MUSE

MUSE
S5 ~ PAPI NICK



MUSE S5


EPISODE 31


S5 \~ PAPI NICK


\~Wajahku menegang, jantungku berdebar-debar. Baru kali ini aku mengajak kencan seorang wanita. Ternyata jauh lebih menegangkan dibanding amarah daddy dan mommy, jauh menegangkan dibanding unboxing action figure langka. Wah, cukup memacu adrenalin juga, ya?! \~


_________________________


NICK POV


ARG!!! Aku sebal dengan diriku sendiri. Kenapa juga aku harus terbawa perasaan dan menyatakannya dengan terburu-buru kepada Bella. Wah, dia pasti canggung dan tak ingin menemuiku lagi!


Well, ini pasti karena alkohol!! Iya, Bella benar, pasti karena kami terlalu banyak minum jadi ngelantur.


Argh!!! Aku emang sampah!!


Dia pasti syok karena aku terlalu cepat menyatakan cinta padahal kami baru satu Minggu saling mengenal. Aku sendiri juga merasa aneh, awalnya aku memang terpesona pada kecantikan Bella yang begitu sensual. Membuat seluruh dunia seakan berhenti berputar dan waktupun tak berdetik karena tatapannya. Lalu setelah saling mengobrol dan mengenalnya aku merasa cocok dengannya, Bella cukup mengasyikan, setidaknya dia tak pernah cerewet saat bersamaku seperti gadis-gadis pada umumnya.


Obrolan kami sangat nyambung, aku sangat nyaman bisa bersamanya. Dia mandiri, kuat, tangguh, cantik, dan punya kepribadian yang juga cantik.


Awalnya aku kira semua pekerja malam adalah wanita murahan, namun Bella berbeda, dia benar-benar menjual seni lewat keindahan gerakan tubuhnya. Bella sangat mengerti batasannya, ia tak pernah terjerumus dalam glamornya dunia malam. Yah, hal ini cukup membuatku kagum dan mengacungkan jempol padanya, kebanyakan wanita pasti akan memilih jalan pintas untuk menghasilkan banyak uang.


Lalu bagaimana pandanganku tentang Aiden?


Semula aku sempat syok karena Bella telah memiliki seorang anak. Aku kira dia telah bersuami. Tapi ternyata Aiden adalah anak hasil hubungan Bella di luar nikah. Wah, aku tak habis pikir, kenapa pria itu bisa meninggalkan wanita secantik Bella? Apa dia bodoh?


Sampai kemarin aku mendengar semua penuturan Bella akan masa lalunya. Aku tercengang, masih ada juga hal mengenaskan di-era saat ini. Apa memang hati manusia mulai membeku karena ego mereka masing-masing? Bahkan seorang Ibu rela membuat cucunya gugur hanya karena obsesinya akan rasa dicintai?


Bella sangat menyayangi Aiden, ia rela melakukan semua pekerjaannya juga demi anak itu. Mungkin bagi Bella, si kecil Aiden adalah dunianya.


Anak itu juga sangat menggemaskan. Pipinya gembul dan berwarna merah. Rambutnya hitam dan tebal. Untung saja aku menyukai anak kecil, aku memang selalu ingin memiliki anak laki-laki yang lucu agar bisa aku ajak bermain action figure kelak. Menularkan hobi mahalku, hahaha ...!


Kenapa ingin punya anak cowok? Ya, karena di rumah adik yang cocok denganku hanya Gabby, si Levin sialan itu terlalu playboy dan memilih kelayapan dari pada menemaniku bermain di rumah, jadi aku selalu mengharapkan ada anak cowok yang bisa menemaniku kelak.


Aiden sangat menyukai Batman, aku juga sangat menyukai super hero yang satu ini. Keren, pintar, ganteng, dan kaya, seperti diriku bukan? Sayangnya aku belum cukup kaya sih! Hidupku pas-pasan! 😭


Si kecil Aiden begitu ceria saat aku menganjaknya bermain. Dia terus menempel padaku, aku sendiri juga menempel padanya. Sepertinya tak hanya dengan Bella, aku juga klik dengan anak nya. So, kesimpulannya punya anak tidaklah buruk, apa lagi anak yang pintar dan menggaskan seperti Aiden.


Ck, aku jadi penasaran seperti apa Ayahnya?


OK, back to Bella. Kenapa aku bisa menyatakan cinta padanya? Walaupun saat itu aku sedang terbawa suasana, tapi perasaanku benar-benar tulus kepadanya. Aku bisa menerima semua masa lalunya, termasuk menerima Aiden. Aku bisa memberikannya cinta yang tulus dan tanpa syarat. Aku bisa menerima semuanya, baik kekurangan, maupun masa lalunya.


— MUSE S5 —


Esoknya ...


Aku terbangun dengan perasaan sebal lantaran tak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Wajah cantiknya, bibirnya, dan caranya memandangku tak mau hilang dari dalam benakku. Wah, sepertinya aku benar-benar sudah tergila-gila padanya.


Air shower mengguyur tubuhku. Berharap dinginnya air bisa mendinginkan kepalaku dan melupakan tentang dirinya. Namun yang ada aku malah semakin terbayang akan dirinya.


Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia juga sedang memandikan Aiden? Ikut mandi juga? Pikiran kotorku membuat wajahku menghangat.


Hei!!! Kenapa aku malah membayangkan tubuh indahnya?! Jangan jadi sampah, Nick! Aku mengumpat dalam benakku.


Aku menggosok handuk pada rambut basah dan mulai menjalankan aktivitas harianku seperti biasa. Mengecek pembukuan toko, membersihkan action figure, cek e-mail dan juga olshop. Sesekali aku berhenti untuk melamunkan Bella.


Ah, ga enak banget sih!! Kenapa jatuh cinta bisa bikin perasaan jadi gundah begini?!


TING!!


Bunyi toaster membuyarkan lamunanku. Aku menarik keluar roti panggang dari mesin itu dan mengoleskan selai kacang. Aku mencelupkan ke dalam segelas susu panas sebelum menggigit rotinya.


Beginilah sarapanku setiap pagi selama kurang lebih 4 tahun. Walaupun kadang aku mengganti selai kacang dengan coklat, dan susu dengan kopi tapi rasanya tak berubah, aku tetap kesepian, huft ... hidup merantau membuatku kesepian.


“Ah, andai saja ada yang menemaniku menikmati pagi yang luar biasa ini,” gumamku. Aku melirik ke arah matahari terbit yang cahayanya menyapu masuk ke dalam dinding kaca. Rumahku memang unik, berdiri di atas tebing dengan dinding dari kaca dan juga kayu. Tak butuh banyak uang saat membangunnya, tapi izin mendirikannya begitu mahal.


Kalau saja Bella juga di sini dan melihat pemandangan ini bersamaku, apa dia juga akan merasa bahagia? Ah, aku jadi merindukannya. Aku kembali melantur, berandai-andai kalau saja mama muda itu mau menerima cintaku.


“Bodoh amat dengan semua penolakan, Bella! Gadis-gadis di kampus sudah aku tolak tetep aja nempel. Aku harus meniru semangat mereka.” Tekatku. Tanpa berpikir panjang aku menyahut kunci motor dan bergegas meninggalkan rumah.


Mau ke mana?


Tentu saja mencarimu, My Queen!





BRUM!! BRUM!!


Motorku melaju pelan memasuki area perkampungan rumah Bella. Di depan rumah Bella, ada sebuah mobil, semuanya sedang berkumpul dan saling berpelukan.


“Nick?!” Wajah Bella tercengang mengetahui keberadaanku saat ini.


“Wah, pagi-pagi sudah nga—pel?” Sekar menggodaku dan Bella, membuat wajah Bella bersemu merah.


“Pagi semua!” Aku berusaha mencari tahu dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. “Kalian mau ke mana?”


“Morning, Papi!!!” Aiden menjawabku paling lantang.


“Hei, Aiden! Jangan ngawur!!” Bella memperingatkan anaknya untuk tidak memanggilku dengan sebutan ‘papi’, mungkin takut aku merasa risi atau salah sangka. Tapi aku tidak keberatan kok, aku suka kalau anak itu memanggilku papi.


“Mami, Aiden boleh ya panggil Papi?!!! Aiden juga mau Papi!!!” Renggeknya pada Bella.


“Aiden, jang ...,” ucapan Bella terpotong olehku, aku meletakkan telapak tanganku di atas bibirnya.


“Halo, jagoan. Kamu boleh kok memanggilku Papi!” Senyumku sembari mencubil pipi Aiden.


“Hehehe ... apa kau suka, Boy?!”


“Tentu saja, Papi!”


“Good Boy!” Aku mengelus pucuk kepalanya sebelum kembali pada Bella, Sekar, dan Elise. Mengulang lagi pertanyaan yang sama, “kalian mau ke mana?”


“Kami mau balik ke desa, Nak. Liburan Aiden sudah berakhir, besok dia harus persiapan masuk sekolah,” jawab wanita tua bersahaja itu sambil tersenyum.


“Wah, aku kira kalian tinggal di sini?!”


“Tidak, aku tinggal sendiri, aku tak bisa membiarkan Aiden melihatku keluyuran tiap malam, itu bukan contoh yang baik,” tukas Bella.


“O ... begitu.”


“Kami pergi dulu, ya, Nak.” Bibi Elise menepuk punggungku sebelum memeluk Bella. Sekar mengikutinya, ia mengantri untuk memeluk adik angkatnya itu.


“Titip Aunty dan Aiden, ya, Sekar. Minggu depan aku akan pulang.” Bella mengelus punggung Sekar.


“Iya, jaga diri, jaga kesehatan, jangan banyak minum, OK!” Sekar memberikan wejangan.


“Aku tak minum kalau tak ada tamu VIP.” Bella melepaskan pelukkannya.


“Ck, banyak pria kaya yang rela mendapatkan dirimu, Bella! Apa lagi kontrak di tempat baru cukup mewah bukan? Pasti banyak pria kaya hidung belang yang tak segan-segan mengeluarkan kemampuan mereka untuk menggodamu.”


“Hanya Aiden pria yang kucintai, jadi jangan terlalu khawatir, OK.” Bella menjujung tubuh mungil Aiden dan menggesekkan hidung keduanya, membuat balita itu tertawa geli namun juga menyukainya.


“Mami jaga kesehatan, ya!!” Aiden tergolong dewasa dan mandiri untuk anak seusianya, ia tak merenggek saat jauh dari Bella.


“Aiden juga harus jaga kesehatan! Nurut sama Nini dan Aunty Ok! Gak boleh nakal selama Mami kerja!” Bella memeluk Aiden dan menciumnya beberapa kali. “Mami beliin robot kalau pulang besok, ya?” Bella terlihat menahan air mata agar tidak menetes dari matanya.


“Baik, Mami! Aiden akan jadi anak baik.” Aiden menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkin Bella, lelaki kecil itu juga terlihat menahan tangisannya.


“Good, Boy!! Anak cowok memang gak boleh cengeng! Harus berani dan kuat untuk melindungi Mami!” Aku mengelus pucuk kepala Aiden, mungkin Aiden belum bisa mencerna dengan sempurna kata-kataku, tapi aku tetap memujinya.


“Papi tolong jaga Mami!” Aiden tersenyum padaku, membuat semua orang di sekelilingnya tersenyum haru.


“Siap!! Sampai kau berubah jadi Batman Papi akan mengambil tugasmu melindungi Mami!!” seruku agar anak itu tertawa.


“Hahaha ...!”


Akhirnya, mereka masuk ke dalam taxi online untuk menempuh perjalanan menuju ke terminal terdekat. Bella tak bisa mengantarkan mereka karena mobilnya sedang masuk bengkel, mobil tua memang banyak masalah dan kendala. Padahal Bella butuh mobil itu untuk mengantarnya pergi bekerja besok.


Kami berdiam diri sejenak sebelum akhirnya suasana berubah menjadi sangat canggung.


“Maafin Aiden, ya.” Bella memecah keheningan.


“Nggak kok, aku malah senang dia mau memanggilku, ‘Papi’,” jawabku sembari menggaruk rambut.


“Kau mau masuk?” tawar Bella.


“Kalau boleh.”


“Kenapa nggak boleh? Ayo masuk, maaf agak berantakan soalnya terburu-buru mengantarkan mereka,” ujar Bella.


“Yah, tak seberantakan rumahku, hehehe ...!” Kekehku, padahal tahu itu bukan hal yang bisa dibanggakan.


“Kau mau minum sesuatu? Kopi, teh, atau soft drink? Kau sudah makan? Mau makan? Aku masakain, kau suka makan apa? Pedas, asin, manis? Sayuran atau daging?”


“Ck, dasar ibu-ibu, lengkap dan perhatian banget sih pertanyaannya?” Aku mendekati Bella yang sedang sibuk menggeledah isi lemari es.


“Mau nggak?”


“Aku sudah sarapan kok,” jawabku.


“Oh, OK!” Bella menutup pintu kulkasnya, membuat wajah kami bertemu dengan sangat dekat.


Bella memandangku cukup lekat. Ah, kenapa sih? Apa yang menarik dari manik matanya coba? Kenapa sekali lagi duniaku seakan berhenti berputar saat pandangan kami bertemu?


“Nick?!! Nick!!” Panggil Bella, ia membuyarkan lamunanku yang terpesona akan tatapan matanya.


“Kenapa diam saja?”


“Tidak, erm ... Bella, apa kau punya waktu?” tanyaku.


“Untuk apa dulu?” Bella menyerahkan segelas jus jeruk dingin padaku, ia juga meminumnya.


“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, My Queen, apa kau mau?” Aku menggaruk dahiku kikuk, apa benar begini cara mengajak wanita berkencan?


Alis Bella menyatu, sepertinya sedang berpikir untuk menjawab pertanyaanku.


Wajahku menegang, jantungku berdebar-debar. Baru kali ini aku mengajak kencan seorang wanita. Ternyata jauh lebih menegangkan dibanding amarah daddy dan mommy, jauh menegangkan dibanding unboxing action figure langka. Wah, ternyata mencintai seseorang bisa memacu adrenalin juga, ya?!


Saat ini dalam hati aku terus berdoa ...


Duh, ku mohon, jangan tolak aku!!


— MUSE S5 —


MUSE UP


LIKE


LOVE


COMMENT


VOTE


5 star rate donk gaes 😘😘