
MUSE S5
EPISODE 10
S5 \~ RAINY DAY
\~Lucas tak mengindahkan panggilan Bella, ia lebih menikmati aroma manis yang dikeluarkan oleh pasangannya itu. Aroma yang terus menarik dirinya untuk semakin penasaran dengan apa yang ada di balik dress berwarna merah itu.\~
_____________________
AUTHOR POV
Hujan telah turun sejak pagi, Bella terpaksa berangkat ke sekolahan dengan MRT. Bella terpaksa meninggalkan motor kebanggannya karena hujan deras, nggak mungkinkan dia naik motor, bisa-bisa seragamnya basah karena air hujan.
Bella harus berjalan menyelusuri jalanan basah untuk bisa sampai ke sekolahan. Di tengah jalan sebuah mobil berwarna merah terang yang sengaja mengebut di sampingnya, mencipratkan air ke rok seragamnya. Belum sempat Bella mengumpat, mobil itu sudah berhenti di depannya.
“Hei gembel, nggak bawa motor buntutmu hari ini?” teriak seorang wanita dari dalam jendela. Dia adalah teman Bella satu kelas saat kelas satu, selalu iri dengan Bella padahal dia punya segalanya sedangkan Bella tidak.
...
Bella memilih diam, dia membersihkan roknya dan kembali berjalan ke arah sekolahan, mobil cewek itu masih terus mengekornya. Ada 4 orang cewek di dalam mobil itu.
“Hei!! Budeg ya?” Pertanyaan sarkastik itu membuat semua cewek di dalam mobil tergelak.
Bella sempat terhenti, namun langsung kembali berjalan. Tak ada gunanya menanggapi ejekan dan cacian para cewek yang berasa paling sempurna di dunia. Mereka hanya iri dengan kepandaian dan juga wajah Bella yang cantik. Bagaimanapun Bella berhasil masuk ke SMA favorit dengan kemampuannya sendiri bukan karena hasil sogokkan orang tuanya.
“Ngapain sih?” Tiba-tiba seorang cowok berjas hujan lengkap dengan masker wajah berhenti di antara mereka.
“Hallo, Nick!” Cewek itu bisa mengenali Nick dengan baik karena cowok ini adalah cowok terkece satu sekolahan.
Bella tak menggubrisnya, ia kembali melanjutkan perjalanannya dan masuk ke dalam sekolahan.
“Siapa dia?” tanya Nick, sedikit sebal juga karena dibantuin malah pergi gitu aja.
“Dia, aku juga nggak tahu tuh.” Elak mereka.
“Trus kok kalian bisa ngejekin dia gembel?” tanya Nick, pertanyaannya bikin cewek itu bungkam.
“Y—ya karena dia emang gembel.”
“Ck, mulut kalian kaya nggak pernah di sekolahin aja!” gerutu Nick dan langsung melesat pergi dengan otopednya.
— MUSE S5 —
Bella memandang ke luar jendela. Hujan masih terus turun dari angkasa, membasahi tiap jengkal jalanan dan lapangan olah raga. Pohon-pohon sesekali bergoyang karena terpaan angin dingin.
Bella menyangga kepalanya, tak ada pelajaran yang bisa masuk ke dalam otaknya. Pikiran Bella lebih terfokus pada keadaan keluarganya. Apakah Lucas mau menerimanya kalau tahu bahwa mamanya adalah seorang pel4cur? Apa Lucas akan menerimanya bahwa nyatanya hidupnya begitu berkekurangan? Ucapan cewek tadi tidak salah, Bella memang gembel, bukan wanita cantik dengan penampilan glamor.
Hish, kenapa aku malah mikirin hal ini sih? Ya ampun Bella!! Lucas itu cuma pacar kontrak, pikir Bella sebal, ia tak pernah tahu sampai kapan Lucas akan bermain dengannya, apakah dia akan bosan dan lekas membuangnya?
•
•
•
TEEETT!!!!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Bella membereskan buku dan alat tulisnya. Hari ini pertama kalinya dia akan bekerja sebagai pacar dari seorang Lucas. Bella sedikit berdebar saat ini, bagaimana pun hal yang dilaluin bersama Lucas begitu membekas dalam hatinya. Cara pria itu memanjakannya benar-benar membuatnya nyaman. Bella merindukan belaian seorang ayah, dan dia seperti menemukan sosok itu dalam diri Lucas.
Bella melihat kerumunan manusia yang mengerumuni sesuatu. Kerumunan itu didominasi oleh para ladies. Membuat Bella keheranan dan mencoba ikut melihat ke arah pusat kerumunan. Mata bulatnya membesar saat mengetahui siapa pusat kerumunan itu.
“Foto donk, Kak!” Beberapa murid meminta foto selfie dengan Lucas. Lucas terkenal sebagai petinju hebat di kalangan anak muda, dan juga enterprener yang tergolong sukses. Tentu saja follower pada media sosialnya nggak sedikit.
“OK,” jawab Lucas sembari bergaya, seakan ingin menunjukkan otot lengannya yang, ach!!! Menggiurkan.
Bella bergeleng pelan melihat kelakuan Lucas dan berjalan menuju ke gerbang sekolahan. Lucas menghentikan kegiatan tebar pesonanya saat melihat kehadiaran Bella, kekasihnya.
“Hei gadis cantik yang ada di sana!! Berhenti kau!” Panggil Lucas, sontak semua mata langsung memandang ke arah Bella.
Norak banget sih kelakuannya? Bella mengelus dadanya kesal, sabar Bella, sabar, 4 juta noh sehari.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Bella memaksakan senyumannya.
“Ck, pakai acara pura-pura nggak kenal segala! Padahal kita sudah pernah mandi bareng.” Lucas menghampiri Bella, ia terlihat begitu tampan dengan jaket bomber dan juga celana jeans hitam panjang.
“Sialan!!” Bella menginjak kaki Lucas, mata bulatnya membelalak karena sebal.
“Aduh duh ...!” Lucas meringis.
“Ngapain ke sini?!” tanya Bella begitu Lucas tak lagi meloncat ke sakitan.
“Menjemput pacarlah!” Lucas memberikan helm pada Bella.
“Siapa pacarmu?!” Wajah Bella merona merah.
“Siapa ya??”
“Ini belum jam kerja.”
“Ck, cuma kurang 10 menit doang!!” Lucas nekat memberikan helm kepada Bella.
“Ektra gaji!” Bella menerima helm dari Lucas.
“Asal servisnya juga ekstra!” Lucas mengedipkan sebelah matanya.
“Lucas jangan buat semua orang salah paham dengan hubungan kita woi!” Bella mengerutkan alisnya sangking terlalu sebal.
“Ck, salah paham juga biarin aja. Ngapin juga dengerin omongan orang?!” Lucas menggandeng pergelangan tangan Bella dan membawanya ke dekat motor.
“Naik!” Perintah Lucas begitu stand by di atas motor trail hijaunya.
Bella menatap sebal, namun menurut juga. Ia mengancingkan helm dan naik ke atas motor Lucas. Lucas melesat cepat meninggalkan kerumunan anak-anak yang berkasak-kusuk dan berspekulasi tentang hubungan mereka berdua.
“Kita mau ke mana? Apartemen lagi?” tanya Bella, ia menahan tubuhnya dengan sebelah tangan.
“Nggak!” jawab Lucas nggak kalah kencang.
“Terus mau ke mana?”
“Kita ke Mal.” Lucas membelokkan motornya ke salah satu Mal di pusat kota.
“Ngapain.”
“Beli baju, sepatu, tas, apalah! Pilih sendiri yang kamu mau!”
“Aku nggak butuh semua itu, Lucas.” Bella menolak niat baik Lucas.
“Bajumu sudah pada kumal, Ella. Aku tidak mau pacarku di hina orang karena hal semacam itu nantinya.”
“Apa kau malu berjalan denganku kalau aku terlihat miskin?” Bella berkaca-kaca.
Lucas menghentikan motornya di area parkir dan membantu Bella turun. Ia menekan bahu Bella dan menatap mata gadis itu dengan tulus.
“Ella, manusia dihargai dari cara mereka berpakaian. Bukan berarti pakaian mereka harus mahal atau pun bermerk. Bukan berarti juga aku malu berjalan denganmu karena kau miskin.” Lucas menghentikan kalimatnya mengambil jeda, “tapi saat kau terlihat bersih, rapi, dan wangi, saat itu pula semua orang akan menghargaimu.”
Lucas memberikan pengertian pada Bella, dia tak keberatan Bella miskin, toh Lucas sudah punya segalanya. Lucas hanya tidak ingin orang lain memandang remeh kepada Bella yang selalu tampil kucel dan kumal. Bella memang sudah lama sekali tidak membeli baju baru, semua uangnya selalu ia tabung untuk biaya kuliah kelak. Bella sudah kelas 3 SMA dan berarti tahun ini dia akan berkuliah.
“Lucas, aku tak pernah masuk ke butik sebelumnya.” Bella menarik tangannya dari gandengan Lucas saat mereka hendak masuk ke dalam butik mewah.
“Apa hubungannya?”
“Aku tak bisa memilih baju.”
“Aku yang akan memilihkannya.”
“Tapi ...,”
“Ssstt ...!” Lucas menaruh telunjuknya pada bibir Bella, “Belaciaquin, kalau kau masih banyak bicara aku pastikan akan melumatt bibirmu sekarang juga!!”
Wajah Bella menghangat, melihat wajah garang Lucas yang tampan membuatnya terdiam. Ucapan Lucas yang terus menghujani Bella dengan perhatian membuat hatinya semakin luluh.
Bella menurut, ia mengikuti langkah kaki Lucas masuk ke dalam butik.
“Tidak, aku akan memilih sendiri,” tolak Lucas.
Lucas mengajak Bella berkeliling, Bella hanya memandang tiap-tiap baju dengan harga selangit itu tanpa berkedip. Tak ada yang Bella pilih, dia tak mengerti mode fashion yang sedang tren saat ini.
“Coba ini, ini, lalu ini,” rentet Lucas sembari memberikan baju-baju yang di pilihnya pada Bella.
“Banyak sekali?” Bella sampai tenggelam pada tumpukan baju.
“Kau akan butuh banyak baju, simpan setengahnya di apartemenku.” Lucas menyuruh petugas wanita membantu Bella membawa semua bajunya ke kamar fitting.
Bella menurut, dengan sabar ia mencoba satu per satu semua baju itu. Model-model dress casual sampai blouse.
“Bagaimana?” Bella keluar dengan baju pertama, Lucas menatapnya sebentar lalu menggoyangkan tangannya.
“Jelek, terlihat tua. Next,” ujarnya.
Bella masuk lagi ke dalam ruang fitting baju, mencoba baju yang lain.
“Ini?”
“Jelek! Ganti, next!”
“Heung?!” Bella keluar dari dalam bilik lagi.
“Ini OK! Next.”
“Ini?”
“Hmm, ini juga OK! Next!”
“Bagaimana?”
“Tidak, terlalu norak, next!”
“Kalau ini?”
“Ini lebih baik, next!” Perintah Lucas, Bella menurunkan bahunya sebal, sudah puluhan potong baju dicobanya, mau coba berapa banyak lagi? Lucas sudah memilih hampir setengah dari pakaian-pakaian itu. Masa masih kurang sih?! Mana perutnya mulai protes, Bella kelaparan.
“Cukup Lucas, aku lelah, itu sudah amat sangat banyak.” Bella menghembuskan napas kasar ke arah poninya.
“Ok, coba ini! Yang terakhir.” Lucas memberikan dress berwarna merah. Bella menyahut dress kasar dari tangan Lucas.
“Benar, ya, ini yang terakhir?!” tandas Bella.
“Iya, iya,” jawab Lucas.
Bella kembali masuk ke dalam kamar pas, mencoba dress berwarna merah menyala yang diberikan Lucas padanya. Dress model tank top dengan rok mermaid sepanjang 3/4 kaki. Model roknya yang ketat lalu mengerucut ke bawah membuat lekukan tubuh penggunanya terlihat semakin menonjol.
Kenapa lama sekali? Pikir Lucas tidak sabar, Apa Bella kehabisan tenaga sampai tak bisa keluar dari kamar pas?
Lucas menaruh katalog pakaian yang sedang dibacanya dan bergegas masuk ke dalam kamar ganti. Menyibakkn gorden bludru penutup kamar pas.
“Lu—Lucas, kenapa kau masuk kemari?” Bella langsung mendelik marah saat melihat Lucas menerobos masuk ke dalam kamar ganti.
“Habis kau lama sekali,” jawab Lucas sambil melipat tangannya di depan dada, ia bersandar pada dinding sambil mengamati Bella. Lucas tak henti-hentinya menelan ludah karena terkesima dengan lekukan tubuh Bella.
“Aku tak bisa menjangkau resletingnya.” Bella agak kikuk dengan pandangan Lucas.
“Kenapa tak minta tolong?!” Lucas mendekati Bella.
“Kasihan petugasnya, dia pasti lelah. Aku mencoba banyak sekali pakaian.”
“Ck, itu memang pekerjaan mereka, Ella!” Lucas memutar tubuh Bella agar menghadap ke arah cermin.
“Lucas, kau mau apa?”
“Membantumu menaikan resleting.”
Lucas terdiam sesaat, melihat tanpa berkedip punggung mulus yang berada tepat di depan matanya. Padahal dia sudah melihatnya semalam, sudah mendekap tubuh itu juga, tapi kenapa rasa penasaran masih terus membayangi gejolak jiwa lelakinya saat ini?
Lucas mengelus sepanjang garis tulang belakang Bella dengan punggung jari telunjuknya. Bella menarik napasnya panjang, menggigit bibir bawahnya saat merasakan getaran dan desiran halus pada seluruh tubuhnya karena belaian Lucas. Lucas merasakan kelembutan kulit Bella sebelum menaikan resleting dressnya.
“Kenapa kau begitu menggoda, Ella! Kau membuatku gila.” Lucas mencium leher Bella, tepat di bawah garis tulang rahanganya. Kedua tangannya menangkup pinggul Bella. Napasnya yang panas membuat Bella semakin lemas, ia menggenggam rok dressnya dengan erat.
“Kenapa kau begitu menggairahkan?” Lucas memutar tubuh Bella dan mendorongnya sampai mentok pada cermin.
“Lu-Lucas, kau mau apa?” Bella sedikit memejamkan matanya, menghindari pandangan tajam yang mampu meluluhkan hatinya itu. Bella mendorong dada bidang Lucas dengan kedua tangannya, memberi jarak aman agar dada mereka tidak saling bersentuhan.
“Lucas!” pekik Bella saat ciuman Lucas kembali bersarang pada tengkuknya.
Lucas tak mengindahkan panggilan Bella, ia lebih menikmati aroma manis yang dikeluarkan oleh kekasihnya. Aroma yang terus menarik dirinya untuk semakin penasaran dengan apa yang ada di balik dress berwarna merah itu.
“Hentikan, Lucas!”
“Aku sangat ingin memilikimu, Ella.” Seringai muncul pada wajah tampan Lucas.
— MUSE S5 —
Hujan terus turun dengan deras. Fransisca masih duduk termenung di sebuah cafe di daerah pinggir kota. Menghindari hiruk pikuk padatnya suasana kota.
“Sudah lama? Maaf, ya, membuatmu menunggu.” Sebuah kecupan bersarang pada pucuk kepalanya, Fransisca langsung mendongakkan kepalanya sambil tersenyum.
“Belum lama kok.”
“Sudah pesan?”
“Belum, aku menunggumu, Ron.”
Fransisca kembali memandang ke arah luar jendela kaca. Menanti Rony memilih makanan dari buku menu. Fransisca tak tahu kenapa bisa hatinya sedikit gusar.
“Kenapa kau cemberut sayang?” tanya Rony.
“Tidak, aku hanya merasa tidak enak denganmu. Kau pria beristri, dan kita jalan berdua seperti ini.”
Rony terdiam, ia menggenggam tangan Sisca dengan hangat. Ada rasa cinta yang tersirat dalam sorot mata pria paruh baya ini. Mengenal Fransisca membuatnya kembali merasa hidup, gairah masa mudanya yang sempat tertekan kembali muncul. Rony ingin memiliki Fransisca sama seperti saat ia ingin memiliki Katerina dulu.
“Jangan menolakku, Sisca.”
“Aku tidak menolakmu, Ron. Aku pun merasakan perasaan yang sama,” ujarnya sembari mengaduk teh, “tapi kalau seperti ini namanya aku adalah wanita simpanan. Semua orang akan menganggapku pelakor.”
Fransisca tak memungkiri bahwa seminggu sejak perkenalan mereka membuat hatinya selalu di penuhi bayangan lelaki ini. Walaupun jarak umur mereka terpaut cukup banyak namun Rony tetap bisa menyelami pemikiran Fransisca, dia bisa mengayomi dan memberikannya kenyamanan, sama seperti rasa yang pernah ia dapatkan dari suaminya dulu.
Apa lagi setelah dua malam yang mereka habiskan bersama. Fransisca semakin tamak, semakin serakah, hatinya semakin ingin memiliki Rony. Memiliki pria ini hanya untuknya, menghabiskan sisa waktu dengan menua bersamanya. Fransisca mulai mencintai pria di depannya dengan tulus, bukan lagi karena uang. Ia tak peduli omongan orang yang mengatakan kalau itu adalah cinta sesaat karena nyatanya hatinya terus berdesir karena belaian pria ini.
“Aku tidak bisa menceraikan Katerina, Sisca. Dia Ibu dari anakku.” Rony melepaskan genggaman tangannya.
....
Fransisca hanya bisa diam, air matanya meleleh turun. Hatinya tak kuasa menahan emosinya yang meluap. Emosi akan rasa sedihnya menjadi wanita ke dua dalam hidup pria yang dicintainya.
“Aku juga mencintaimu, Sisca. Bersabarlah sebentar lagi, heung?”
“Baiklah, aku akan menunggumu. Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku!”
“Aku berjanji, sayang.” Ronny mengecup punggung tangan Fransisca.
— MUSE S5 —
Itu Lucas mau ngapain?
Bella sampe lemes 🤣😂
LOVE
LIKE
COMMENT
VOTE
BAGI CINTA UNTUK SAYA GAES
CUKUP DENGAN KETIK NEXT DI KOLOM KOMENTAR AJA AUTHOR RENGGINAN UDAH BAHAGIA BANGET.