leoni! Di ... dia ... dia Levin kan?? Pemenang Grand prix termuda tahun lalu?!” Mata mereka membelalak. Kaget, kagum, heran membaur jadi satu. Pria itu tak lain adalah Levin, juara dunia motor GP, mengendarai Duc*ti. Levin mengalahkan para saingannya yang jauh lebih tua, muncul sebagai kuda hitam yang tak diperkirakan.
Wajahnya langsung menghiasi layar kaca dan juga majalah-majalah ototmotif. Membuat decak kagum pada pecinta olah raga yang mengutamakan teknik dan kecepatan ini.
“Hoo.” Leoni mengangguk.
“Di .. dia pacarmu??” gagap mereka, tak pernah menyangka bahwa pacar Leoni adalah orang sehebat itu.
“Iya.” Leoni mengangguk lagi.
“Ko ... kok kau nggak bilang kalau pacarmu dia! OMG!! Gila dia benar-benar Levin!!”
“Hla?? Kaliankan nggak pernah nanya, lagian buat apa pamerin cowok menyebalkan seperti dia.” Leoni menatap lagi punggung cowok berhodie itu. Tangannya masuk ke dalam sak, memandang ke luar dinding kaca besar. Ia terlihat sedang menunggu Leoni dengan sabar.
“Levin,” panggil Leoni. Cowok itu terkesiap, ia memutar tubuhnya.
“Hallo, Baby!” Senyuman terkembang pada wajah tampannya.
Levin membuka lengannya, memberi kode agar Leoni segera menghambur masuk dalam pelukkannya.
Leoni mencibirkan bibirnya, menatap Levin dengan mata berkaca-kaca. Sekajap kemudian gadis itu berlari, Levin sudah bersiap siaga, menerima pelukan kekasihnya, ingin segera mendekap hangat dalam pelukkannya.
Namun ...
Leoni bukannya mengambur masuk dalam pelukan Levin malah keluar dari sanggar dan berlari pergi. Meninggalkan Levin yang masih mematung, syok dengan respon Leoni. Harusnyakan mereka berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu.
“Hei!! Hei!! Singa!!” Levin berteriak memanggil nama kekasihnya —yang ngambek— sebelum berlari menyusul Leoni.
“Singa!! Tunggu woi!!” Panggil Levin.
...— MUSE S7 —...
...Muse up!!!...
...Jangan lupa dikomment, dilike, divote!!!...
...Biar authornya bahagia, semangat update!!...