MUSE

MUSE
BAHAGIA



MUSE


EPISODE 12


BAHAGIA


\~Janji tetaplah janji.\~


Hari ini Julius kembali menghubungiku untuk pemotretan ulang. Rasanya ingin menolak saja. Tapi bagaimanapun janji tetaplah janji, mana mungkin diingkari.


“Padahal hari ini Alex shiff pagi, hiks.., gagal mampir ke cafe,” gumamku sebal.


Aku bergegas mengambil tas dan turun ke bawah.


“Sudah lama nunggunya, Kak?” tanyaku pada Julius yang sudah ada di ruang tamu. Wangi maskulin tercium dari badannya yang kekar.


“Belum, ayo kita berangkat.” ajaknya.


Aku mengekornya masuk ke dalam mobil.


Kami tak banyak berbicara di dalam mobil.


“Kau yakin nggak perlu sarapan?” pertanyaan Julius memecah keheningan.


“Nggak, nanti gendut,” jawabku.


Kami tiba di sebuah rumah mewah di kawasan elit. Aku melihat bangunan dengan gaya minimalis bercat putih, abu dan hitam. Aksen kaca dan stenlist banyak menghiasi rumah ini.


Julius mempersilahkanku duduk, seorang pria sebaruh baya menyuguhkan teh kepadaku. Ekspresinya datar dan nggak banyak bicara.


“Terima kasih.”


“Sama-sama, Nona.”


“Lenna kemarilah!” akhirnya Julius memanggilku untuk bersiap-siap.


“Halo, Lenna, kita bertemu lagi.” sapa kak Lanny, MUA yang mendandaniku kemarin.


“Kali ini kau pakai baju ini saja.” Julius menyodorkan sebuah gaun putih berbahan tile.


“Oke.”


“Aku tunggu, ya.”


Aku bergegas masuk ke dalam kamar tamu yang telah disiapkan oleh Julius. Kak Lanny dengan trampil membubuhkan make up di atas wajahku.


“Kali ini natural, ya, Len.”


“Baik, Kak.”


Setelah beberapa saat wajahku telah selesai dan gaunpun telah terpasang sempurna di tubuhku. Aku menatap kaca seakan tak percaya dengan pantulan gambar di atasnya.


“Ini aku?”


“Iya Lenna. Presdir memang tahu caranya memunculkan kelebihanmu.” puji kak Lanny.


Aku tersenyum dan berjalan keluar, Julius sudah menungguku di ujung tangga. Mengulurkan tangannya yang hangat, berusaha membantuku untuk berjalan menaiki anak tangga. Gaun ini memang terlalu panjang dan mengembang, membuatku susah untuk berjalan.


“Terima kasih.” Aku malu-malu saat melihatnya memandang lekat ke arahku.


“Ayuk masuk.”


“Wah gila hebat banget!” itu kesan pertama yang terucap saat aku memasuki studio mini milik Julius.


Di ruangan itu ada rak-rak kaca dengan berbagai macam jenis kamera dan lensa, ada juga assesoris kamera, dan beberapa kain untuk backdrobe. Aku membungkuk melihat sampai ke bawah-bawah lemari, dan Julius marah karena aku membuat gaunnya kusut.


“Wah.. Ini semua harganya berapa ratus juta, ya?” pikirku kagum. Asyik juga kalau punya hal yang bisa ditekuni.


“Take lagi. Tanganmu taruh di pundak, Len. Oke gitu, jangan gerak dulu!” perintah Julius.


Akhirnya sesi pemotretan selesai, rasanya sangat capek dan kelaparan.


“Lihat, Kak.” Aku mendekat, melihat hasil fotonya. Ternyata rasa lelahku terbayar, karena hasilnya bagus banget.


“Ini, awal-awal masih terlihat kaku. Perlahan mulai dapat.feel-nya.” kata Julius.


“Wah... Bagaimana bisa aku terlihat secantik ini?” Aku masih terpana dengan hasilnya.


“Mana yang cantik?”


“Ini.”


“Nggak ada tuh.”


“Jahat!”


Mata kami bertemu, aku merasa sangat malu melihatnya. Jujur saja ketampanannya membuatku meleleh. Aku membuang muka dan bergegas meninggalkan ruangan untuk berganti baju.


“Kenapa ini? Kenapa jantungku nggak mau berhenti berdegup kencang?” Aku mencoba mengatur kembali irama detak jantung yang terdengar tak beraturan.


—MUSE—


Aku melihat daging ayam panggang, brokoli, dan kentang rebus tersaji dengan saus lemon butter di depanku. Penampilan yang cantik dan aroma yang menggugah selera membuatku tak sabar untuk mencobanya.


“Silahkan dimakan, Nona.” Darren mempersilahkanku makan.


Julius hanya diam dan tak mengalihkan pandangannya dariku. Membuatku salah tingkah dan kehilangan nafsu makan, padahal rasanya sangat enak.


“Makan makanan yang sehat, biar tubuhmu kuat dan otakmu pintar.” ledek Julius.


Aku heran dengan dirinya yang sangat suka mengusiliku, rasanya sebal.


“Kau punya Ins****m dan sosmed lain?” tanya Julius.


“Punya, ini.” Aku menunjukan semua sosmedku padanya.


“Isinya hanya foto makanan?? Kau nggak pasang foto wajahmu?”


“Aku malu.”


“Kenapa? Karena kamu spesial???”


Aku mengangguk dan meneguk kembali jus jerukku.


“Kakak sendiri, apa nama akunnya? nanti akufollow.”


Julius menunjukan ponselnya, “lifeangel,coba kau follow akunku.”


“Wah hebat,followers-nya ribuan.” Aku terbelalak kaget.


“Foto-fotonya bagus banget! Ternyata kakak juga fotografer?”


“Hanya hobi.” jawabnya singkat.


“Ah... Enaknya punya hobi. Nggak kaya aku yang nggak punya hobi, keterampilan dan tujuan hidup apapun.” Aku bersandar pada sandaran kursi.


“Kau cukup baik saat menjadi model.”


“Nggak ah, pose aja nggak bisa.”


“Kau mau jadi model profesional?” Julius bertanya dengan nada serius.


“Bi.. Bisakah?”


“Tentu saja, lihat ini!”


Julius mengunggah sebuah foto hasil pemotretan kami hari ini ke sosmednya.


Menulis beberapacaptionsingkat.


Fotografer by lifeangel


Necklace by JR collection


MUA by Lanny and team


MUSE by Cellena.


#highjewellrycltion#newproject#model


“Ini.” Aku melirik hpnya.


“Hah?? 10rb like dalam semenitupload.” Aku mengangga nggak percaya.


“Jangan sepelekan kekuatannetizenyang maha benar.” Julius tersenyum.


“Hebat,” pujiku lagi.


“Ayo aku antar pulang, sudah malam.”


“Iya.” Aku mengambil tas dan kembali mengikuti langkah kaki Julius.


—MUSE—


“Lenna.” seseorang memanggilku, aku kenal suara ini.


“Hai, Jes,” sapaku singkat. Aku benar-benar capek dan pegal-pegal, karena terlalu banyak berpose kemarin.


“Gila...! Lihat ini!” Jessi memperlihatkan layar hpnya.


“Hah!!” Aku terbelalak kaget.


“Ini beneran kamu?!” Jessi sama nggak percayanya dengan apa yang di lihatnya.


Hanya dalam satu harifollowers-ku bertambah dan mencapai angka ribuan.


“I... Iya betul, itu aku.” Aku melirik foto yang terpampang di Ins****am itu.


“Kau diam-diam hebat juga, ya.” Jessi menepuk pundakku.


“Nggak kok.”


“Berarti kamu bertemu pemilik akun.lifeangel,donk? Siapa? Cewek atau cowok?” Jessi menghujaniku dengan banyak pertanyaan.


“Er... Cowok sih. Tapi dia minta disembunyiin identitasnya. Jadi sory aku nggak bisa bilang, Jess.” Aku nggak mungkin ngomong jujur sama Jessi kalau pemilik akun itu adalah Julius. Bisa-bisa aku di marahi sama dia.


“Yah.. Padahal foto-fotonya keren. Kemarin dia habis pameran hlo, tapi sayangnya orangnya nggak datang sendiri. Diwakilin ke managementnya.” Jessi mencibirkan bibirnya.


“Dia terkenal, ya?” Aku malah nggak tahu.


“Iya, fotonya keren. Mintain tanda tangannya donk.” Jessi memohon padaku.


“I... Iya deh aku coba.”


“Makasih.”


“Ke kantin, yuk.”


“Ayuk.”


Aku berjalan menuju kantin fakultas. Mataku seketika menangkap sosok yang beberapa hari ini aku rindukan.


“Itu Alex.” Aku menunjuknya untuk memberitahu Jessi.


“Kenapa dia di fakultas kita?” tanya Jessi heran.


“Aku nggak tahu.” Aku nggak tahu alasannya, tapi yang pasti aku merasa senang melihatnya.


Aku memesan menu makan siang, semur daging, tumis wortel dan bayam, berserta telur dan juga semangka sebagai pencuci mulut.


Aku dan Jessi duduk nggak jauh di belakang Alex. Ternyata selain kami banyak cewek- cewek lain juga melirik dan mengamati Alex. Mungkin mereka heran, kenapa Alex makan di kantin fakultas ekonomi? Mungkin juga mereka merasa Alex sangat tampan dan imut.


“Ah sebal banget, nutupin deh.” Aku menghela nafas kesal karena seorang kakak senior duduk di antara aku dan Alex, membuatku nggak bisa curi-curi pandang ke Alex.


“Kamu kenapa mesti curi-curi pandang? Samperin aja langsung.” goda Jessi.


“Nggak enak lah, Jes,” tolakku.


“Kalau kamu nggak mau, aku aja.” Jessi bangkit berdiri dan membawa nampannya mendekati Alex.


“Ikutan, Jes.” Aku menyerah dan mengikuti Jessi.


“Hei Alex.” Jessi langsung duduk di depan Alex.


“Hai.”


“Hai, Lex.” Aku ikutan menyapa.


“Hai, Len.”


“Maaf kami mengganggumu,” senyumku.


“Nggak kok, aku memang mencarimu.” kata-kata Alex terasa membuatku terbang ke awan-awan.


“Ada apa mencariku?” tanyaku heran.


“Kau mau menjadi modelku?”


“Uhuk...uhuk...!!” Aku tersedak mendengarnya.


“Minum dulu.” Jessi menyodorkan air minum.


“Apa? Nggak salah?!” Aku berteriak pada Alex setelah meneguk habis air mineral di tanganku.


“Nggak kok, kalau nggak ngapain aku bela- belain nungguin kamu di sini.” ucap Alex.


“Tapi akukan nggak bisa jadi model,” tolakku.


“Ini.” Alex menunjukan fotoku yang ada di akun Julius.


“Kau juga follow lifeangel?”


“Semua anak muda suka foto-fotonya.”


“Ah.. Begitu.” Aku mengangguk paham.


“Bagaimana?” tawar Alex kembali.


“Boleh kalau itu memang bisa membantumu.” jawabku.


Padahal di dalam hatiku aku seneng banget dan pengen berteriak YES..!!! Tapi aku menahannya dan hanya tersenyam-senyum sendiri sambil melihat Alex makan.


“Heh!! Habisin makanannya! Jangan ngelamun!” Jessi menyenggolku dengan sikunya.


“Ah... Iya.” Aku kembali fokus ke nampanku.


Alex hanya tersenyum dan kembali menikmati makanannya.


—MUSE—


Aku bersenandung lirih setelah mandi, handuk masih melilit rambutku yang basah sehabis keramas.


Aku kembali menatap layar ponsel, melihat foto-fotoku yang dikirim oleh Julius sore tadi.


Julius:


Pilihlah 1


Untuk di edit dan masuk ke majalah.


Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa bahagia saat melakukan sesuatu. Mungkin benar kata Julius, aku bisa jadi seorang model profesional.


Aku kembali menatap wajahku yang ada di akun sosmed Julius kemarin.Comment-nya ada ribuan. Aku memberanikan diri membaca beberapacommentdi urutan paling atas.


CatXxxx87 wow keren ^^


JoXxxxyn. Perhiasannya bagus banget, musenya juga cantik.


BroXxxxn suka banget.


SatXxxboy MuSe nya cantik.


Xxxx1999 keren kak lanjutkan.


Ternyata banyak comment positif dari pada negatifnya, aku tersenyum puas.


“Lega banget!” seruku.


“Sekarang tinggal jadi modelnya Alex.”


“Aku mulai merindukannya.” Aku cekikikan dan menendang-nendang girang ke udara.


Rasanya pengen malam ini cepat berlalu agar bisa segera bertemu dengan Alex.


Aku terlentang di atas kasur dan tertidur dengan handuk basah masih melilit di kepalaku.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^