
MUSE S4
EPISODE 9
S4 \~ FIGHT
\~ Aku kembali memandang wanita itu dan anaknya. Kelembutan hati dan belas kasihan yang berlebihan hanya akan memacu munculnya wanita-wanita seperti itu. Mengemis dengan anak-anak\~
____________________
RA POV
Saat itu dunia terasa aneh, waktu seakan berhenti berputar saat pandangan kami bertemu. Apa ini halusinasiku karena pengaruh Alter ego-ku yang menyukai dirinya? Aku berpaling, mencoba mengabaikan rasa ini dan berusaha untuk melanjutkan olah ragaku.
Si Ken tak pernah merawat tubuhnya. Dia hanya tau belajar dan belajar. Makanya dia lemah. Jadi tugasku membuat tubuhnya kuat, lagian dia harus kuat agar selalu menang berkelahi. Eh, yang benar saja, Inggrid malah naik ke atas punggungku. Menambah beban pada latihanku. Semula aku masih kuat, namun dia malah duduk di atas pinggangku, tentu saja aku tidak kuat menahan berat tubuhnya.
Ku putar tubuhku agar terlentang, cewek bar-bar ini masih nekat menindihku. Mana kena bagian paling sensitif lagi!
“TURUN!!” teriakku.
“Nggak!! Sampai Ken keluar.” bentaknya nggak kalah kencang. Dia meloncat-loncat di atas milikku.
“Jangan loncat!! Berhenti!!!” Aku menahan diri, sialan cewek ini nggak punya rasa malu apa?
“Wajahmu memerah, Ra!” Inggrid menunjukkan telunjuknya ke arah wajahku. Siapa yang nggak berpikir nakal dengan keadaan kami saat ini?
“Turunlah Inggrid! Jangan sampai aku kasar padamu,” ancamku.
“Kau malu padaku, Ra?” Inggrid mengelus perutku, membuat bulu kudukku merinding disko, refleks aku menampik tangannya.
“Biar aku pegang sebentar!! Aku ingin merasakan kerasnya perutmu.” renggekkannya membuatku ingin memukulnya. Sabar..., sabar Ra!! Cewek ini berarti bayak bagi Ken dan Mama.
“Tidak,” jawabku singkat.
“Hahaha..., kenapa? Padahal dulu kita sering mandi bersama hlo. Aku bahkan sering bermain dengan belalai gajahmu juga!” cewek bar-bar berkacak pinggang dan tertawa nyaring. OMG!! Tak bisakah dia lebih manis dan menyembunyikan otak ngeresnya itu di depan cowok. Ah, lupa, dia dan Ken biasa bercanda seperti ini.
“Saat itu kita masih bayi beego!!” Aku menempeleng dahinya sampai dia terjungkal.
“Aduh!! Cowok jahat.” Inggrid meringis kesakitan, wajahnya membuatku ingin menggodanya.
“Bagaimana? Apa masih mau melihat belalai gajahku lagi sekarang?” pertanyaanku membuat rona kemerahan menyembul dari tulang pipinya yang sedikit cubby.
“Haha..., Kau bercanda?!” tawanya sumbang.
“Nggak kok. Ini aku turunin celanaku.” Aku berpura-pura melepaskan tali pada celana boxer yang ku kenakan.
“Ra, please, don’t.” Inggrid bergeleng sambil menahan agar celanaku tidak ikut melorot.
“Cih, tadi godain, giliran di tekatin nggak berani. Maumu apa?” Aku terkikih dan duduk di bibir ranjang. Menghapus keringat dan masih menetes.
“Aku mau bertemu dengan Ken. Hum..., boleh ya, boleh ya?” Inggrid menyembul di antara kakiku. Memandang dengan sorot mata anjiingnya yang berbinar.
“Nggak bisa! Ngomong aja sama aku.” sentilku, enak saja suru gantian lagi. Aku barus saja keluar kurang lebih dua jam.
“Ck, jahat!! Ra jahat!!” teriak Inggrid lalu beranjak pergi, ia berhenti di depan pintu dan berkata, “liat saja, aku pasti bikin kau jatuh cinta juga sama aku!! Huh!!”
BLAR!!
Pintu terbanting. Aku menutup telingaku karena suara bisingnya.
“Coba aja.”
— MUSE S4 —
•••
KEN POV
Aku melajukan motor vespaku di depan rumah Inggrid. Papi Arvin keluar dari dalam rumah dan melirik ke arahku sebelum akhirnya turun dari mobilnya.
“Hei monster kecil!” panggilnya, hish, aku benci panggilan itu.
“Ya, Pi.” sapaku.
“Kau apakan Inggrid? Beberapa hari ini moodnya selalu jelek.” tanya Papi Arvin, pandangan wajahnya membuatku takut. Andai saja aku tak mengenalnya dari kecil, mungkin aku tak punya keberanian untuk mendekati Inggrid.
“Hah? Benarkah?” jangan-jangan Ra menyakitinya saat aku tak sadar.
“Ye..., ni anak malah balik nanya?!” Papi Arvin mengacak rambutku.
“Maaf, Pi. Nanti Ken bicara sama Inggrid,” jawabku menenangkan hatinya.
“Oke! Walaupun aku telah mengenalmu lama, tapi kalau kau menyakiti anakku aku pasti akan mencarimu, Ken!”
Oke kini aku merinding. Pandangan mata dan wajah Papi Arvin membuatku takut. Hahaha..., dan dia calon mertuaku. Bagaimana nasib hidupku kelak kalau dia tak bisa menerima Ra, si alter egoku?!
“Baik, Pi.”
“Oke, Papi pergi, ingat!! Jaga Inggrid!” pesannya sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Aku mendengus panjang setelah melambai padanya.
“Ken!!” akhirnya suara yang ku rindukan terdengar. Seperti biasa keras, cempreng dan melengking.
“Halo, girl! Kenapa kau tak mencariku se-minggu ini?” Aku bersandar pada motor dan Mengulurkan tanganku untuk menyentuh wajah cantiknya.
“Kaukan ujian! Kau bilang untuk jangan mengganggumu.” Inggrid mencibirkan bibirnya.
“Itukan karena aku cemburu padamu! Kau memuji Daffin setiap saat.” Aku mencubit hidungnya, gemash sekali ternyata dia juga tak punya rasa bersalah telah membandingkanku dengan cowok lain.
“Ah, jadi kau cemburu.” liriknya nakal. Aku ikut tersenyum melihat senyuman nakalnya itu.
“Sudah ayo aku antar ke sekolahan,” ajakku.
Aku berusaha menyetarter motor vespaku, tapi motor itu tak mau menyala. Hloh?? Kenapa? Apa yang terjadi? Bensinnya full dan pagi ini masih baik-baik saja.
“Kenapa Ken?” tanya Inggrid cemas.
“Motornya macet,” jawabku sebal.
“Oh, aku berangkat naik skate saja.” Inggrid melihatku dengan iba. Ah, rasanya sedih sekali tak bisa memberikan sesuatu untuk cewek yang kau sukai.
“Aku temani.” Aku begegas memasukkan motorku ke dalam garasi rumah Inggrid. Dan menemaninya berjalan menuju ke sekolahan.
Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang wanita lusuh, ia menggendong seorang anak yang masih balita dan berjalan dari satu mobil ke mobil untuk mengemis. Aku iba melihatnya, ingin memberikan juga sedikit berkat yang ku miliki untuknya.
“Mau apa kau Ken? Sudah aku bilang berapa kali untuk tidak memberikan uangmu ke sembarangan orang?!” tiba-tiba Ra berbicara di dalam benakku.
“Kasihan, Ra. Lihat anaknya sampai item dekil begitu,” jawabku dalam hati.
“Dia masih muda, Ken! Harusnya dia bekerja dan menafkahi anaknya dengan cara yang benar.” Ra berargumen.
“Mungkin dia punya alasan lain, Ra. Yang membuatnya tak bisa bekerja.” ku tekan pemikiran Ra.
“Tidak!! Tak ada alasan bagi manusia sehat untuk tidak bekerja. Kalau nggak kerja ya nggak makan.” ucapan Ra terngiang keras dalam benakku.
“Kenapa Ken? Kenapa berhenti?” Inggrid menarik lengan bajuku. Membuyarkan pertengkaran batinku dengan Ra.
“Maaf, Inggrid. Aku hanya kasihan melihatnya, tapi Ra tak mengizinkanku memberikan uang padanya.”
“Ku rasa Ra benar, Ken. Dia masih muda dan sehat. Bukan orang cacat. Harusnya dia bekerja dengan benar, lagi pula membawa anak untuk mengemis seperti itu tindakan yang ilegal.” Inggrid sepaham dengan Ra ternyata.
“Apa menurutmu aku salah?”
“Tidak juga, hatimu yang lembut itu adalah sebuah kelebihan. Hanya saja kau harus memanfaatkannya untuk hal lain yang lebih berguna, Ken.”
Aku kembali memandang wanita itu dan anaknya. Kelembutan hati dan belas kasihan yang berlebihan hanya akan memacu munculnya wanita-wanita seperti itu. Mengemis dengan anak-anak, bahkan ada yang tak segan meminjam anak tetangganya. Bukan berarti mereka juga salah, hanya mungkin caranya yang tidak tepat.
“Ayo lanjut, sudah hampir terlambat.” ajak Inggrid.
“Ayo.”
Aku menggandeng Inggrid dan berlari pada jalanan kecil di belakang perumahan. Jalan tikus yang menghubungakan perumahan dengan sekolahan. Tempat biasa aku menolong kakek-kakek pembawa kardus dan nenek penjual susu. Mereka warga daerah belakang perumahan. Memang sangat kontras bila dibandingkan dengan pemandangan rumah mewah milik Inggrid dan para tetangganya. Rumah-rumah warga di sana tergolong kumuh dan sepi.
“Hallo, Nek!” sapaku.
“Terima kasih.”
“Semangat, Nek.”
“Kembaliannya?”
“Ambil saja untuk Nenek.” ucapku sambil berlari menyusul Inggrid.
“Susu lagi?” tanya Inggrid saat menerima sebotol susu.
“Iya,” senyumku, Inggridpun lantas tersenyum.
“Kau terlalu baik hati, Ken.” Inggrid menghabiskan susu sambil berjalan.
“Aku tak tega, daerah itu sepi sekali karena bukan jalan besar. Nenek itu sepertinya hidup sendiri. Lagi pula harga susu tidaklah terlalu mahal dan susunya juga enak.” ujarku panjang lebar.
“Iya, kau benar. Diusia senja dia masih bekerja dengan apa yang dia bisa.” Inggrid menoleh ke belakang, melihat senyum nenek penjual susu.
“Andai aku bisa melakukan sesuatu untuknya. Kalau saja jalanan ini hidup, pasti banyak orang yang akan membeli susunya.”
“Hm..., benar juga, jalanan ini terlalu mati dan sepi.” Inggrid melihat ke sekeliling lalu berkata, “Ken, sepertinya aku ada ide.” Inggrid tersenyum lebar.
“Apa?”
“Tunggulah, aku akan membantumu mewujudkan keinginanmu, asalkan kau mau menjadi pangeranku saat pesta ulang tahunku nanti.”
“Ah, benar, sebentar lagi ulang tahunmu.” Aku teringat, dua minggu lagi Inggrid berulang tahun.
“Jadi Pangeranku Ok. Berdansalah denganku!” Inggrid memberikan sebuah gambar. Arabian Night, Jasmin dan Aladin.
“Kau ingin aku menjadi Aladin?!” tanyaku. Inggrid mengangguk antusias.
“Tapikan pakaiannya?!” wajahku menghangat, aku malu donk, Aladin kan hanya memakan celana gombor dan juga rompi ungu.
“Hehehe, tunjukan perutmu, Ken!!” seru Inggrid senang.
“Boleh aku pakai kaos spandek polos sebagai inner -nya?” tanyaku.
Inggrid memandangku sejenak, lalu dengan cekatan Inggrid menarik ke atas seragam sekolahku.
“Hei, girl! Kau mau apa?” Jengitku malu.
“Ck, sayang banget kalau di sembunyiin!!” decaknya kagum. Matanya berbinar seakan ingin menerkamku. Gadis bodoh ini membuatku geli sekaligus salah tingkah. Duh, aku hanya bisa menggaruk kepalaku padahal tidak gatal.
Yap, Thanks to Ra, latihannya selama ini membuat six pack pada perutku semakin terlihat.
— MUSE S4 —
•••
Malam harinya aku meminta ijin pada Ra untuk keluar. Malam ini Inggrid mengajakku bertemu dengan teman-temannya untuk membicarakan masalah menolong warga dibelakang perumahan.
Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Aku hanya menurut saja asalkan bisa membantu para lansia miskin di sana untuk bertahan hidup.
“Nuna! Kami di sini!” Niel memanggil Inggrid.
Inggrid tersenyum dan berlari ke arah mereka. Di sana juga ada Daffin, cowok dua tahun di atasku, empat tahun di atas Inggrid. Aku melihatnya dengan penuh kebencian. Bisa ku rasakan dari tatapannya kalau dia juga menyukai Inggrid.
Andai saja aku tak perlu bertukar dengan Ra saat malam hari aku pasti akan menemaninya setiap saat. Jadi si br*ngsek ini nggak bisa mendekati Inggrid.
“Kau mengajak Kak Keano?” Momo terkejut, belakangan ini Ra selalu menerima chat darinya. Tentu saja dia terkejut, Ra dengan intens membalas chatnya, dan kini aku berada di sini.
“Benar, memang kenapa?” Inggrid bingung dengan pertanyaan Momo. Please jangan sampai terjadi kesalah pahaman.
“Aku kira kalian tak lagi dekat?” jawab Momo.
“Ah..., siapa yang bilang?!” Inggrid mengerutkan keningnya.
“Kak Keano.” tunjuknya padaku, mati aku. Benarkan, pasti salah paham deh.
Inggrid memandangku dengan cemberut. Ia tau bahwa Ra yang mengatakan itu pada Momo, bukan aku. Tapi mau tidak mau Inggrid juga pasti sakit hati karena ucapan Ra.
“Bukan aku sumpah!” Aku memasang tanda V sebagai sumpahku pada Inggrid.
“Huh, Ra brengsek! Dia mendekati Momo!” Inggrid melipat tangannya di depan dada.
Tiba-tiba kesadaranku menghilang...,
RA POV
“Siapa yang kau bilang brengsek?!” Ku pandang si cewek bar-bar dengan sebal, dia kira aku nggak sadar dan tak mendengar umpatannya.
“Ra??!”
“Iya aku, Ra!” sengalku.
“Woohh... di mana Ken?”
“Aku memaksanya masuk.” jawabku.
“Kok bisa?!”
“Bisalah, tinggal kuat mana keinginan kami muncul. Kalau tekat Ken kalah tentu saja aku bisa menekannya.”
“Sialan!! Brengsek!! Kembalikan Ken!!” Inggrid memukul-mukul dadaku.
“Hentikan!! Bodoh!!” Aku mencengkram pergelangan tangannya sampai Inggrid meringis kesakitan.
“Hiks..., sakit.” Inggrid menangis.
Tiba-tiba tangan Daffin mencengkram tanganku, membuatku melepaskan tangan Inggrid. Sialan, tenaganya ternyata sangat kuat. Tak seperti teman-temanku di sekolahanya, dia punya power.
“Jangan kasar sama cewek, Bro.” ucapnya.
“Nggak usah ikut campur urusan kami.” kataku tak kalah keras.
“Inggrid, benarkah dia pacarmu?” Daffin beralih memandang ke arah Inggrid yang masih menangis.
“Benar.” angguknya membenarkan, cewek sial, aku bukan pacarnya.
“Aku bukan pacarnya. Lepasin kalau kau nggak mau ku hajar!!” ancamku.
“Brengsek!! Hajar saja!” Daffin melepaskan sebuah pukulan pada wajahku, membuatku terpental, sial, orang ini nggak main-main.
Aku bangkit dan memukulnya juga. Kami saling beradu tinju, tinjuku bersarang di wajahnya, dan tinjunya bersarang di wajahku. Membuat kami sama-sama bonyok dan terluka. Tanpa ragu aku kembali maju, memukulnya tepat di perut. Daffin masih bisa berdiri, dia memegang tanganku dan menghantamkan lututnya pada perutku. Membuatku sedikit mual.
“Kak, sudah!! Keano berhenti!!” Inggrid menengahi perkelahian kami. Ia mendorong tubuh Daffin ke belakang.
Aku merelakskan bahuku, mengusap darah dan keluar dari sudut bibirku. Rasanya anyir, aku meludahkan sisa darahnya dan bergegas pergi.
“Keano!! Kembali kau!! KEANO AMERA!!!” panggil Inggrid, tapi aku malas menggubrisnya. Isakkan tangisnya sempat membuat tubuhku bergetar, aku terpaksa harus mengepalkan tanganku menahan perasaan Keano.
“Keano!! Kau jahat....”
“Shit!!” umpatku. Aku berlari agar tak lagi mendengar isakkan tangisnya.
“Tunggu Kak!” Momo mengikutiku.
— MUSE S4 —
MUSE UP
YUK DI VOTE DULU
DI LIKE
DI COMMENT
JANGAN LUPA YANG BANYAK ❤️❤️❤️