MUSE

MUSE
S2 ~ HADIAH



MUSE S2


EPISODE 74


S2 \~ HADIAH


\~ Imagenya sebagai pria macho langsung menghilang. Bener kata Caca, Arvin itu bucin, dan bucin semakin langka! Beruntungnya aku yang memilikinya. \~


•••


Tok..., tok...,


Aku mengetuk kaca jendela mobil Arvin agar dia membukakan pintu untukku.


“Maaf, lama, ya, nunggunya?” tanyaku begitu masuk ke dalam mobil.


“Nggak lama, kok.” senyum Arvin, tangannya terlipat di atas setir mobil, kepalanya bersandar di atas tangan dan menoleh untuk memberikanku jawaban.


Oh, ya, ampun! Betapa tampannya dia!! Aduh wajahku memerah dan jantungku kembali berloncatan.


“Kau mau makan malam?”


“Boleh, Kak. Mau makan apa?”


“Ada yang kau inginkan?”


“Hmm, tidak, Kak. Aku makan segala jenis makanan,” jawabku.


“Kau mau steak?”


“Boleh.”


“Tapi aku mampir ke kantor sebentar, ya.” izinnya padaku sebelum menginjak gas dan memutar mobilnya menuju ke kantor.


Kami mengobrol ringan sambil sesekali tertawa. Arvin terlihat begitu tampan saat menyetir, apa lagi otot lengannya terlihat semakin kokoh saat menahan setirannya. Pemandangan yang menyenangkan bagiku.


“Menurutmu siapa yang memberimu bunga itu, Kalila?”


“Tidak tahu, mungkin pelanggan yang ingin berterima kasih,” jawabku.


Sebenarnya aku sudah bisa mengira-ira siapa yang mengirimiku bunga. Hanya Angga yang tahu aku menyukai bunga putih itu. Namun aku tak bisa memberi tahu Arvin. Angga bekerja di perusahaannya dan aku tak ingin merenggangkan hubungan mereka hanya karena sebuket bunga.


Arvin menghentikan mobilnya di depan kantor. Aleina sudah menunggunya di depan, membawa sebuah paper bag berwarna tosca yang terlihat mewah.


“Thanks, Aleina.”


“Sama-sama, Tuan. Sudah saya booking restorannya juga.”


“Baik, aku berangkat.”


Arvin kembali melaju, aku keheranan dengan tingkahnya. Masa makan aja harus booking tempat dulu. Emang kita mau makan steak di mana?


Akhirnya rasa penasaranku terjawab begitu kami sampai di sebuah restoran mewah di pusat kota. Aku turun sambil melihat ke atas papan namanya. Selama ini aku hanya mengetahui namanya saat lewat saja, tak pernah menginjakkan kaki ke dalamnya karena memang harganya tak mungkin terjangkau oleh orang-orang sepertiku.


“Kita makan di sini, Kak?” tunjukku.


“Iya, kau maukan?”


“Bukankah ini restoran mahal?”


“Nggak mahal, kok. Ayo!” Arvin menggandeng tanganku masuk ke dalam.


Aku merasa begitu canggung, outfitku sama sekali tidak cocok untuk berada di dalam restoran seperti ini. Aku hanya memakai kemeja kotak-kotak dengan celana jeans saja. Sedangkan rata-rata memakai pakaian mewah, bahkan yang paling jelek saja memakai mini dress gemerlapan.


Aku duduk dengan canggung di depan Arvin, ia sengaja memilih meja yang dekat dengan jendela supaya pemandangan kota terlihat. Cahaya temeram lilih di depan kami membuat nuansa hangat begitu terasa. Aku memandang ke sekeliling restoran. LED kuning menjadi sumber cahaya utama, tak heran ada banyak tambahan lilin di atas meja. Suasana remang-remang memang sengaja diciptakan agar restoran ini berkesan mewah dan juga romantis.


“Kau mau pesan apa?” Arvin mulai membuka buku menunya, aku melakukan hal yang sama.


Gila!! Ini namanya pemerasan! Kenapa angka enolnya ada banyak sekali di belakang angka utama? Bukankah sapi juga sapi, ayam tetap ayam, dan ikan tetap ikan? Aku tak habis pikir, jadi sebenarnya apa yang membuat harganya bisa berlipat-lipat kali lebih mahal seperti ini?


“Aku tak tahu, Kak,”


Duh, kenapa nggak ke restoran biasa saja, sih? Aku sama sekali tak tahu apa yang mesti aku makan.


“Kau mau steak? Atau smoked salmon?”


“Sama denganmu saja, Kak,” jawabku.


Akhirnya Arvin memesan dua menu yang sama dengan wine sebagai pendamping makan malam kami hari ini.


“Kalila, aku ingin memberimu sesuatu.” Arvin mengeluarkan kotak mewah yang terbuat dari bludru. Ada pita dengan tulisan VCA dan terikat dengan cantik pada kotak mewah itu.


“Apa itu, Kak?”


“Kau tidak tahu VCA?”


“Tidak.” Aku menggelengkan kepala, mana mungkin aku tahu merk aneh seperti itu. Yang aku tahu hanya merk gula, merk coklat, harga kopi, mentega, dan berapa gaji Caca selama seminggu.


“Bukalah, kau akan tahu.” Arvin mendorong kotak itu ke dekat tanganku.


“Eeh, aku buka, ya,” ucapku ragu-ragu.


Aku membuka kotak itu, terlihat sebuah gelang dengan model daun semanggi empat berwarna tosca. Gelang itu hanya sederhana, tapi entah mengapa terlihat begitu cantik di mataku.


“Aku pakaikan, Kalila.” Arvin mengambil gelang itu dari dalam kotak dan memakaikannya pada pergelangan tanganku.


“Cantik sekali.”


“Kau suka?”


“Iya aku suka, akan aku jaga baik-baik, Kak.”


“Baguslah kalau kau suka.”


“Terima kasih, ya.”


“Sama-sama.” Arvin menggenggam tanganku, rasanya sangat hangat.


“Ah, makanan kita sudah datang.” Arvin mengalihkan perhatiannya pada dua buah piring lebar yang disajikan oleh pelayan.


“Silahkan dinikmati, Tuan, Nona.”


“Terima kasih,” ucapku sebagai balasan.


“Aku akan memotongkan steak untukmu, Kalila. Tunggu, ya.”


Arvin memotongkan steak dalam irisan-irisan yang lebih kecil. Membuatku tersenyum saat melihatnya. Pria ini dulunya aku kira adalah pria yang kaku dan kejam. Ternyata hatinya begitu lembut dan penuh perhatian.


“Ini, makanlah.” Arvin memberikan piringnya padaku.


“Thanks, Kak.”


“Welcome, baby.”


“Wah!! Enak banget!!” Aku terkesima dengan rasanya, daging itu sangat lembut dan rasanya begitu manis saat menyentuh lidah.


“Lebih enak saat kau menikmatinya dengan wine, Kalila.” Arvin menuangkan sedikit anggur pada gelasku.


“Betulkah?” Aku mencobanya, ternyata benar, rasanya jadi jauh lebih manis.


“Bagaimana? Suka?”


“Suka!! Ini enak!!” seruku, lalu aku sepontan menutup mulut karena banyak orang melirik ke arahku.


“Sudah kenyang?” tanya Arvin sembari mengelap mulutnya.


“Sudah.”


“Mau nambah?”


“Tidak, Kak. Cukup. Nanti mengantuk,” tolakku sambil menghabiskan wine dalam gelas. Ah, wajahku menghangat karena minuman itu. Aku sudah berhasil menghabiskan 2 gelas tanpa jeda.


“Baiklah, ayo kita pulang!” Arvin bangkit dan menawarkan tangannya.


“Kenapa buru-buru?”


“Gantian aku yang akan memakanmu, baby!” jawab Arvin. Jawabannya sukses membuatku kehilangan akal.


— MUSE S2 —


•••


Sesampainya di gedung apartemen, Arvin menggiringku masuk ke dalam kamar apartemenya. Ia langsung menciumku begitu pintu tertutup. Memepetkan tubuhku pada dinding, posisi kami mirip dengan mimpi panasku 2 malam yang lalu!


Ah, kenapa tiba-tiba kepalaku begitu berat dan badanku terasa panas? Sepertinya aku terlalu banyak meminum anggur itu. Apa aku mabuk?


“Hiks..!” Aku cegukkan.


“Puft...!” Arvin menahan tawanya.


“Hiks...!” aduh sialan, lagi-lagi cegukan!!


“Hahahaha...!” Arvin yang telah setengah melepaskan pakaianku akhirnya tak bisa berhenti tertawa.


“Hiks..., kena... pa..., hiks..., ini?!” seruku meminta jawaban.


“Ck, minum dua gelas saja sudah mabuk.” Arvin menggendongku naik ke atas ranjang.


Arvin membantuku melepaskan sepatu dan juga cardigan. Ia menyuruhku merebahkan diri sejenak agar rasa pegarnya mereda.


“Minum airnya, baby. Aku akan mandi.” Arvin meletakkan secangkir air putih pada meja nakas sebelum beranjak pergi.


Aku jelalatan mengamati kamar Arvin. Ah, benar-benar jauh berbeda dengan kamarku. Memang, ya, rakyat miskin dan orang kaya itu perbedaannya terlalu jauh menjulang. Padahal luas kamar kami sebenarnya sama, tapi entah mengapa kesannya lebih luas kamar Arvin. Mungkin karena penataan interiornya membuat kamar ini jadi begitu berkesan luas.


Aku bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Dengan segera aku meminum air putih agar rasa mabuknya segera menghilang.


“Sudah lebih enakakan?” panggil Arvin dari dalam kamar mandi.


“Iya, lumayan, cegukkannya sudah menghilang,” jawabku.


“Apa kau mau ikut mandi, Baby?”


“Aku tak bawa baju ganti, Kak!” tolakku.


“Hei!! Rumahmu hanya di samping.” Arvin menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


“Oh, benar,” jawabku, sepertinya aku benar-benar sudah kehilangan kepintaranku saat ini. Duh, aku tak akan meminum alkohol lagi.


“Lagian kau tidak akan memakai baju lagi setelah mandi.” goda Arvin, mendengar ucapannya sontak membuat wajahku semakin memanas. Duh, aku bisa pingsan karena kepanasan, nih.


“Ka... kau jangan gila!”


“Kemarilah!!”


“Oke.” Aku akhirnya menurut dan berjalan mendekatinya. Ia menarik tanganku begitu sampai di depan pintu kamar mandi.


Hangatnya air membasuh tubuhku, membuat rasa nyaman pada otot-otot yang menegang karena lelah bekerja seharian. Aku melingkarkan lenganku pada lehernya, merasakan lumattan dan cumbuan Arvin pada seluruh tubuhku. Sesekali aku menggerang dan menjambak pelan rambutnya.


“Say my name, Baby!” perintah Arvin.


“Arg..., Arvin...!” panggilanku membuatnya semakin bersemangat dan aku semakin menginginkannya.


“Say you love me, baby!! Say it!”


“I love you, dear!”


— MUSE S2 —


•••


“Wangi Arvin,” pikirku saat mencium kemeja yang dipinjamkan Arvin untukku. Kebesaran, lebih besar dari milik Papa.


Hm, kenapa aku bertingkah seperti ini? Apa aku sudah gila, senyam-senyum sendiri sambil mencium wangi pakaiannya?!


“Kalila? Kau masih lama?”


“Nggak, ini sudah.”


“Ah, ya, ampun. Cantiknya, Babyku!!” Arvin memelukku dengan erat. Imagenya sebagai pria macho langsung menghilang. Bener kata Caca, Arvin itu bucin, dan bucin semakin langka! Beruntungnya aku yang memilikinya.


“Ayo tidur, Kak.” Aku merenggangkan tanganku dan naik ke atas ranjang.


“Kemarilah, Kalila!” Arvin membuka lengannya, menyuruhku masuk dalam pelukkannya.


Aku memeluk dirinya erat, menjatuhkan kepalaku pada dada bidangnya. Mendengar irama detakkan jantungnya membuat hatiku nyaman. Aku ingin menikmatinya selamanya, seperti saat ini, selamanya.


“Kalila, ayo kita bertemu orang tuaku. Aku akan mengenalkanmu pada mereka.” Arvin mengecup keningku.


“Apa? Orang tuamu, Kak??” Aku langsung bangkit sangking kagetnya. Dua hari membangun hubungan dan dia akan mengenalkanku pada orang tuanya? Aku rasa aku akan mati berdiri saat ini karena membeku tak percaya.


“Iya, aku serius dengan hubungan kita.” Arvin membuka kepalan tanganku, membuatnya kembali relaks.


“Tapi bagaimana kalau mereka mau menerimaku? Bagaimana kalau mereka nggak suka padaku?”


Berbagai kekalutan datang menyerang, aku masih belum punya keberanian untuk memperkenalkan diri pada orang tua Arvin. Apa lagi aku hanya wanita biasa yang bahkan tidak pernah berhasil menamatkan pendidikan SMA-nya.


“Mereka bukan orang yang jahat seperti di film-film, Kalila.” Arvin terkekeh melihat responku.


“Tetap saja aku takut, Kak! Mereka pasti tak akan menerimaku.”


“Ck, ketakutanmu terlalu berlebihan.” Arvin mengelus rambutku.


Aku kembali pada pelukkannya. Duduk di atas pinggangnya dan kembali menjatuhkan kepalaku di atas dadanya. Aku memejamkan mataku untuk menikmati aroma tubuhnya yang hangat dan degupan jantungnya yang begitu menenangkan.


“Aku mencintaimu, Kalila. Walaupun seandainya mereka menolakmu, aku tetap akan mempertahankanmu.” Arvin mengelus punggungku.


“Aku juga mencintaimu, Kak,”


— MUSE S2 -


Memang ya, semakin kejam seorang tokoh pria, maka semakin bucinlah dia!! ❤️


Besok Kalila akan menggambar Arvin, sudah mampukah Kalila melengkapi wajah Arvin dalam tiap goresan tangannya?


See you next episode readers.


Jangan lupa VOTE, vote kalian sangat berharga bagiku.


Terima kasih yang sudah vote dengan koin maupun dengan poin. Aku cinta kalian semua.


LIKE DAN COMMENTNYA JUGA YA!!


yang banyak... hehehehe...