
MUSE S5
EPISODE 35
S5 \~ TULIS ULANG II
\~Jantungku menderu tak karuan, dan napasku tersenggal seakan tengah berlari dalam sebuah lomba maraton.\~
____________________
BELLA POV
(NB: Disarankan melihat video pole dance dan dengerin lagu REWRITE THE STAR - Zendaya ft Eric Zac terlebih dahulu gaes. Biar bisa menghayati peranan Bella dan Nick.)
•••
Kelegaan?
Yah, mungkin itu yang aku rasakan saat ini setelah berhasil membuang cincin yang membelenggu hatiku dalam penjara cinta. Menyiksa hatiku dengan rasa cinta yang tak terbalaskan. Menyiksa hatiku dalam rasa tak bisa memiliki.
Lucas, apa aku masih mencintaimu?
Pertanyaan itu tak bisa kujawab saat ini, namun satu hal yang pasti, aku belajar untuk menerima cinta Nick.
Nick tampan, dia lucu, dan manis, sikap kikuknya membuatku gemas padanya. Dia juga sangat ahli menghadapi Aiden, itulah yang paling aku suka darinya, bagiku Aiden adalah prioritas utama. Dan aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk bila dia memiliki papi baru.
(Satu jam sebelum aku menerima cinta Nick.)
Aku merebahkan tubuh mungil Aiden ke atas kasur. Aunty Elise sedang sembahyang di pura malam ini, jadi aku menemani Aiden sampai Aunty kembali.
Aku menatap wajah imutnya, semakin hari Aiden semakin mirip dengan Lucas, bahkan cara bicara dan sikap kerasnya pun mirip. Terkadang aku iri juga, aku membawanya 9 bulan di dalam kandungan dan dengan susah payah melahirkannya, eh ... tapi ternyata dia lahir sangat mirip dengan Lucas. Ck, kan nggak adil?
Aku mengelus rambutnya yang lebat, sesekali Aiden mengambil napas panjang dan membenarkan posisi tidurnya. Tidurnya sangat pulas dan itu membuatku bahagia. Aku menggenggam jemarinya, mencium punggung tangannya yang mungil, masih bisa ku ingat jelas jemarinya yang sangat kecil saat lahir dulu bergerak untuk menggenggam telunjukku. Ah, kenapa waktu begitu cepat berlalu? Sekarang tangannya sudah sebesar ini.
“Tidurlah sayang, tidurlah yang lelap dan nyenyak. Mami di sini, menemanimu, mimpi indah dan teruslah sehat,” lirihku sambil mencium keningnya.
Mami tak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Aiden. Mami akan selalu membagikan banyak cinta dan kasih sayang padamu, dulu Mami tak pernah merasakan manisnya cinta dan kasih sayang dari nenekmu. Tapi Mami tak akan membiarkanmu menjadi seperti Mami.
Akan kuberikan semua kasih sayangku padamu, Nak. Kau pasti tumbuh dewasa dengan memperoleh banyak cinta, juga kehidupan yang jauh lebih baik. Jangan seperti Mami yang terbuang dan terabaikan.
Setelah bergumam dan berjanji cukup panjang di dalam hati aku bergegas untuk keluar dan menemui Nick. Semoga pilihanku tidak salah, semoga aku bisa membahagiakan Aiden dan memberinya keluarga yang untuh.
•
•
•
Nick mengambil jari jemariku dan menautkan jari kami. Ia terus menggenggamnya dengan erat. Membuatku merasakan rasa hangat yang nyaman.
Memang benar aku belum mencintainya seperti saat bersama dengan Lucas dulu, tapi kenyamanan hati yang kuterima darinya saat ini jauh lebih membuatku bahagia.
Aku memandang cincin yang telah membelengguku selama empat tahun lebih ini. Kilauannya masih sama saat Lucas memberikannya padaku. Saat itu bulan juga bulat dan bersinar sangat indah. Hari itu adalah saat paling romantis yang pernah terjadi dalam hidupku.
Lidah api lilin kecil yang menemani kami.
Kelap kelip lampu.
Bau bunga yang manis.
Aroma tubuhnya yang maskulin.
Juga ciumannya yang panas dan menggairahkan.
Ya, aku pernah mencintainya dengan begitu dalam. Dan kalau aku bertekat untuk melepaskan rasa cintaku, maka aku harus membuang semua kenangan itu agar tak lagi membelengguku.
Aku melepaskan cincin itu dan melemparkannya jauh ke hamparan sawah yang gelap.
Selamat tinggal, Lucas. Aku akan menulis ulang kisah cintaku bersama dengannya. Pikirku.
“Thanks, Bella.” Nick mendekap erat tubuhku, ia mencium keningku. Aku ikut masuk ke dalam dekapan hangatnya, merasakn irama jantungnya yang berirama.
Nick sangat manis, dia lembut dan penuh pengertian, aku pasti bisa menjalani sisa hidupku bersamanya.
— MUSE S5 —
LUCAS POV
Ugh!!! Aku sudah tak sabar ingin segera menemukan Bella. Ingin segera mendekap tubuh mungilnya yang indah. Aku ingin ******* bibirnya yang sensual sampai habis tak tersisa.
Sungguh, Ella, aku merindukanmu!! Aku merindukanmu sampai mau mati rasanya!
Kalau bisa, Ella, aku akan meninggalkan semuanya untuk kembali ke masa lalu di mana dulu aku terlalu lemah dan mengabaikan cintamu. Aku ingin memperbaiki segalanya. Sampai saat ini pun aku terus bertanya, kenapa dulu aku terlalu lemah, Ella? Kenapa aku malah menyia-yiakan cintamu yang begitu tulus kepadaku?!
Hampir setiap malam aku selalu berdoa agar kau pulang. Hampir setiap malam aku memohon keajaiban kepada Tuhan, agar menemukanmu berdiri sambil tersenyum manis di ambang pintu kamarku. Hampir setiap malam, Ella, aku tak bisa terlelap karena berharap kau ada di sisiku saat aku menutup mata untuk tertidur.
Jangan pernah berubah, Ella. Kumohon tetap cintai aku, kumohon tetap jaga agar bara kasih kita memerah. Karena aku tak bisa hidup sendiri tanpamu. Izinkan aku kembali padamu dan mulai lagi semuanya dari awal, Ella.
Tiap malam aku berdoa, Ella.
Berdoa demi jiwaku yang merana karena rindu.
Berdoa demi hatiku yang sakit karena penyesalan.
Berdoa demi diriku yang tak bedaya tanpa dirimu.
Namun tiap malam juga aku mendapati bahwa tak ada yang tahu, tak ada yang pernah melihatmu.
Kumohon, Ella, jangan pergi dan kembalilah padaku.
•
•
•
Aku memasuki sebuah club di pinggir downtown, sedikit kumuh dan tak terlalu mewah seperti pada kawasan pusat kota. Miller, anak buah kepercayaanku mendapati sebuah titik terang keberaan Bella yang pernah bekerja di tempat ini. Tentu saja aku langsung pergi ke sana, menemui pemiliknya. Dengan kekuasaan dan nama yang kupunya, dengan mudah aku bisa bertemu dengan pemilik club itu.
“Apa kau kenal dengan Bellaciaquin?” tanyaku, seorang pria baruh baya dengan baju khas daerah, duduk di depanku. Dia adalah pemilik dari club malam ini.
“Benar, dia pernah bekerja dengan kami selama tiga bulan. Wanita ini begitu terkenal karena tubuhnya yang begitu indah! Kenapa anda mencarinya, Tuan? Apa anda juga ingin tidur dengannya? Anda harus antri dengan beratus-ratus pria di sini!” kikihnya menyebalkan.
Dia menatap foto Bella dengan mata berbinar. Sialan! Tak ada yang boleh melihat wanitaku dengan pandangan mesum seperti itu, apalagi menghinanya.
“Di mana dia sekarang?” tanyaku, aku berusaha tetap tenang dan menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam-dalam.
“Tidak tahu, dia tak pernah menetap lebih dari tiga bulan,” jawabnya singkat.
“Itu bukan jawaban.” Kesabaranku habis, aku lantas memberi kode pada Miller. Dengan cepat ia menyergap dan mengunci tangan pria tua itu ke belakang. Lalu mendorong kasar pria itu sampai kepalanya menempel pada kaca meja.
“KYYAAA!!!” Para gadis yang melayani kami minum berteriak, mereka langsung berjengit dan menghambur keluar karena perlakuan kasar Miller.
“Di mana dia sekarang? Di mana dia tinggal?” Aku membungkuk untuk bertanya kembali padanya. Pria tua sialan!
“Su—sungguh aku tidak tahu, Tuan. Dia tak pernah meninggalkan alamat atau pun pengenal. Bahkan ia selalu meminta syarat agar tak ada yang mengambil video mau pun fotonya,” gagap pria itu ketakutan.
“Hajar dia, Mile!” Perintahku.
“Tunggu!!! Sungguh aku tidak tahu!!” Pria itu memelas.
“Sudah aku bilang itu bukan jawaban!!” Aku meniupkan asap rokok di depan wajah pria itu.
BUK!! Dalam satu kali pukulan Miller wajahnya menghantam keras meja kaca sampai meja itu pecah, membuat darah segar keluar. Menciprati sepatuku.
“Tu—tuan, tolong ampuni saya!!” Renggeknya memohon iba.
“Jadi? Apa jawabannya?”
“Saya akan mencari info dan menemukannya untuk anda,” katanya sembari menahan rasa sakit.
“Good! Itu baru jawaban!” Aku menyeringai sebelum bangkit dan mengelapkan sepatuku yang terciprat darah pada tubuh b4jingan tua ini.
“Bunuh dia kalau tak berhasil menemukan Bella dalam waktu seminggu,” tukasku pada Miller sebelum masuk ke dalam mobil.
“Baik, Tuan.”
— MUSE S5 —
NICK POV
BRUM!!
Suara motor 4 silinder milikku terdengar menderu saat masuk ke dalam pekarang rumah Bella. Kami menghabiskan dua hari di desa, dan saat ini kembali ke kota. Bella harus kembali bekerja dan Ada ada kuliah besok sore.
“Menginaplah di sini, Nick! Sudah larut malam, kau pasti lelah memboncengkanku selama tiga jam.” Bella masuk dan menawarkan keramah tamahannya.
“Nggak mau kalau nggak tidur denganmu!” Kudekap tubuh Bella dari belakang.
“Ck, ngarep! Sana bersihkan dirimu! Aku siapkan kamar tamu.” Bella melepaskan dekapanku dan mengetuk dahiku, sakit namun bikin bahagia.
“Aku tinggal, ya!” Bella mendekatiku, ia mengecup keningku sebelum beranjak.
“Hei!” Aku menarik pergelangan tangannya.
“Ya?”
“Mimpi indah, My Queen!” Aku memeluk Bella. Mengecup pucuk kepalanya. Aku ingin mencium bibirnya, namun masih kikuk dan takut tertolak.
“You too!” Bella tersenyum manis, Ah, senyumannya pasti akan membuatku memimpikannya malam ini. Akupun terlelap begitu nyenyak.
•
•
•
Cahaya matahari pagi menelisik di balik korden jendela. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali karena silau.
Kenapa rasanya sudah sangat terang? Jam berapa sekarang?
Aku meraba meja nakas untuk mencari ponsel, sekejap kemudia mataku terbelalak karena mendapati jam sudah menunjukan pukul 11 siang.
Wah?? Bangunku kesiangan!
Aku bangkit dan bergegas mandi, menggosok gigiku secepat mungkin dan memakai kaos hitam dengan celana joger pendek. Suara musik terdengar samar-samar dari dalam kamar, mungkinkah Bella sedang berlatih?
“Pagi, My Queen.” Aku pergi menyapanya.
“Ini sudah siang tahu!” Bella tersenyum.
“Kau sedang latihan?” Aku melihat tubuh molek Bella yang hanya menggunakan short ketat berwarna oranye dan sport bra senada.
“Iya, maaf, ya! Oh, iya, aku sudah masak, kalau lapar kau bisa panasi dulu lauknya.”
“Baik, tapi aku belum lapar, mau melihatmu dulu, Queen.” Aku menolak, masih ingin melihat performa kekasihku yang begitu hebat.
“Dasar! Jangan ngiler!” Bella mengusap wajahku yang bersiap menatap dirinya tanpa berkedip.
Hm, benar sih, siapa lelaki yang tak menelan ludahnya saat melihat kemolekan Bella? Apa semua mama muda begitu menggoda? Wah, jadi nggak rela kalau tiap mata memandangnya. Apa sebaiknya aku menyuruhnya berhenti saja?
“Kenapa bengong?” tanya Bella.
“Tidak, kok, hanya merasa kau begitu cantik.” Aku bangkit dan memeluknya, mencium pundaknya yang terbuka.
“Hei, aku berkeringat.”
“Tak apa! Kau semakin sexy saat berkeringat.”
“Dasar! Kau bilang aku mesum, kau lebih mesum tahu?!” Bella memutar tubuhnya dan memelukku dari depan.
“Kau bilang mau mengajariku menari, Queen?” Ku tagih janjinya.
“Kau mau? Baiklah, ayo kita menari bersama.” Bella menghidupkan musik sebelum mulai menarik tanganku ke arah tiang.
“Lepas dulu bajunya.” Bella menarik kaosku sampai terlepas.
“Kenapa kau buka bajuku?” Wajahku menghangat.
“Kau akan jatuh karena kain itu licin, Nick.” Bella melemparkan kaosku ke atas sofa, ia mulai memegang tiang.
“Ah, begitu.”
“Ready?”
“Sure!”
(. 🎶You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
Fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny? 🎶)
Bella memutar tubuhnya saat lagu terdengar. Ia menyuruhku melakukan gerakan yang sama. Aku mengikuti gerakannya, berputar dengan satu tangan.
Kami berdua menari dengan sangat sederhana, Bella yang lebih banyak bergerak. Ia sesekali naik dan berputar ke bawah lalu memelukku.
“Hebat!!”
“Ck, hanya gerakan dasar.”
Bella tertawa lagi dan bergegas meloncat naik. Ia mengaitkan kakinya sampai menuju ke atas tiang, dengan indah ia berputar seakan-akan sedang berjalan di udara. Lalu dengan sensual dan begitu lentur Bella meliukkan tubuhnya melingkari tiang. Aku menangkap tangan Bella, mengikuti putaran tubuhnya yang baru saja mendarat. Bella bersandar pada tiang, kami saling berhadapan dan tubuh kamipun menempel. Dada kami naik turun untuk mengatur napas yang menderu.
(What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart 🎶
You'd be the one I was meant to find
It's up to you, and it's up to me
No one can say what we get to be 🎶
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
Tonight)
Rewrite the stars - Zendaya, Eric Zac
Aku menatap binaran indah pada matanya, binaran yang membuat duniaku berhenti berputar itu kini berisi wajahku di dalamnya.
“Mari tulis ulang kisah hidupmu, My Queen. Kita tulis kisah indah kita bersama.” Aku menyisir rambutnya ke belakang telinga.
“Iya, Nick. Rewrite our story.” Bella melingkarkan tangannya pada leherku.
Aku mendekatkan wajahku hendak mendaratkan sebuah ciuman pada bibirnya, tapi Bella langsung melingsut dan berputar naik ke atas. Ia berjungkir balik, berpegangan pada tiang dengan kakinya. Kini kepalanya berada di bawah.
“Kau mau berciuman ala spiderman?” Bella memanggilku untuk mendekat.
“Kau spidermannya? Sedangkan aku Merry jane?!” ucapku saat teringat film itu. Si spidey mencium MJ dengan bergelantungan terbalik dengan jaringnya.
“Benar!”
Aku tersenyum sebelum melumaat bibir Bella. Itulah kali pertama aku mencium bibir, Bella. Ciuman itu juga adalah ciuman pertamaku.
Manis, rasanya sangat manis.
Debaran dan getarannya sangat membuatmu ketagihan.
Jantungku menderu tak karuan, dan napasku tersenggal seakan tengah berlari dalam sebuah lomba maraton.
“Kau menyukainya?” tanya Bella saat memberi jeda pada ciuman kami.
“Iya, sangat!”
Bella tersenyum dan meliuk turun. Tanpa menunggu ia meloncat ke dalam gendonganku dan mencium lagi bibirku.
“Nikmatilah Nick! Nikmati indahnya cinta dan kisah kita yang baru.”
Sekali lagi, pelan namun begitu dalam. Menggairahkan dan terasa begitu panas.
“I love you, My Queen.”
“Me too, My King.”
— MUSE S5 —
MUSE UP
Like Vote Comment.