MUSE

MUSE
S3 ~ PROLOG




MUSE S3


EPISODE 95


S3 \~ PROLOG


\~In this same way, husbands ought to love their wives as their own bodies. He who loves his wife loves himself. \~ Ephesians 5:28


_______________


Hallo, aku Arkana, orang-orang biasa memanggilku Kanna. Aku muncul sebagai bintang cameo di Muse S2. Yup, aku adalah teman SMA dari Kalila dan Melody. Kali ini aku akan membawa kalian menyelusuri kisah kehidupanku. As author said, sebagian ceritaku ini adalah kisah nyata. So, siapkan tisu kalian sekali lagi, semoga kisahku ini bisa mengobrak abrik jiwa dan perasaan kalian juga.


— MUSE S3 —


________________


Kanna adalah sebuah kota yang indah dan penuh dengan cinta kasih dari Tuhan. Orang tuaku memberiku nama Kanna mungkin karena, mereka ingin aku mendapatkan kemurahan dari Tuhan dalam setiap langkah kehidupanku. Mereka ingin aku selalu mendapatkan cinta kasih dari Sang Pemilik kehidupan.


Tapi nyatanya semua yang terjadi dalam kehidupanku ini seakan berbanding terbalik dengan arti namaku. Kebodohan dan kekuranganku terlalu besar. Sampai aku pernah terjatuh dalam titik paling rendah dan ingin menyerah pada kehidupan. Saat itu aku bahkan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk bangkit dalam keterpurukan itu?


Aku memiliki banyak kekurangan, aku bukan wanita yang cantik, hidungku lebar, dan mataku sipit. Wajahku mengembang begitu besar karena aku memang gemuk. Timbangan adalah fobia terbesar bagiku. Entah kenapa aku begitu membenci alat pengukut berat badan itu.


Aku tumbuh dalam lingkungan biasa karena memang Papa dan Mamaku hanyalah karyawan biasa disebuah perusahaan swasta. Saat kecil, aku tidak memiliki sesuatu yang bisa aku banggakan, jangankan uang yang bergelimpahan, kecantikkan yang membuat pria bertekuk lutut, ataupun bentuk tubuh yang idealpun aku tak punya.


Saat SD aku sering dihina dan dijauhi teman-temanku karena aku gendut dan miskin. Mereka bilang aku mirip dengan bab1. Mereka bilang aku hanya bisa makan dan makan sampai meledak. Mereka bilang aku bau, aku menghabiskan oksigen di sekitar mereka.


Saat SMP aku masih saja gendut, mereka memanggilku bola. Mungkin karena aku memang bulat seperti bola. Mereka tak terlalu menjauhiku karena aku lebih memilih diam dan menutup diri. Aku hanya berbicara saat diajak berbicara.


Saat SMP, itulah aku menyadari keberadaan seorang Leon. Tetangga sebelah rumah yang selalu bermain bersamaku saat kami kecil dulu. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya. Sekarang Dia begitu tampan dan penuh bakat, dari menyanyi sampai olah raga. Apapun yang dia lakukan selalu berhasil. Leon jugalah yang selalu membelaku saat ada teman yang mencoba mem- bully atau menjahiliku.


Saat SMA tubuhku mulai sedikit mengecil, mungkin karena aku bertambah tinggi. Aku punya berat 80, dengan tinggi 170. Sedikit overweight, namun tidak se-over saat aku masih kecil. Kali ini kehidupanku jauh lebih baik, aku bisa bergaul dengan beberapa teman. Aku diterima menjadi teman mereka walaupun kadang mereka sering bergosip di belakangku.


“Fotonya jadi jelek karena ada Kanna.”


“Iya, susah-susah aku tampil cantik, nggak bisa diupload ke sosmed.”


“Lihat matanya sipit dan hidungnya lebar, mana wajahnya begitu besar!”


“Dia lebih mirip bab1 dibandingkan manusia.”


Itulah kalimat yang sering ku dengar saat mereka bergosip di belakangku. Sebenarnya apa salahku? Aku juga tak menginginkan terlahir dengan tubuh jelek seperti ini. Ataupun dengan nafsu makan yang besar seperti ini. Kenapa mereka suka menghinaku?! Kenapa mereka suka membicarakanku di belakang mereka? Walaupun aku gemuk dan jelek, bukankah aku tetap manusia?


Saat itu,


Aku benar-benar ingin menangis...


Aku ingin kabur dari rasa malu ini...


Bahkan berpikir,


Mungkin harusnya aku mati saja...


aku tak seharusnya hidup.


Aku memutuskan bunuh diri dengan melompat dari atap sekolahan. Tak ada yang mencoba menghentikaku sampai seseorang datang. Dialah Leon.


Hanya dia yang memelukku dan menyalurkan kehangatan pada sekujur tubuhku.


Hanya dialah yang meminjamkan bahunya saat aku terisak keras mengatakan semua kesesakkan di dalam hatiku.


Hanya dia yang dengan perlahan menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


Saat keterpurukan melanda kehidupanku, hanya Leon yang datang menolongku. Makanya aku bertekat ingin menjadi wanita yang bisa bersanding dengan Leon. Aku tak ingin Leon dipermalukan karena berjalan dengan seekor bab1 sepertiku.


Aku mulai merawat diri, mengecilkan tubuh, dan juga mempercantik wajah. Hasilnya berbuah manis, banyak orang menyukaiku. Baik pria maupun wanita, semua menaruh hati padaku. Akulah pusat perhatian mereka, akulah bintangnya. Kebahagiaan palsu ini menyeretku, membuatku semakin tak terkendali, tergiur dengan rasa yang tak pernah ku dapatkan sebelumnya. Tanpa sadar aku merubah kebiasaan menjadi sebuah obsesi. Obsesi akan bentuk tubuh juga kecantikan wajah yang mempesona semua orang.


Leon tak menyukainya, ia menganggap obsesiku itu tidak sehat. Padahal aku melakukan ini untuknya, demi dirinya karena saat itu aku begitu mencintainya.


Aku yang marah, malah merusak hubungan kami karena lebih memilih obsesiku yang mulai tidak normal.


Aku merusak segalanya.


Aku merusak hatinya karena kesalahanku sendiri.


Aku mengecewakannya dengan prilakuku.


Aku menyakiti hatinya dengan perkataanku.


Dan aku meninggalkannya demi ambisiku.


Saat aku mulai menyadari ketulusan cintanya, semua itu sudah terlambat..., kini aku hanya bisa berkata,


“Maafkan aku, Leon.”


— MUSE S3 —


________________


Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kanna?! Kenapa Leon melepaskannya?!


Next episode readers, terus baca dan ikuti kisahnya.


•••


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama!!


Love, ❤️


dee.Meliana