MUSE

MUSE
SOSMED



MUSE


EPISODE 17


SOSMED


\~Bolehkan aku berharap menjadi seseorang yang terus memenuhi bayangan di bola matanya yang indah?\~


“Lenna!!” suara Jessi menyadarkanku dari rasa kantuk yang nggak bisa ku tahan.


“Hah?? Apa?” sahutku latah.


“Gila, ya, kamu?!”


“Aku masih waras,” sahutku setengah sadar.


“Kau lihat ini!!!” Jessi menyodorkan ponselnya padaku.


“Apa!!” Aku langsung menemukan kesadaranku kembali.


“Wah gila!! Hebat banget!” Aku menutup mulutku dengan tangan sangking kagetnya.


Aku lihat gambar baliho besar di tengah kota dengan wajahku di atasnya. Aku sungguh tak percaya dengan gambar itu!


“Ini beneran aku??” teriakku bahagia.


“Memangnya bukan kamu???”


“Aku.. itu aku.” Kami melompat- lompat kegirangan dan aku memeluk Jessi erat.


“Kamu beneran jadi model sekarang? Jadi terkenal?” Jessi sedikit mendorongku menjauh.


“Huum.. tapi saat ini belum terkenal, sih.” Aku mengangguk dan tersenyum lebar.


“Tapi aku juga sudah ikut les modeling. Aku ingin jadi model profesional,” seruku keras.


“Aku mendukungmu.” Jessi kembali memelukku.


Aku nggak pernah menyangka punya teman itu bisa sebahagia ini. Harusnya dari dulu aku mencari teman, berbagi cerita dan kebahagian, berbagi kesedihan dan airmata.


—MUSE—


1 minggu kemudian


Aku berjalan menuju aula serba guna milik fakultas kesenian. Mataku masih melirik ke sana ke mari untuk mencari Alex. Beberapa orang terlihat masih berlalu lalang dan sesekali berhenti untuk mengamati lukisan tertentu.


“Permisi, apa Alex di sini?” Aku bertanya pada seorang penjaga buku tamu.


“Dia ada di dalam, kau cari saja.” senyumnya.


“Terima kasih.”


Aku datang untuk memenuhi janjiku melihat pameran dari fakultas kesenian. Mereka menampilkan hasil kerja mereka selama 1 tahun berkuliah.


Aku tersenyum melihat punggung Alex dari kejauhan. Ada beberapa orang wanita berkerumun di sampingnya. Mereka tertawa dan mengobrol dengan santai, membuatku enggan untuk sekedar memanggil namanya. Aku mengurungkan niatku mendekatinya dan sedikit berputar melihat karya-karya lukisan di sana.


“Hei, cewek itu bukannya mirip dengan lukisan tadi.” Aku mendengar beberapa orang berbisik.


“Bukan mirip tapi memang iya.” Mereka berbisik tentang diriku.


“Wah itu modelnya, Alex.”


“Dia datang, ya?”


Mereka membisikan sesuatu tentang aku, aku tahu dari cara mereka menatapku. Walaupun aku nggak tahu arti dari tatapan mereka, tapi aku jadi sedikit takut. Aku mencoba mengacuhkannya dengan kembali melihat-lihat beberapa lukisan, sampai pada sebuah titik aku menghentikan langkahku.


Mataku terbelalak melihat lukisan itu, seorang wanita dengan rambut putih dan mata violet-nya menatapku. Dia membawa seikat bunga lavender dan tersenyum dengan lebar. Aku menyukainya, menyukai matanya yang sangat indah.


“Kau suka?” suara Alex mengagetkanku.


“Itu aku?” tanyaku tak percaya.


“Iya, terima kasih sudah datang.” ucap Alex.


“Apakah kau yakin itu aku?”


“Kalau bukan kamu siapa lagi?” Alex tersenyum geli dengan pertanyaanku.


“Kau melukisnya dengan sangat baik.” Aku kembali mengamati lukisan itu.


Kini aku mengerti kenapa semua orang melihatku? Itu karena wajahku yang tergores di atas kanvas milik Alex.


“Kau terlihat sangat cantik.” Alex melihat lukisannya.


“Kau memujiku atau memuji karyamu?”


“Tentu saja memujimu, aku tidak akan bisa melukisnya kalau bukan karena kamu.”


Perkataan yang bebar-benar memanjakan telinga dan hatiku. Sejenak aku melihat matanya yang penuh dengan bayangan wajahku.


Bolehkah aku memandangnya seperti ini?


Bolehkan aku berharap menjadi seseorang yang terus memenuhi bayangan di bola matanya yang indah?


“Akan ada festival kesenian akhir bulan ini, kau mau pergi bersamaku?” tanya Alex tiba- tiba.


“Festival? Apa isinya?”


“Yah seperti festival biasa. Tapi ada pameran, ada pentas drama,workshoplukis dan grafir, body painting contest.”


“Iya, kau mau ikutan? Aku bisa membantumu.” tawar Alex.


“Bolehkan?”


“Tentu saja.” Alex mencubit kedua pipiku.


—MUSE—


.


.


.


Beberapa hari yang lalu Julius memintaku untuk kembali menjadi model fotonya. Om-om maniak foto ini lama-lama tambah nyebelin karena sering memintaku untuk jadi foto modelnya. Bukannya aku nggak senang dengan pemotretan, tapi kalau Julius yang minta rasanya capek banget. Terlalu perfeksionis, bikin sebel, dia membuatku mengulang-mengulang dan mengulang lagi satu gaya sampai dapet hasil yang terbaik.


Ihhh... sebel..


Hari ini aku tampil tanpa make up, mencoba senatural mungkin dan terlihat apa adanya. Aku memakai gaun putih dengan model tank top. Rambutku yang panjang pun aku biarkan terurai.


“Permisi.” Aku berjalan memasuki ruang yang biasanya kami gunakan untuk berfoto, tak ada jawaban.


Julius tidak di sana. Aku keluar dan berjalan menyelusuri rumahnya. Rumah besar dengan gaya minimalis itu terlihat menawan. Aku melewati sebuah dinding dengan wallpaper berwarna abu-abu beraksen monogram, dipenuhi beberapa foto-foto karya Julius.


“Dia memang berbakat. Sayangnya hanya hoby.” Aku kembali menelusuri koridor, mataku terus jelalatan.


Aku sampai di ujung ruangan, pintunya tak tertutup rapat, membuatku bisa melirik kedalam ruangan. Ternyata itu kamar Julius, dia di dalam dan sedang berganti pakaian. Bisa kulihat otot-otot dadanya yang kencang dan otot perutnya yang kotak-kotak. Mataku bahkan sama sekali nggak berkedip dan menolak pemandangan indah barusan.


“Gila.. cobaan apa lagi ini??!” Aku bergumam.


Seandainya saja sikapnya nggak menyebalkan, pasti banyak cewek yang antri jadi pacarnya.


Julius memalingkan mukanya dan melihatku. Aku terdiam kaku dan sangat malu. Semakin lama rasanya pipiku menjadi semakin panas, aku sungguh sangat malu ketahuan mengintipnya ganti baju.


“Hei, kamu ngintip aku ganti baju, ya?” Julius mendatangiku.


“Nggakkk!!! Geer, ak-aku baru aja sampai kok.”


“Ilermu itu buktinya.”


“S.. siapa yang ngiler.” Aku meraba sekitar mulutku, takut kali aja beneran ngiler.


“Kalau kamu mau lihat lagi bilang aja nggak usah ngintip segala.” godanya.


“Nggak!! Jangan Geer.” Aku langsung berpaling dan berlari pergi.


Akh... Kenapa bayangan tubuhnya nggak mau hilang!!!?


—MUSE—


“Lenna katakan ada hubungan apa kamu sama pemilik akun ini?” Jessi menunjukan foto-fotoku yang di upload pagi ini oleh akun sosmed milik Julius, lifeangel.


“Satu dua tiga empat lima.” Kok banyak banget sih yang di upload sama Julius, pikirku heran.


“Siapa???” Jessi menggoyang-goyangkan badanku.


“Cuma hubungan kerja saja. Dia minta di rahasiakan namanya.”


“Tapi di upload foto sebanyak ini..? Masa kamu nggak tahu??” Jessi kembali mengangkat layar ponselnya tepat di depan wajahku.


“Hmm.. dibilang rahasia kok.” Aku mencoba menghindari pertanyaannya.


“Liat caption-nya!” perintah Jessi.


#mymoon #myangel #lifeangelreal #myheartbeatforyou


Bruuuss...


Aku langsung menyemprotkan minuman yang sedang kuminum. Apa-apaan caption yang ditulis Julius? Dia sudah gila atau memang pura-pura gila untuk menggodaku?


“Tulisan macam apa ini?!” Aku merebut ponsel dari tangan Jessi.


“Bulanku, gadisku, malaikatku, cih.. Masih bilang nggak ada hubungan apa-apa!” Jessi menyenggolku dengan sikunya.


“Beneran kok!!” seruku lagi.


“Bocorin dikit donk, orangnya seganteng hasil fotonya ga?”


“Hmm... ganteng sih, tapi agak gila dikit.” Aku memperlihatkan senyum simpul pada Jessi.


“Ihh.. jadi pengen ketemu, penasaran.” Jessi menggigit pinggiran ponsel.


Mana mungkin aku bilang kalau pemilik akun itu adalah Julius. Jessi bisa mati karena histeris kegirangan.


Kini yang lebih aku kawatirin adalah Alex. Diakan juga follow akun sosmednya Julius. Jadi mana mungkin dia nggak tahu, nggak lihat, dan nggak baca. Aku mendengus dengan sebal.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^