
MUSE
EPISODE 25
LUKISAN
\~Aku nggak boleh kembali tergoda, nggak boleh kembali memberikan kesempatan pada diriku untuk mencintainya.\~
Kenapa dia kemari??
Jantungku berdetak cepat, dadaku sangat sesak, nafasku terus memburu, aku berlari menuruni beberapa anak tangga menuju parkir mobil. Aku harus pergi dari sini. Aku harus menghindari Alex.
“Hallo Jessi. Aku bawa mobilnya pulang. Nggak pa-pa. Aku akan ceritakan nanti.” Aku menghubungi Jessi sebelum sampai di basement.
Alex dengan mudah menyusulku, dia mendekap erat tubuhku. Aku sangat kaget, sangat takut. Ada rasa sesak di dadaku yang tak bisa kuutarakan.
Aku terus memberontak, tapi dia masih mendekapku dan tak bersedia melepaskanku. Saat terlepas aku berlari sembrono ke tengah jalan.
“Lenna awas!” Alex menarik tubuhku, aku hampir saja tertabrak mobil.
“Hei pakai mata!!!” umpat orang itu sebelum melaju pergi.
Aku kembali jatuh dalam pelukannya, dan aku harus kembali berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh.
“Kau nggak apa-apa?” tanyanya lirih.
“Lepaskan.. aku nggak pa-pa!” Aku mendorong Alex menjauh.
“Sebentar saja, ijinkan aku begini. Sebentar saja.” Alex malah mengencangkan pelukannya.
Hal ini benar-benar membuat dadaku sesak. Aku benci situasi ini, aku benci ketidak berdayaanku di depannya.
“Lepasin!!” Aku kembali memohon.
“Aku merindukanku, Lenna.” kata-kata Alex membuatku mual dan takut. Kenapa dia jadi seperti ini?
“Alex kau gila!!” Aku kembali meronta-ronta.
“Iya aku gila!! Aku merindukanmu sampai hampir gila rasanya!” seru Alex, sekejap mata kami bertemu. Wajahnya yang dulu imut kini terlihat lebih dewasa.
“Lenna.” Alex mencengkram kedua lenganku dan mencium paksa tepat di bibirku.
“Jangan..! Lepasin!!” Aku menghindari ciumannya, tapi Alex tetap memaksaku.
Ciuman yang dulu terasa sangan hangat dan manis kini terasa sangat menjijikan. Aku sangat terpukul dengan tindakan Alex saat ini.
Kenapa Alex berubah??
PLAK!!!!
“Brengsek!!” dengan sekuat tenaga aku menarik tanganku dan menampar pipinya.
Aku menggelengkan kepalaku tak percaya dengan apa yang Alex perbuat. Alex hanya terdiam membeku, aku menjadikan kesempatan ini untuk berlari menuju mobilku.
“Lenna tunggu..!” Alex mengejarku lagi.
“Agh..” Aku menutup pintu mobil dan segera menyalakan mesinnya.
“Lenna.. dengarkan aku.. Lenna!!” Alex menggedor kaca mobil dengan kepalan tangannya.
Aku sangat takut dan gemetar, langsung aku injak gas untuk meninggalkannya.
—MUSE—
“Lenna? Kau sakit??” pertanyaan Julius membuyarkan lamunanku.
“Nggak kok.” Aku tersenyum simpul.
“Ada yang kau pikirkan? Apa ada masalah?” Julius kembali bertanya, wajahnya terlihat khawatir. Tangannya mengelus lembut tanganku.
“Tidak ada, aku hanya kelelahan,” jawabku, aku nggak bisa memberi tahu Julius kalau Alex kembali muncul di depanku. Aku nggak mau menyakitinya.
“Steaknya sudah dingin, mau diganti?” Julius kembali menawarkan sesuatu.
“Nggak, aku besok ada peragaan.” Aku berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum dan membuatnya berhenti khawatir.
“Tetap saja kau harus makan.” Julius mengiriskan daging steak menjadi potongan-potongan kecil.
“Terima kasih.” ucapku lirih.
Betul, aku masih punya Julius yang mencintaiku. Aku nggak bisa mengkhianatinya, aku harus segera melupakan masalah ini dan menolak tawaran menjadi modelnya Alex. Aku nggak boleh kembali tergoda, nggak boleh kembali memberikan kesempatan pada diriku untuk mencintainya.
—MUSE—
“Aku nggak mau menerima pekerjaan itu.” dengan jelas aku menolak bujukan pak Cory.
“Lenna, dia pelukis terkenal hlo. Apa nggak sayang???” Pak Cory tetap berusaha membujukku.
“Pokoknya saya nggak bisa.”
“Saya nggak tahu ada masalah apa kamu dengannya dimasa lalu. Tapi tidak baik mencampuradukan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.” Pak Cory bersih keras membuatku luluh.
“Ada alasan sendiri, Pak. Pokoknya saya tidak bisa.”
“Dia dan saya sudah setuju kontraknya. Tinggal kamu aja Lenna. Jangan membuat keadaan saya jadi sulit begini. Lagian mana ada nilai kontrak setinggi ini hanya untuk seorang model.”
“Tetap saja, saya tidak mau.” penolakan kembali keluar dari mulutku.
“Permisi. Ada kiriman bunga untuk nona Lenna.” sekretaris pak Cory masuk dan menyela pembicaraan kami.
“Untukku?” Aku terbelalak heran.
“Iya.” wanita cantik itu tersenyum dan meletakan sebuket bunga lavender di tanganku.
“Terima kasih. Tapi kalau boleh tahu dari siapa??” tanyaku Heran.
“Pengantarnya tidak menyebutkan nama. Mungkin fans.” senyumnya sebelum beranjak keluar. Aku mengangguk pelan.
“Tolonglah Lenna?? Ya?? Oke??” Pak Cory tetap memohon.
“Akan saya pikir dulu, Pak.”
“Jangan lama-lama. Saya tunggu kabar baiknya.” Pak Cory menepuk pundakku beberapa kali sebelum mengijinkanku keluar ruangan.
Aku mengambil kartu ucapan yang terselip di antaranya,
Bunga yang seindah bola matamu..
Hanya itu yang tertulis di kartu ucapannya.
Tanpa nama pengirim.
Tanpa inisial.
Aku membawa buket bunga itu di tanganku. Aku tahu siapa pengirimnya, hanya Alex yang tahu kalau aku menyukai bunga Lavender.
“Sampai kapan kau akan membayang-bayangi kehidupanku, Lex??” Aku bergumam lirih.
“Woi ngalamun apa?” Jessi mencolek bahuku.
Aku memandang Jessi senang, aku lega dia ada di sini sekarang.
“Jess.. aku lelah.” Aku bergelayut manja di pundak Jessi.
“Ada masalah??” tanya Jessi.
Aku menyerahkan buket bunga itu pada Jessi.
“Dari Alex,” kataku.
“Apa?” Jessi terlihat sama kagetnya denganku.
“Benarkah? Alex? Apa dia masih mencarimu? Masih mencintaimu?”
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Wah gila..” Jessi memandang bunga pemberian Alex.
“Aku harus bagaimana? Aku nggak bisa cerita sama Julius. Aku nggak mau menyakiti hatinya.” Aku menutup wajahku dengan telapak tangan.
“Terima sajalah job itu. Dengarkan dan ikuti saja kemauan Alex.” jawab Jessi.
“Kenapa?” Aku kaget mendengar jawaban Jessi.
“Kamu nggak mungkin bisa menghindarinya terus, Lenna.”
“Kamu harus tahu apa maksud dia berbuat seperti ini. Tolak dia dan selesaikan segala permasalahan kalian baik-baik.”
“Aku nggak berani. Aku takut, bagaimana kalau aku ternyata juga masih mencintainya? Dan aku terjatuh di lubang yang sama lagi.” Aku memeluk Erat Jessi.
“Tetap saja kau harus memberikan keputusan yang jelas atas hubungan kalian. Kalau terus begini, Kau, Alex, Julius, akan terluka.”
“Jessi...hiks.”
“Tenang, aku akan selalu menemanimu. Apapun keputusanmu Lenna.” Jessi mengelus rambutku, berusaha membuatku tenang.
—MUSE—
“Kau cantik sekali.” Julius memberikan kecupan di bibirku. Dia menahan diri untuk tidak mencium mesra dan membuat make up-ku berantakan.
“Terima kasih.” Aku membalas senyumannya.
Julius mendapatkan undangan acara gala dinner, lelang dan pameran lukisan. Setiap hasil penjualan lelang lukisan akan di sumbangkan pada para penderita kangker dan panti asuhan.
Julius sangat menyukai acara amal seperti ini, dia bilang give and take lebih baik dari pada hanya memberi saja. Hanya memberi saja akan menumbuhkan mental pengemis bagi orang-orang.
“Silahkan masuk.” Julius membukankan pintu mobilnya untukku. Gaun hitam panjang ini memang membuatku sedikit susah saat berjalan.
“Kau masih sering melamun? Sebenarnya ada apa?” tanya Julius memecah keheningan.
“Ada yang ingin aku sampaikan.” Aku akan mengaku perihal job dari Alex yang aku terima.
Aku nggak boleh menyakitinya, menghianatinya, dan merusak hubungan kami saat ini.
Kriiinggg...
“Tunggu sebentar.” Julius mengangkat telfon dari ponselnya.
Karena panggilan itu aku mengurungkan niatku untuk bicara.
Aku kembali memandang jalanan di malam hari. Gemerlap lampu menghiasi seluruh kota. Walaupun langit berubah menjadi gelap namun membuat lampu-lampu itu terlihat indah. Seperti halnya aku, walaupun aku seorang penyandang Albino, namun Julius menerimaku dan merubahku menjadi sosokku saat ini. Aku yang dulu pucat dan suram berubah menjadi indah dan hidup, punya tujuan, punya arti, juga punya warna.
“Lenna kita sampai.” Julius mengulurkan tangannya kembali untuk membantuku berjalan.
Kami masuk di sebuah hall gallery seni. Aku mengamati interiornya, sungguh benar- benar gallery yang indah. Aku teringat dulu aku pernah melihat pameran lukisan seperti ini dengan Alex. Entah kenapa malah bayangan itu yang terlintas di benakku.
Julius menyapa beberapa kolega bisnisnya yang juga menerima undangan. Mereka mengobrol cukup lama, aku bosan berdiri di sebelahnya. Bukan karena tidak mau menemaninya, tapi aku benar-benar tak mengerti dengan makna pembicaraan mereka.
“Kak, aku melihat-lihat dulu, ya.” Aku berbisik di telinga Julius.
“Oke.” jawab Julius, dia mengecup pipiku sebagai tanda ijin darinya.
Aku berjalan melihat-lihat lukisan, satu per satu. Aku tidak mengerti tentang lukisan, bagiku semuanya sama. Sama-sama bagus, punya banyak warna, punya banyak arti dan makna dari hati tiap pelukisnya. Aku menyusuri lorong gallery dan tiba di gallery utama. Ada 5 buah lukisan yang dipamerkan di gallery utama. Lukisan yang cukup besar.
Entah kenapa orang yang melihat lukisan itu lalu melihat sosokku, setelah itu mereka mulai berbisik.
Kenapa??
Memang ada yang salah dengan diriku?!
Aku menjadi penasaran, aku mempercepat langkahku untuk melihat lukisan itu.
5 buah lukisan, dengan 5 pose yang berbeda, tapi dengan 5 wanita yang sama. Wanita albino, dengan rambut yang panjang dan terurai, bermain dan memeluk buket bunga lavender. Cahaya matahari menempa wajah dan rambutnya. Walaupun hanya sebuah lukisan tapi membuat matamu silau karena warna rambut wanita itu secerah matahari sore.
Rentetannya membentuk sebuah cerita, rentetannya membentuk sebuah makna.
Kerinduan?
Pengharapan?
Kekaguman?
Keinginan?
Dan...
Cinta?
Aku menutup mulutku karena syok melihatnya. Inisial yang ada di bagian kanan bawah mengisyaratkan bahwa pelukisnya adalah Alex.
“Alex, dia di sini. Dia mengatur semua ini agar aku melihatnya!! Dia ingin memisahkanku dengan Julius.” Aku berjalan gontai dan mencoba keluar dari hall galery utama.
“Lenna.” Alex meraih lenganku, menarik tubuhku dalam dekapannya.
“Lepasin!!” mataku membelalak marah.
“Tidak! Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi!”
“Lepasin, sebelum Julius melihatnya dan salah sangka!!” Aku menarik tubuhku menjauh.
Tapi tangan Alex tak mau melepaskanku.
“Lenna.” terlambat, Julius melihatnya.
“Julius.” Aku mendadak kaget.
Julius terlihat sangat marah, dia memandang lukisan demi lukisan itu dengan perasaan sedih.
“Lepaskan!” Julius mendatangi Alex dan terlihat akan menghajarnya.
“Jangan.. itu yang dia mau. Menghancurkan nama baikmu.” Aku meronta dan berlari memeluk Julius.
Mata seluruh pengunjung gallery menatap kami bertiga. Alex tetap diam dengan pandangannya yang dingin. Julius masih tersulut emosi, dan aku masih dengan sekuat tenagaku menahan kemarahan Julius.
“Aku melukisnya untukmu, Lenna.” Alex berjalan mendekatiku.
“Nggak.. aku nggak mau.”
“Aku tahu kau masih mencintaiku.” suara Alex mulai terdengar seperti renggekan.
“Aku hanya mencintai Julius.” Aku bersembunyi di balik tubuh Julius.
“Kita pergi Lenna.” Julius meraih tanganku.
Julius menggandengku untuk keluar, melewati ratusan pasang mata yang memandang kami dengan ratusan perasaan yang berbeda.
Aku gemetar dengan hebat, keringat dingin membasahi tangan dan wajahku.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^
Bagi votenya ya ^^