MUSE

MUSE
S4 ~ SAKIT JUGA



MUSE S4


EPISODE 23


S4 \~ SAKIT JUGA


\~ Inggrid hanya diam dan tak bisa menjawab pertanyaanku. Namun dari raut wajah dan debaran jantungnya, siapapun akan tahu kalau Inggrid menyukai Ra.\~


_____________________


RA POV


Aku menyukai gadis itu sebanyak Ken menyukainya.


Aku mencintai gadis itu sebanyak Ken mencintainya.


Walaupun aku tak pandai mengungkapkan isi hatiku lewat ucapan seperti Ken, tapi aku tetap berusaha mengungkapkannya lewat tindakkan.


Aku akui dulu aku begitu membencinya karena ia begitu menempel dengan Keano. Membuat Keano lemah, dan sering di sakiti. Seiring waktu dan kebersamaan yang kami jalani berdua aku mulai membuka hatiku untuknya.


Aku mencintainya dengan caraku.


Aku mengasihinya dengan caraku.


Tapi dia ingin membuangku! Dia tak menginginkanku!


Benarkan eksistensiku hanyalah sebuah penghalang bagi kebahagiaannya?


Benarkah seharusnya aku menghilang saja?


Ah, kalau benar dengan menghilangnya aku bisa membuatmu bahagia, mungkin tak ada salahnya aku pergi darimu.


Tidak, sampai aku mendengarnya sendiri!! Sampai aku mendengar hal itu terucap dari bibirnya dan ditunjukan untukku, bukan Ken. Saat itu barulah aku akan menghilang dari hidupnya.


— MUSE S4 —


•••


Apa kalian masih ingat dengan perkataanku saat itu? Saat aku mengatakan kalau, begitu semuanya terucap dari bibir nya dan ketika aku mendengarnya sendiri. Barulah saat itu aku akan menghilang dari hadapannya, dari hidupnya, dan hidup Ken.


Sore ini Inggrid datang ke rumahku, Memintaku untuk tidur dan membiarkan Ken keluar. Dia berkata bahwa proyeknya sudah selesai, dia ingin menunjukkan kepada Ken hasil dari proyek itu.


Lalu bagaimana denganku?


Apa dia tidak ingin menujukkannya kepadaku juga? Padahal aku juga ikut menemaninya saat proyek itu dimulai.


Aku membencinya karena dia masih mengharapkan Ken keluar, padahal dia jelas mengerti bahwa aku sengaja menguncinya di dalam hati! Aku tak bisa melepaskannya karena Ken begitu ingin aku menghilang dari tubuh Keano. Dia ingin membunuhku secara tidak langsung.


Kenapa Inggrid ...?


Kenapa kau bisa memikirkan perasaan Ken tapi tidak perasaanku?! Aku juga Keano!


Kenapa kau bisa lebih memilih mencintai Ken dibanding diriku?! Aku juga Keano!


Melihat kilatan cahaya yang berpendar penuh iba dari mata bulatnya membuatku tanpa sadar menciumnya. Entahlah, kenapa aku menciumnya dengan penuh luapan emosi seperti ini? Huft ...! Harusnya aku bisa mengontrol emosiku, namun aku bukan Ken yang dengan mudahnya bisa mengontrol perasaannya.


“AUCH!!” Aku meringis kesakitan, Inggrid menggigit bibirku sampai berdarah. Rasa anyir dan perih terasa sampai ke dalam indra pengecapku.


“Maaf, Ra, aku jijik dengan kelakuanmu?”


Apa dia bilang? Jijik?! Dia jijik padaku yang menciumnya dengan tubuh ini? Padahal dia tak pernah merasa jijik saat Ken yang menciumnya, walaupun saat itu Ken juga sedang ngambek padanya, atau dia sedang ngambek pada Ken.


Inggrid mendekat, sepertinya dia mulai menyadari rasa sakit di dalam hatiku saat ini, ucapannya membuatku terluka. Inggrid mendekat dia hendak membantuku menghilangkan darah yang terus mengalir.


“Jijik??!” Aku kembali bertanya sambil menepis tangannya.


“Iya, aku tak suka kau kasar padaku!!”


“Memang kalau aku lembut kau mau?! Kau hanya mau Ken bukan? Padahal tadi kau bilang aku juga Keano! Tapi kau hanya mau Ken yang menciummu?!”


“Ra?! Berhenti berkata kasar padaku dengan wajah Ken!” Mata Inggrid terlihat sayu.


“Apa kau bilang?! Ini juga wajahku!” Aku mendorongnya sampai terjatuh.


Inggrid mulai menangis! Memandangku dengan nanar! Aku pun membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam.


“Ternyata kau sangat jahat Ra!! Aku benci padamu!! Aku harap kau menghilang!! Aku harap aku tak pernah bertemu denganmu selamanya!!” teriakan demi teriakan mengalir deras keluar dari bibirnya yang merekah penuh. Air mata Inggrid mengalir tak kalah deras dengan teriakkannya.


Aku terdiam membeku, apa aku telah menyakitinya sampai dia begitu membenciku? Apa aku telah melakukan hal yang salah? Bukankah dia yang menyakitiku? Harusnya aku yang marah? Kenapa malah jadi aku yang salah?


Aku mencoba mengatur napasku yang berat karena menahan amarah yang membuncah. Mataku mengikuti gerakannya, melihatnya berlalu pergi dari kamar dan juga rumahku.


Dengan gusar aku menendang bangku sampai jatuh dan menimbulkan bunyi ‘BRAK!’ yang keras. Aku duduk di bibir ranjang dan menjambak pelan rambutku, kadang sampai mengacaknya dengan kasar.


Detik yang berlalu dengan tenang mengusir rasa sesak dan gusarku, menggantinya dengan kekecewaan dan juga air mata. Aku menyentuh wajahku, ada butiran bening air yang menggenang di pelupuk mata dan mengalir deras membasahi wajah.


Aku adalah Ra!! Aku adalah bagian dari Keano yang begitu kuat!


Aku adalah Ra!! Aku adalah bagian dari Keano yang begitu pemberani!


Lantas kenapa?


Kenapa aku menangis?


Kenapa aku kecewa?


Kenapa aku bersedih karena gadis itu mengacuhkanku?


Kenapa aku bersedih karena gadis itu lebih memilih alter egoku?


Aku Ra!! Aku bukan bagian dari Keano yang cengeng.


Kini, dia bahkan menorehkan rasa sakit dan kecewa di saat yang bersamaan dengan rasa rindu dan rasa ingin memiliki.


Baiklah kalau itu maumu Inggrid. Aku akan menghilang, masuk ke dalam relung hati Keano selamanya. Aku akan mengalah pada Ken asal kau bisa bahagia.


Terima kasih sudah menorehkan cinta sekaligus luka dalam singkatnya hubungan kita.


Terima kasih sudah menciptakan rasa yang begitu indah dan juga sakit dalam singkatnya perkenalan kita.


Aku menatap langit-langit kamar yang seakan mulai meredup dan menjauh. Seiring dengan air mataku yang menetes, kesadarankupun perlahan-lahan menghilang.


Ternyata rasanya sakit juga!


— MUSE S4 —


•••


KEN POV


Aku terbangun setelah tertidur sekian lama dalam benak Keano. Sudah berhari-hari Ra tidak pernah muncul. Aku mencoba mengingat-ingat lewat otak Keano dengan apa yang telah terjadi. Dengan samar-samar aku bisa mengetahui kejadian yang menimpa Ra dan juga Inggrid. Aku tak tahu aku harus bersyukur atau bersedih karenanya?


Ra sudah menjadi bagian dalam diri Keano sejak kecil, dia adalah temanku membagi rasa juga, walaupun kami sering ribut karena hal-hal sepele. Sifat kami yang bertolak belakang membuat kami tak bisa sejalan dalam pemikiran.


“Ken, apa benar Ra sudah tak pernah keluar lagi?” tanya Inggrid penasaran. Saat ini kami sedang berada di cafe, mengelap sendok dan cangkir yang baru saja selesai di cuci oleh Erik.


“Benar, girl, sudah seminggu ini. Kenapa? Apa kau merindukannya?” godaku, jujur aku sangat ingin mengetahui bagaimana perasaan Inggrid terhadap Ra.


“Ngaco, mana mungkin aku rindu sama cowok k*mpret macam dia! Aku hanya ...,” - ucapan Inggrid terhenti - “aku hanya merasa sepi,” hela Inggrid.


“Kenapa merasa sepi?” tanyaku. Ternyata memang Inggrid sudah mulai mencintai Ra juga.


“Entahlah.” Inggrid menaruh dagunya pada meja cafe, siang ini cafe terlihat lebih legang dari biasanya.


“Kau ingin Ra kembali? Bukankah dulu kau bilang dia menyebalkan? Kau ingin dia menghilang dari Keano?”


“Iya, sih, itu karena dia sangat susah untuk menerima kehadiaranku, padahal kita sudah bersama sejak kecil.” Inggrid manyun, masih dengan dagunya menyadar di atas meja.


“Apa kau mulai menyukainya?” Aku mengelus rambut Inggrid.


....


Inggrid hanya diam dan tak bisa menjawab pertanyaanku. Namun dari raut wajah dan debaran jantungnya, siapapun akan tahu kalau Inggrid menyukai Ra.


“Ken?” Air mata Inggrid menetes perlahan, bamun cepat-cepat Inggrid menyekanya.


Aku memeluknya dan mendekapnya dengan erat, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan cemburu pada belahan jiwaku saat ini. Aku tak pernah menyangka bahwa hal rumit bisa terjadi dalam satu tubuh yang sama. Kenapa Keano harus menciptakan Ra? Kenapa harus juga menciptakan Ken?


Tak bisakah kami menjadi Keano yang bisa sama-sama mencintai Inggrid?


Lantas sekarang.


Bagaimana aku harus menyikapinya?


Aku tak ingin Ra memiliki Inggrid, namun tak ingin melihat gadisku ini menangis.


Perasaan manusia itu memang kompleks, ego manusia itu memang susah untuk diselami. Dan perasaan serta rasa manusia itu memanglah bukan sesuatu yang bisa di pendam begitu saja.


“Inggrid.” Mulutku memanggil namanya.


“Ya, Ken?”


“Kita mulai hubungan kita dari awal, ya. Tanpa kehadiran Ra. Bukankah kau dulu hanya mencintai Ken, bukan Ra.” Aku menggenggam tangannya dan menaruh di depan dadaku.


Inggrid memandangku dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tahu aku egois, aku ingin menghapus Ra dari tubuh Keano dan juga hatimu. Tapi ... bukankah cintaku tak kalah besar dan selalu penuh untukmu, girl?”


“Ken ...!” Inggrid mengencangkan pelukkannya dan memelukku dengan erat. Sepertinya dia juga begitu terluka dengan hilangnya Ra, dia juga begitu sedih dengan keadaan ini, dia begitu menyesal dengan ucapannya.


Aku pun hanya bisa diam dan memeluknya. Maaf Ra, aku akan menjaganya dan berubah menjadi cowok kuat dan pemberani sepertimu.


— MUSE S4 —


Jadi Ra beneran hilang? 😳😳


Gaeskuh, maaf kalau banyak typo dan sedikit kacau. Soalnya tangan author rengginan sedikit , jadi ngetiknya via voice record. Semoga tetap berhasil menghibur dan memyuguhkan cerita yang terbaik.


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian


🥰🥰😝