
MUSE S2
EPISODE 35
PERIH
\~Aroma tanah basah memang sangat aneh, seperti sihir, ia bisa membangkitkan kenangan-kenangan indah.\~
Aroma khas air hujan yang turun membasahi tanah kering tercium pekat. Memberikan perasaan hangat tersendiri yang tak bisa di ungkapkan. Kalian pasti juga menyukainya bukan? Aroma tanah basah memang sangat aneh, seperti sihir, ia bisa membangkitkan kenangan-kenangan indah.
Aku teringat kenangan-kenangan indah bersama dengan orang tuaku. Aku merindukan perasaan hangat dan obrolan riang bersama mereka di atas meja makan. Juga omelan Mama yang tak pernah ada titik dan komanya, namun menyiratkan perhatian dan kasih sayang. Aku juga merindukan betapa besar tangan Papa yang selalu membantuku belajar, menepuk punggungku saat aku sedih, menyalurkan semangat dan suka cita.
Yah.. aku sangat merindukan mereka berdua.
Hah.. setelah satu bulan terjerat di dalam kepelikan hidup aku baru mulai berdoa pada-Nya. Sang pemilik kehidupan, Sang pemilik nyawa dan raga kedua orang tuaku.
Permohonanku hanya satu..
Yaitu kesembuhan mereka..
Sudah berkali-kali aku berdoa..
Sudah tak henti-hentinya air mata ini meleleh..
Sudah lelah lutut ini bertelut..
Namun tetap tak ada jawaban dari Sang pemilik kehidupan.
Papa Mama masih tergeletak, lemas, kaku, dan tak punya daya. Selang pernapasan, infus, suntikan penguat jantung, dan banyak lagi yang lain tetap kokoh terpasang. Tak berkurang malah semakin bertambah setiap harinya.
Aku semakin merasa sesak..
Aku semakin menutup diri..
Aku semakin menghindari kehidupanku..
Aku semakin banyak melamun..
Aku semakin banyak mengeluh..
Aku semakin banyak berandai..
Semua ini membuat jiwaku sakit, membuat hatiku pilu.
Apalagi Angga terlihat semakin menjauhiku. Aku tahu dia pasti kecewa padaku. Aku sama sekali tak memberikannya kasih dan cinta seperti dulu. Fokusku beralih. Aku lebih memperhatikan kesembuhan orang tuaku dibanding cinta monyet saat SMA ini.
“Kau harus makan, La! Kau tak akan punya tenaga merawat Papa dan Mama kalau tidak makan.” Angga membawakanku sebungkus nasi goreng. Ia berusaha memaksaku untuk mengisi perut.
Dengan malas aku membuka bungkusan kertas minyak berwarna coklat. Bau sedap tercium, sejenak aku merasa sangat lapar.
“Mau aku suapi?” Angga mengambil sendok plastik dan menyuapkan nasi goreng ke arah mulutku.
Aku mengangguk. Angga tersenyum, aku tak menyangka kalau dia begitu mengkhawatirkan keadaanku. Aku kira dia sudah tak ingin lagi menyambung hubungan kami, mengingat hampir sebulan ini kami sangat jarang bertemu.
“Enak?” tanya Angga.
“Enak. Terima kasih, ya,” senyumku.
Angga terlihat begitu tampan, rambutnya yang lembut dan lurus sedikit berkilau karena pantulan lampu taman. Bahunya yang tegap dan lebar, juga aroma parfumnya yang maskulin selalu membuatku merindukannya.
“La, aku mau ngomong sesuatu. Aku tahu timmingnya nggak pas. Tapi...” Angga seperti tak tega melanjutkan perkataannya.
“Apa, Ngga? Ngomong aja.” Aku menelan ludah, mencoba tegar dengan keputusan Angga.
“Kau tahukan kalau aku akan kuliah ke luar negeri? Maaf, ya, La. Padahal kau lagi susah, tapi aku malah pergi meninggalkanmu.” Angga memeluk erat tubuhku, tubuhnya bergetar.
Aku memang sudah tahu rencana Angga yang ingin berkuliah ke luar negeri. Akupun dari dulu selalu mendukungnya. Tapi mendengarnya berpamitan seperti ini membuat hatiku terasa jauh lebih perih.
Jujur aku nggak rela.
Tapi siapa aku? Apa hak-ku untuk melarangnya pergi?
Aku diam saja, aku hanya membalas pelukkannya. Pelukan itu terasa sangat hangat sekaligus menyakitkan.
“Besok minggu depan.”
“O..”
“Apa kau akan baik-baik saja, La?” Angga menggenggam tanganku.
“Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja.” Air mataku meleleh, turun sederas hujan saat ini.
“Maaf..” lagi-lagi kata-kata itu kembali terdengar dari bibirnya. Kenapa kata-kata maaf bisa terasa begitu menyakitkan?
“Kita putus saja, Ngga.” Aku akhirnya memutuskan untuk putus dengannya. Aku nggak ingin Angga terbeban dengan keadaanku. Aku juga nggak mau hubungan ini berlanjut, karena tak akan ada titik terangnya. Aku dan dia jauh berbeda.
“Kenapa? LDR-kan bisa.” Angga nampaknya syok dengan keputusanku.
“Pokoknya, kita putus saja.” Aku bangkit meninggalkan Angga yang masih tercengang tak percaya dengan keputusanku.
Aku sendiri juga heran, dari mana datanganya keberanian untuk menyatakan keputusan yang akan membuatku merasa begitu menyesal?
Aku kembali menyelusuri lorong rumah sakit untuk kembali ke ruang ICU. Sepanjang lorong aku menangis. Sepanjang lorong ini pula aku berharap ia akan berlari dan memelukku.
Tapi ternyata..
Aku tetap sendiri..
Angga tak mengejarku..
Mungkin dia jenuh..
Mungkin juga dia kecewa..
Tapi yang pasti, hatiku terasa sangat perih..
— MUSE S2 —
Aku kembali masuk ke dalam ruang ICU, melihat tubuh ke dua orang tuaku yang dibatasi oleh kaca. Aku tak diizinkan masuk kalau bukan saat jam besuk atau jam visitasi dari dokter spesialis.
Papa, dan Mama terlihat tenang. Wajah mereka begitu damai. Aku terdiam, membatin doa dengan harapan besar akan kesembuhan mereka.
“Sebentar lagi aku berulang tahun. Tak bolehkah aku meminta kesembuhan mereka berdua sebagai kado terindah untukku, Tuhan?” gumamku lirih.
“Keluarga, Pak Isman?” seorang perawat datang, ia memberikan padaku sebuah amplop.
“Apa ini, Kak?” tanyaku keheranan.
“Ini rincian tagihan rumah sakit, Dek. Sudah menumpuk. BPJS juga sudah tak lagi mengcover semuanya karena tidak bisa dipastikan kapan mereka akan siuman.”
“Apa? Jadi maksud kakak apa?” tangisku pecah.
“Dokter menyarankan anda memikirkan kondisi mereka berdua. Sudah tak ada harapan, tubuh mereka tersiksa. Juga lebih baik menyimpan biayanya untuk melanjutkan hidupmu, Sayang.” perawat itu memandangku dengan iba, sebelum akhirnya berlalu pergi.
Gila apa? Mereka menyuruhku menyerah? Mencabut semua alat penunjang kehidupan kedua orang tuaku? Apa mereka baru saja menyuruhku menjadi seorang anak durhaka?
Hatiku sesak, aku meremat amplop pemberian perawat itu. Aku tahu aku tak punya uang saat ini, tapi aku tak sampai hati melihat mereka membunuh kedua orang tuaku. Apalagi lewat tanganku sendiri.
Air mataku menetes rasanya hatiku ingin meledak. Belum kering air mataku kehilangan Angga, aku sudah harus memeras lagi air mataku. Lelehan demi lelehan air mata kembali turun menderai wajahku.
“Di mana kau, Tuhan?”
— MUSE S2 —
Muse up 2x hari ini.. kikiki
Comment dan juga like..
Vote bila berkenang.
I lop yu readers..
Jangan lupa suru temen-temen kalian baca Muse..❤️❤️