MUSE

MUSE
S2 ~ A KISS



MUSE S2


EPISODE 76


S2 \~ A KISS


\~ Aku sudah berhasil menggambarnya. Aku mengingat tiap detail wajahnya dengan baik, menuangkannya dalam wujud gambar tangan yang sempurna. \~


•••


“Jadi bagaimana pose-ku?” Arvin bingung mengatur gayanya, ia mencoba berbagai macam gaya dan juga pose ala-ala atlet binaragawan.


“Geli, ah, Kak!” protesku merinding.


“Trus bagaimana, donk? Apa duduk sambil menikmati secangkir kopi?” Arvin mengambil kursi dan duduk di depanku. Menirukan gaya menyesap kopi ala kaum bangsawan.


“Biasa aja, deh, Kak!” Aku tertawa sambil meraut pensilku.


“Apa ala-ala titanic?” Arvin langsung membuka kaosnya.


“Iuh...,”


“Kenapa? Badanku cukup bagus untuk di gambar, kok?!” Arvin melemparkan diri di atas ranjang dan berpose seperti ‘Rose’ dalam film Titanic. Siapa yang nggak kenal sama gambar fenomenal dengan gaya france women milik Rose?


Wanita cantik itu berpose tanpa sehelai benangpun di atas sofa empuk, memamerkan lekukan tubuhnya yang langsing dan menggoda. Ia hanya menggunakan sebuah kalung permata berwarna biru sebagai center of interest pada gambar pacarnya, Jack.


Untung saja Arvin hanya melepaskan kaosnya, tidak celananya!! Bisa-bisa aku kembali meledak karena malu.


“Bagaimana? Begini?”


“Hish, jangan donk!! Malu, ah...,” ku lempar bantal sofa padanya. Aku geli melihat tingkahnya.


“Kemarilah, baby!” Arvin membuka pelukkannya.


“Kenapa?”


“Kau gambar saja aku sesuai apa yang ada di dalam benakmu.”


“Kau marah? Hahahaha...”


“Tidak, aku hanya ingin kau mengingat wajahku selamanya.” jawabnya.


“...” aku diam, menunggu alasannya.


“Kaukan ingin menyempurnakan gambar diriku. Kalau kau masih meniruku seperti ini, sama saja bohong bukan?” lanjutnya.


“Benar juga.” Aku meloncat masuk dalam pelukkannya.


Arvin tiduran miring sambil memainkan rambutku, sedangkan aku menggambar dirinya sambil bersandar pada perutnya. Sesekali Arvin mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip gambarku.


“Belum, ya?”


“Ya, nggak secepet itu donk, Kak,” lirikku tajam.


“Penasaran banget ini!” lagaknya bikin sebal sekaligus gemas.


“Nonton TV aja biar nggak bosen!”Aku menyuruhnya menonton TV dan berhenti menggangguku.


Arvin menghidupkan TV dan mulai menonton. Ia mengganti salurannya berkali-kali sampai menemukan sebuah film yang dirasanya cocok.


Arvin menaikkan tubuhnya, bersandar pada headboard ranjang. Aku pun mengikutinya, memindah tempatku bersandar, kini aku bersandar di atas dadanya. Tangan Arvin merangkul pinggangku, mengelus hangat perutku. Sedikit geli tapi aku sangat menikmatinya.


“Kau membuatku tak konsen menggambar.”


“Oke, aku lepasin.” Arvin menarik tangannya.


“Jangan!” Aku kembali menempatkan tangkupan tangannya yang hangat pada perutku.


“Dasar, meong!!” ledeknya sambil menggigit pundakku. Aku tertawa, Arvin memang selalu meledekku mirip kucing, dia bilang aku itu sukanya malu-malu padahal aslinya mau. Ahahaha, kalau dipikir-pikir ucapannya ada benar juga.


Lama kami berkutat dengan kegiatan kami masing-masing. Aku menggambar dan dia menonton TV.


“Kalila, kau lihat film itu?” Arvin membuatku menghentikan proses gambar.


“Iya, kenapa?”


“Kalau kau punya suami atau pacar seperti itu bagaimana?”


“Heung?” Aku tak mengerti maksudnya, karena aku melihat Film itu hanya sepintas lalu.


Aku mencoba mengalihkan fokus pada TV yang menyala. Layar memutar tentang film yang berjudul Enough, film lawas dengan Jlo sebagai bintangnya. Berkisah tentang wanita yang selalu mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga karena suaminya sendiri. Padahal hubungan mereka pada awalnya begitu manis.


“Kalau aku adalah pria seperti itu apa kau tetap akan menerimaku, Kalila?”


“Apa maksudmu, Kak?”


“Jawab saja.”


“Aku akan meninggalkanmu, sama seperti wanita itu meninggalkan suaminya.” Aku menggodanya, entah ada angin apa sampai Arvin begitu terbawa suasana drama pada film itu.


“Benarkah?!! Kau akan meninggalkanku?!” Arvin berteriak sambil mencengkram lenganku, rasanya sangat sakit.


“Aduh, kenapa, sih, Kak?!” tanyaku heran. Itu hanya film, bukan suatu hal yang harus dipikirkan dengan serius.


“Maaf.” Arvin bangkit dan memakai kembali kaosnya.


“Kak?? Kau mau ke mana?” tanyaku heran, apa dia marah padaku?


“Aku ingin istirahat, aku kembali ke kamar, ya.” pamit Arvin.


Aku hanya mengangguk dengan heran. Kenapa sikapnya langsung berubah? Apa ada ucapanku yang menyakiti hatinya?


— MUSE S2 —


•••


Esok paginya...,


Aku keluar ke balkon, mencoba mencari keberadaannya. Arvin sama sekali tak menghubungiku setelah kejadian sore kemarin. Dan aku mulai merindukannya.


“Kenapa sih? Apa dia ngambek?!” pikirku heran.


Aku bergegas membersihkan diri dan juga rumah sebelum pergi bekerja. Aku sudah melipat rapi kemeja Arvin yang aku pinjam kemarin. Aku ingin mengembalikkannya, tapi juga ingin memakainya lagi. Ah, tenyata aku juga bucin.


Aku tersenyum geli dengan kelakuanku. Aku meletakkan kemejanya di dalam lemari pakaian, bersama dengan kemeja milik Papa.


“Gawat, sudah hampir jam 8.” Aku melirik ke arah jam. Cafe buka pukul 8, aku tak ingin membuat semuanya menungguku lagi.


“Bye, Om Ganteng!! Jangan ngambek!!” Aku bermonolog dengan gambar Arvin yang tergeletak di atas meja belajar.


Aku sudah berhasil menggambarnya. Aku mengingat tiap detail wajahnya dengan baik, menuangkannya dalam wujud gambar tangan yang sempurna. Tampan dan berkharisma, aku menyukainya.


Dia adalah kekasihku, tempatku berbagi rasa dan pengharapan.


Ku harap dia akan segara menghubungiku.


Ah, sudah nggak ada waktu untuk melamun. Aku harus segera berangkat.





Krrringcing Klingg... 🎶


Aku masuk ke dalam cafe, Caca dan Melody sedang memandangku dengan senyum licik mereka.


“Dih, kayaknya aku mesti belajar nge- brew, nih.” Caca nyengir ke arah Melody, aku tahu dia sedang menyindirku karena tak bekerja kemarin.


“Sory, gaes.” Aku meminta maaf pada mereka berdua.


“Kau itu baru beberapa hari jadian sudah melupakan kami. Gimana ntar kalau menikah?” Melody tertawa.


“Hei, jangan begitu, donk! Aku tak akan melupakan kalian,” senyumku.


Memang sih, harus aku akui kalau aku sedang di mabuk asmara saat ini. Aku melupakan pekerjaanku, tapikan bukan berarti aku akan meninggalkan semuanya begitu saja demi Arvin. Palette cafe adalah hidupku juga. Aku bangga memilikinya.


“Sudah ayo kembali bekerja.” Aku menepuk tangan sebagai isyarat agar kami kembali ke pos masing-masing.


Aku di bagian barista, Melody pastries, dan Caca waiter. Pekerjaan kami cukup banyak hari ini, cafe lumayan ramai pada akhir pekan seperti ini. Aku menyeka keringatku, tetesan peluh membuatku menghargai tiap rupiah yang ku dapatkan.


“Gila, hari ini cafe ramai sekali.” Caca mengeluh.


“Benar, tiap weekend pasti ramai.” Melody memanggan roti sus dan eclair.


Ah, aroma mentega yang gurih dan kopi yang wangi bercampur dan membuat perut kami keroncongan.


“Makan dulu, La! Kita giliran.”


“Kamu dulu aja, Mel. Keano juga belum makankan?”


“Keano tidur, La. Lagian aku harus menyelesaikan adonanku juga. Udah kamu cepetan makan dulu.” Melody mendorongku.


Aku tersenyum dan pergi ke area belakang, memakan roti manis dengan kopi hitam. Ah, aromanya sangat nikmat, aku kembali mencium aromanya sebelum menyesap kopi itu. Aku memejamkan mataku sambil menghirupnya dalam-dalam. Bau-bauan memang membuat kesan yang menyenangkan bagi otak dan juga perasaan.


Triing.. 🎶


Bunyi chat masuk.


Ah, akhirnya dia menghubungiku. Cepat-cepat aku mengambil ponselku dan membacanya.


ARVIN:


Sory, baby 🥺


Aku terlalu lelah semalam.


Kepalaku pusing karena flu.


Apa dia masih sakit?


KALILA:


Apa kau masih sakit?


Sudah makan?


Sudah minum obat? 😒


ARVIN:


Sudah lebih baik.


Obatku adalah


melihat senyumanmu. 🥰


Aku terkikih pelan membaca gombalannya.


KALILA:


Dasar Om ganjen. 😒


ARVIN:


Bukankah kau suka


Kalau aku sedikit ganjen? 🤔


KALILA:


Siapa bilang?


ARVIN:


Terlukis jelas di wajahmu, baby


Dasar Arvin.


KALILA:


😡😡


ARVIN:


Oh, ya, Baby, orang tuaku


Mengajak kita dinner malam ini


Apa kau sudah siap?


Hah?? Duh, bagaimana ini? Aku bingung, tapi mau sampai kapan aku akan terus takut dan menghindarinya? Aku mengambil napas dalam sebelum mengetik jawabannya.


KALILA:


Baiklah,


Aku siap.


ARVIN:


Good.


Aku suru Aleina mengantarkan


Gaun ke cafe.


Aku akan menjemputmu jam 7


Di cafe/ apartemen?


KALILA:


Apartemen saja Kak


Aku akan sedikit merias diri


ARVIN:


Yang cantik ya baby


I love you😘


See you soon


KALILA:


I love you too


See you😘


Aku mendekap ponselku di depan dada. Tak sabar menunggu waktu berlalu agar bisa segera bertemu dengan dirinya.


Seperti yang dijanjikan Arvin, Aleina datang mengantarkan paper bag berisi gaun dan juga sepatu. Melody dan Caca mengintip ke dalam, mencoba mencari tahu bagaimana wujud dress yang akan ku gunakan nanti.


“Cantiknya.” puji Melody.


“Pasti mahal ini.”


“Nggak ada price tag -nya?” Melody membolak balik gaun hitam itu mencari kertas merk.


“Sudahlah, kalian ini.” Aku merebut kembali pakaian itu dari mereka.


“Ck, pelit banget, sih, Boss?!”


“Bukannya pelit, Ca. Kalau kusutkan nggak enak dilihat sama orang tuanya.”


“Beneran Arvin mau ngenalin kamu sama orang tuanya?”


“Bener!”


“Serius, La? Kalian baru pacaran berapa hari?”


“Iya, Boss. Nggak kecepetan, tuh? Bosskan belum tahu semua sifat baik-buruknya si Om Ganteng.” Caca ikutan memberi pendapat.


“Ya, ntar sambil jalankan bisa saling mengenal, Ca. Lagian ketemu sama orang tuanyakan nggak berarti langsung menikah?”


“Arvinkan sudah 30an, La! Kalau tujuannya nggak nikah, trus mau apa?” Melody melipat tangannya di depan dada.


“Bener, Boss.”


“Iya, aku tahu. Doain aja, ya. Yang terbaik buat hubungan kami,” senyumku.


“Kalau itu selalu, La.” Melody memelukku erat.


“Mending, Boss mandi di sini, deh. Siap-siap di sini aja sekalian. Cafe rame banget, takut kalau nggak keburu.” Caca memberi ide.


“Caca bener, La. Ntar kamu pulang tinggal make-up-an aja. Ngirit waktu biar nggak telat. Masa hari pertama ketemu mertua telat?” Melody tertawa.


“Iya, deh. Ntar aku mandi di cafe aja.”


Aku kembali melirik pada gaun pemberian Arvin. Sejenak aku menjadi takut, benar yang dikatakan Caca. Kami sama-sama belum saling mengenal pribadi kami masing-masing. Baik buruknya sifatku dia belum tahu, begitu juga sebaliknya.





“Wah, cantiknya!! Sumpah, kalau aku cowok, nih, Boss. Aku bakalan ajak Boss pacaran sekarang juga!!” Caca berteriak kegirangan.


“Iya, wah, ini gara-gara bajunya pasti!!” Melody terlihat menggodaku.


“Kalian ngomong apa, sih?”


“Ck, pantes aja Om ganteng tergila-gila!!” Caca melihatku sekali lagi.


Gaun pemberian Arvin memang sangat cantik. Gaun sepanjang lutut berwarna hitam dengan taburan batu sw****zky pada seluruh permukaannya. Roknya terlihat mengembang karena bahannya sengaja dibuat sedikit kaku. Gaun tanpa lengan ini punya potongan V neck pada bagian depan dan belakang. Potongan V pada bagian belakang lebih rendah dari bagian depan, jadi sedikit memamerkan bagian punggungku.


Krrriiciiing Klingg... 🎶


Bunyi lonceng kembali terdengar.


“Angga?!” Melody kaget melihat Angga datang, begitu juga dengan aku dan Caca.


“Aku mampir kemari sepulangnya dari kantor.” kata Angga.


Angga langsung terdiam saat pandangan kami bertemu. Ia memandangku begitu lekat, membuatku salah tingkah.


“Woi!!” teriakan Melody mengagetkan Angga.


“Maaf, Kalila sangat cantik, aku terpesona padanya.” puji Angga dengan jujur. Membuatku lebih canggung saat mendengarnya.


“Dasar laki-laki.” Melody kembali membereskan meja-meja kotor.


“Ee..., mau pesan apa?” tanyaku, aku berusaha meredakan kecanggungan dalam diriku.


“Kau mau pergi ke mana?” Angga malah balik bertanya.


“Itu bukan jawaban,” kataku.


“Apa kau akan pergi dengan Tuan Arvin?”


“Itu juga bukan jawaban.”


“Kalila, apa kau benar-benar punya hubungan dengan bossku?”


“Iya, kami berpacaran, Ngga. Jadi please, jangan mengharapkan hubungan kita lagi,” setelah memberi tau semuanya aku tersenyum simpul, berharap dia akan menyerah pada perasaannya.


Angga hanya terdiam, sepertinya ia sedang berusaha mencerna kata-kataku dengan baik.


“Ah, jam setengah 7!! Mel, gantiin aku, ya!” seruku pada Melody, aku harus bergegas kembali ke apartemen. Arvin pasti sudah dalam perjalanan pulang.


“Aku akan mengantarmu, Kalila.” Angga menyahut lenganku.


“Aku bisa jalan kaki, Ngga,” tolakku.


“Bukankah kau sedang terburu-buru?” Angga masih mencoba menawarkan bantuannya.


Aku terdiam...


“Hanya sebatas teman, Kalila. Aku janji.” ucap Angga.


“Baiklah, tolong, ya,” pintaku.


“Oke.” Angga tersenyum.


Angga mengantarku dengan mobilnya kembali ke apartemen. Sudah hampir pukul 7 malam dan aku masih belum berdandan sama sekali. Kami diam tanpa kata sepanjang perjalanan. Hanya lirikan Angga yang sesekali membuatku tak nyaman.


“Apa kau bahagia?”


“Ya???”


“Apa kau bahagia saat bersamanya?”


“Tentu saja, Ngga. Diakan pacarku,” jawabku.


“Hah..., aku sudah tak punya peluang, ya?”


“Lupakan aku, Ngga. Carilah cinta yang baru.” Aku kembali tersenyum.


Tak butuh waktu lama dan kami telah sampai pada jalanan depan apartemen. Mendung mulai terlihat semakin pekat, tidak ada bintang yang menghiasi langit malam. Aku bergegas turun dari mobil Angga. Begitu juga Angga.


“Thanks, Ngga!!” seruku sambil berlari kecil.


Tak ku sangka Angga juga mengejarku, ia menarik siku lenganku dan membuatku berpaling untuk memeluk dirinya.


“Kalila, aku masih mencintaimu.”


“Apa???”


Sekejap kemudian bisa ku rasakan bibirnya yang basah menempel pada bibirku. Aku terkejut, dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya menjauhiku. Rasanya sangat menjijikkan.


“Kau gila?!”


“Aku mencintaimu, Kalila.” Angga mencengkram kedua lenganku.


“Cinta kita sudah lama berakhir.”


“Kau yang mengakhirinya, bukan aku!!” teriakan Angga disambut dengan hujan yang mulai turun dengan deras.


“Pergi!!!” usirku, aku meronta-ronta agar terlepas dari cengkramannya.


Angga kembali menciumku, aku tak bisa menahan tenaganya. Tenaganya terlalu besar untuk aku lawan. Aku menggelengkan kepalaku agar ciumannya tak menyentuh bibirku.


“Baj**gan!!” sebuah teriakan sontak membuatku terperanjat. Ia menarik Angga dan memukul wajahnya.


“Arvin?!!”


— MUSE S2 —


YO MUSE UP...!!!


LIKE DAN COMENT YA SAYANGKUH!!!


VOTE YANG BANYAK.!!!


VOTE KALIAN BERARTI BUAT SAYA GAES!!


Tak terasa Muse S2 sudah hampir tamat!!


Sudah 75% dari cerita.


Terima kasih sudah membaca Muse dengan setia sampai saat ini.


Terus nantikan ceritanya ya gaes..


Sekali lagi terima kasih..


❤️❤️❤️


Lap yu