MUSE

MUSE
S5 ~ HALLO, BOY!



MUSE S5


EPISODE 26


S5 \~ HALLO, BOY!


\~ Inilah anakku, hasil dari cintaku pada Lucas yang begitu besar. Aku dulu pernah berharap agar dia mengetahuinya, agar dia melindunginya, namun sekarang aku berharap agar Lucas tak pernah tahu, agar dia tak bisa mengambil anak ini dariku.\~


______________________


BELLA POV


Suara gamelan mengalun merdu mengiringi tarianku sore ini. Bunyi serangga dan juga burung yang bersahutan membuat nyaman perasaan kami semua. Aku bersama beberapa pemuda dan pemudi setempat sedang berkumpul, berjoget pelan dengan irama musik lokal yang khas.


Aku sudah mulai akrab dengan lingkunganku yang baru. Tak jarang aku ikut melenggok santai sambil menikmati sunset di kaki gunung ini. Menikmati hangatnya senja bersama para remaja yang seumuran atau beberapa tahun di bawahku. Mereka mengajariku tarian khas pulau ini, permainan musiknya, sampai cara berbicara mereka yang menurutku sangat unik. Tak jarang kami berkumpul sampai malam dan memandang sinar bulan sambil makan di pendopo besar.


Aku sudah tak lagi mual dan mutah, kini perutku juga sudah sangat menonjol karena memasuki trimester ke tiga. Aku semakin mencintai anak yang tumbuh di dalam rahimku. Menikmati suara detak jantungnya yang terdengar kencang saat priksa ke dokter membuatku bahagia. Aku benar-benar heran saat bentuk tubuhku berubah drastis, berat badanku naik, nafsu makanku apa lagi. Tapi semua keheranan itu terbayar saat mengetahui anakku tumbuh dengan sehat dan gemuk di dalam rahimku.


“Sudah berapa bulan, Geg*?” tanya seorang gadis remaja yang duduk di sampingku. ( |* bahasa Bali untuk panggilan seorang wanita muda/remaja, bisa berarti juga cantik.)


“7 bulan,” jawabku sambil mengelus perut.


“Wah, sebentar lagi magedong-gedongan*?” tanyanya kembali dengan antusias. (|* bahasa Bali untuk upacara mitoni / 7 bulanan.)


“Iya, Aunty Elise sudah menyiapkannya.” Senyumku manis.


“Kau sangat cantik, Geg! Kenapa pria itu tega meninggalkan wanita secantik dirimu?”


“Ceritanya panjang. Tak akan selesai hanya dalam waktu satu malam,” senyumku kecut.


“Bagaimana kalau aku saja yang bertanggung jawab?” Seorang pemuda dengan wajah manis dan udeng di kepalanya tiba-tiba menimbrung obrolan kami.


“Jangan mimpi, Bli!! Pergi sana!! Tak lihat kalau aku sedang bicara dengan Bella?! Gangguin aja!” tukasnya mengusir pemuda itu.


“Hihihi ....” Aku terkikih panjang.


“Bella!!” Suara bibi Elise menyahut, ia memanggilku masuk.


“Maaf, sepertinya aku harus pulang.”


“Baiklah, sehat terus, ya, Geg,” ucapnya, aku tersenyum mendengar semangat darinya.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah, menemui bibi Elise yang tengah menjahit sebuah kemben dan juga kebaya putih. Orang di pulau ini menyukai baju putih, mereka menganggap warna putih adalah warna yang bersih dan lambang kesucian.


“Kemari, Bella. Cobalah!” Bibi Elise menempelkan hasil jahitannya di depan tubuhku.


“Cantik sekali, Aunty. Apa kau menjahitnya untukku?” tanyaku antusias.


“Benar, sebentar lagikan upacara 7 bulanan, kau harus memakainya untuk mandi dan menjalankan ritual doa.” Bibi Elise mengelus wajahku, sikapnya yang penuh perhatian mengingatkanku akan sosok papa.


“Kenapa harus ada upacara ini, Aunty? Bella tak punya suami, apa Aunty tidak takut akan banyak orang yang meledek di belakang kita?”


“Tidak, Bella, orang di sini tak mengindahkah hal-hal seperti itu. Memang hamil di luar nikah itu memalukan, tapi bayinya tidak bersalah, bukan? Dia juga layak mendapatkan doa dan juga keselamatan,” -jeda- “nah, sekarang cobalah!!” Bibi Elise mendorongku masuk ke dalam kamar.


Aku mencoba memakai kemben dan juga kemeja. Sesekali aku menggerak-gerakkan perutku yang membesar. Aku mengelusnya sambil tersenyum, walaupun kadang rasanya pinggangku mau copot tapi rasa bahagia menutup semuanya.


Sehat terus, ya, Nak, dua bulan lagi kita akan bertemu. Pikirku senang.


“Kenapa ritual ini harus dilakukan, Sekar?” Aku bertanya pada Sekar, ART yang telah mengikuti bibi Elise sejak ia kecil, karena dia anak yatim piatu, bibi Elise sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Sekar adalah gadis yang manis dengan kulit hitam, dia tinggal bersama dengan neneknya, namun neneknya meninggal beberapa bulan yang lalu dan sekarang Sekar menetap di rumah bibi.


“Yah, biar sehat, biar lahir dengan selamat, biar jadi anak yang baik, waras, tidak mudah keguguran, lebih kuat menempel di dalam rahim dan kelangsungan hidup bayimu terjamin. Juga bertujuan untuk membersihkan serta memberi keselamatan pada jiwa si bayi agar beguna bagi masyarakat dan keluarga. Untuk keselamatan diri si ibu, dan agar lancar melahirkan juga,” tutur Sekar panjang lebar.


Aku yang semula heran kenapa setiap hal yang dilakukan oleh masyarakat pulau ini selalu berpusat pada Sang Pencipta berangsur-angsur mulai mengikuti adat istiadat mereka. Mulai menyerahkan hidupku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


“Kau cantik, Bella. Sangat cantik,” puji Sekar sembari mengelus pundakku.


“Terima kasih, Sekar. Kau juga sangat manis.” Ku berikan juga pujian untuknya.


— MUSE S5 —


Beberapa orang ibu-ibu dan wanita muda menganyam janur untuk wadah sesajen. Mereka juga mempersiapkan bunga dan juga buah yang akan di persembahkan. Tak lupa uang koin juga dupa. Mereka menyunggi semuanya di atas kepala, bagi mereka hal ini adalah hal bisa, tapi aku begitu terkesima.


Semua orang satu desa menggiringku dan beberapa wanita hamil lainnya ke sungai di dekat pemungkiman. Sungai itu masih begitu jernih dan juga mengalir dengan deras. Itulah ke elokan mereka yang menjujung nilai kearifan lokal, menyatu dengan alam, dan mempercayakan semua kehidupan mereka kepada Sang Pemilik Kehidupan. Jadi pantang bagi mereka merusak alam, pantanh bagi mereka membuang sampah sembarangan, pantang bagi mereka menyakiti hewan yang bukan hewan konsumsi.


Bibi Elise dibantu oleh Sekar mempersiapkan tempayan berisi 7 macam bunga dan menuangkan air sungai ke dalamnya. Setelah mengaduk air itu, bibi Elise mengguyurkannya di atas kepalaku, ia membacakan doa dan membersihkan semua tubuhku dengan airnya. Dingin namun menyejukkan, hatiku terasa ikut berbunga-bunga saat menjalankan ritualnya. Tak henti-hentinya aku mengelus perut, menggoda manik di dalam perutku itu.


“Ayo, Bella, tata nasi wong-wongannya, lalu hanyutkan ke sungai. Mintalah restu kepada Bhatara Wisnu agar saat melahirkan semuanya bisa selamat rahayu.” Bibi Elise membantuku menata sesajen, aku menurut dan menghanyutkan semuanya ke sungai.


Tiba saatnya para Sulinggih* melakukan penglukatan* untuk kami dengan menggunakan air suci yang berisi 11 macam bunga. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar si ibu beserta jabang bayinya bersih secara jasmani mau pun rohani.


(|* orang suci/pemuka agama, |* pembersihan diri/ semacam padusan dalam budaya Jawa.)


Setelah semua ritual di jalankan, tiba pada ritual inti dari magedong-gedongan. Para calon ibu akan menyunggi banten mereka dan membawa plastik berisi ikan dengan alas daun. Lalu para suami akan berputar tiga kali lalu berdiri di belakangnya dan menusuk plastik itu agar ikannya keluar. Semua ini merupakan simbolik dari isi perut ibu berserta saudara-saudaranya.


Aku sempat iri melihat pasangan lainnya, mereka terlihat begitu bahagia. Ditemani seorang suami yang menikam plastik ikan dan melepaskan ikan itu ke sungai. Aku menundukkan kepalaku, tapi bibi Elise mengelus punggungku dengan hangat. “Masih ada Aunty yang menggantikan keberadaan suamimu, Bella.”


“Iya, Aunty.” Air mata menetes dari mataku, aku sungguh malu dengan diriku. Kenapa aku masih begitu serakah karena iri dengan mendambakan keberadaan seorang suami?


Oh, Lucas, andai saja kau bisa berada di sisiku saat ini. Kita pasti bisa memanjatkan doa dan juga keselamatan untuk anak kita. Sayangnya, cintamu padaku yang terlalu dangkal membawa kita dalam perpisahan yang berujung pada rasa sakit ini.


Sayang, baik-baiklah, sehat, dan lahirlah ke dunia ini dengan selamat. Doaku di dalam hati.


— MUSE S5 —


Dua bulan berlalu sejak ritual tujuh bulanan. Aku sedang duduk bersila di sanggar bersama bibi Elise. Dengan perut yang sudah teramat besar dan juga hati yang berdebar aku menjalankan meditasi.


Bibi Elise dengan setia mengajarkanku gerakan-gerakan yoga untuk kehamilan. Aku sudah menjalankan yoga ini sejak bulan keempat. Kini saat kandunganku mulai memasuki bulan terakhir, bibi Elise lebih memfokuskan latihan kami dengan meditasi untuk mempersiapkan mental menjelang kelahiran.


“Pejamkan matamu, Bella. Tarik napas dalam-dalam, rasakan tiap-tiap udara yang memenuhi paru-paru disalurkan ke seluruh tubuhmu,” ucap bibi Elise.


Aku menurutinya, mengambil napas dalam dan merasakan tiap-tiap molekul O2 itu memenuhi sel darahku, mengalir dalam tiap pembuluh darahku dan sampai ke rahim.


“Aduh!!” Aku terpekik saat si kecil menendang perutku.


“Kenapa?”


“Dia menendangku, Aunty, hihihi ...,” kikihku pelan.


“Hei jagoan kecil, apa kau begitu bahagia sampai menendang-nendang di dalam sana?” Bibi Elise mengelus perutku.


“Ayo kita meditasi lagi,” kataku.


“Baiklah.”


Kami melanjutkan meditasi di temani dengan hembusan angir dari sawah. Sinar matahari mulai menghilang di balik kaki cakrawala. Sembari mendengar gemericik air kolam dan juga suara burung, aku melepaskan segala ketakutan dan mempersiapkan kelahiran anak ini dengan luapan rasa gembira.


“Ini bunga jepunnya. Kau terlihat sangat cantik saat menggunakannya.” Bibi menyelipkan kelopak bunga Jepun di balik daun telingaku.


“Terima kasih, Aunty.”


Bunga yang masih satu keluarga dengan bunga kamboja itu terlihat begitu cantik. Masyarakat di pulau ini begitu menyukai bunga ini, baik lelaki dan perempuan selalu menyelipkannya di balik telinga. Entah untuk keindahan atau pun simbol keberuntungan, yang pasti aku juga menyukainya.


Namun, belum berapa lama sejak bunga itu terselip. Perutku terasa sangat sakit, rasanya mulas dan aneh. Aku menggigit bibirku menahan rasa sakitnya, rasa itu muncul lalu menghilang, lalu muncul dan menghilang lagi. Sakit sekali.


“Kau tidak apa-apa, Bella?? Keringatmu banyak sekali.” Bibi Elis ikut cemas melihat perubahan raut wajahku.


“Aunty, sepertinya Bella akan melahirkan. Sepertinya anak ini sudah tak sabar ingin melihat dunia.” Aku bergegas bangkit.


“Benarkah?!!” Bibi Elise terkejut, guratan bahagia bercampur dengan rasa cemas membuat wajah cantiknya terlihat aneh.


“Ach ...! Sakit, sakit sekali!” desahku kesakitan.


“Tunggu, Bella!! Tunggu, aku akan meminta bantuan seseorang.”


Akhirnya setelah meminjam mobil dan juga membawa tas berisi perlengkapan bayi kami pergi ke rumah sakit bersalin yang tak jauh dari rumah. Bukan rumah sakit besar, hanya klinik bersalin kecil, aku tak boleh memboroskan uang pemberian Lucas. Selama ini aku telah banyak menghabiskan uang itu untuk periksa, vitamin kandungan, dan juga membeli perlengkapan bayi. Uang itu sudah berkurang drastis, padahal aku masih harus merawat, membesarkan, dan juga menyekolahkannya kelak.


“Hah ... hah ... hah ...!” Napasku tersengal-sengal karena menahan rasa sakitnya.


“Tenang, Bella, tarik napas panjang. Atur napasmu secara teratur.”


“Sakit sekali, Aunty, Bella tidak tahan!! Sakit!!!” Aku meremas sprei pada ranjang bersalin. Perutku benar-benar sangat sakit, seperti di iris-iris dari dalam. Belum lagi desiran-desiran halus dari tiap-tiap syaraf yang menyiratkan ketakutan.


“Bella!! Kau pasti kuat, sayang. Ayo berjuang demi bayinya.” Bibi Elise tak berhenti menyemangatiku, ia terus menggenggam erat tanganku dan juga menghapus keringat yang membanjiri wajah.


“Hiks ...! Sakit sekali Aunty!!!” Renggekku, aku benar-benar tak tahan dengan rasa sakitnya.


“Kapan rasa sakit ini akan berakhir??!!” teriakku.


Setelah perjuangan menahan rasa sakit selama kurang lebih empat jam, seorang wanita setengah tua masuk di temani beberapa perawat.


“Kita cek bukaan dulu, ya!” Dokter yang baru saja masuk ke dalam dan melihat ke **** ********** milikku, ia mengamati sudah sejauh apa bibir rahimku terbuka.


“Sudah bukaan 9, Bu. Sudah bisa keluar. Ayo ikuti aba-aba saya, ya. Hitungan ke tiga ambil napas panjang lalu mengejan sekuat tenaga.”


“Satu ... Dua ... tiga ...”


“Eeeemmmphh ...!!!” Aku mengejan sekuat tenaga sesuai anjuran dokter, aku bisa merasakan denyutan hebat dan gerakan pelan seakan tertarik keluar dari dalam rahimku.


“OEK!! OEK!!” tangisan, ya, sebuah tangisan bayi langsung terdengar lantang menyela seluruh ruangan. Hiru biru rasa haru dan tangisan bahagia menyelimutiku dan juga bibi Elise.


“Wah, hebat, bersih tanpa jaitan. Pinggul anda lebar jadi anaknya mudah keluar.” Pujinya saat membantuku mengeluarkan anakku. Dengan cepat dokter itu menghilangkan noda darah, memotong plasenta, dan langsung meletakkan bayi mungil itu ke atas dadaku.


“Selamat, ya, laki-laki anaknya,” ujarnya sambil tersenyum.


“Hallo, boy, akhirnya kita bertemu.” Aku menitikkan air mata haru tak kala melihat jemari mungilnya bergerak perlahan.


Mulutnya yang kecil seperti burung bergerak untuk mencari ASI. Ia sangat menggemaskan, pipinya memerah dan sangat gembul. Aku tak menyangka bisa menghasilkan makhluk yang begitu lucu seperti ini. Aku tak henti-hentinya bersyukur akan kebaikan Tuhan yang menggantikan semua kehilanganku dengan sesuatu yang begitu indah.


Tiap denyutan jantungnya, tiap darah yang mengalir dalam nadinya, tiap hembusan napasnya penuh dengan rasa cintaku pada Lucas. Inilah anakku, hasil dari cintaku pada Lucas yang begitu besar. Aku dulu pernah berharap agar dia mengetahuinya, agar dia melindunginya, namun sekarang aku berharap agar Lucas tak pernah tahu, agar dia tak bisa mengambil anak ini dariku.


Biarlah kisah kami terus menjadi kenangan, dan aku akan menatap masa depan yang indah bersama dengan anak ini.


“Kau hebat, Bella. Selamat, ya, Nak.” Bibi Elise mengecup keningku.


“Terima kasih, Aunty.”


“Sudah kepikiran namanya?”


“Sudah, Aunty, namanya ....”


— MUSE S5 —


Wah akhirnya Bella melahirkan. Maaf ya isinya narasi semua. Semoga nggak bosan-bosan baca kisah cinta Bella ini.


Terus namanya siapa? Coba kasih masukan kali aja author suka. Hihihihi ....


Jangan Lupa


Like


Comment


Vote


Dan Love!!


❤️❤️❤️


Noted:


Saya mohon maaf bila ada salah-salah kata dalam menjabarkan prosesi magedong-gedongan milik masyarakat Pulau Bali. Saya mempelajarinya lewat artikel dari sumber Tribun Bali, Kintamani new, dan beberapa sumber web lainnya.