MUSE

MUSE
S2 ~ MONSTER



MUSE S2


EPISODE 77


S2 \~ MONSTER


\~ Andai saja dosaku bisa menghilang bak asap rokok itu, mungkin aku tak akan merasa ketakutan akan kehilangan dirinya seperti ini.\~


•••


Aku kembali masuk ke dalam kamarku sendiri, membanting badan ke atas ranjang. Mendengar jawaban Kalila membuat hatiku ciut. Benarkan dia tak bisa menerima diriku apa adanya? Masa laluku memang kelam, aku bahkan membunuh Pamannya dan Kalila masih belum tau akan hal itu.


Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya di balkon, sekedar mencari angin untuk mengusir rasa penat. Kepala ku agak sedikit pusing karena hidungku mampet. Penolakan Kalila membuat rasa peningnya lebih parah.


“Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa menerimaku?” Ku hembuskan asap rokok ke atas, kepulannya berwarna putih dan segera menghilang. Andai saja dosaku bisa menghilang bak asap rokok itu, mungkin aku tak akan merasa ketakutan akan kehilangan dirinya seperti ini.





“Iya..., iya..., Ma. Arvin tau.”


“Bener, ya! Nanti malam, Mama sudah masak banyak. Kau bawa calon menantu untuk kami.”


“Iya, Ma. Arvin pasti membawanya menemui Mama, OK!”


Sepanjang perjalanan dari Lobby sampai ke lantai 4 aku berbicara dengan Mama di telepon. Dia mengingatkanku tentang janjiku untuk mengenalkan Kalila padanya malam ini.


Padahal, aku bahkan belum menghubungi Kalila. Aku belum membuat janji dengannya. Tapi dari pada aku di jodohkan dengan Diana mending bilang iya saja dahulu.


“Oke, Ma, see you.”


“See you, boy.”


Aku masuk ke dalam ruanganku di temani oleh Ailena.


“Sudah kau cari info tentang Diana?”


“Sudah, Tuan.”


“Jadi kenapa? Kenapa dia menginginkan pernikahan ini?”


Wanita normal tak akan mau bersama pria syco sepertiku bukan?


“Nona Diana sedang membuat sebuah film, Tuan. Dan investor utamanya menghentikan kerja sama mereka. Dan dia juga harus menyelesaikn film itu. Jadi kalau gagal Nona Diana akan merugi.” jawab Aleina.


“Hanya itu? Hanya karena uang?”


“Investor itu mantan tunangannya, Tuan.”


“Wanita gila, dia menginginkan pernikahan denganku hanya demi uang dan balas dendam pada pacarnya. Br**gsek!!!”


Dengan menggandengku, Diana bisa membuktikan pada tunangannya kalau dia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari dirinya. Benar juga, cinta memang rumit, mengubah manusia menjadi pribadi yang lain. Baik Diana maupun diriku sama saja, sama-sama bodoh karena cinta.


Aku mengalihkan pikiranku pada hal lain yang lebih penting saat ini. Makan malam bersama dengan Papa dan Mama. Aku harus membuat Kalila tampil secantik mungkin..


“Na, cari gaun untuk Kalila kenakan malam ini!” Aku melemparkan sebuah kartu tanpa limit di atas meja.


“Baik, Tuan.” Aleina mengambilnya.


“Warna gelap saja, pasti terlihat elegan saat dipakai oleh Kalila, karena kulitnya putih,” pintaku. Memikirkan secantik apa dirinya nanti malam membuat senyumku melebar.


“Baik. Saya permisi, Tuan.”


Aku memandang ponselku sejenak sebelum bergegas untuk menghubungi Kalila.


Alih-alih meneleponnya aku mengetik chat, aku ingin dia memikirkan baik-baik. Aku tak ingin memaksanya untuk bertemu orang tuaku bila dia belum siap. Kalau aku menelponnya mau tidak mau dia pasti tak akan bisa menolaknya bukan?


KALILA:


Baiklah,


Aku siap.


“YES!!!” jawabannya membuat hatiku berbunga-bunga.


“See you soon, baby!” Aku mencium ponselku, memang hanya cinta yang mampu membuatmu bertingkah seperti orang gila!!


— MUSE S2 —


•••


Sore itu Aleina kembali setelah ia mengantarkan gaun untuk Kalila. Aleina masuk dan membereskan semua dokumen di atas meja kerjaku. Ia juga meletakkan secangkir teh jahe, fluku agak mereda saat meminumnya.


“Tuan, anda terlihat sedikit lesu?”


“Benarkah? Terlihat, ya?”


“Anda harus beristirah, Tuan. Liburlah besok. Saya akan mengatur ulang jadwal anda.”


“Baiklah.”


“Oh, iya, Tuan. Anda pernah meminta saya menyelidiki hubungan antara Nona Kalila dengan Tuan Angga bukan?”


DEG...,


Entah kenapa aku enggan mendengar masa lalu Kalila.


“Lalu apa hubungan mereka?” tapi rasa penasaran lebih menghantuiku.


“Tuan Angga adalah mantan pacar Nona Kalila. Mungkin berpisah karena Tuan Angga study ke luar negeri.”


“Jadi mereka masih pacaran saat aku tidur dengannya?”


“Bisa iya, bisa tidak, Tuan.”


“Thanks, Na. Kau boleh keluar.”


“Baik, Tuan. Saya permisi.”


Benar dugaanku, mereka pernah punya hubungan yang mendalam. Aku tahu saat melihat cara Angga memandang Kalila. Juga Jas laki-laki yang menyelimuti tubuh Kalila, dan terakhir bunga itu. Aku harusnya sudah bisa menebaknya, namun aku memilih untuk percaya pada perasaan Kalila kepadaku.


“Ah, Br**gsek!!” umpatku marah.


— MUSE S2 —


•••


Aku menyahut kunci mobilku, sudah jam 6 lebih. Mama sudah meneleponku tiap 10 menit sekali. Benar-benar membuatku frustasi! Aku sendiri juga pulang terlalu malam karena harus menyelesaikan pekerjaan yang harusnya bisa aku lakukan besok. Besok aku ingin cuti, beristirahat agar flu-ku segera mereda.


“Baby, aku berangkat, tunggu, ya.” Aku mengetik chat untuk Kalila sambil bergumam.





Aku melaju dengan sedikit lebih cepat, Kalila pasti sudah menungguku. Lagi pula mendung begitu pekat, aku takut hujan turun dan membuatnya kehujanan.


Apa dia cari mati?!


Aku langsung turun dari dalam mobil, menghampiri mereka berdua. Pria brengsek itu kembali memaksa Kalila untuk menciumnya.


“BAJI**AN!!” Aku menarik kerahnya dan memberikan sebuah pukulan telak di atas wajahnya.


“Arvin?!!” Kalila terkejut saat melihatku.


Aku memandang sekilas pada Kalila, lalu kembali memandang ke arah Angga. Angga bangkit dengan terhuyung-huyung. Amarahku masih memuncak, ingin rasanya membunuhnya dengan tanganku sendiri.


Aku kembali menghampirinya, memberikan pukulan pada wajahnya. Darah keluar dari sudut bibirnya. Angga meludahkan darah dari mulutnya dan membalasku. Memukul pelipisku dengan tinjunya.


“Hentikan!! Kalian berdua hentikan!!” Kalila berteriak, ia mencoba menahan lenganku, tapi emosiku kian tersulut. Aku menghempaskannya sampai tersungkur.


“Hei!! Apa yang kau lakukan?!” Angga protes ia mencoba menolong Kalila, namun aku menarik bahunya.


“Urusanmu denganku belum selesai!” Aku kembali menghujamnya dengan pukulan pada perut dan juga wajahnya.


“Brengsek!! Kau menyakitinya!!” Angga membalasku dengan sikutnya, membuat rasa pening kembali memenuhi kepalaku. Berputar dan seakan-akan mau pecah.


“Flu sialan!” pikirku. Andai saja aku tidak sakit, aku pasti bisa menghindari serangannya.


“ARG!!!” dengan marah aku kembali menarik Angga, aku menghantam perutnya dengan lututku, membuatnya tersungkur ke bawah. Tanpa ampun aku memukul wajahnya berkali-kali.


“Hentikan Arvin!!! Hentikan!” teriak Kalila.


Hujan turun dengan deras, suara teriakan Kalila dan rintihan kesakitan Angga tertelan oleh suara hujan. Tinjuku penuh dengan darah Angga, darah merah berubah pudar karena terhapus air hujan. Aku masih melanjutkannya dan aku tak akan berhenti sampai aku berhasil membunuhnya.


“Hentikan, ku mohon!!! Hentikan!!!” Kalila memelukku dari belakang, mencoba menahan tubuhku. Aku melepaskan cengkramanku pada kerah Angga dan mengatur napasku yang mulai berat.


“Pergi, Angga!!! Pergilah!! Ku mohon!!” Kalila menangis dan menyuruh Angga pergi.


“Kalila!!” Angga masih bisa memanggil nama Kalila.


“PERGI ANGGA!!!!”


Aku kembali marah, aku kembali ingin menghajarnya. Namun tubuh Kalila masih menahanku, akhirnya aku melepaskan pria itu demi Kalila.


Angga menurut, ia terhuyun-huyun dan pergi dari hadapanku.


Kini pandanganku beralih pada Kalila, wajahnya terlihat begitu ketakutan saat memandangku.


“Arvin!!” tangannya yang gemetaran menyentuh luka di bawah pelipis yang diberikan oleh Angga.


“Kenapa kau membelanya??!!”


“Aku...,”


“KENAPA???!!!!” teriakanku membuatnya tersentak.


“Kenapa kau mengkhianatiku Kalila?!”


Hatiku begitu hancur melihatnya membela laki-laki lain. Akal sehatku menghilang seiring dengan emosiku yang meluap karena rasa cemburu.


“Apa kau masih mencintainya???!!!”


“Tidak!!”


Aku mecengkram pergelangan tangannya dan menariknya masuk ke dalam.


“Sakit, Arvin!!! Sakit!!” Kalila meronta, ia menarik pergelangan tangannya.


“Ikut aku!!”


Aku langsung menghempaskannya masuk ke dalam kamar apartemen. Kalila tersungkur ke lantai dan menangis. Wajahnya kacau dan tubuhnya menggigil kedinginnya.


Aku mengangkat dirinya dan memepetkannya pada dinding di samping kamar mandi. Tanpa perasaan aku memaksanya untuk mencium bibirku. Kalila menolaknya, ia mencoba mendorongku dengan tangannya yang ramping.


“Arvin!!! Berhenti!! Ku mohon!! Berhenti!!”


“Kenapa menolakku? Kau tadi tidak menolaknya?!”


“Arvin!!!!”


“Kau menerima begitu saja ciumannya?!!!”


“Arvin!!”


“ARGH!!!” Aku meninju cermin di samping wajah Kalila.


“KYYAAA!!!” Kalila dengan spontan berteriak dan membungkukkan dirinya menghindari pukulan juga serpihan kaca.


Darah segar menetes dari jari-jemariku. Pukulanku membuat kaca cermin pecah berhamburan. Anehnya aku sama sekali tak merasakan sakit ataupun perih, padahal darah mengalir begitu banyak.


Benarkah hatiku begitu sakit melihatnya mengkhianatiku?


Aku mengangkat kembali tubuh Kalila, merobek gaunnya. Kalila memberontak, ia terus menangis dan memukulku. Kakinya terus menendang dan menahan tubuhku yang memaksa melucuti semua pakaiannya.


“TOLONG!!!” teriak Kalila. Namun teriakkannya sia-sia, suara hujan jauh lebih keras.


“Hentikan!!!” Kalila merangkak mundur, aku menarik kakinya dan membuat keningnya terbentur lantai.


Aku berhasil merobek semua baju Kalila. Aku mengikat tangannya dengan sabuk kain dari gaunnya sendiri. Tanpa menghiraukan luka, tangisan, dan air matanya aku melempar Kalila di atas kasur.


“Hentikan Arvin!!” Kalila kembali memohon.


“Tidak!!!” Aku mencium dan menyesap lehernya dengan kasar.


Bisa ku dengar isakan tangis Kalila yang terus meraung di telingaku, juga hentakan kakinya yang berusaha melepaskan diri dariku.


Suara guruh petir menelan semua teriakan Kalila.


“KAU MONSTER, ARVIN!!!”


— MUSE S2 —


Dih Tegang!!!


Arvin kenapa kau begini cemburu buta?


Jangan lupa like dan comment.


VOTE VOTE VOTE GAES!!!


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s