MUSE

MUSE
S5 ~ NICK



MUSE S5


EPISODE 12


S5 \~ NICK


\~ Suara desahannya terdengar menggairahkan. Membuatku kembali tergoda untuk memainkan semua jemariku pada tiap jengkal tubuhnya yang indah.\~


_________________


LUCAS POV


Wajahnya yang terterpa cahaya remang membuatku semakin menginginkannya. Aku ingin mendengar pengakuan cinta terucap dari bibirnya yang sensual. Aku ingin merasakan keindahan gerakan bibirnya yang mengullum lamat bibirku.


“Aku juga mencintaimu, Lucas.” Pengakuan Bella membuatku bahagia.


Padahal sudah puluhan wanita pernah bersarang dalam pelukanku. Sudah puluhan wanita yang pernah aku rasakan, tapi kenapa? Semuanya kalah dengan seorang gadis kecil pemalu ini?


Tak ada yang bisa membuatku berdebar sekencang ini saat menyatakan cinta.


Tak ada yang membuatku setakut ini bila tertolak.


Tak ada yang membuatku sebahagia ini saat mendengar jawaban ‘IYA’ dari mulutnya.


Kecupan perlahan berubah menjadi lumattan pelan yang dalam. Tiap alunannya membuatku terus menginginkannya. Ah, Ella. Kenapa kau begitu manis dan menawan? Kenapa kau bagaikan candu yang terus meracuniku dengan kenikmatan sentuhanmu?


Aku mempererat genggaman tanganku. Sementara bibirku turun untuk mengabsen bagian lain dari tubuh indahnya. Aku mencium tengkuk Bella, turun dan menyapu bagian lehernya.


“Arg ...,” desah Bella.


Suara desahannya terdengar menggairahkan. Membuatku kembali tergoda untuk memainkan semua jemariku pada tiap jengkal tubuhnya yang indah.


“Ella, aku menginginkanmu,” bisikku panas.


“Lu ... Lucas aku belum siap,” gagap Bella.


“Tidak ada pilihan lain, Ella. Kau telah membangkitkan jiwaku dengan gairahmu! Jadi kau harus bertanggung jawab.” Aku mendekap erat tubuhnya, kembali mencium bibir ranumnya yang sensual.


Tanganku mengelus pinggang sampai ke pahanya, bergerak masuk ke dalam dress katun yang melambai karena tiupan angin.


Aku hampir saja melewati batasku, untung saja seorang pelayan keluargaku datang.


“Tuan Lucas!” Panggilnya dari dalam rumah.


“Lucas, hentikan!! Ada orang!!” Bella menepuk pundakku beberapa kali.


“Tuan Lucas di mana saya harus menyiapkan makan malamnya?”


“Ehem,” dehemku sembari membetulkan posisi duduk, Bella melakukan hal yang sama, wajahnya memerah.


Aku lupa kalau telah menyiapkan makan malam romantis untuk Bella.


“Tata saja di pinggir sini!” kataku sambil memakai bajuku lagi.


Aku memeluk Bella, mengecup pucuk kepalanya. Bella antusias ketika melihat mereka menata meja untuk tempat makan kami. Sebuah lilin menyala tepat di tengah. Lalu dua buah gelas wine namun aku tidak menyediakan wine karena Bella belum cukup umur untuk meminumnya.


Hidangan yang di dominasi makanan laut seperti lobster, kepiting, dan juga salmon asap menghiasi meja. Mata Bella tak berkedip melihat semua hidangan itu.


“Makanlah, Ella.” Aku membukakan kursi untuknya.


“Thanks, Lucas.”


Kami menikmati makan malam sederhana di pinggir pantai dengan cahaya remang dari lilin. Bella terus tersenyum manis, membuatku ikut bahagia saat melihat senyumannya.


“Tuan.” Kepala pelayan membisikkan sesuatu.


Mama menelefon, dia bilang papa pergi dinas ke luar kota selama beberapa hari. Mama di rumah sendirian saat ini, aku harus segera pulang dan menemaninya.


“Kenapa, Lucas? Wajahmu terlihat cemas?” Bella bertanya, ia menggenggam tanganku.


“Papaku pergi dinas, dan Mama seorang diri di rumah. Maaf, Ella, aku harus segera pulang.” Aku bangkit dan mengecup kening Bella.


Ia mengangguk dan bisa mengerti. Setelah bangkit, aku menggandenganya masuk ke dalam mobil.


“Maaf, Ella. Aku akan menebusnya besok.”


“Tidak apa, Lucas. Aku tahu.”


Aku tersenyum dan mengecup punggung tangannya sebelum mobil melesat kencang ke rumah Bella.


— MUSE S5 —


AUTHOR POV


Bella menatap kosong ke atas langit-langit kamarnya. Kejadian semalam membuatnya terus melamun dan sesekali tersenyum sendiri.


Apa yang kau pikiran, Bella?! Serunya dalam hati, sangking gemesnya dengan pikirannya yang liar, Bella membekapkan wajahnya ke dalam bantal.


Bella mengingat kejadian semalam, saat Lucas dengan wajahnya yang tampan terus mendekat. Mendaratkan sebuah ciuman pertama baginya, merebut keperawanan bibirnya. Rasa manis yang terkecap membuatnya membayangkan hal lain yang jauh lebih mendebarkan.


Ya, ampun, baru sehari berpisah dan aku sudah merindukannya, batin Bella bahagia.


Bella bangkit, bukan saatnya terbuai dari kenangan indahnya semalam. Dia harus membuat sarapan untuk mamanya dan berangkat ke sekolah.


Bella menggoreng dua buah telur dan juga menumis baby buncis dengan bawang. Setelah menata semuanya di atas meja makan Bella merebus kacang hijau, daun pandan, dan juga jahe. Bella akan membuat bubur kacang hijau sebagai pencuci mulut. Setelah kacangnya empuk ia menambahkan gula aren sebagai pelengkap rasa manisnya.


“Biar mama sehat,” gumam Bella. Mamanya jarang pulang belakangan ini. Bahkan sudah tiga hari ini Bella tidak bertemu dengan mamanya.


Bella mengambil sepiring nasi dan memakannya. Rasanya sepi namun Bella sudah terbiasa makan dalam kesendiriannya. Dulu buliran air mata selalu menetes saat ia menyendokkan nasi masuk ke dalam mulutnya, kini rasa itu sudah menghilang. Berganti dengan ketegaran dan juga kemandirian, Bella tak boleh cengeng karena mamanya melakukan semua itu juga demi dirinya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bella menulis sticky note dan menempelnya di depan pintu kulkas. Berharap mamanya akan melihat dan menikmati bubur buatanya.


Semoga mama suka, pikir Bella riang. Ia melangkah mendekati motornya untuk berangkat ke sekolah.


— MUSE S5 —


Berbanding terbalik dengan suasana sarapan Bella yang sepi dan seorang diri. Suasana pagi ini cukup ramai di keluarga besar Arvin dan Kalila. Kalila sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk ketiga anak dan suaminya.


Di meja makan ada Nick anak laki-laki pertama Kalila, sekarang Nick sudah kelas tiga SMA berbeda dengan Inggrid yang mirip dengan Arvin, Nick sangat mirip dengan Kalila. Lalu ada Gabby yang beranjak dewasa, tahun ini dia masuk SMA, wajah dan kepribadiannya juga secantik Kalila. Yang terakhir si bontot Levin, cowok kecil dengan wajah dan sifat mirip Arvin, kebayangkan kecenya kaya apa?


“Tahun ini kamu luluskan, Nick? Mau lanjut ke mana?” Arvin meletakkan koran yang di bacanya dan mulai fokus ke arah anak laki-laki pertamanya.


“Nick ingin menjadi sutradara atau produser film action, Dad,” jawab Nick dengan lugas dan jelas, tak ada keraguan dalam pilihannya.


Nick yang memang seorang pecinta film action dan juga maniak pengumpul hot toys, selalu ingin memproduksi filmnya sendiri. (Jangan ngeres gaes!! Hot Toys itu action figure ^^)


“Masuk bisnis saja, teruskan perusahaan Daddy, biar Daddy bisa tinggal dirumah setiap hari untuk memeluk Mommymu.” Kikihan Arvin membuat Kalila mendelik.


“Nggak ingat sama umur apa?!” bisik Kalila sebal.


“Ck, aku belum setua itu, baby. Aku bahkan masih bisa membuatmu hamil!” Arvin membalas bisikkan Kalila dengan gurauan nakalnya.


“Dasar.”


“Bagaimana, Nick?” Arvin menoleh kembali pada putranya.


“Nggak mau, Nick mau jadi produser film, sutradara, atau kameramen.” Nick menolak tawaran daddynya.


“Kalau itu yang kau mau, Daddy tak akan memaksa. Tapi ingat, kau harus memulai segalanya dengan kemampuanmu sendiri. Daddy tak akan memberikan sepeserpun uang selain uang sekolahmu.” Arvin menghirup aroma kopi hitam sebelum menyesapnya.


“Seperti mengusirku secara halus?” Nick melirik ke arah Arvin.


“Semacam itulah, lelaki sejati harus bisa menggapai impiannya sendiri. Daddy dulu juga begitu.” Senyum Arvin.


Nick menghela napasnya, akhirnya datang juga saat di mana dia harus hidup mandiri dan membangun karirnya sendiri.


“Bye, Abang!!” Levin memandang Nick dengan wajah bahagia, dia tak harus lagi melihat wajah menyebalkan kakak lelakinya itu setiap pagi.


“Bentar lagi juga giliranmu!” Nick mengusak asik rambut adiknya dan menyahut tas.


“Tunggu aku, Kak.” Gabby ikut bangkit dan mengambil tasnya.


“Berangkat, Dad, Mom.” Gabby dengan manis mengecup pipi Daddy dan Mommynya.


“Hati-hati, Sayang.”


Gabby menyusul Nick ke arah garasi, hari ini Nick sengaja memakai motor sportnya agar tidak terlambat ke sekolah. Mata Gabby berbinar bahagia saat melihat Nick mengeluarkan motornya. Gabby sangat menyukai motor Nick, tapi Daddynya nggak mau membelikan motor yang sama hanya karena Gabby seorang wanita.


“Kak Nick! Gabby yang boncengin, ya!” pinta Gabby.


“Sikap dan pembawaannya cewek! Tapi hobinya kaya cowok!” Sentil Nick, terus ia mundur ke belakang, mempersilahkan adiknya menyetir motor kesayangannya itu.


“Hehehe, besok kalau Kak Nick jadi diusir sama Daddy, motornya buat Gabby, ya?” ucapan Gabby membuat wajah Nick berkerut sebal.


“Ck, emang cuma Kak Inggrid yang sayangnya tulus!” Nick mengeplak kepala Gabby.


“Aduh, sakit tahu!”


“Itu pahamu kelihatan! Tutupi!” Nick melepaskan jaketnya untuk menutup paha Gabby, roknya sedikit terangkat saat menaiki motor besar itu.


“Makasih, Kak.” Senyum Gabby manja, sebelum akhirnya melesat cepat menuju ke sekolahan.


— MUSE S5 —


MUSE UP 2x hari ini


😘😘😘


LOVE


LIKE


COMMENT


VOTE