MUSE

MUSE
S7 ~ HADIAH



MUSE S7


Episode


S7 \~ HADIAH


Entah kenapa, Leoni yang tadinya bisa menghirup udara sebanyak mungkin malah kini kesusahan menghirup napas, ia terus kesusahan menelan ludahnya dengan pemandangan itu.


____________


Kembali ke beberapa hari yang lalu, saat Levin video call dengan Leoni dan mengabarkan tentang lolos seleksi untuk mengikuti pertandingan pertamanya.


Saat itu Levin meminta hadiah pada Leoni.


“Aku tak akan kalah, singa. Dan bila aku menang, kau harus memberiku hadiah.”


“Oh, hadiah? Apa yang kau minta?” Leoni mengeryitkan alisnya, pasti Biang Keroknya yang ganteng akan meminta hal yang aneh-aneh. Yaiyalah, Levin sudah punya segalanya, ia tak mungkin meminta hadiah apa pun dalam wujud barang.


“Tunggu aku pikir dulu.” Levin mengelus dagu, berpikir dengan keras. Hadiah apa yang bisa membuatnya punya semangat juang tinggi supaya menang??


Hmm … s**s? No we're still to young. Aku tak mau menjadi sampah, batin Levin, dirinya masih sibuk menggosok dagu supaya bisa mendapatkan ide.


“Vin?? Kok diem?”


“Mikirin mau hadiah apa, kan milih hadiahnya harus yang spesial.”


“Ihh … jangan minta yang aneh-aneh ya!! Jangan minta hal-hal mesuum juga!” Ketus si Singa.


“Oke ... aku sudah tahu mau minta apa!!“ seru Levin.


“Apa?”


“Kalau aku menang, kau harus menari balet di depanku. Dandan cantik, pakai baju pink dengan rok tutu, terus ...”


“No …!!! Itu memalukan!!” Leoni langsung menolak mentah-mentah permintaan Levin.


“Itu bukan permintaan aneh, bukan juga permintaan mesum. Aku akan menunjukkan kebolehanku melintasi sirkuit balap dan memenangkan pertandingan. Tentu saja kau harus menunjukan juga aksimu dalam hal yang sedang kau tekuni, Singa!!” Levin merasa gemas, “Lagi pula kenapa mesti malu menari di depan kekasih sendiri?” Imbuhnya sambil terkikih.


“Tetap saja, aku baru beberapa saat belajar balet, itu pun karena paksaan mama, bukan karena keinginanku sendiri. Aku lebih suka memahat batu. Bagaimana kalau hadiahnya batu saja??”


“Baru belajar tetap saja bukan alasan, Singa! Aku ingin melihatmu menari. Pokoknya kau harus belajar balet dengan rajin dan menari saat aku menang nanti. Oke?!”


“Not oke.”


“Tak ada alasan, aku menantinya.”


“Dasar pemaksa.”


“Hehehehe … pastikan kau membawa kostumu saat berangkat kemari.” Levin terkikih.


Dan begitulah … Leoni kini berhutang sebuah hadiah karena Levin berhasil memenangkan pertandingan pertamanya. Pemuda tampan itu berdiri di atas podium sembari menyemburkan botol shampanye. Wajahnya terlihat begitu bahagia, semua kamera dari wartawan mengarah kepadanya. Hari ini Levin benar-benar menjadi bintang. Pusat dari seluruh manusia yang ada di sana.


Leoni hanya bisa menatap kekasihnya dari jarak jauh. Berdiri bersama dengan keluarga besar Levin dan para sahabatnya. Leoni bangga Levin berhasil lolos menjadi juara dunia. Namun ... hati Leoni masih bergejolak dengan kejadian di sirkuit tadi. Bagaimana kalau motor sebesar itu menimpa kekasihnya?


“Kau kenapa, Sayang?” Kalila menepuk pundak Leoni, gadis itu bengong.


“Tidak, Tidak apa-apa, Tan.”


“Ayo kita susul, Levin. Sepertinya acara penyerahan pialanya sudah selesai. Giliran kita yang berfoto dengannya.” Kalila menggandeng tangan Leoni. Gadis itu pun tersenyum. Ia berusaha menepis kegelisannya. Semua yang terjadi tak beralasan. Tak ada alasan baginya untuk khawatir. Lihatlah kekasihnya masih sehat, bugar, dan utuh.


Leoni tersenyum lebar, ia tak ingin merusak suasana gelak tawa dengan kecemasan yang tidak berarti.


...— MUSE —...


Beberapa hari kemudian.


Keluarga Levin sudah terbang kembali ke Indonesia karena punya urusan masing-masing. Sedang Leoni masih tetap tinggal beberapa hari untuk memenuhi janjinya pada sang kekasih. Yup, apa lagi kalau bukan menari balet??


Sore itu Levin sedang melatih diri dengan peralatan gym seadannya di dalam apartemen. Ia memang membiasakan diri melatih otot-otot tubuhnya. Sebagai pembalap dia menggunakan motor dengan berat ratusan kilo. Kalau ototnya tidak kuat menyangga beban itu sudah pasti Levin akan jatuh dan menjadi guyonan kan?!


Sementara Levin sedang berolah raga, Leoni sibuk mematut diri di depan kaca. Menggunakan pakaian ketat berwarna pink muda dengan rok di pinggang. Leoni menguncir cepol rambutnya naik ke atas kepala sementara beberapa anak rambut dibiarkan tergerai di sisi telinga.


Leoni beberapa kali berputar untuk menilai penampilannya. Apakah sudah cantik atau belum?!


“Make up ku berlebihan tidak ya?” Leoni menelisik riasan wajahnya, step by step yang diajarkan Kanna padanya semalam telah diikuti baik-baik. Tapi rasa-rasanya masih terlalu berlebihan karena Leoni tak pernah merias wajah sebelumnya.


“Huft … apa aku terlihat terlalu centil?” Leoni berputar sekali lagi di depan kaca.


“Masa bodoh!! Segera selesaikan saja hutang hadiahnya.” Leoni bergegas keluar kamar; gadis itu terus memperpanjang tarikan napasnya agar tidak gerogi.


Levin sedang melatih otot lengannya di sebuah alat gym. Leoni tidak tahu apa namanya, hanya saja, Levin terlihat terlalu tampan dan seksi dalam pose seperti itu. Otot lengannya yang penuh tato itu mengencang, wajahnya yang berkeringat, dan otot tubuhnya yang shirtless benar-benar tercetak dengan begitu jelas.


Entah kenapa, Leoni yang tadinya bisa menghirup udara sebanyak mungkin malah kini kesusahan menghirup napas, ia terus kesusahan menelan ludahnya dengan pemandangan itu. Bagaimana rasanya ya kalau duduk di pangkuan Levin saat dalam posisi itu?? Ugh … memikirkan hal itu membuat perut Leoni geli dan wajahnya memerah.


“Ya ampun! Kenapa saat ini justru aku yang berpikiran mesum?!” Leoni mengerutuki dirinya sendiri.


Levin terkejut dengan kedatangan Leoni. Leoni berjalan menghampiri Levin. Levin menyeka keringat dengan handuk.


“Sudah mandi??”


“Huum.”


“Sudah mau memberiku hadiah?”


“Huum.”


Leoni mengangguk, ia membungkukan badannya dan mengecup bibir Levin dengan lembut. Leoni memejamkan mata, Levin ikut memejamkan matanya menikmati alunan dari candu bibir sang kekasih.


Leoni merangsek naik ke atas pangkuan Levin. Masih dengan bibir saling memanggut mesra. Levin mengelus paha Leoni sampai ke pantatnya.


“Kau sengaja menggodaku, ya??” tanya Levin.


...— MUSE S7 —...