
MUSE S4
EPISODE 5
S4 \~ NYEBELIN SIH
\~Tanpa menggubris ucapan Ra aku mencium bibirnya. Melumattnya dengan begitu dalam dan tak beraturan, aku akan mengganti tiap jengkal bibir Ken yang tercemar oleh bibir cewek lain. Air mataku menetes tak kala Ra mencoba untuk melepaskan panggutan kami.\~
_________________
Melamun?
Ya, aku sedang melamun di depan kelasku. Sudah beberapa hari sejak kejadian menyebalkan bersama dengan Ra. Ken sama sekali tak menghubungiku. Dan aku merindukannya. Parahnya saat aku chat atau telepon selalu saja si brengsek Ra yang mengangkatnya.
“Kenapa Ken tak pernah muncul?!” cibirku sebal.
Tiba-tiba penampakan seorang cowok tampan membuat lamunanku ambyar. Dia berjalan membelah lapangan, ia terlihat begitu percaya diri dengan gayanya yang arogan. Rambutnya tertata sedikit acak ke belakang, menampilkan jidadnya yang lebar. Matanya menggunakan lensa kontak berwarna coklat hazel. Bajunya sedikit berantakan dan yang paling membuatku syok!! Ada banyak percing menghiasi telinganya.
What????!!! Keano?! Kenapa kau bisa berubah drastis hanya dalam waktu dua hari. Salah makan apa dia?? Apa dia masih Ra? Ken ku belum kembali?
FYI: Kemarin aku tak sempat bertemu dengannya karena MOS hari terakhir pulang malam.
Dengan langkah seribu aku langsung mendekatinya. Aku menahan laju langkahnya sebelum Ra berhasil masuk ke dalam kelas. Aku mengatur napasku yang tersengal-sengal.
“Tunggu!! Kau apakan tubuh Ken?” tanyaku masih dengan setengah napas.
Aku melintangkan tanganku pada depan pintu kelasnya. Ra memandangku dengan tajam, membuatku sedikit takut juga. Tanpa menjawab pertanyaanku, Ra mendorong tubuhku ke samping. Membuatku terjatuh di koridor sekolahan.
“Minggir!!”
“Ken!!” teriakku marah.
“What?!” tanyanya tak kalah geram.
“Apa yang kau lakukan pada tubuh Ken?!”
“Ini tubuhku juga! Berhentilah memanggilku dengan nama Ken!! Aku bukan Ken!! Berapa kali harus ku bilang padamu agar kau mengerti?!” Ra berjongkok di depanku lalu bangkit dan masuk ke dalam kelasnya.
Aku bangkit, sedikit mengerutuki diriku sendiri. Padahal aku sudah tau dia Ra, kenapa masih memanggilnya Ken? Dongkol dan sebal, ingin marah tapi tak bisa.
Oh, Tuhan hal ini sangat susah bagiku. Aku sangat menyukai Ken, aku tak bisa membenci Ra saat ia marah dengan wajah Keano. Trus bagaimana aku hidup tanpa Ken di sampingku?! Kami bahkan sudah bersama sejak bayi.
Ttteeeett...
Suara bel masuk membuatku tersadar dengan tugas utamaku sebagai seorang pelajar. Tugasku saat ini adalah belajar bukan mengejar cinta di sekolah.
Dengan lemas aku kembali ke kelasku. Memulai pelajaran sejarah yang menjemukan. Aku terus mengetuk-ketukkan pensilku di atas buku. Rasanya begitu aneh, marah tak bisa, protes tak bisa, menuntutpun tak bisa.
“Argh!!” teriakkanku membuat semua teman sekelas menoleh. Termasuk Pak Kumis, guru sejarah yang mengajar saat itu.
“Inggrid?!”
“Maaf, Pak.”
“Berdiri di luar sana!! Renungkan kesalahanmu!” tuntut Pak Kumis.
“Baik, Pak.” Aku menurut dan berjalan keluar dengan lesu, berdiri tegap di depan kelas sebagai hukuman.
Aku mengisi waktuku dengan melihat ke sekeliling. Kelas Keano sangat ramai, mungkin sedang jam kosong. Keramaian itu semakin bertambah ramai saat mereka bersorak dan meneriakkan nama Keano. Sebenarnya mereka sedang apa?
Sangking penasarannya aku mengendap-endap menuju kelas Keano. Ingin tahu dengan apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa mereka memanggil nama Keano begitu keras? Aku mengintip dari pintu kelasnya yang sedikit terbuka, ternyata mereka sedang adu panco dengan Keano. Satu per satu anak cowok menantang Keano, dan belum ada satupun yang berhasil menjatuhkannya. Para cewek bersorak untuk kemenangannya.
“KEANO!!” teriak mereka kegirangan saat Keano kembali memenangkan pertandingan panco.
“Wah, kenapa Ra bisa sekuat itu? Tak heran dia bisa melempar si muka badak dengan mudah dulu.” pikirku dalam hati.
“Ehem!!” tiba-tiba sebuah deheman mengagetkanku.
“Eh, Pak Kumis.” Cengirku. Kagetnya aku ketauan kabur dari hukumanku dan malah mengintip ke kelas lain. Guru sejarahku itu telah melipat tangannya dan berdiri di sampingku saat ini.
“Bapak cari nggak ada ternyata ngintip di sini?!” Pak Kumis dengan sadisnya menjewer telingaku.
“Adududuh, Pak, sakit, Pak, sakit!” protesku kesakitan.
Sebelum terseret lebih jauh oleh sadisnya jeweran Pak Kumis, bisa ku lihat wajah Ra sedang menyeringai ke arahku. Eh, Sialan!! Kenapa dia mengejekku dengan wajah tampan milik Ken!! Bikin sebal aja sih ini cowok!
“Cowok kampr*t emang!!” umpatku geramku.
“Kau bicara apa, Ngrid?”
“Bukan..., maksud saya bukan Bapak kok yang kampr*t.” cengirku meminta belas kasihan.
— MUSE S4 —
“Aku tak tahan lagi! Aku harus menemui Ra!! Aku akan memaksanya memakai kaca mata!” Begitu bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas bangkit dan berjalan menuju ke kelas Keano.
Sedikit berharap akan ada keajaiban bahwa yang menyambutku di sana bukanlah Ra melainkan Ken.
Namun, bukannya terkabul malah yang ada aku dibuatnya semakin gondok. Bagaimana tidak, saat aku masuk ke dalam kelas, Ra sedang memangku seorang cewek dan berciuman!! Hei!! Ini sekolahan bukan bar!! Bukan juga club malam.
“RA!!!” Panggilku dengan kencang! Amarahku memuncak, bisa-bisanya dia mencium wanita lain dengan tubuh Ken?!
“Inggrid? Mau apa kemari?!” Ra melepaskan panggutannya dan menatap wajahku datar, tak ada rasa bersalah dalam hatinya.
Aku berjalan mendekati Ra dan cewek centil itu. Dengan kasar aku menarik tubuh cewek itu menjauhi tubuh Keano! Aku marah dan muak dengan kelakuan Ra saat ini. Aku murka!! Rasanya ingin ku banting mejanya sampai terbalik.
“Hei!! Apa yang kau lakukan?!” si cewek centil itu masih punya muka untuk bertanya rupanya. Belum tau rasanya punya wajah jelek karena aku kulitin kayaknya?!
“Minggir sana!! Ini urusanku dengan Keano,” lirikku tajam.
“Keano pacarku!!” teriaknya.
“Pergi sebelum aku cakar wajahmu sampai rusak!!” ancamku lagi, aku sudah mengambil ancang-ancang dengan melipat naik lengan seragamku.
“Hiks...,” cewek itu akhirnya pergi dengan menangis.
Ra hanya tersenyum melihat kelakuanku pada pacar barunya. Ia bertepuk tangan dan mengambil tasnya. Ra bangkit dari kursinya, membuat dada bidangnya tepat berada di depan wajahku.
“Mau ke mana? Aku belum selesai membuat perhitungan denganmu.” tanyaku.
“Maaf, ada cewek lain yang menungguku.” jawabnya datar dengan wajah super nyebelin.
Keano nampaknya begitu terkenal saat ini, entah berapa banyak cewek yang bertekuk lutut pada pesona barunya. Keano bukan lagi kutu buku yang cupu. Sekarang, para gadis sudah menganggapnya sebagai cowok macho dengan sejuta pesona.
“Tunggu, Ra!!” Aku menarik tangannya dan menahannya agar kembali duduk.
“Apa lagi Inggrid?!” Ra tampak tak sabar.
“Jangan mencium cewek lain dengan tubuh Keano.” Aku mulai menangis, hatiku sakit. Aku tau Ra bukan Ken. Tapi itu tubuh Ken. Aku tak terima tubuh Ken menyentuh wanita lain, bahkan berciuman.
“Hei! Apa kau tau kalau kau terlalu serakah?! Memang siapa kau?” Ra bertanya, pertanyaannya membuat hatiku semakin sakit.
“Aku pacar Ken!”
“Memangnya dia pernah memintamu menjadi pacarnya? S*nting!” hina Ra, dia hendak kembali bangkit.
Aku masih berusaha menahan bahunya. Memang benar, Ken tak pernah memintaku untuk menjadi pacarnya, tapi siapapun pasti tau kalau Ken mencintaiku dan aku mencintainya.
“Jangan mencium cewek lain dengan tubuh Ken!!!” Aku mengulangi sekali lagi ucapanku. Dengan kasar aku menghapus bekas ciuman di bibir Ra dengan tanganku.
“Hei cewek sinting, apa yang kau lakukan?!” Ra mencengkram tanganku, rasanya sangat menyakitkan, tapi hatiku lebih sakit lagi. Aku sakit karena melihat wanita lain lebih berhak atas tubuh Keano dibandingkan aku yang adalah kekasihnya.
Tanpa menggubris ucapan Ra aku mencium bibirnya. Melumattnya dengan begitu dalam dan tak beraturan, aku akan mengganti tiap jengkal bibir Ken yang tercemar oleh bibir cewek lain. Air mataku menetes tak kala Ra mencoba untuk melepaskan panggutan kami.
“Hei!!”
“Kenapa? Kenapa kau bisa melakukannya dengan cewek lain tapi tidak denganku yang adalah kekasihmu?” Aku menangis di hadapan Ra.
“Kau bukan kekasihku.” Ra menyenggol bahuku dan berlalu, ia hendak keluar kelas.
“Kembalikan Ken!! Kembalikan Ken padaku!” teriakku.
“Ck, gadis bodoh!”
Aku terperosot ke bawah, menangis dengan terisak-isak. Entah apa yang terjadi saat ini? Yang pasti Keano bukan lagi milikku seutuhnya.
“Ken..., aku harus bagaimana?”
— MUSE S4 —
MUSE UP
DUKUNG KISAH CINTA INGGRID DAN KEANO ❤️❤️
CUKUP LIKE DAN COMMENT
KASIH VOTE KALIAN YA GAES.
Thxque
I lop yu gaes..