
MUSE S3
EPISODE 132
S3 \~ KANNA
\~ Pertengkaran kami membuatku tersadar bahwa segala sesuatunya punya sebab dan akibat. Begitu pula dengan kehidupanku, kehidupan Kanna, juga Zean. Semua terjadi dan terus berputar karena sebab dan akibat dari perbuatan kami masing-masing.\~
_____________
Sudah beberapa hari ini aku terus memimpikan Kanna setip malam. Aku memang membencinya karena menyembunyikan kehamilannya dariku. Aku Papa dari Leona, harusnya aku berhak untuk mengetahuinya. Aku bahkan tak bisa menyentuhnya, aku bahkan tak bisa mendekap erat tubuh mungilnya disaat-saat terakhir.
Namun aku juga menyesal, aku menyesal karena telah terbutakan oleh nafsu dan membuatnya menderita. Andai saja aku bisa menahan diriku, Kanna tak harus mengalami hal ini, dan Leona tak harus meninggal.
“Jam 5 pagi.” Ku lirik jam di samping tempat tidurku.
Dengan sempoyongan aku bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri dan meneguk susu langsung dari kotaknya. Aku mengecek beberap pesan yang ada di wall chat. Beberapa dari Lova dan yang terakhir dari Zean.
“Jangan jadi pengecut dan bahagiakan Kanna! Atau aku akan mengambilnya kembali.” Aku membaca rentetan pesan dari Zean. Apa maksudnya? Bukankah Zean adalah suami Kanna saat ini?
Aku beralih memandang foto-foto Kanna di Sosial media milikku. Dia satu-satunya orang yang aku follow. Aku melihat wajahnya yang tersenyum bahagia, dalam hati aku merasa bahagia sekaligus sedih untuknya, “kenapa kau begitu menginginkan semua kepalsuan ini Kanna? Sampai rela membuang segala kebahagian yang sebenarnya?”
Namun aku tertegun dengan banyaknya komentar negatif pada kolom komentar. Mereka semua menghujad Kanna karena dulu dia gemuk dan jelek. Foto-foto Kanna sewaktu SMA tersebar luas, ada seseorang yang membencinya. Siapa orang yang setega itu pada Kanna?
Aku menutup kembali ponselku. Hatiku tidak tenang, namun memilih untuk menyerah. Kanna bukan lagi tanggunganku, dia istri Zean. Dia bukan lagi milikku.
Aku menyahut jaket dan kunci mobil. Ingin rasanya melepaskan segala kesesakkan yang mengendap di dalam hatiku. Aku menginjak pedal gas dan pergi menuju ke makam Leona. Ingin berbagi cerita yang tak pernah sempat aku ungkapkan pada bidadari kecilku itu.
•
•
•
Sesampainya di sana ada bayangan seseorang yang mendahuluiku. Dia telah duduk termenung sambil mengelus pusara Leona. Tangannya membawa boneka singa kecil. Aku tau dia adalah Kanna, wanita yang kucintai juga Mama dari Leona.
Ternyata Kanna datang pagi ini, mengajak Leona bermain. Bisa ku lihat wajahnya yang semakin tirus dan pucat. Padahal terakhir dia masih berisi karena hamil, sekarang dia terlihat kurus dan menyedihkan.
Apa dia tak pernah menyentuh makanannya? Apa beban mentalnya terlalu besar sampai-sampai mengikis tubuhnya?
Aku terdiam, tak berani keluar dari dalam mobil. Melihatnya menangis pilu membuatku ikut menangis. Aku tak boleh kembali padanya, karena kami hanya akan mengorek luka basah pada hati kami masing-masing. Baik aku dan Kanna memang bodoh, sama-sama saling melukai dan akhirnya sama-sama saling menyesalinya.
— MUSE S3 —
•••
Ternyata logika dan perasaan adalah sesuatu yang tak bisa berjalan dengan harmonis. Nyatanya disaat logikaku berkata untuk menjauhinya karena dia istri orang, perasaanku justru menginginkannya. Aku mengikuti Kanna, menunggunya di depan rumah. Aku merasa seperti orang bodoh, yang begitu terpedaya pada dirinya.
“Sialan!! Ngapain juga aku menunggunya seperti orang gila?!” seruku sebal pada diri sendiri. Aku menyalakan kembali mesin mobilku dan hendak melaju pergi.
Namun pandanganku kembali pada sosok dirinya yang tengah berjalan dengan membawa koper besar. Dia menangis dan pergi begitu saja dari dalam rumahnya. Apa yang dia lakukan? Mau ke mana dia pergi?
Kanna berhenti di sebuah taman, dan beristirahat di sana. Aku masih mengamatinya dari dalam mobil. Hatiku merasa iba, kenapa dia tidur di bangku taman alih-alih di rumah mewahnya bersama dengan Zean?
Cukup lama aku menunggunya, mengamati wajah cantiknya yang sepucat kapas. Sesekali Kanna merintih karena rasa sakit. Mungkin tubuhnya belum sembuh benar dari bekas luka operasi yang belum genap sebulan dijalaninya.
“Hujan?” Aku menengadah ke langit saat butiran bening menetes pada kaca depan mobil.
“Kanna?” Aku melihat ke arah Kanna, dia bergegas bangkit dan berlari mencari tempat berteduh.
Aku melihat punggungnya yang terus terbungkuk karena derasnya hujan. Melihatnya tersiksa seperti ini harusnya membut hatiku senang! Harusnya aku bahagia karena dendamku tercapai! Tapi kenapa? Kenapa malah hatiku begitu sakit? Kenapa malah hatiku begitu menyesali segala perbuatanku padanya?
Kanna mungkin juga hanyalah korban, korban dari keserakahan orang tuanya dan masa lalunya yang kelam. Kanna hanya korban dari kejamnya perkataan manusia. Harusnya dulu akupun bisa merangkulnya, mencintainya, dan tak pernah meragukan kesetiaannya padaku. Tapi nyatanya aku lebih memilih percaya dengan keegoisanku sendiri.
Aku berlari menembus derasnya hujan, ingin memeluk tubuhnya dan menyalurkan kembali rasa cinta dan kerinduan yang membuncah. Aku ingin mengatakan padanya betapa aku menyesal telah melakukan semua ini padanya.
Kanna hampir terjatuh, tubuhnya limbung ke samping. Aku langsung berlari, merosot jatuh agar tubuhnya tak menyentuh aspal jalan. Untunglah belum terlambat, aku bisa menangkapnya, menjadikan tubuhku bantalan dirinya.
“Leon...?”
“Iya, Kanna. Ini aku.” Aku mendekapnya erat dalam pelukkanku. Menangisi kebodohanku.
“Jangan menangis, Leon!” Kanna mengusap wajahku, ia tersenyum simpul sebelum akhirnya jatuh pingsan.
— MUSE S3 —
•••
Aku merobek paksa baju Kanna yang basah karena air hujan. Suhu badannya meningkat, Kanna terserang demam. Akan gawat kalau baju basahnya dibiarkan menempel begitu saja.
Aku kembali dengan sebaskom air hangat, membersihkan air kotor dari tubuh polos Kanna. Aku memulainya dari wajah, bisa ku lihat bibirnya yang pucat terus mengeluarkan gigauan pelan. Bibir itu menggigil kedinginan.
Aku beralih untuk mengusap tubuh Kanna, tubuhnya terlihat begitu kurus. Kenapa dia tak merawat dirinya sendiri? Sudah berapa hari dia tidak makan? Hanya dua minggu kami berpisah setelah kematian Leona, dan dia sudah jadi sekurus ini.
Aku menggigit bibirku untuk menahan air mata yang akan kembali menetes.
Namun aku tak kuasa lagi menahan air mataku saat mengelus bagian perutnya yang membekas sebuah luka panjang melintang. Bekas luka operasi sesar, dokter harus mengeluarkan paksa Leona dari tubuh Kanna saat itu.
Aku menangis sambil mengelus bekas luka itu. Semuanya karena perbuatanku, semuanya karena dendam dan kesalahanku.
“Maafkan aku, Kanna. Maafkan aku.” isakan tangisku membangunkan Kanna. Dengan lemas Kanna mengusapkan tangannya di atas kepalaku.
“Leon.”
“Ya? Aku di sini.” ku genggam erat tangannya.
“Aku haus.”
“Sebentar, aku ambilkan air.”
Aku kembali dengan segelas air. Kanna meminumnya dengan cepat, sepertinya sangat haus.
“Kenapa aku di sini?” Kanna menutup tubuhnya dengan tangan. Sepertinya di begitu kedinginan sekaligus malu dengan keadaannya.
“Kau pingsan, Kanna. Istirahatlah! Aku carikan baju ganti.” Aku menyelimutkan selimut dan bergegas mencari pakaian yang bisa dipakai oleh Kanna. Baju di dalam kopernya basah terkena air hujan, tak ada yang bisa Kanna pakai.
Setelah memakan beberapa sendok bubur Kanna meminum obat yang ku berikan. Dia harus banyak beristirahat agar demamnya turun.
“Kenapa kau mau merawatku, Leon?”
“Apa itu butuh alasan?”
“Aku juga, kita impas sekarang, Kanna.” senyumku simpul sebelum meninggalkannya untuk beristirahat.
•
•
•
Setibanya di lantai dasar, terlihat Lova sedang memandangku dengan mata merah dan nanar. Dia tak terima dengan perlakuanku terhadap Kanna. Walaupun benar orang tuaku meminangnya untuk menjadi istriku tapi aku sama sekali tak pernah mencintainya.
“Sejak kapan kau datang?” tanyaku.
“Setengah jam yang lalu.” jawab Lova.
“Ah, begitu.” Aku kembali berjalan melewatinya dan menaruh piring kotor pada bak cuci.
“Kenapa kau masih menerimanya? Kenapa kau masih merawatnya??!! Dia istri orang, Leon! Dia punya suami yang bisa merawatnya!” bentakan demi bentakan keluar dari bibir Lova. Aku tak bisa menyalahkannya juga, ucapannya tidaklah salah. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan Kanna begitu saja di tengah hujan deras. Apa lagi dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Antar dia ke rumah sakit!! Hubungi keluarganya.” Lova memberikan pilihan yang benar. Tapi hatiku masih berdegup untuk Kanna, aku seakan ingin memilikinya kembali.
“Tidak!! Aku akan merawatnya, aku akan kembali mencintainya!”
“LEON!!” teriak Lova, “kau anggap aku apa, Hah??!! Bahan candaan?”
“Lova, maafkan aku. Kita tak usah meneruskan pertunanan ini. Aku tak pernah mencintaimu. Kau tau itukan?!” Aku menekan bahunya, menjelaskan perasaanku. Aku harap Lova tak marah dan mengerti perasaanku ini.
“Kau brengsek, Leon!” Lova menamparku.
“Benar, Lova. Aku pantas menerimanya. Pukul aku, caci maki diriku, asalkan kau bisa melepaskan segala cintamu padaku.” Aku membawa tangannya pada wajahku.
“Sialan!! Wanita sialan!!” seru Lova, Kanna pasti bisa mendengarnya. Lova sepertinya terlalu marah, dia menjerit histeris dan terus menyalurkan emosinya lewat kata-kata yang menusuk hati.
“Apa kau bisa mendengarku Kanna?!! Akulah yang menyebarkan fotomu saat masih gemuk dan jelek!! Aku yang merusak semua popularitasmu!! Mengupas semua kepalsuanmu itu!!!” teriakan Lova terus menjadi-jadi, membuatku terkejut dengan penuturannya.
“Apa kau bilang?!” Aku mencengkram tangannya.
“Aku sudah bilangkan! Aku juga akan menjadi bodoh seperti kalian! Jangan salahkan aku kalau aku menjadi jahat!!” Lova memandangku dengan kemarahannya, air mata mengalir dari wajah cantiknya.
“Lova!! Kenapa? Aku kira kau wanita yang baik?!” Aku tak percaya.
“Oh, jadi, Menurutmu aku lebih jahat dari wanita yang membunuh anaknya sendiri?”
“LOVA!!” bentakku.
“Baiklah, kita putuskan ikatan ini, Leon! Kita putuskan semuanya! Aku juga sudah muak dengan kebodohan ini! Muak dengan cintamu dan juga wanita itu.” Lova melepaskan diri dari cengkramanku dan menyahut tasnya.
“Lova!!” panggilku.
Lova tak menjawab, dia terus menjauh pergi. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Pertengkaran kami membuatku tersadar bahwa segala sesuatunya punya sebab dan akibat. Begitu pula dengan kehidupanku, kehidupan Kanna, juga Zean. Semua terjadi dan terus berputar karena sebab dan akibat dari perbuatan kami masing-masing.
“Leon.” Kanna berdiri di pertengahan tangga lantai dua. Dengan lemas dia memandang sayu ke arahku. Ia merasa bersalah dengan pertengkaran kami.
“Kanna? Kenapa bangun?” Aku memapahnya menuruni tangga, duduk pada sofa ruang tamu.
“Maafkan aku, Leon. Apa aku membuat hubunganmu dengannya rusak?”
“Biarlah, dari dulu dia sudah tau kalau aku tak pernah mencintainya. Pertunangan kami hanyalah omongan orang tua yang berharap anaknya bahagia.”
“....” Kanna diam dan tertunduk.
“Tapi kalau tak mencintai bagaimana bisa merasa bahagia.” lanjutku, aku tersenyum dan berusaha menjaga hatinya.
Kanna masih tetap menunduk malu. Air matanya terus membuatnya terisak. Aku memeluknya dan memberikan kehangatan.
“Aku antar kau pulang.”
“Aku tidak punya rumah.”
“Apa??? Kaukan istri Zean?”
“Kami sudah bercerai.”
“Apa???”
“Kami memutuskan untuk bercerai karena aku tak pernah mencintai, Zean. Aku bersamanya karena pengaruh orang tuaku. Aku menikahinya karena aku butuh Papa untuk anakku.” dengan berat Kanna menjawab semuanya.
“Maafkan aku, Kanna.”
“Maafkan aku juga, Leon.” Kanna menangis dan terisak kembali dalam pelukkanku.
Entah mengapa aku begitu bahagia di atas penderitaan Kanna saat ini. Cinta yang membawaku menjadi orang bodoh. Cinta juga yang membawaku menjadi manusia paling hina. Namun, cinta juga yang membawa kebahagian terbesar dalam hidupku.
“Kembalilah padaku, Kanna.”
— MUSE S3 —
MUSE UP
DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA. ❤️❤️
Besok MUSE S3 EPISODE TERAKHIR. Terus kasih Like dan commentarnya.
Maaf ya, novel saya banyak kekurangannya.
Semoga nggak bosan-bosannya membaca MUSE dan juga menikmati alur ceritanya.
Tolong kasih bintang 5
Bantu saya dengan comment dan like. Supaya MUSE bisa dipasang di beranda.
Comment titik pun boleh. 🤭🤭
Pliss banget nget nget nget....
Author rengginan berharap jadi author femes. 🤣