
MUSE S5
EPISODE 14
S5 \~ NONTON
\~ Siapa wanita yang tidak bahagia saat pacarnya memuji dia dengan begitu tinggi? Siapa yang tak terbang ke awan-awan saat mendengar lirik kenikmatan yang terucap karena rasa cinta yang membara?\~
____________________
BELLA POV
Tiga hari telah berlalu. Pagi ini mama pulang, seseorang mengantarnya dengan mobil sedan mewah berwarna hitam. Aku diam saja, hanya memandang nanar ke luar jendela. Entah sudah sejauh mana hubungan kami merenggang, baik aku dan mama sama-sama tak saling menyapa satu minggu ini.
“Bel!! Apa kau di rumah??” teriaknya begitu masuk ke dalam rumah.
“Iya, Ma. Inikan hari Minggu,” jawabku tak kalah kencang.
Aku turun dan menemui mama, dia bersandar lelah di sofa. Tangannya bersarang pada dahi. Aku bergegas membereskan sepatunya yang tergletak sembarangan.
“Ambilin Mama minum, Bel!”
“Baik.” Aku meninggalkannya untuk kembali dengan segelas air putih hangat.
“Thanks anakku yang cantik!” seru mama.
“Mama dari mana saja? Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Ck, gayamu sudah kayak pacar yang posesif saja.” Mama menaikkan tubuhnya, menaruh gelas ke atas meja.
“Ma?”
“Sudah, ah, Mama mau mandi, gerah!!” Mama beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Aku harap mama tidak melakukan hal yang buruk. Aku mencintai Lucas dan ingin mengenalkan mama sebagai wanita baik-baik di hadapan Lucas.
— MUSE S5 —
Aku merapikan bajuku, hari ini aku memakai blouse sifon berwarna biru langit, aku memadukannya dengan rok jeans 3/4 dan juga sepatu c*nvers putih. Tak lupa sling bag mini dengan warna senada. Semua ini pemberian Lucas. Aku terkesima saat memandang pantulan diriku di depan cermin. Ternyata aku bisa juga tampil menjadi gadis manis pada umumnya.
Oh, iya, aku berdandan karena aku akan pergi berkencan dengan Lucas hari ini. Ingin melepas rindu setelah beberapa hari kami tidak bisa bertemu lantaran Lucas harus merawat mamanya yang sakit.
“Sentuhan terakhir.” Aku mengecapkan bibirku untuk meratakan lip tint. Setelah rata aku kembali menyisir rambutku, merapikan bandana silang berwarna senada dengan pakaian dan tas.
“Ma, aku pergi dulu, ya.” pamitku. Mama hanya melambai dan meneruskan tidur siangnya.
•
•
•
Sebuah mobil sport berwarna hijau berhenti di depanku. Kaca jendelanya turun, menampilkan pengemudinya yang tampan dengan kaca mata hitam.
“Anda pesan Gr*b car, Nona?” tanyanya.
“Jangan bergurau Lucas. Tidak cocok dengan wajah garangmu.” Aku terkikih dan masuk ke dalam mobilnya.
Lucas terlihat begitu tampan dengan kaos hitam V-neck lengan panjang dan juga celana jeans rapped. Ia memadukkannya dengan sepatu nike j*rdan berwarna hitam dan merah.
“Hallo, cantik. Aku merindukanmu.” Lucas langsung mengambil tanganku, mengecup pergelangan tangaku dengan lembut.
Oh, astaga, astaga, aku bergetar, aku hampir saja meleleh dibuatnya. Ah, Lucas kenapa kau bisa dengan mudah membuatku jatuh cinta dan semakin dalam mencintaimu? Tanpa sadar aku telah terperosok semakin dalam pada jurang obsesi yang dipenuhi dengan namamu di dalamnya.
“Mau ke mana kita hari ini?” tanya Lucas.
“Bagaimana kalau nonton? Aku belum pernah nonton, sepertinya asyik. Banyak pasangan yang melakukannya untuk kencan.” Aku memberikan usul.
“Boleh.”
Lucas kembali menginjak pedal gasnya. Ia terus menggenggam tanganku sepanjang perjalanan kami. Padahal itu bahaya bukan? Menyetir dengan satu tangan? Ah, tapi entah kenapa aku juga tak ingin dia melepaskannya.
•
•
•
Lucas membeli dua buah tiket film dengan genre kartun. Ada dua buah film horor dan 2 film animasi, dia menyuruhku untuk memilihnya, karena aku takut dengan film horor maka aku memilih untuk menonton film kartun.
“Belilah pop corn dan soda Ella. Aku ingin ke kamar kecil.” Lucas memberikan dompetnya padaku.
“Ehm ....”
“Beli saja, tak usah sungkan padaku, kita ini pasangan kekasih.”
“Baiklah.” Anggukku.
Lucas meninggalkanku ke kamar kecil, sedangkan aku mengantri pada konter penjual pop corn. Memilih dua cup besar pop corn dengan rasa asin dan caramel. Aku juga membeli dua gelas cola dingin.
“Totalnya 250 ribu.”
“Berapa?”
“250 ribu,” jawabnya lagi.
Gila, mahal amat?? Inikan hanya jagung dan juga cola, kenapa semahal ini?! Tahu gitu aku membuatnya sendiri di rumah. Dengan berat hati aku membuka dompet Lucas dan membayar semuanya.
Maaf, Lucas, aku tak sengaja memboroskan uangmu demi jagung dan cola. Pikirku merasa bersalah.
Aku mencari keberadaan Lucas, harusnya dia telah selesai. Senyuman manis di wajahku langsung luntur saat menemukannya sedang berdiri dengan beberapa wanita lain. Mereka mengobrol akrab, bahkan Lucas sesekali tersenyum pada mereka.
Ih, menyebalkan. Dia bahkan tak memperbolehkanku memperlihatkan senyuman pada lelaki lainnya, tapi dia sendiri malah mengumbar senyuman. Huft ... mereka juga ngapain sih godain laki orang?!
“Ehem,” dehemku dengan keras.
“Ella, kau sudah kembali. Kemari aku bantu bawa.” Lucas menyahut dua gelas minumanku.
“Eh, pacarmu?” tanya mereka.
“Iya,” jawab Lucas.
“Wah, sudah punya pacar tenyata.”
“Sayang padahal ganteng banget.”
“Wah, kecewa.”
Haha ... benar!! Aku pacarnya, sana-sana menyingkir! Jangan ganggu pacarku, jangan ganggu kencan kami!! Hush ... hush ...!
“Pacarmu masih kecil, ya? Nggak mau cobain yang lebih dewasa?”
Eh sialan si kutu kupret, masih aja godain pacar orang di depan pacarnya!! Minta di leletin sambel kali mulutnya, ya?
“Gimana, Ella? Kau mau ditukar tambah?” Lucas terkikih dan memandangku dengan geli.
Aku melirik tajam, lalu bergegas pergi meninggalkan Lucas. Pacar macam apa dia??! Bukannya bikin pengakuan ‘kalau hanya aku yang dia mau’ malah melemparkan pertanyaan itu padaku. Ih .. sebel!!!
“Ella, Tunggu!! Kau mau ke mana?”
“Lepasin!!” Aku menghempaskan tangannya.
“Marah? Cemburu? Ngambek?”
“Semuanya!!”
“Hehehe ... kenapa marah?”
“Kenapa kau nggak menjawab pertanyaan mereka? Kenapa malah di lempar ke aku?” dengusku sebal.
PINTU TEATER DUA TELAH DI BUKA!! PARA PENONTON YANG TELAH MEMILIKI KARCIS BISA MASUK KE RUANG TEATER!!
“Yuk, filmnya udah mulai!” Lucas menggandeng tanganku saat masuk. Saat ini aku masih ngambek sih, tapi entah kenapa nggak mau ngelepasin tangannya yang hangat.
Kami duduk sesuai dengan nomor yang ada pada tiket. Tak ada siapapun di sebelah kami padahal bangku lainnya penuh. Aku tak mempermasalahkannya, dan memilih untuk menanti film diputar dengan sabar. Lucas menikmati pop corn karamel dan juga colanya. Ia seakan-akan tak merasa bersalah dengan perbuatannya.
“Masih ngambek?” Lucas tiba-tiba menyuapkan pop corn padaku.
“Nggak!!” jawabku ketus.
“Yah, masih ternyata. Udah donk, Sayang! Marahnya jangan lama-lama, ntar jadi jelek.” Lucas menyuapkan lagi pop corn.
“Bodoh amat!! Pokoknya sebel, titik.”
Lucas bergeleng pelan, ekspresinya tak terlihat menyesal, membuatku tambah ngambek. Memang sih, dia sudah merasakan berpacaran dengan banyak wanita, dia mungkin menganggap hal semacam ini adalah hal biasa. Tapi bagiku yang baru pertama kali pacaran, hal ini sangat menyebalkan. Ya Tuhan, ternyata cemburu rasanya sangat aneh, dadaku sesak dan ingin meledak karena luapan emosinya.
Lampu dimatikan, film mulai diputar. Menampilkan sosok para makhluk kecil berwarna kuning dengan kaca mata besar. Mereka sangat lucu dan menggemaskan. Mereka suka sekali memakan pisang. Aku sekejap melupakan kekesalanku pada Lucas karena filmnya konyol sekali.
“Kenapa?” lirihku saat menyadari bahwa Lucas sedang menatapku dengan intens.
“Masih marah?” tanyanya sambil tersenyum.
“Dibilang enggak!” jawabku sewot.
“Ck, bohong.”
Lucas menggenggam tanganku, menautkan jari jemari kami. Suasana gelap di dalam ruang teater membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ah, Bella, padahal baru saja kau ngambek, belum ada hitungan menit dia menggenggam tanganmu dan kau telah kalah.
Oke! Aku akui hatiku telah luluh hanya karena sentuhannya.
“Ella,” panggil Lucas.
“Hah?”
“Cium aku!”
“Sekarang?”
“Iya, sekarang.”
“Kalau ada yang lihat bagaimana?”
“Gelap, tidak akan ada yang melihatmu, lagian banyak bangku kosong, tak ada orang di sebelah kita,” bisik Lucas. Benar sih, di sebelah-sebelah kami kosong.
“Emm ....”
Lucas mendekatkan wajahnya, ia mengecup pelan bibirku. Pertama hanya sebuah kecupan ringan, lama-lama berubah menjadi lumattan yang panas dan menggairahkan. Lucas meraup bibirku, mengullumnya dengan irama yang semakin bertambah cepat. Lucas memasukkan lidahke ke dalam mulutku, tentu saja aku merasa aneh dan langsung menarik wajahku.
“Kenapa?”
“Kenapa kau masukkan lidahmu?”
“Hah??? Kenapa? Ya karena kita sedang berciuman.” Lucas ikut bingung dengan reaksiku.
“Apa? Haruskan begitu? I—itu agak aneh.”
“Ya sudah aku tak akan memasukkan lidahku ke dalam mulutmu.” Lucas kembali merangkul tubuhku dan mencium bibirku lekat.
Aku berusaha menikamatinya, merasakan manisnya bibir Lucas yang terkecap erat di atas bibirku. Tangannya terus menyentuh tengkukku seakan-akan ia yang menentukan ke mana arah bibir kami akan bergerak.
“Aku suka sekali dengan rasanya, Ella! Kau sungguh memabukkan!” lirih Lucas.
“Emm ... aku juga menyukainya, Lucas.”
Siapa wanita yang tidak bahagia saat pacarnya memuji dia dengan begitu tinggi? Siapa yang tak terbang ke awan-awan saat mendengar lirik kenikmatan yang terucap karena rasa cinta yang membara?
“Kalau begitu cium aku lagi, Ella! More and more.” Lucas kembali mengecupkan bibirnya, ia menggigit bibirku pelan, menimbulkan sensasi berbeda saat kami berciuman.
Tangannya meraba masuk ke dalam blouse-ku, menyentuh hangat kulit perutku. Aku mengerjapkan mataku, tanganku menahan aksi tangannya yang nakal, namun Lucas tak menghiraukannya. Tangannya bergriliya semakin naik ke atas, menyentuh tepat di depan dadaku, dengan perlahan ia menggerakan tangkupannya.
“Lucas! Hentikan!” bisikku, tubuhku sangat lemas karena kelakuannya! Dan ini di bioskop, bukan di rumah! Wah, bukan berarti kalau di rumah aku mau sih!!
“Hem?!” Lucas menarik wajahnya.
“Tanganmu!!” lirihku melayangkan protes.
“Kenapa dengan tanganku?” jawabnya acuh.
“Keluarkan!!”
“Nggak!!”
“Lucas ...!!”
“Ella!!!”
“Lucas!!!”
“Ella!!”
“Ssssttttt ....!!!!!!” Semua penonton yang terganggu akhirnya melayangkan protes.
Wajahku menghangat dan memerah, tak pernah menyangka bahwa kencan kami akan berakhir dengan begitu panas sore ini. Aku bahkan tak melihat filmnya!!!
“Argh!!! Rugi dua kali!”
“Gara-gara siapa?” Lucas tertawa.
“Gara-gara kamu tahu!!” geramku, aku bergegas bangkit dan meninggalkan ruang teater.
— MUSE S5 —
SEKILAS INFO
Author : kali ini bintang tamunya siapa?
Leon : saya Thor, si singa dengan sejuta pesona.
Author : Kanna mana?
Leon : ketinggalan di pasar Thor.
Author : Oh, segedhe itu bisa ya ketinggalan?
Leon : Iya Thor, sengaja saya tinggal, ngabisin beras soalnya.
Author : kok sedih ya dengernya.
Leon : buruan mau nanya apa Thor?
Author : bertahan berapa lama kalau di atas ranjang?
Leon : pertanyaannya ada yang lain nggak Thor? Kasihan yang jomblo kalau baca bayangin yang nggak-nggak.
Author : 😭😭😭😭
Leon : ngarep banget Thor.
Author : hoo.
Leon : ya udah saya kasih tunjuk aja Thor, bayangin sendiri bisa tahan berapa lama.
Author : (mimisan trus pingsan pas liat punya Leon 🍆 )
Leon : Wah author pingsan gaes!! Ya udah kita stop ya sekilas info yang unfaedah ini. Tetep dukung author dengan klik jempol, trus comment, jangan lupa di vote! Terima kasih sudah membaca MUSE!! Kalian yang terbaik. Salam ROAR!!