MUSE

MUSE
MIMPI



MUSE


EPISODE 15


MIMPI


\~Tapi Julius mengajarkanku bahwa kekuranganku bisa menjadi sebuah kelebihan, kalau aku memilih memandangnya dari sisi yang berbeda.\~


Alex masih menggandeng tanganku saat kami sampai di halte bis. Aku tetap diam dan nggak berani memandang wajahnya. Aku tahu wajahnya terlihat mencemaskanku, tapi aku masih kecewa dengannya. Untuk apa dia menerima ciumanku kalau hanya menganggapku teman?


Lalu siapa Amanda?? Kenapa Mamanya begitu menyukai Amnada? Apa dia pacar Alex? Apa Alex punya pacar?


Hatiku ingin menjerit, tapi aku sadar kalau aku bukanlah wanita normal seperti ucapan Mamanya. Aku sadar dengan keadaanku, aku sadar dengan kekuranganku, aku sadar posisiku.


Tapi tetap saja rasanya sakit sekali. Bahkan tangisan semalam pun tidak meredakan rasa sakitnya sama sekali. Malah hanya menyisakan mata bengkak dan hitam seperti panda.


Alex hanya bisa menjawab maaf, maaf dan maaf. Hal itu lebih membuat perasaanku sedih. Rasa-rasanya ciuman manis yang kurasakan kemarin hanya sebuah kesalahan saja.


“Aku pulang dulu.” Aku berpamitan kepada Alex setibanya pak Gino.


“Mau aku antar ke rumahmu? Aku akan jelaskan semuanya ke orang tuamu.” Alex menawarkan dirinya menemaniku pulang.


“Nggak usah. Kamu pulang saja istirahat,” tolakku halus.


“Oke, hati-hati, ya.” Alex membukakan pintu mobil untukku.


Aku menoleh dan melihatnya masih berdiri tegap. Semakin lama bayangannya semakin mengecil seiring mobilku yang mulai menjauh.


“Pacarnya ganteng, Neng.”


“Bukan pacar kok, Pak.”


“Ah masa? Perhatian gitu?”


Aku diam.


Kenapa dia begitu baik dan perhatian padaku kalau memang nggak pernah ada kesempatan untukku masuk ke dalam kehidupannya.


“Dari mana saja kamu, Lenna??” itulah hal pertama yang ku dengar setibanya di rumah.


“Maaf, Pa.. , Ma..”


“Harusnya kamu beritahu kami kalau kamu pingsan!!” teriak Papa.


“Iya, Pa.” Aku hanya bisa menunduk dan menunduk.


“Siapa laki-laki itu?” pertanyaan Papa sekali lagi mengagetkanku.


“Maksud Papa?”


“Kau pergi dengan anak laki-laki kan?!”


“Maksud Papa, Alex?”


“Siappun itu! Papa nggak suka kalau kamu melebihi batas Lenna!”


“Maaf, Pa, tapi benar Lenna nggak macam- macam. Karena flu Lenna pingsan dan ketinggalan bis terakhir. Alex dan keluarganya yang merawat Lenna semalam.”


“Papa tahu, temanmu menelfon Papa semalam.” nada suara Papa mulai melunak, dan aku merasa sedikit lega.


Aku nggak menyangka Alex menelfon Papa semalam. Mungkin dia merasa bertanggung jawab dengan keadaanku.


“Lain kali Papa ngga ijinin! Kamu kalau mau pergi ajak pak Gino!”


“Tapi, Pa..”


“Nggak ada tapi.. tapian..!”


“Lenna, nurut sama Papa, ya, Nak.” suara lembut Mama menengahi amarah Papa.


Kadang aku merasa Mama begitu hebat, hanya dengan beberapa kata dia bisa meredakan amarah Papa dan membuatnya berfikir jernih.


“Baik, Ma.”


“Masuk ke kamarmu. Papa hukum kamu nggak boleh pergi ke mana-mana selain kuliah selama satu bulan.”


“Ayo masuk ke kamar.” Mama menggandengku masuk ke kamar.


“Kenapa Papa jadi galak banget, Ma? Akukan sudah meminta ijin kemarin malam.” Aku mengikuti Mama masuk ke dalam kamarku.


“Papa hanya terlalu khawatir, Lenna.”


“Aku bener-bener nggak macem-macem kok, Ma.”


“Iya Mama tahu. Tapi Papa benar-benar takut dan khawatir ada sesuatu dengan dirimu.”


“Apa Papa marah-marah dengan Alex?”


“Iya, semalam Papa marah dan terus memaki temanmu. Untung saja temanmu berhasil meyakinkan Papa untuk tidak khawatir lagi.”


Ternyata Alex berkorban perasaan untukku. Aku senang sekaligus sedih mendengarnya.


“Bagaimana badanmu?”


“Sudah lebih baik.”


“Kamu menyukai anak itu?”


“Bagaimana Mama bisa tahu?”


“Kamu terlalu polos, Lenna. Segala yang ada di dalam hatimu terlukis jelas di wajahmu.”


Aku sedikit syok mendengar ucapan Mama, kalau Mama saja tahu berarti Alex juga tahu donk?


“Mau Mama bikinin bubur?”


“Huum.” Aku mengangguk tanda setuju.


Mama meninggalkanku menuju dapur.


Perasaanku yang semula sedih dan kecewa berangsur-angsur menjadi senang dan bahagia.


—MUSE—


.


.


.


Sebulan kemudian.


“Akhirnya aku terbebas dari hukuman Papa.” Aku merasakan kebahagian, setelah satu bulan nggak boleh pergi kemana pun selain kuliah.


“Lenna.” suara yang kurindukan terdengar.


“Alex? Kau di sini?” Aku kaget melihat kehadiran Alex di fakultasku.


“Aku sudah menunggumu dari kemarin, tapi kau selalu pulang lebih awal.”


“Iya, Papa menghukumku,” jawabku lesu.


“Ini.” Alex menyodorkan padaku sebuah pamflet.


“Apa ini?” Aku mencoba mengamati lembaran itu lebih ditail.


“Ada pameran lukisan dari angkatanku, kalau kau ada waktu. Apa kau mau menontonnya?” tanya Alex.


“Tentu saja. Aku pasti menontonnya.” Aku mengangguk dengan penuh semangat.


Bruummm...


Suara sepeda motor berhenti tepat di sebelah kami. Siapa sih? Nyebelin banget gangguin moment indah orang aja. Mana nggak tahu peraturan lagi. Kan nggak boleh parkir motor sembarangan.


Orang itu mematikan motornya dan membuka helm racingyang menutup wajahnya.


“Hai.”


“Kak Julius!!” Aku kaget melihatnya di kampusku.


“Kenalanmu?” Alex juga terlihat kaget.


“Julius..Alex..” Aku memperkenalkan mereka berdua.


Wah gila..!


Duh!! Gawat!! Jantungku bisa meledak karena overdosis pria tampan.


“Kau sudah selesai kuliah?” tanya Julius padaku.


Julius memandangku dan bergantian memandang Alex. Alex pun melakukan hal yang sama. Mereka saling mengamati antara satu dengan yang lain.


“Suasana canggung apa ini, ya, Tuhan??” Aku menepok dahiku.


“Er.. Aku sudah selesai kuliah. Kenapa kau ke sini?” pertanyaanku menghentikan suasana canggung ini.


“Ikut aku sebentar, ada yang mau aku tunjukan.” Julius menarik pergelangan tangaku.


“Alex, sory, aku harus pergi.” Aku berpamitan pada Alex.


“Ok.”


“Aku pasti datang.” Aku tersenyum dan Alex membalasnya dengan lambaian.


“Ayo, Len.” ajak Julius.


Aku meninggalkan Alex dan duduk di bangku belakang motor Julius. Aku berpegangan di pundaknya yang lebar dan keras. Punggungnya aja benar-benar indah, membuatku gemes saja.


“Pake helmnya.” Julius menyodorkan sebuah helm padaku.


“Berat banget!!” protesku.


“Nggak usah protes.”


“Ih dasar cowo jahat!! Lagian kenapa aku nurut sih sama dia?? Kalau nggak gara-gara hutang ogah aku kenal sama cowo kaya gini!!” seruku dalam hati.


“Kita mau ke mana?”


“Ke rumahku.”


Kami melaju meninggalkan kampus menuju rumah Julius. Laju motor yang cukup kencang ini membuatku takut. Dasar orang gila. Kenapa dia ngebut sekencang ini???!


“Kak Julius kau membuatku takut!!” seruku.


“Apa?? Nggak kedengeran!!”


Sialan, cowok gila ini ingin membunuhku dengan sakit jantung.


“Haruskan aku berpegangan padanya??”


Sangking takutnya aku memeluk erat tubuh Julius dari belakang. Mataku masih terpejam dan tanganku masih melingkar erat di bagian perut Julius.


“Hei sudah sampai.” Julius memasuki garasi rumahnya.


“Kau mau membunuhku??” Aku melepaskan helm dan langsung menyerang Julius.


“Kau sendiri juga mau membunuhku?? Peganganmu erat sekali sampai membuatku sesak!” teriakan Julius nggak kalah kenceng.


Aku turun dari motor dan langsung masuk ke dalam rumah.


“Boleh aku minta segelas air?” tanyaku pada Darren.


“Silahkan, Nona.” ucap Darren sopan.


Aku menenangkan diriku dengan segelas air putih. Menghilangkan mabuk dan rasa pusing karena ketakutan.


“Kau takut?” pertanyaan Julius semakin membuatku sebal padanya.


“Iyalah!!”


“Maaf.. maaf.. aku nggak nyangka kamu takut beneran.” Julius malah terkikih pelan.


“Aku belum pernah naik motor sebelumnya.”


“Apa?!” Julius terlihat heran.


“Kulitku akan merah kalau terkena sinar matahari.”


“Benarkah? Coba ku lihat?” wajah Julius menegang, dia tampak khawatir.


Dia memegang tanganku, matanya tak berkedip. Aku menarik tanganku, rasanya aneh. Getaran yang sama saat Alex menggandeng tanganku dulu kembali terasa.


“Jangan begini.”


“Perlihatkan padaku.” dia memaksa.


Aduh kalau begini terus aku nggak akan bisa tahan godaannya.


“Darren ambilkan lotion dingin!”


“Baik, Tuan.”


“Maaf aku nggak tahu.” ucapnya lirih.


“Nggak apa-apa.”


Sesaat aku melupakan kekesalanku dan malah jadi bersimpati dengan Julius.


“Oh, ya, kenapa kamu mengajakku kemari??”


“Oh, ada yang mau aku perilihatkan.” Julius mencari tabnya dan membuka sebuah gambar.


“Ini fotoku kemarin?” Aku terkesima melihat pantulan diriku di layar padnya.


Aku nggak menyangka aku akan berubah menjadi secantik itu setelah pengeditan.


“Iya, kau suka?”


“Suka,” anggukku pelan. Aku duduk di sofa tengah mengikuti Julius.


“Kalau gitu tinggal tanda tangan kontrak kerja.”


“Kontrak kerja? Untuk apa?” Aku heran. Kenapa harus pakai kontrak kerja segala sih.


“Foto ini akan aku pasang pada baliho terbesar di tengah kota. Iklannya ada di beberapa jalan utama dan pusat perbelanjaan. Kamu akan menjadi Muse resmi untuk brand jewellery milikku.” ucap Julius.


“Kan aku sudah bilang, Ok. Kenapa harus pakai kontrak segala?” Aku masih heran.


“Kamu akan dapat fee dan royalty.”


“Ah yang bener? Aku dapat uang?” mataku terbelalak sangking senangnya.


“Tapi kamu juga harus jaga diri, nggak boleh berkianat! Ga boleh jadi model brand lain!” Julius memencet hidungku.


“Aduh sakit.”


“Bagaimana?”


“Oke aku setuju.”


“Oke, besok sekretarisku akan mengatur kontraknya.”


“Ah rasanya senang sekali.” Aku merebahkan diri di sandaran sofanya yang empuk.


“Kenapa kau nggak jadi model profesional saja sekalian?”


“Bisakah?”


“Pasti bisa.” ucapannya yang positif ikut memberikan motivasi kepadaku.


“Baik akan ku coba.” Aku tersenyum.


Kelihatannya aku mulai punya sesuatu yang bisa aku tekuni. Selama ini aku hanya hidup dalam bayang-bayang masa kecilku. Nggak berani melangkah keluar mencari harapan. Terkungkung dalam sangkar untuk menutupi segala kekuranganku sebisa mungkin.


Tapi Julius mengajarkanku bahwa kekuranganku bisa menjadi sebuah kelebihan, kalau aku memilih memandangnya dari sisi yang berbeda.


Kini aku punya sesuatu yang bisa aku impikan.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^