MUSE

MUSE
S2 ~ BULAN



MUSE S2


EPISODE 85


S2 \~ BULAN


\~ aku tak kuasa menahan perihnya hati saat mengingat kejadian malam itu. Aku benar-benar iblis, aku monster. Kenapa aku setega itu?! \~


•••


Aroma karbol tercium jelas saat aku mulai tersadar. Aku membuka mataku perlahan-lahan, mencoba beradaptasi dengan sinar lampu yang menyilaukan. Samar-samar aku bisa melihat langit-langit serba putih dan juga kantong infus yang bergoyang pelan. Apa aku di rumah sakit? F*ck, kepalaku sakit sekali!


“Arvin?? Arvin? Kau sudah bangun, Nak?” suara Mama terdengar khawatir.


“Mama? Di mana aku?” Aku melirik ke sekitar, melihat tepat asing yang memang mirip rumah sakit.


“Di Rumah Sakit, Arvin. Kau pingsan.” jawab Mama. Bisa ku lihat wajah cantiknya yang mulai menua. Dahinya terus menguryit karena mencemaskan keadaanku.


“Pingsan?” tanyaku. Mama mengangguk menegaskan jawabannya.


Ah, benar juga, terakhir kali yang ku ingat adalah aku beradu mulut dengan Kalila sampai akhirnya ia meminta putus denganku.


“Hari apa ini?”


“Senin.”


“Jadi aku pingsan hampir 2 hari?”


“Iya, dokter memberimu obat penenang. Mereka bilang kau kecapekan dan kehilangan banyak darah. Jadi harus banyak istirahat.” Mama menggenggam tanganku.


“Shit!!” umpatku dalam hati.


Sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu, dan aku tidak bisa menghubungi Kalila. Bagaimana kabarnya saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apa dia juga mencemaskanku?


“Kapan aku boleh pulang, Ma?”


“Kau baru sadar, bagaimana bisa kau bilang ingin pulang?!” Mama marah.


“Aku baik-baik saja,” jawabku. Aku hanya ingin segera menemui Kalila.


“Ikuti apa kata dokter, Arvin!” ucap Mama tegas.


“Baiklah.” Aku akhirnya menyerah, tak ingin membuat wanita yang juga berarti dalam hidupku itu khawatir.


“Kau mau minum?”


“Iya, Ma.”





Aku terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Menerawang kosong ke arah bulan. Bulan purnama terlihat sangat cantik, sayangnya begitu terasa pucat dan dingin. Aku mengira-ira apa yang saat ini sedang di lakukan oleh Kalila, apakah dia juga sedang memandang bulan sepertiku?


“Maafkan aku, baby. Aku sungguh menyesal,” lirihku, aku tak kuasa menahan perihnya hati saat mengingat kejadian malam itu. Aku benar-benar iblis, aku monster. Kenapa aku setega itu?!


— MUSE S2 —


•••


Ternyata sakitku sedikit parah juga, HB ku rendah. Mungkin karena aku mengerluarkan banyak darah saat meninju cermin itu, ditambah dengan flu berat dan kehujanan. Belum lagi aku menghukum diri dengan berlama-lama dalam dinginnya shower semalaman, juga beratnya beban pikiran membuat tubuhku semakin sakit.


“Pagi, Tuan. Pagi, Nyonya Rose.” sapa Aleina. Dia datang jam 9 tepat.


“Halo Aleina.” Mama menjawab sapaannya.


“Bagaimana kabar anda, Tuan?” Aleina mendekatiku.


“Yah, beginilah,” jawabku.


“Mama tinggal, ya, Vin.” Mama menyela pembicaraan kami.


“Iya, Ma.” Aku tersenyum, Mama lantas meninggalkan kami berdua.


Aleina memutar handle pada ujung ranjang untuk membantuku duduk. Lalu memberikan meja geser yang biasanya digunakan untuk menaruh nampan makanan. Kini meja itu beralih fungsi menjadi meja kerjaku sementara.


“Tuan Angga mengajukan resign kemarin , Tuan.”


“Biarlah,” jawabku, toh aku juga tak ingin melihat wajahnya lagi.


“Ini rincian transaksi bank.”


“Iya, terus?”


“Ini rincian anggaran dan pengelolaan kas.”


“Ck, sakit aja masih banyak kerjaan!” gumamku sebal.


“Ck, salah siapa jadi CEO?!” balas Aleina.


“Semakin hari kau semakin mirip Noah!!” sindirku.


“Ponsel anda rusak berat Tuan. Saya sedang memesankan ponsel baru untuk anda.”


Aku membanting ponselku karena terlalu emosi. Ponselku memang di design kusus, jadi mau tidak mau butuh waktu untuk memesannya.


“Carikan aku ponsel biasa dulu, Na.”


“Baik, Tuan.”


Aleina tersenyum dan membereskan semua dokumen di atas meja. Sedangkan aku masih mempelajari laporan keuangan. Entah kenapa laporan keuangan yang biasanya mudah untuk di cerna menjadi begitu rumit. Otakku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana kabar Kalila saat ini.


“Aleina, apa kau tahu kabar Kalila?”


“Dia bekerja seperti biasa di cafe, Tuan.”


“Apa dia baik-baik saja?”


“Kalau itu saya tak bisa menjawabnya.”


“Apa dia kemari saat aku pingsan?”


Tok... Tok... Tok...


Pembicaraan kami terhenti saat mendengar suara ketukkan pintu.


“Saya akan membukanya, Tuan.” Aleina beranjak dari tempatnya berdiri untuk membukakan pintu.


“Nona Diana.”


“Aku datang untuk menjenguk Arvin.”


Aleina menoleh sebagai isyarat meminta jawabanku, dan aku mengangguk memberinya izin.


“Silahkan masuk, Nona.” Aleina mempersilahkan Diana masuk.


Diana datang membawa parcel buah-buahan, Aleina menerimanya dari tangan sopir Diana. Ia meletakkan parcel buah pada meja tamu.


“Saya pamit, Tuan.” pamit Aleina setelah mengambil semua dokumennya.


“Iya,” jawabku.


“Bagaimana keadaanmu, Vin?” tanya Diana setelah duduk pada bangku di samping tempat tidurku.


“Yah beginilah,” jawabku.


“Kau bertengkar dengan seseorang?”


“Kau tahu?”


“Melihat lukamu, siapa saja pasti tau.” Diana melipat tangannya di depan dada.


“Ah, benar juga.” Aku meraba wajahku yang terluka karena pukulan Angga.


“Jadi kenapa bertengkar?”


“Bukan urusanmu.”


“Arvin, apa kau benar-benar tak punya sedikitpun perasaan padaku?”


“Tidak, bukankah kau juga mengincarku hanya demi uang?” sindirku padanya.


“Benar, aku akui. Dulu aku mengincarmu karena uang dan popularitas.” Diana bangkit.


“Tapi setelah kita bertemu di restoran itu aku benar-benar jatuh cinta padamu, Arvin.” Diana duduk di atas ranjangku.


“Kau melebihi ekspetasiku, Vin. Kau lelaki yang luar biasa. Tanpan, mapan, penuh dedikasi.” Diana mengelus wajahku.


“Tolong jangan begini, Diana! Aku sama sekali tidak tertarik padamu.” Aku menampik tangannya.


“Apa kau tak takut aku menyebarkan aibmu, Vin?”


“Tidak Diana. Sebarkan saja! Biar dunia tau siapa Arvin!” bentakku.


Mata Diana berkaca-kaca, baginya keburukkanku adalah kartu As nya untuk mendapatkan hatiku. Tapi bagiku yang terpenting adalah perasaan Kalila, dan dia telah mengetahui semua tentangku. Jadi mau Diana menyebarkan semua aibku pun tak masalah. Paling juga hanya harga saham Maxsoft yang menurun drastis dan aku masih bisa mempertahankannya.


“Kau sama sekali tak punya perasaan apapun kepadaku, Vin?” tanya Diana lagi, kini air matanya mengalir. Aku jadi merasa bersalah, aku tahu bagaimana sakitnya ditolak oleh orang yang kau cintai.


“Maafkan aku, Diana.”


“Hiks...,”


“Carilah lelaki lain yang lebih baik dariku.”


“Kau jahat, Vin. Kalau kau nggak pernah mau membuka hatimu mengapa dulu kau datang saat kencan buta itu?!”


“Maaf. Saat itu aku tak punya pilihan.”


“Br**gsek!!” Diana memukulku dengan tasnya sebelum beranjak pergi.


“Siapa wanita itu?” Diana menghentikan langkahnya di depan pintu.


“Apa?”


“Siapa wanita beruntung itu, Vin?” nada suara Diana masih terdengar sengau.


“Kenapa kau ingin tau?”


“Aku akan membuatnya menderita karena telah mengenalmu.” Diana membanting pintu dan pergi dengan wajah penuh amarah.


“Sialan!! Wanita giila!!” Aku membanting kepalaku pada bantal rumah sakit. Ingin rasanya melepas selang infus dan berlari untuk mengejar Kalila.


Semoga Diana tak menyakitinya, setidaknya aku bisa sedikit tenang karena Diana belum tau kalau wanita itu adalah Kalila.


— MUSE S2 —


Arvin..


Ku cinta padamu...


❤️❤️❤️


Yo MUSE UP


LIKE


COMMENT


VOTE


VOTE DONK!!!


Yang banyak.. wkwkwkwkwk...


Biar ratting MUSE naik dan Author nambah femes..


❤️❤️😘😘


Lap yu readers


Maacih