MUSE

MUSE
S3 ~ PUTUS



MUSE S3


EPISODE 119


S3 \~ PUTUS


\~ Leon adalah satu-satunya cintaku. Satu-satunya pelabuhan di mana perahu jiwaku berlayar. Aku mencintainya sampai ke pembuluh nadiku.\~


_______________


Obsesi?


Benarkah ini hanya obsesiku?


Apakah semua yang Leon katakan benar?


Apa benar Aku wanita yang haus pujian?


Leon adalah satu-satunya cintaku. Satu-satunya pelabuhan di mana perahu jiwaku berlayar. Aku mencintainya sampai ke pembuluh nadiku. Ya, Leonlah nyawaku, aku tak bisa hidup tanpanya.


Namun, entah kenapa pagi ini aku mulai bimbang dengan perasaanku sendiri. Melihatnya tak mau mengerti dan memahami diriku membuat perasaanku goyah. Aku hanya butuh diet untuk 2 hari ke depan, dan setelah itu aku akan memulai diet yang sehat. Aku butuh siaran itu, setidaknya siaran itu satu-satunya sumber penghasilanku saat ini. Aku tak bisa melihat keluargaku kembali berhutang ke sana sini demi menutup hutang mereka yang lain.


Salahkan saja hatiku yang terlalu lemah. Salahkan saja pikiranku yang terlalu naif. Kenyataannya memang akulah yang selalu menutup semua masalah keuangan keluargaku.


“Hiks...,” tangisku tak juga berhenti.


“Leon..., kenapa kau jahat sekali?” Aku berjalan lunglai kembali ke rumah. Aku sempat berjongkok dan menangis sebentar di depan rumah sebelum masuk ke dalam.


“Kenapa menangis? Kau bertengkar dengan bocah itu?” Papa yang sedang duduk di depan TV menyadari kehadiranku. Aku memilih diam dan tak menjawab pertanyaannya.


“Jawab Papa, Kanna! Apa bocah itu yang membuatmu menangis?” suara Papa semakin tinggi, dan aku tetap diam.


“Sudah Papa bilang berkali-kali. Dia itu tak pantas bersanding denganmu! Kuliah saja nggak mau! Penghasilan masih nihil! Masa depan juga suram!” Papa menjabarkan satu per satu kekurangan Leon.


“Jangan jelek-jelekkan Leon, Pa!” selaku marah.


“Lebih baik kau dengan Zean! Sepertinya dia menyukaimu.” kata Papa.


“Apa?? Zean??”


“Iya, Zean. Dia pemilik sebuah perusahaan besar, tampan, muda, karakternya juga baik dan yang pasti dia terlihat begitu sayang padamu.” Papa mendekatiku, ia menghapus air mata yang menggenang pada pelupuk mataku.


“Dari mana Papa tau dia sayang padaku?” tanyaku heran.


“Dia terus menunggumu di RS, dia bahkan tak mau beranjak sebelum kau siuman. Belum lagi dia bahkan rela membebaskan Rezzi demi dirimu, Kanna. Kalau nggak cinta trus apa namanya?” Papa menekan bahuku, mencoba meyakinkanku dengan apa yang dilihatnya.


“Kanna tak mencintainya, Pa,” tolakku.


“Kau bisa belajar mencintainya, Kanna. Cinta ada karena terbiasa.” Papa kembali menekan bahuku.


“Kau masih kecil Kanna. Kau hanya di butakan oleh cinta sesaat. Begitu kau dewasa kau akan paham, kalau kau tak akan bisa hidup hanya dengan modal cinta.” Papa menarik tangannya dan mengelus pinggir bibirku.


“Leon juga pasti akan berhasil.” Aku menepis tangannya.


“Berapa tahun? Lima? Sepuluh? Keburu kau jadi wanita tua? Dan Zean sudah diambil orang!” Papa mulai kembali emosi.


“Pa...!” protesku.


“Kesempatan bagus tak akan selalu datang, Kanna. Bercerminlah dari kami berdua, jangan ikuti kesalahan Mamamu yang menikah dengan pria biasa seperti Papa.” Papa meninggalkanku dan kembali menonton TV.


Aku terdiam, ucapan Papa tidaklah salah. Tapi aku mencintai Leon, dan selamanya akan mencintai Leon.


— MUSE S3 —


•••


Aku tak konsentrasi mengerjakan tugas kuliah. Alih-alih mengerjakan makalah aku hanya terbengong-bengong di depan laptop. Sesekali aku menatap ke arah ponsel pintarku. Namun, tak ada satupun chat ataupun panggilan masuk dari Leon. Sepertinya dia benar-benar marah padaku.


Aku membenamkan wajahku pada siku tangan. Aku menatap ke arah jendela kamarnya. Gelap, seperti tak ada tanda-tanda kehadiran Leon di sana. Gorden abu-abu metalik terlihat menutup sempurna.


“Apa kau benar-benar sudah nggak mau bersamaku, Leon? Apa kesalahanku begitu besar bagimu?” tanpa sadar air mataku kembali menetes. Aku menangis, hatiku sakit dan terluka. Tak bisakan dia mengerti sedikit saja?


Triiingg.... 🎶


Bunyi panggilan masuk mengagetkanku, cepat-cepat ku hapus air mataku, berharap Leonlah yang menghubungiku.


Zean is calling....


Bahuku langsung turun karena kecewa. Bukan Leon melainkan Zean. Panjang umur sekali dirinya, setelah dielu-elukan oleh Papa kini dia meneleponku.


“Hallo, ada apa, Zean?” tanyaku to the point.


“Hallo, Kanna. Kau di mana?” Zean malah balik bertanya.


“Aku di rumah, kenapa?”


“Kakakku ingin bertemu denganmu.”


“APA??” Aku langsung meloncat, Diana mau bertemu denganku? Serius?


“Kau serius, Zean?”


“Serius, dulu aku berjanji akan mengenalkanmu padanya saat kau sembuh, bukan?”


“Ya, Tuhan, Zean. Terima kasih, aku sangat senang.”


“Aku akan menjemputmu.”


“Tidak perlu, aku akan naik taxi. Aku minta saja alamat cafenya.”


“Baik, cafe kemarin bagaimana?”


“Boleh, aku akan bergegas ke sana,” jawabku girang.


“Hati-hati, Kanna. Aku akan menunggumu.”


“Thanks, Zean.”


Setelah Zean mematikkan panggillannya aku langsung meloncat kegirangan. Impianku untuk mengenal salah satu MUA terbaik negeri ini tercapai. Aku benar-benar tak menyangka hal yang selalu ku impikan bisa aku dapatkan secepat ini.


Tanpa ragu aku memilih pakaian terbaik, memoleskan sedikit make up, dan menyahut tas. Aku berlari kecil saat menuruni tangga.


“Mau kemana?” tanya Mama.


“Bertemu dengan, Zean.”


“Benarkah? Kau harus membuatnya jatuh hati padamu, Kanna.” kata Mama dengan wajah berseri-seri.


“Benar, Kanna. Ingat yang Papa bilang tadi pagi! Lupakan Leon! Dia tak pantas untukmu.” Papa mendekatiku.


“Zean calon menantu idaman yang selama ini Mama dambakan, Kanna.” Mama ikutan menghampiriku seraya tersenyum.


“Iya, iya, bawel! Kanna pergi dulu.” Aku memutar tubuhku dan kembali keluar. Berbicara dengan mereka membuatku sebal, emangnya cinta bisa dipaksakan? Lagi pula belum tentu Zean suka padaku. Mereka paling hanya memandang Zean karena dia pria yang kaya raya.





Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit aku sampai pada sebuah cafe. Pencahayaan dari lampu bolan tersusun unik pada tiap-tiap meja. Pendar kuning membuat suasana cafe terlihat hangat.


Aku bertolah toleh, mencari keberadaan Zean dan juga Kakaknya. Tak butuh waktu lama untukku menemukan mereka berdua. Mereka terlalu mencolak, yang pria tampan dengan setelan jas hitam dan terlihat gagah, yang wanita sangat cantik dengan outer cape putih tulang dan terlihat anggun.


“Kakak beradik yang sempurna,” batinku.


Aku melihat ke arah pakaianku, hanya rok span pendek berwarna hitam, baju lengan panjang putih model aladin, dan heels setinggi 5 cm dengan warna senada. Aku mencangklong sling bag rantai berwarna hitam. Penampilanku cukup menarik, namun tetap saja kalau dibandingkan dengan mereka berdua, aku terlihat paling tak berkelas.


“Maaf membuat anda menunggu.” Aku sedikit membungkukkan kepalaku meminta maaf.


“Tidak apa-apa, kami belum lama disini.” Diana tersenyum manis padaku. Wah, dia sangat cantik.


“Duduklah, Kanna. Apa kau ingin memesan sesuatu?” Zean mempersilahkanku duduk, tangannya menepuk sofa di samping kanannya.


“Baiklah.” Aku duduk dengan ragu di samping Zean.


“Zean banyak cerita tentangmu, Kanna. Dia memperlihatkan video dan feed pada sosial media milikmu.” Diana membuka pembicaraan.


“Benarkah? Ah, jadi malu, aku masih kurang begitu ahli.”


“Ternyata kau lebih cantik di bandingkan saat berada diutube.” puji Diana.


“Masa, sih?”


“Huum, kau juga terlihat sangat mencintai dunia Make Up.” Diana mengangguk.


“Iya, Kak. Saat memoleskan make up pada wajah, aku merasa begitu hidup, begitu percaya diri,” kataku.


“Tapi kebanyakan make up mu selalu tampil natural, seperti wanita Asia.”


“Benar, Kak. Aku suka gaya make up mereka yang berkesan alami.”


“Kau tak pernah mencoba make up fantasi? Atau mungkin make up ala barat yang lebih berani?” Diana kembali bertanya. Make up ala barat lebih susah, mereka cenderung memainkan kontur wajah dan juga penggunaan eye shadow yang tajam.


“Pernah, namun aku tak terlalu ahli membuat make up mata yang tajam.”


“Oh, begitu. Bagaimana kalau aku mengajarimu?”


“Serius?”


“Tentu saja, kaukan pacar Zean.”


“Ehem..., Kakak, jangan tanya mulu donk, kasihan Kanna dia belum pesan apa-apa.” Zean menyela pembicaraan kami.


“Oh, benar. Kau mau pesan apa?” tanya Diana.


“Es teh tawar saja.”


“Tidak makan?”


“Tidak, aku sudah makan tadi.”


“Oke.”


Kami mengobrol dan membicarakan hal-hal kecil seputar make up. Diana mengajakku berkolaborasi dengannya. Sungguh sebuah kesempatan yang langka, mana mungkin aku menolaknya. Rencananya dia akan kembali ke kota S bulan depan, saat itu dia akan mengajakku membuat vlog bersama.


“Aku pasti akan datang, Kak.”


“Kau bisa jadi MUSE-ku, Kanna. Dan tentu saja aku akan membayarmu.”


“Tidak, Kak. Aku sudah sangat senang saat Kakak mau mengajakku berkerja sama,” tolakku halus.


“Tetap saja, semua pekerjaan harus dijalankan dengan profesional.” Diana meneguk habis hazelnut latte yang di pesannya, “Ah, aku ada acara lain. Bisa kau antar Kanna pulang, Zean?” Diana melirik arlojinya sebelum bertanya pada Zean.


“Sure.” jawab Zean singkat.


“Baiklah, aku pergi dulu, ya, see you girl.” Diana mencium pipiku.


“Hati-hati, Kak,” kataku.


Aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Diana. Apa lagi dia akan mengajariku beberapa teknik make up. Aku sangat bersyukur, mendapatkan kursus gratis dari MUA yang terkenal. Padahal biaya untuk ikut kelas make up nya saja berharga jutaan rupiah.


“Thanks, Zean.”


“Aku tidak melakukan apa-apa, Kanna.”


“Kau mempertemukanku dengan kakakmu.”


“Dia pasti akan menolak kalau dia tak menyukaimu. Kau wanita hebat, jadi dia mau bertemu denganmu.”


“Tetap saja, aku harus mengucapkan banyak terima kasih padamu. Aku tak tau harus membalasnya dengan cara apa? Kau banyak membantuku belakangan ini.”


“Apa, ya?” Zean mengelus dagunya seakan-akan sedang berpikir.


“Katakan saja, selama aku bisa melakukannya.”


“Hmm..., bagaimana kalau secangkir kopi lagi besok?” usul Zean.


“Hanya itu?”


“Memang kau berharap membalasku dengan apa?” Zean tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.


“Ck, memangnya aku laki-laki macam apa?”


“Bu..., bukan maksudku menyinggungmu, Zean. Aku hanya merasa balasannya terlalu kecil.” Aku tergagap, aku tak ingin dia salah sangka dengan ucapanku.


“Baiklah, kalau begitu temani aku minum kopi besok, lalu lusa, lalu lusanya lagi, lalu lusa lusanya lagi, sampai kau mau menjadi pacarku. Bagaimana?” Zean memandangku, ia menyangga wajahnya dengan telapak tangan.


“Zean??” Aku tercengang, sampai tak bisa berbicara. Bukankah itu sebuah pernyataan cinta.


“Hahaha, aku hanya bercanda, Kanna.” tawa Zean dengan lantang.


“Hah...! Aku kira beneran. Kau membuatku kaget.” Aku meneguk es tehku, berusaha menenangkan diri. Jantungku berdebar tak karuan mendengar candaan tentang pengakuan cintanya.


“Aku hanya ingin melihat wajahmu yang imut itu memerah.” Zean kembali menggodaku.


“Dasar!”


Kami mengobrol sebentar, lalu aku menyadari bahwa bibir bagian bawah Zean sedikit kehitaman. Ternyata Zean dulu adalah seorang perokok, namun sudah berhenti. Ia menggantinya dengan rokok elektrik. Padahal menurutku, sih, sama saja. Merokok tak baik untuk kesehatan, mau bagaimanapun juga bentuknya.


“Tunggu, Zean. Aku kasih lip tint, beberapa hari ini aku menggunakannya untuk endorse.” Aku merogoh tasku, mencari lip tint berwarna pink dengan merk Fresh.


“Masa pria pakai lipstik?” tolaknya.


“Bukan lipstik, ini lip tint. Jangan salah, sekarang banyak pria yang pakai tint. Idol semua pakai, terus artis juga. Pakai sedikit, teksturnya ringan dan tak terlalu jelas.” Aku memutar tutup botolnya, lalu mengoleskan sedikit tint pada bibir Zean dan meratakkannya dengan ujung jari manisku.


“Sudah?”


“Tunggu, biar rata.”


Zean terus mengamatiku dengan lekat, mata coklatnya mengkilat saat terkena cahaya lampu. Tanpa sadar akupun ikut memandang wajahnya, kami bersitatap beberapa saat. Zean mengulum senyuman manis sebelum mendaratkan sebuah kecupan pada bibirku.


Desiran halus langsung memenuhi hati dan juga perutku. Rasanya basah dan aneh.


“Sekarang aku jadi tak bisa bercanda, Kanna.” Zean menyelipkan tangannya ke belakang tengkukku dan kembali mencium bibirku.


Aku terbelalak, mataku melebar. Jantungku berdegup kencang. Aku tak bisa melakukannya, ini hal gila?! Aku sudah punya Leon! Aku punya pacar.


“Jangan, Zean!!!” Aku mendorong tubuhnya, menghentikan aksinya yang mencium paksa bibirku. Aku menghapus bekas ciumannya dengan tanganku. Rasanya aneh, seperti ada ketidak relaan yang sulit untuk dijelaskan.


“Kenapa? Kau tidak menyukaiku?” Zean memandangku dengan tatapan sayunya.


“Aku sudah punya pacar, Zean,” jawabku.


“Kau punya pacar?”


“Iya.”


“Jangan bohong, Kanna! Papamu bilang kau tidak punya kekasih.”


“Hah??”


“Papamu bilang aku bisa mendekatimu.”


“Papa?”


“Iya.”


Aku menggigit bibir bawahku dengan sebal. Kenapa Papa begitu membenci hubunganku dengan Leon? Sampai dia berbohong dan menimbulkan kesalah pahaman dengan Zean seperti ini.


“Maafkan aku, Zean. Aku punya kekasih, walupun hubungan kami saat ini sedang renggang. Tapi aku tak bisa mengkhianatinya,” tundukku, aku malu melihat wajahnya.


“Hah!! Baiklah, aku akan mengejarmu dengan cara yang fair. Maaf, ya, aku menciummu.” Zean mengangkat daguku agar mata kami bertemu.


Wajahku menghangat, pria di depanku ini ternyata sangat gantle. Dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf telah menciumku.


“Ayo, aku antar kau pulang, Kanna.”


“Baik, Zean.”


Ciuman itu terjadi begitu saja, Zean sudah meminta maaf, dan aku sudah memaafkannya. Tapi kenapa rasanya tetap saja canggung?! Selama perjalanan kami diam seribu bahasa, baik Zean maupun diriku masih sama-sama salah tingkah.


“Sudah sampai, Kanna.”


“Ya?”


“Sudah sampai.”


“Oh, iya. Terima kasih, ya,” sedikit malu karena ketahuan melamun.


“Sama-sama. Sekali lagi aku minta maaf, ya.” Zean menggenggam tanganku.


“Iya, Zean.”


“Kita tetap berteman, OK?”


“Tentu saja,” senyumku.


Aku keluar dari mobilnya, Zean ikut keluar dan mengantarku. Aku menyuruhnya pulang, tak perlu berpamitan pada keluargaku. Jangan sampai ada kesalah pahaman ke dua lagi.


“Kanna.”


“Ya?”


“Aku serius dengan perasaanku padamu. Seandainya kau putus, maukah kau mempertimbangkan perasaanku.”


“Zean?!!”


“Maaf kalau terdengar egois, tapi bukankah cinta memang egois?” Zean mencium pergelangan tanganku begitu menyelesaikan kalimatnya. Aku tak sanggup menjawab hal itu, aku menarik tanganku dengan cepat.


“Aku pulang, ya.”


“Iya,” jawabku datar.


Aku menunggu beberapa saat sampai mobilnya menghilang di tikungan jalan. Aku menghela napas panjang sebelum melangkah masuk ke pekarangan rumah.


“Kanna!!” sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tanganku.


“Leon?!” Aku terbelalak, mata Leon merah dan memandangku dengan nanar.


“Siapa pria itu?! Kenapa dia mencium tanganmu?” tanya Leon, raut wajahnya terlihat tidak sabaran.


“Lepasin!! Sakit!!”


“SIAPA DIA??”


“Sejak kapan kau melihatnya, Leon?”


“Sejak dia mencium pergelangan tanganmu.”


“Dia hanya seorang teman, lepasin, Leon!! Sakit!!” pintaku.


“Teman mana yang mencium tangan temannya??”


“LEON!!!”


“Kenapa kau mengkhianatiku, Kanna?”


“Siapa yang berkhianat? Dengerin aku dulu, Leon!” Aku tak habis pikir, kenapa laki-laki mudah sekali emosi saat menyangkut urusan asmara?


“Apa yang mesti aku dengar, Kanna? Kau bahkan berbohong dengan memuntahkan lagi makananmu. Kau juga pasti bisa berbohong tentang hal ini juga.” tuduh Leon.


“Kau tak percaya padaku?” Aku memandangnya dengan nanar, ada kesedihan membuncah dari dalam hatiku.


“Katakan siapa dia? Aku akan membuat perhitungan dengannya.”


“Leon? Kenapa kau begitu jahat?!”


“Lagi-lagi kau bilang aku jahat! Di mana letak kejahatanku, Kanna?! Apa salah kalau aku mengkhawatirkan kondisi pacaraku sendiri?”


“Memang tidak salah!! Tapi terkadang pengertian diperlukan dalam sebuah hubungan!!” bentakku.


“Lalu apa aku juga harus mengerti saat pria itu menciummu? Apa aku harus mengerti saat ada laki-laki lain yang mendekatimu?”


“Leon, ini tidak seperti yang kau kira! Dengerin aku dulu.”


“Mobilnya terlihat mewah, uanganya pasti banyak. Apa kau mendekatinya demi uangnya? Apa karena aku tak bisa memberimu uang maka kau mencari pria lain?” Leon mencengkram bahuku, rasanya sakit, tapi tak sesakit hatiku. Hatiku terluka, perih sekali, aku tak pernah menyangka Leon bisa memandangku serendah itu.


PLAK!!! Aku menaparnya lagi.


“Brengsek kau, Leon!! Kau pikir aku menjual diri?!” Aku mengumpat padanya dan mencoba pergi dari hadapannya.


“Kanna!” Leon mencengkram lenganku.


“Lepasin!” bentakku.


“Hei!! Lepasin Kanna!!” teriakan Papa menyela pertengkaran kami.


“Papa nggak usah ikut-ikutan!” Kataku.


“Anak tak tau diri! Sudah tau kau tak bisa memberikan apapun pada Kanna! Kenapa masih bersikeras mendekatinya?!” Papa tak peduli.


“PAPA!!!”


“Diam Kanna!! Papa harus tegaskan sekali lagi pada baj*ngan kecil ini. Dia tak pantas untukmu! Apa lagi menghinamu! Memangnya apa yang bisa dia berikan padamu sampai berani menghinamu seperti itu??” Papa emosi, sepertinya ia mendengar tuduhan yang diutarakan Leon kepadaku.


“Kanna!!” Leon kembali memanggil namaku.


“Masuk, Kanna!!” perintah Papa.


“Tidak! Ucapan Papa benar. Aku tak akan masuk, aku akan menyelesaikan semuanya dengan Leon.”


“Apa maksudmu, Kanna.” Leon terbelalak.


“Papa masuk saja! Aku ingin bicara berdua dengan Leon!” pintaku, tapi Papa tak bergeming, dia tetap menungguku.


“Kumohon, Pa!”


“Hah..., baiklah.” akhirnya Papa menurut, ia berlalu masuk ke dalam rumah.


Aku mendekati Leon, menggenggam tangannya. Tangan yang selalu mendekapku dengan sentuhan hangatnya. Rasa nyamannya selalu memberikanku kebahagiaan yang tak terkira.


Namun hari ini, Leon seakan menorehkan luka yang begitu dalam. Aku memang terobsesi dengan bentuk tubuh, aku memang salah telah berbohong padanya tentang bulimia yang aku idap. Aku memang salah, tapi aku tak pernah mengkhianatinya. Aku tak pernah menjual diriku, aku tak pernah membandingkannya dengan laki-laki lain.


Air mataku jatuh tak terbendung lagi. Aku kecewa padanya. Ucapan Papa ada benarnya, apa kekuranganku sampai dia mengatakan hal buruk tentang diriku? Aku pacarnya, bukan? Seharusnya dia percaya padaku.


“Kita putus saja, Leon. Aku tak pantas bersanding denganmu.”


“Kanna?”


“Kita putus, dan jangan hubungi aku lagi.”


“Kanna, maafkan aku. Aku emosi.” Leon mendekapku dari belakang.


“Lupakan aku, Leon.”


“Kanna, jangan lakukan ini padaku.”


“Papa benar, pria itu jauh lebih baik darimu. Dia lebih kaya, dia punya segala yang tidak kau punya. Lagi pula, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah, Leon. Kau tak pernah mengerti diriku.” Aku menangis, rasa sedihnya membuat jantungku seakan ingin meledak. Tapi aku menahannya, aku menahannya demi diriku dan dirinya.


“Kanna.”


“Lupakan aku, Leon.” Aku meninggalkannya masuk ke dalam rumah, dari dalam Papa tersenyum padaku.


“Papa puas?” tanyaku heran.


“Suatu saat kau akan berterima kasih pada, Papa, Nak.”


— MUSE S3 —


Pengumuman!!:


Mulai besok, yang kasih voter terbanyak tiap minggunya. (Selama senin-minggu) bakalan author kasih hadiah pulsa 10 ribu. (Hahaha, authornya berasa sultan.)


Jadi tetep kumpulin poin sebanyak-banyaknya ya, dan VOTE MUSE!!


Love, dee.


❤️❤️❤️❤️