MUSE

MUSE
S5 ~ MUSE



MUSE S5


EPISODE 38


S5 \~ MUSE


\~ Apa kau tahu, Nick?! Dalam tiap gerakan tubuhku saat ini selalu ada cinta untukmu, kaulah MUSEku.\~


_____________________


AUTHOR POV


Satu minggu kemudian ...


Bella terus memandang tatto kecil yang menghiasi pangkal ibu jarinya. Ada tawa kecil menghiasi hari-harinya saat ini karena Nick ada di sampingnya. Pria yang lucu itu terus memerah saat Bella menggodanya dengan dirty joke atau kerlingan nakal.


Ternyata nggak buruk juga kembali mencintai seseorang, ucap Bella dalam benaknya. Rasa bahagia menyelimuti hatinya.


Ting Tong!


Bel pintu berbunyi.


“Siapa?” Bella bangkit dari atas ranjangnya.


Bella mendapati seorang pria dengan pakaian seragam sebuah perusahaan jasa pengiriman.


“Paket, Nona, tolong tanda tangani di sini.”


“Ah, baiklah.” Bella membubuhkan tanda tangannya.


Bella menerima paketan itu dan memutar boxnya, mencari-cari nama dan alamat pengirimnya. Namun tak ada, hanya nama toko penjualnya yang tertera. Bella sedikit keheranan, ia merasa tak memesan apapun dari toko online. Tapi benar nama penerima dan juga alamatnya adalah miliknya.


“Apa isinya?” Bella membuka bungkusan cantik itu karena penasaran.


Bella takjub, sebuah sepatu indah dengan heels tinggi yang biasa menemaninya menari. Berwarna silver dan bertaburan dengan batu krystal menyala.


Wah, cantik sekali? Apa Nick yang memberikannya untukku? Wah bahkan ukurannya pas. Bella menatap sepatu itu dengan bahagia, ia akan memakainya malam ini untuk menari di club.


Bella mencoba sepatu itu, menari dengan indah pada tiang rumahnya. Sepatunya cukup nyaman untuk ukuran sepatu baru, sepertinya harganya lebih mahal dibanding dengan koleksi sepatu Bella lainnya.


“Aku akan berterima kasih padanya nanti,” gumam Bella senang.


Bella meneruskan kegiatan kesehariaannya seperti biasa. Nick tak bisa menemaninya hari ini karena ada kuliah. Tapi ia berjanji akan hadir, melihat, dan menjemput Bella malam ini.


— MUSE S5 —


Kamar Presiden Suite sebuh hotel mewah di kawasan pusat kota.


Lucas sedang memandang ke arah luar jendela yang memapangkan kehidupan malam dan juga suasana pantai di Pulau B. Lucas terpaksa harus menghentikan lamunannya karena mendengar langkah kaki yang terus mendekat.


Miller membawa seorang pria menghadap Lucas. Pria itu tak lain adalah pemilik club yang menjanjikan informasi seputar Bella padanya.


“Bagaimana?” tanya Lucas, wajahnya terlihat tak sabaran.


“Ini nama dan alamat tempat dia bekerja saat ini. Ingatlah, Bella tak pernah memperpanjang kontrak lebih dari tiga bulan. Jadi aku tak bisa memastikan dia sudah keluar atau belum dari sana.” Miller menerima kartu nama tempat Bella bekerjaa saat ini dan menyerahkannya pada Lucas.


“Good!” Lucas menyeringai, membuat pria itu ketakutan.


“Saya siapkan mobil, Tuan,” ucap Miller.


“OK.”


Lucas bangkit, memandang pria tua itu sebelum akhirnya berlalu pergi. Pria itu menghela napasnya yang sembari tadi tertekan oleh tatapan Lucas yang dingin.





Di sisi lain Bar and Lounge terdengar riuh dengan hiruk pikuk yang menyuarakan dan mengelukan nama Bella. Bella menari dengan luar biasa malam ini, ia semakin bersemangat karena memakai sepatu barunya. Sepatu silver itu memang terlihat begitu cantik di kaki Bella.


Bella melenggak lenggok, meliuk dengan luwes pada tiang. Terlihat begitu elegan dan sensual dengan iringan musik classic oleh seorang pianis muda.


Bella mengerlingkan matanya pada Nick yang baru saja hadir di tengah-tengah lounge. Nick langsung tersenyum dan melambaikan tangannya pada Bella. Dengan sabar Nick menunggu Bella menari.


Bagaimana penampilanku? Apa aku cantik? Bella bertanya dengan tatapan matanya.


Tentu saja, Queen, kau yang tercantik. Nick membalasnya dengan tatapan dan senyuman. Mereka saling berbicara lewat tatapan mata, hanya mereka yang tahu.


Apa kau tahu, Nick?! Dalam tiap gerakan tubuhku saat ini selalu ada cinta untukmu, kaulah MUSEku. Bella menghentikan lenggokkan tariannya hanya untuk menunjuk ke arah Nick.


Rona kemerahan muncul pada garis tulang pipi Nick. Nick merasakan kebahagiaan yang membuncah itu meluap keluar. Ia ingin menghampiri wanita itu dan menciumnya saat ini. Kalau saja Bella tak sedang bekerja, Nick pasti benar-benar nekat akan melakukan hal itu.


Bella kembali mengayunkan tubuhnya, menyelesaikan tariannya. Bahunya bergerak naik turun karena lelah, deruan napasnya yang berat berangsur-angsur mulai kembali lega.


“Terima kasih!” Bella melambaikan tangannya sebelum membungkuk.


Mark membantu Bella turun dari panggung, Nick langsung memecah kerumunan untuk bergegas masuk ke ruang ganti Bella. Ia ingin memeluk Bella, menciumnya, meraup bibirnya sampai tak tersisa.


“Nick!!” Bella memekik saat Nick langsung menggendongnya.


“Aku mencintaimu, Bella!! Hatiku juga penuh dengan rasa cinta!!” Nick mencium bibir Bella, mereka berciuman dengan panas dan penuh gairah.


“Hahaha ...! Sudah hentikan aku harus membersihkan diri.” Bella menepuk pundak Nick.


“Oke, kita lanjutkan di rumah,” ucap Nick.


“Yup, aku akan bergegas asal kau bantu aku melepaskan kait ini dulu, Nick.” Bella membalik badannya, ia menyibakkan rambutnya ke depan agar Nick bisa melihat dengan jelas pengait branya.


Nick menatap punggung mulus Bella, ia menelan salivanya. Punggung itu sangat putih dan mulus. Dengan perlahan Nick mencium punggung Bella.


“Nick!!” protes Bella.


“Sebentar saja, Queen!”


Bella diam dan menikmati cumbuan Nick pada punggungnya. Setelah beberapa menit yang panas dan menggairahkan Nick melepaskan pengait branya. Bella tersenyum dan sengaja membuka semua pakaian pentasnya di depan Nick.


“Kau jahat Bella!”


“Oh, ya??” Bella semakin mendekat, ia benar-benar nakal karena membuat pria kikuk seperti Nick harus kuat menahan hasratnya.


“Lihat saja nanti di rumah!” Nick memakaikan Bella baju ganti, wanita itu hanya tertawa riang dengan ekspresi kekasihnya.





“Ada urusan apa anda mencarinya, Tuan?” tanyanya penasaran pada Lucas.


Lucas tak mengindahkan pertanyaan manager itu dan bergegas menuju ke ruang ganti artis. Ia harus menemukan Bella secepatnya. Hatinya sudah terlalu lama menahan rindu, hatinya sudah telalu lama menahan kesesakan dan juga rasa sakitnya kehilangan.


Lucas ingin mendekap Bella, ia ingin memeluknya, melindungi dan menjaga wanita itu. Lucas tak akan membiarkan Bella bekerja di tempat ini lagi, Lucas akan membawanya pulang, memberikannya kasih sayang dan banyak cinta yang tak bisa ia berikan selama empat tahun terakhir.


Lucas mempercepat langkahnya, memeriksa satu persatu ruang ganti artis di belakang panggung. Sesekali terdengar teriakan dari wanita-wanita malam lain yang kaget karena Lucas masuk saat mereka berganti pakaian.


“Di mana?? Di mana kau, Ella?!” decak Lucas tidak sabar.





“Kami pulang, Mark,” pamit Bella.


“Bye, Mark.” tambah Nick.


“Hati-hati.”


Tak selamg berapa detik semenjak Nick melajukan motornya, Lucas terlihat geram dan berlari kecil menuju ke arah pintu keluar.


“ELLA!!!” teriak Lucas.


“Berhenti!!” Mark mencegah Lucas keluar lebih jauh untuk mencari Bella. Ia menghadang tubuh Lucas dengan lengan kekarnya.


“Menyingkirlah!!” Lucas menatap tajam ke arah Mark.


“Siapa kau? Mengapa mencari Bella?!”


“Itu bukan urusanmu!” geram Lucas.


“Tentu saja urusanku, Bella klientku!” jawab Mark.


“Di mana tempat tinggal, Bella?? Apa kau tahu rumahnya?!” Lucas yang emosi mencengkram kerah Mark, membuat pria kekar ini ikut emosi.


“Lepaskan aku!!” Mark menepis tangan Lucas dan mendorongnya ke belakang sampai Lucas terjungkal.


“Tuan!” Miller menahan tubuh Lucas, “apa perlu saya menghajarnya?”


“Aku tanya sekali lagi di mana dia tinggal.” Lucas bangkit. Ia memberi kode pada Miller untuk tidak ikut campur masalahnya. Miller mengangguk patuh.


“Aku tidak tahu.” Merk berbohong, Lucas merasa kalau Mark pasti tahu segalanya tentang Bella.


“Jangan buat aku berlaku kasar padamu.” Lucas melepaskan jasnya, ia menggulung naik lengan kemeja hitamnya sampai ke lekukan siku.


“Kau mencoba mengancamku?” Pria botak ini melakukan hal yang sama.


Kedua pria tinggi kekar itu saling bersitatap, mengadu pandangan tidak suka. Mark sudah bisa menebak kalau pria di depannya punya kekuatan yang besar. Sepertinya ia begitu disegani oleh anak buahnya. Entah siapa dia, tapi bagaimana bisa Bella mengenal orang mengerikan seperti Lucas?!


Mark memasang kuda-kudanya, mengepalkan tangannya di depan dada.


“Ah, boxing! Kebetulan aku ahli dalam pertarungan yang satu ini,” pungkas Lucas.


“Jangan banyak bicara, ayo!” Mark mengayunkan hook ke arah Lucas, dengan mudah Lucas menunduk untuk menghindarinya. Tubuh paruh baya Mark tak akan bisa menandingi gesit dan kelincahan Lucas.


Lucas membalasnya, memberikan bogem mentah langsung pada perut Mark. Membuat pria botak itu mundur beberapa langkah ke belakang.


“Puih!” Mark meludah.


“Kau tak akan menang melawanku old man! Beritahu aku di mana rumah Bella dan aku akan melepaskanmu.” Lucas mengusap kepalan tangannya.


“Majulah!” Mark bertahan.


Lucas berdecak sebal, kenapa pria ini tak mau menyerah saja dan mengatakan padanya di mana Bella?! Apa dia bodoh?


“Aku akan memberimu uang!” Lucas melayangkan tinjunya, ia memukul wajah Mark, lagi-lagi pria itu tersungkur.


“Uang??!! Hahaha!!!” tawa Mark membuat Lucas geram, ia memukul lagi wajah Mark sambil mencengkram erat kerahnya.


Tinju yang hadir bertubi-tubi membuat darah segar berlumuran pada wajah Mark. Ia hampir saja pingsan, namun Miller mengguyurkan air pada wajahnya.


“Kau tidak boleh mati sebelum memberitahuku di mana Bella!!” teriak Lucas.


“Un—untuk apa k—au mencarinya?” tanya Mark terbata-bata karena menahan sakit.


“Untuk membawanya pulang!! Untuk memberinya kehidupan baru yang jauh lebih baik,” tutur Lucas.


“Oh, Jadi kau pria itu? Hahaha ... kau pria b4jingan yang telah menghamilinya dan meninggalkannya dulu?” Mark tertawa sekali lagi saat mendengar Lucas mengatakan hal lucu yang berusaha memperbaiki sesuatu hal yang tak bisa ditepatinya dulu.


“KATAKAN!!!” Lucas berteriak.


“Apa kau tidak malu dengan dirimu sendiri?” Mark menghapus darah dari wajahnya.


“Maka itu aku ingin menebusnya.”


“Bella sudah bahagia di sini! Dia sudah bertemu dengan lelaki yang jauh lebih baik darimu!! Kalau kau punya hati, kalau kau memang mau menebus kesalahanmu!! Lepaskan dia! Biarkan dia hidup dengan bahagia.”


“APA!! Bohong!! Kau bohong!! Bella hanya mencintaiku!! Seumur hidupnya dia hanya akan mencintaiku!!” Lucas berteriak histeris, ia lalu memukul lagi wajah Mark sampai pria itu tersungkur.


“B4jingan sepertimu tak pantas mendapatkan cinta dari gadis sebaik Bella!” Mark mengumpati Lucas.


“Tahu apa kau??!!!” Lucas hendak memukulnya lagi, namun tiba-tiba sebuah suara menghalanginya!!


“Hentikan!!”


Lucas dan Mark memandang ke arah suara itu.


— MUSE S5 —


MUSE UP


JANGAN LUPA DI LIKE VOTE COMMENT


MAKASIH BAE!!