MUSE

MUSE
S7 ~ MANDI BERSAMA SINGA



MUSE S7


EPISODE 04


S7 \~ MANDI BERSAMA SINGA


“Iya, bedanya cerewetnya mommy mu di bagi empat. Sedangkan aku, anak tunggal. Aku telan tu omelan Mama sendirian setiap hari sampai eneg.” Leoni melirik Levin. Sedikit menahan tawa karena wajah Levin hitam semua.


_________________


Roda berputar seiring dengan kayuhan kaki Levin. Melintasi terotoar di sepanjang ruas jalan raya menuju ke sebuah perumahan elit. Remaja cowok dengan wajah tengil itu terus menahan bau busuk dari tubuhnya sendiri. Leoni, teman sekelas sekaligus tetangga satu komplek sepertinya merasakan hal yang sama. Bau comberan. Leoni berdiri di belakang Levin, berpegangan pada pundak. Sesekali Leoni mengumpat tertahan, mengerutuki Levin dari belakang.


Setiap orang yang mereka lewati menutup hidung. Ada juga yang menatap keheranan, bagaimana keduanya bisa tercebur di saluran pembuangan air kotor?


“Gara-gara kamu, nih!! Kita jadi dilihatin sama orang-orangkan! Malu tahu!” Leoni mengeplak kepala Levin. Cowok remaja itu meringis kesakitan.


“Gara-gara kamu badanku bau semua!”


“Gara-gara kamu badanku gatal semua!”


“Gara-gara kamu!!”


“Bla ... bla ... bla ...!”


Levin geram lantas mengerem sepedanya dadakan. Membuat dada Leoni membentur punggung Levin. Dan hidungnya terantuk kepala Levin. Leoni spontan menjerit sebal sambil menggosok hidung yang memerah. Levin menyeringai bahagia.


Rasain dasar cerewet! pikir Levin.


“Dasar cowok gila!! Tak tahu diri! Kamu mesti cari kesempatankan?!” Leoni mencubit perut Levin sekuat tenaga.


“Adudududuh!!” Levin menoleh, menyergap tangan Leoni yang masih bersarang pada perutnya.


“Kesempatan apaan? Dada rata gitu, nggak ada rasanya juga.” Levin menghempaskan tangan Leoni.


“Trus ngapain berhenti dadakan?” Leoni melotot pada Levin sambil berkacak pinggang.


“Kita sudah sampai di depan rumah kamu, O on!” Levin mendorong tubuh Leoni sampai terjatuh dari sepeda.


“Dasar cowok gila!” Leoni bangkit, menatap tajam Levin.


“Enak aja kamu tuh yang sakit jiwa!” Levin mendamprat Leoni.


“Ah bodo amat, aku mau pulang aja. Bau busuk di tambah melihat wajah kumalmu semakin membuatku menderita!” Levin menyentil dahi Leoni sebelum mengambil ancang-ancang mengayuh pedal sepeda.


Belum sempat roda berputar dua kali, seseorang telah menahan kerah baju seragam Levin. Membuat remaja itu tercekik. Dalam satu tarikan keras, sepeda jatuh bersamaan dengan tubuh penunggangnya. Levin terpekik kesakitan, bokongnya menyentuh aspal jalanan tanpa pelindung apapun.


Seorang pria dengan rambut terkuncir model top knot dan lengan kekar penuh tato membuat Levin terkesiap. Pikirnya ada preman dari mana disekitar perumahan elit. Apa satpan tidak menjaga gerbang perumahan mereka dengan baik?


“Papa!” seru Leoni.


“Papa??” Levin menatap pria sangar itu dan Leoni bergantian.


“Beneran dia papamu?” tanya Levin bisik-bisik, Leoni membenarkan dengan cara mengangguk.


“Hei bocah!! Berani-benarinya kamu bilang Leoni sakit jiwa. Cari mati ya?!” Leon dengan wajah garangnya mendekati Levin. Otomatis remaja itu menelan ludahnya berat.


“Nggak gitu kok, Om! Leoni duluan yang katain saya gila.” Levin berlari sembunyi ke belakang punggung Leoni.


“Tolongin aku!” Levin berbisik lagi.


“Hehehe, rasain. Papaku tu sayang banget sama aku. Nggak mungkin dia percaya sama omonganmu!” Leoni terkikih, bahagia karena kali ini dia menang melawan Levin.


“Dan kamu juga, bayi, kenapa pulang dengan seragam kotor bau comberan? Kalian habis bersih-bersih selokkan?” Leon menutup hidungnya yang tergelitik dengan bau busuk ke dua anak SMP di depannya.


“Puft, bayi.” Levin menahan tawa, Leoni langsung menginjak kaki Levin, membuat pria itu mengaduh tertahan sampai wajahnya merah.


“Wah, wah, ada apa ini?” Kanna, mama Leoni keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara ribut-ribut dari halaman depan.


Kanna terkesiap begitu melihat anak gadisnya, “Ya Tuhan Leoni!!! Kenapa jadi bau comberan dan kotor semua?! Kalian habis ngapain sih? Kok bisa kecemplung got? Mama kan sudah bilang, anak cewek harus cantik, harus anggun, lemah lembut, mainannya boneka bukan comberan, bla ... bla ... bla ...”


“Mamamu cerewet banget sih? Kek Mommy-ku. Parah.” Levin masih bersembunyi di belakang Leoni, takut sama Leon. Singa buas itu masih menatap galak padanya.


“Iya, bedanya cerewetnya mommy mu di bagi empat. Sedangkan aku, anak tunggal. Aku telan tu omelan Mama sendirian setiap hari sampai eneg.” Leoni melirik Levin. Sedikit menahan tawa karena wajah Levin hitam semua.


“Kabur aja yuk?” Levin memberi ide.


Leoni menyeringai senang. “Ayo.”


“Hitungan ke tiga, aku ambil sepeda, naik. Cuss!”


“Siap!” Leoni memberikan jempol. Kedua bocah nakal itu mengambil ancang-ancang.


“Papa!!” Leoni berseru.


“Lepasin Om! Kecekik nih!!” Levin menyerah.


“Hlo!! Bukannya kamu Levin, anak Kalila?” Kanna mengenali sosok Levin sebagai anak bontot dari sahabatnya.


“Hehehe, iya, Tante. Lepasin saya ya Om, Tan. Piisss...!” Levin mengiba. Dua jari terancung tanda damai.


“Pisss piss apaan sih!” Leoni menatap Levin tak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Mereka itu orang tua, bukan bocah remaja seumuran yang bisa diajakin bercanda. Gila emang ni anak, bikin tambah runyam saja urusan.


“Anaknya Kalila? Sama Angga?” Leon terkesiap, sudah lama ia tak mendengar nama Kalila dan Angga. Bagaimana pun Angga adalah sahabat Leon saat masih SMA, kalau benar Angga yang itu, ingin rasanya bertemu dan membagi cerita.


“Tapi kok nggak ada mirip-miripnya sama Angga atau Kalila?” Leon mengamati wajah Levin. Hidung mancung, sorot mata tajam, alis tebal, dan rahang yang tegas.


“Hlah, dia anaknya Kalila, tapi sama Arvin bukan Angga. Masih ingat paman Jilius? Arvin itu adik iparnya.” Kanna menepis tangan suaminya yang seenaknya saja peyotin pipi anak orang.


“Wow, dunia sempit sekali. Pantas saja aku seperti tidak asing dengan wajahnya.” Leon menepuk pelan pipi Levin.


“Makanya, jangan cuma sibuk mainan tanah sama pameran keliling dunia. Perhatian juga kek sama keadaan di sekitar rumahmu.” Kanna menasehati suaminya.


“Ck, iya, iya, Cibrut. Tambah cerewet aja sih?” Leon hendak menggandeng tangan Kanna.


“STOP!! Tanganmu kotor.” Kanna menunjuk tangan Leon yang kusam, tertular sisa comberan dari kerah anak-anak itu.


“Yahh ....” hela Leon panjang. “Ya udah, Ayo masuk anak-anak!” lanjut Leon, beralih pada dua makhluk lain di sampingnya.


“Benar, bersihkan diri kalian. Levin, mampirlah Tante buatkan teh agar tidak kedinginan.” Kanna tersenyum pada sahabat anaknya.


“Mamamu cantik. Kok kamu enggak?” Goda Levin.


“Enak aja, aku lebih cantik tahu!!” sergah Leoni sebal.


Keduanya masuk untuk membersihkan diri. Leon meminjamkan kaos dan celana boxernya pada Levin. Tentu saja tubuh kecil Levin bakalan tenggelam di dalam kaos itu. Tapi lebih baik dari pada harus terus memakai baju bau comberan itu.


Kanna membantu Leoni membersihkan diri. Menggosok rambutnya sampai semua kotoran yang menggering hilang. Tak lagi kusut dan menggumpal. Leoni mendekap nyaman dalam bath tube sembari memainkan busa sabun yang melimpah. Kanna masih memainkan rambut Leoni, merawat dengan masker agar tidak rusak.


“Kenapa bisa kecemplung got?”


“Ditarik sama Levin.”


“Kok bisa?”


“Leoni lempar botol ke kepala Levin, terus dia jatuh ke got. Pas Leoni ngejekin Levin, cowok gila itu tarik tangan Leoni sampai jatuh.”


“Dasar anak ini!!” Kanna mengeplak pelan kepala anak gadisnya. Heran dengan kelakuan Leoni yang tak ada abis-abisnya bikin orang tua geregetan, teman jatuh karena ulahnya, bukannya di tolong malah di hina. Ya pantas saja Leoni ikutan kecemplung comberan.


“Habis Levin dulu yang ejek Leoni, Ma. Dia bilang rambutku mengembang kayak rambut singa.” Leoni mencibirkan bibir sebal.


“Ya memang rambutmu kaya singa. Kan Mama sudah bilang, pakai masker, pakai serum, pakai vitamin rambut yang bikin rambut kamu lembut. Kalau rambut kamu kering akan kelihatan semakin mengembang Leoni!!”


“Nggak telaten, Ma.”


“Huft ... keturunan siapa sih? Kok nggak mirip sama Mama?” Kanna mendesah sebal, sebagai beauty blogger Kanna terbiasa tampil cantik setiap hari. Tampil sempurna. Tak jarang dia menghabiskan satu jam lebih berlama-lama di kamar mandi agar selalu tampil sempurna. Dari ujung rambut sampai jempol kaki.


“Anak Papa aja kok, Leoni cuma nunut lahir dari perut Mama.” Leoni nyengir.


“Agh ... Dasar!” Kanna mencipratkan air ke wajah Leoni.


Di kamar mandi yang lain. Levin menahan derita dan rasa malu. Ia satu kamar mandi dengan Leon. Hanya memakai handuk yang menutup burung kebanggaan mereka masing-masing. Leon berdekap tangan, Duduk sambil memandang Levin lamat dengan sorot mata tajam. Menunggu bak terisi oleh air hangat, singa jantan itu menatap mangsanya.


“Ini. Bebatkan di tanganmu!” Leon memberikan handuk pada Levin.


“Ma — mau apa Om?” Levin terperangah.


“Adu tinju ....”


...— MUSE S7 —...


Kira-kira Levin mau diajak ngapain? Adu tinju beneran apa gimana?


MUSE UP!!!


jangan lupa di like sama komen!!


Banyakkan ya..


Minta tolong baca dari awal donk, kali aja ada like yang kelewatan. Bisa di like 😘😘😘


Cee yuuui