MUSE

MUSE
S4 ~ GRAFITI



MUSE S4


EPISODE 21


S4 \~ GRAFITI


\~ Ken yang mengajarkan tentang kepedulian kepada sesama. Aku ingin dia agar dia tahu bahwa pemikirannya dan kasihnya kepada para lansia telah membuahkan hasil yang luar biasa.\~


________________


Sudah beberapa hari berlalu. Aku sudah berjanji pada daddy untuk bekerja di Pallet cafe setelah proyekku selesai. Daddy berkata kalau dalam satu tahun aku tak bisa mengelola bisnis mommy dengan baik maka aku harus kuliah.


Yah, tak ada salahnya sih. Toh aku bukanlah anak yang bodoh dan gampang menyerah. Lagi pula cafe itu sudah berjalan lama. Tak mungkinkan saat aku yang mengurusnya cafe itu tiba-tiba bangkrut begitu saja.


Dan lagi, daddy berjanji akan memberikanku sebuah mobil sport saat aku berhasil mengelola cafe + kuliah. Tawaran yang menggiurkan. Makanya aku pikir tam ada salahnya menikmati satu tahun kebebasan sebelum kembali terkekang oleh peliknya tugas makalah!


Tring ...!


Bunyi nada ponsel terdengar.


Niel:


Nuna, izinnya sudah keluar.


Nael:


Sponsornya sudah lengkap.


Karen:


Ada 30 lebih yang bergabung, dengan kita totalnya 40 an.


Daffin:


Kapan bisa kita mulai?


Ara:


Secepatnya, libur sekolah hanya sebulan.


Momo:


Iya, aku harus berkonsentrasi untuk ujian masuk Fak. kedokteran.


Benar juga anak-anak yang lain waktunya terbatas karena mereka harus kuliah. Aku tak boleh mengolor waktu lagi, project ini harus segera terlaksana.


Inggrid:


Kita mulai besok. Aku akan print layoutnya malam ini.


Niel:


Semangat Nuna.


Nael:


Demi Kak Ken!!


Karen:


Dasar bucin!


Inggrid:


Siapa yang bucin?


Momo:


Kau!


Ara:


Kau!


Daffin:


Aku juga bucin! Bucinnya Inggrid.


Kapanpun kau putus aku siap bae!


Chat dari Kak Daffin membuatku terkikih.


Nael:


Mo muntah.


Niel:


Ini kantong.


Begitulah obrolan kami di dalam chat malam hari ini. Izin telah keluar dan berarti aku harus bergegas untuk mengerjakan project itu.


Semangat inggrid!!! Kau bisa!! Ken pasti bangga dengan hasilnya!!


Kusemangati diriku sendiri.





Aku melupakan amarahku pada Ra karena fokusku lebih tertuju pada project kami. Izinnya sudah keluar, banyak seniman jalanan juga ingin membantu kami. Konsep, sponsor, volunteer, semua sudah terkumpul. Tinggal esekusi pengerjaannya.


Aku sudah membagi potongan-potongan gambar yang menceritakan konsep kami secara utuh dan membaginya pada 6 orang kepala tim. Satu tim akan menggambar sepanjang 25 meter. Menyuarakan rasa dan juga imajinasi kami dalam balutan gambar.


Pertama kali, kali mengamplas dinding agar bagian kusam dan cetnya yang lama mengelupas. Lalu kami membersihkannya, menyemprotkan cairan anti jamur dan juga menutup bagian yang berlubang. Satu per satu kami dempul dengan semen putih. Setelahnya kami menyemprotkan cat tembok putih sebagai media gambar. Baru kemudian cat semprot dan terakhir aplikasi semacam plitur bening agar gambarnya awet dan tidak mudah pudar karena panas matahari dan juga hujan.


“Persiapannya siap?”


“Siap!!”


“Mari kita bekerja!!!” seruku lantang.


Kira2 ada 40 an orang yang bekerja bersama kami saat ini. Ramai dan riuh, mereka semua tampak begitu antusias dan bahagia. Para warga yang bermungkim di depan dinding juga tak kalah antusias, mereka membantu dengan apa yang mereka bisa. Kacang rebus, pisang, teh, bahkan susu hangat dagangan nenek tak pernah absen menemani malam-malam kami selama menggambar.


“Ini.” Kak Daffin memberiku sebotol air mineral dingin.


“Thanks, Kak.”


“Istirahatlah dulu. Kau pasti lelah.”


“Iya, Kak.”


Aku dan Kak Daffin duduk di pinggir jalan. Beberapa anak yang lain juga terlihat sedang beristirahat. Bekerja di malam hari memang melelahkan, tapi kami tak punya pilihan, karena pemerintah melarang kami mengganggu jalanan di siang hari.


“Apa kau lapar? Aku bawa biskuit.”


“Boleh.” Aku mencuci tanganku terlebih dahulu dengan air mineral sebelum mencomot biskuit coklat dari tangan Kak Daffin.


“Akhir-akhir ini kau terlihat tak bersemangat? Apa ada masalah lagi dengan Keano?” Kak Daffin memang peka.


“Iya, bagaimana ya? Susah untuk di jelaskan.” Senyumku kecut.


“Cerita saja, aku akan menyimpannya rapat-rapat. Lagian aku juga cinta padamu Inggrid, aku tak mungkin menyebarkan masalah wanita yang ku cintai ke mana-mana.”


“Ini bukan tentangku, Kak. Ini tentang Keano.” Wajahku menghangat saat mengingat ciuman terakhirku dengan Ra.


Padahal ciuman itu yang memicu pertengkaran hebat kami. Tapi kenapa aku malah tersipu saat mengingatnya, seakan akupun juga menginginkan kecupan itu.


“Kenapa dengannya?”


“Kalau aku cerita apa Kakak bisa percaya?”


“Kenapa enggak?”


Akhirnya aku menceritakan semuanya, perihal kepribadian ganda yang sedang di alami Keano saat ini. Kak Daffin mendengarkan dengan serius sampai alisnya bertaut. Sepertinya dia masih susah mencerna ucapanku. Sepertinya dia tak bisa mempercayai indra pendengarannya.


“Daebak!! Wah, kondisi seperti itu ada ya?” ucapnya setengah tak percaya.


“Tuh, kan! Kakak tak percayakan?!” dengusku sebal.


“Sory, sorry, soalnya aku baru denger ini, ada orang bisa punya dua jiwa dalam tubuh mereka.”


“Menurutmu aku harus bagaimana, Kak?”


“Apa tidak mencoba konsultasi ke dokter?” Kak Daffin mengusulkan hal yang sama denganku.


“Sudah.”


“Lalu bagaimana?” Alisnya kembali menyatu.


“Belum bisa dipastikan hasilnya, lagi pula sekarang Ra yang berkuasa di dalam tubuh Keano. Jadi tidak mungkin Ra mau membawa tubuh itu ke dokter lagi.” Aku memeluk lututku.


“Oh, begitu rupanya, rumit juga. Apa orang tuanya tahu?” tanya Kak Daffin.


“Huft ... tidak ada yang tahu selain aku dan sekarang bertambah kau, Kak, jangan kau katakan pada siapa pun oke!” pintaku.


“Itu juga sedang pikirkan, Ra menguasai tubuh Keano tidak mungkin dia mau membiarkan Ken keluar untuk menemuiku begitu saja.” Aku menghela napas panjang.


“Ya, sudahlah daripada pusing mendingan kau pacaran denganku saja,” goda Kak Daffin.


“Dasar, jangan begitu dong, Kak Daffin.” Tinjuku bersarang pada lengannya.


“Aku serius, Inggrid, kalau memang berpacaran dengan Keano terlalu rumit, kenapa kau tidak pacaran denganku saja? Aku bisa kok mencintaimu sama besarnya seperti Ken mencintaimu.” Sorot mata Kak Daffin penuh dengan cahaya terang, mirip dengan cara Ra memandangku kemarin.


“Ya tidak bisa, Kak. aku sudah bersama dengan Keano sejak kecil. Kami tidak terpisahkan,” — aku mengerutkan alisku sebentar karena tersadar akan sesuatu — “tunggu berarti aku juga telah bersama dengan Ra juga sejak kecil?”


“Kenapa kau tidak bisa mengenalinya? Apa mungkin dia tidak pernah keluar?”


“Tidak dia berkata dia pernah keluar dan menerima kaktus dariku, berarti dia tak pernah pergi dari sisi Ken.”


“Inggrid, mungkin ini hanya asumsiku, tapi sepertinya mereka satu, mungkin kalau kau bisa menyatukan keduanya.”


“Menyatukan mereka kembali ke Keano?!”


“Siapa tahu mereka kembali menjadi Keano tanpa harus merubah atau menghapus salah satunya.”


“Benar juga, Kak. Aku akan menemui psikiater. Dan mengajaknya ke sana.”


“Yah, padahal baru saja kukira aku punya kesempatan.” Kak Daffin memanyunkan bibirnya, membuatku ingin mencubit bibir mancungnya itu. Aku mengurungkan niatku dan memilih untuk mencablek lengannya saja, “Hehehe,” kekeh kak Daffin menyebalkan.


“Kau sendiri sudah tahu mau kuliah ke mana?” Kak Daffin mengalihkan pembicaraan kami pada topik lainnya.


“Aku tidak akan kuliah tahun ini, aku akan kuliah tahun depan aku sudah bikin perjanjian dengan Daddyku.” Senyumku manis.


“Oh, lupa kau orang kaya! Jadi orang kaya mah bebas.” Kak Daffin mengusap rambutku.


“Ayo, Kak, kita lanjutkan lagi menggambarnya!” ajakku.


“Baiklah, ayo!” Kak Daffin membantuku bangkit, dia adalah cowok yang baik juga lembut dan pengertian. Sayangnya aku benar benar tidak punya sedikit pun hati untuk dibagi. Bagiku hanya ada Keano dan selamanya hanya Keano. Aku akan mencari tahu bagaimana cara membebaskan Ken dari Ra lalu menyatukan jiwa keduanya menjadi Keano yang seutuhnya.


— MUSE S4 —


•••


Tak terasa sudah satu bulan berlalu, gambar-gambar grafiti pada dinding sudah terbentuk dengan cantik, hampir 80 % progresnya berjalan. Semuanya bagus, bahkan melebihi ekspetasi kami.


banyak wartawan dan reporter bahkan sampai majalah wisata yang meliput tentang kabar seputar karya kami ini. Antusiasme para penikmat seni sangat luar biasa. Tah hanya anak muda, berbagai kalangan usiapun datang untuk berfoto, mereka lalu mengunggahnya ke media sosial. Menjadikan kampung ini semakin terkenal. Kampung wisata grafiti.


Kami sungguh bersyukur kalau ternyata apa yang kami mulai bisa memberkati banyak orang. Jalanan mulai ramai padahal belum ada satupun gambar yang jadi dengan sempurna. Beberapa lansia termasuk nenek penjual susu kini tak lagi hanya menunggu dagangannya dengan terkantuk-kantuk, namun tiap hari ada saja yang datang untuk membeli dagangan mereka di warung. Beberapa warga ada yang mulai membuka warung makan, camilan, souvenir, dan juga minuman dingin.


Aku terlihat begitu bahagia menyaksikan segala yang telah aku rintis membuahkan hasil. Aku melakukan semua ini demi Ken. dan aku harap dia bisa menyaksikan keberhasilanku ini juga.


Tanpa menunggu lagi aku melajukan skateboard ke arah rumah Ken berharap Ra telah menyerah dan biarkan Ken keluar untuk menemuiku. Tak ada salahnya mencoba, aku akan meminta izin pada Ra agar aku bisa menemui Ken dan mengajaknya kemari. Melihat semua hasil karyaku, tapi semuanya tak luput dari sikap Ken yang mengajarkan tentang kepedulian kepada sesama. Aku ingin dia agar dia tahu bahwa pemikirannya dan kasihnya kepada para lansia telah membuahkan hasil yang luar biasa.


“Ra? Apa kau masih marah padaku?” tanyaku setibanya di dalam kamarnya.


“Inggrid? Mau apa kau kemari?” Ra menatapku sesaat sebelum akhirnya menjawab sapaanku dengan wajah dongkol. Hish, aku benci banget melihatnya menatapku dengan sebal pakai muka Keano.


“Boleh aku bertemu dengan Ken?” Tapi aku terpaksa menundukan diri agar dia mengizinkanku bertemu dengan Ken.


“Kenapa kau masih mencarinya? Sudah kubilang aku akan menguburnya dalam-dalam sampai dia benar benar merasa ingin menghilang saja!” seringai licik terpatri di wajah tampannya.


“Kenapa kau begitu jaahat, Ra? Apa salah Ken padamu?”


“Dia dan kau ingin menghapusku, Inggrid!”


“Tidak Ra, kami hanya ingin membuatmu kembali bersatu dengan Ken.”


“Cis, bohong.”


“Terserah kau kalau tidak percaya! Tapi setidaknya ijinkan aku menemuinya sekali ini saja.” Aku memohon kepada Ra. Aku ingin memberitahu Ken kalo jalanan itu sudah selesai. Proyek kami telah selesai, hasil dari kasih sayangnya telah membuahkan hasil.


....


Namun Ra hanya diam saja.


“Kumohon Ra Ijinkan Ken melihatnya sekali ini saja.” Aku terus mengiba, Ra tidak menjawab dia akhirnya dia menghela napasnya dengan kasar.


“Kau pikir aku bodoh?! Kau pikir aku tidak tahu siasatmu?”


“RA?!!!”


“Sudahlah Inggrid! Pulanglah!” usir Ra. Cowok ini susah sekali dijinakkan.


“Ra, please! Aku akan melakukan apapun yang kau mau! Tapi ijinkan Ken keluar dan menemuiku.”


“Apapun?” tanyanya penuh penekanan!


“Iya, apapun!”


“Termasuk berhenti mencintai Ken?”


“Tidak! Jangan begitu, Ra. Aku mencintainya sejak kecil.” Aku tak mengerti bagaimana cara Ra berpikir. Dia tahu bahwa aku mencintai Keano, aku tak bisa lepas dari Keano. Hatiku hanya untuk Keano.


Dia harusnya tahu! Bagaimana bisa ia meminta hal paling mustahil itu padaku.


“Ya, sudah kalau tidak bisa.”


“RA!!!”


“Atau, bagaimana kalau kita teruskan yang dulu, girl?” Ra tertawa dengan lantang.


“Apa maksudmu?”


“Tidur denganku?!” bisik Ra panas di dekat telingaku.


“BRENGSEK!” Aku menamparnya, namun tangannya mencengkram pergelangan tanganku.


“Ya sudah kalau nggak mau, nggak usah nyolot! Pake acara mau pukul orang segala.” Ra kembali melakukan pekerjaan rumahnya.


Air mata berlinang dari kedua pelupuk mataku. Rasanya begitu sakit, kenapa dia begitu menganggap remeh sebuah hubungan? Apa dia sama sekali tak punya hati?!


“Kau jahat!!!” bentakku.


Ra kembali bangkit dan menekan bahuku sampai menyentuh pintu, membuat pintu tertutup. Dengan tangannya yang kuat Ra menggendongku naik dan menahannya dengan lutut. Tanpa aba-aba dan juga izin dia menciumku.


Ciumanya lebih kasar dari pada saat ia marah padaku sebulan lalu. Ra menautkan lidahnya begitu dalam sampai aku merasa jijik padanya.


“Berhenti, Ra!” Aku menggigit bibirnya agar dia berhenti.


“Auch!! Cewek gila!” umpatnya, bibirnya berdarah banyak sekali. Aku menggigitnya terlalu keras ternyata.


“Maaf, maaf, Ra! Aku tak sengaja. Aku terlalu jijik dengan perlakuanmu.” Aku mendekatinya, hendak melihat lukanya.


“Jijik??!” Ra menepis tanganku.


“Iya, aku tak suka kau kasar padaku!!”


“Memang kalau aku lembut kau mau?! Kau hanya mau Ken bukan? Padahal tadi kau bilang aku juga Keano! Tapi kau hanya mau Ken yang menciummu?!”


“Ra?! Berhenti berkata kasar padaku dengan wajah Ken!” Aku tak tahan melihatnya marah dengan wajah Keano.


“Apa kau bilang?! Ini juga wajahku!” Ra mendorongku sampai aku terjatuh.


Aku kembali menangis! Aku marah! Sampai akhirnya aku mengucapkan sesuatu yang membuatku menyesalinya.


“Ternyata kau sangat jahat Ra!! Aku benci padamu!! Aku harap kau menghilang!! Aku harap aku tak pernah bertemu denganmu selamanya!!” teriakan demi teriakan mengalir deras keluar dari mulutku. Air matakupun mengalir tak kalah deras.


Ra terdiam kaku di depanku. Mencoba mengatur napasnya yang berat karena menahan amarah.


— MUSE S4 —


Wah Ra, saya suka saya suka.


Paksa saya saja Ra. Saya rela ❤️❤️😝


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian


🥰🥰😝