
MUSE S2
EPISODE 50
S2 \~ BOHONG
\~ Melamunkan bayangan wajah cantiknya. Memikirkannya sebelum mencoba untuk terlelap. Berharap kembali menjumpainya di alam mimpi. \~
Aku kembali masuk dan mengendarai mobil untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku terus tersenyum. Entah kenapa hatiku begitu bahagia.
Aku memutar setir untuk masuk ke dalam rumah, memarkirkannya di depan pintu utama. Pak Gino mengambil alih mobil untuk memasukkannya ke dalam garasi. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya Mama menungguku di ruang tamu dengan marah. Wajahnya terlihat masam, tangannya masih terus terlipat di depan dada.
“Dari mana kamu, Vin?” tanya Mama.
“Mencari menantu untuk Mama dan Papa,” jawabku jujur, aku tidak berbohong. Aku memang mencari wanita yang ku cintai, Kalila.
“Apa kamu tahu kesalahanmu?” Mama berdiri di depanku.
“Iya, Ma,” menurut sajalah dari pada omelan Mama berlangsung selama berjam-jam lamanya.
“Kau menurunkan Diana di tengah jalan!! Apa kamu sudah gila, Arvin?” Mama membentakku.
“Maafin Arvin, Ma.”
“Jangan minta maaf sama Mama, minta maaf sama Diana!” omel Mama.
“Besok Arvin akan meminta maaf pada Diana.” Aku berjanji pada Mama, aku ingin segera mengakhiri semua omelan Mama secepat mungkin.
Jujur saja, aku sedikit pusing karena berdiri di tengah hujan cukup lama. Aku ingin segera merebahkan diri dan tidur.
“Mama Diana marah-marah, Papanya juga marah-marah!! Telepon mereka sekarang, Arvin. Minta maaflah!!” nada suara Mama terdengar penuh penekanan.
“Tapi, Ma...” Aku hendak menolak.
“Arvin, seorang laki-laki tak pantas melakukan hal itu!! Papa tak pernah mengajarimu lari dari tanggung jawab bukan?” Papa keluar dari dalam, kini Papa ikut-ikutan mencercaku.
Aku tahu aku salah, tapi tak bisakah mereka membebaskanku kali ini? Aku benar-benar kehabisan tenaga.
“Baik aku telepon dia sekarang.” Aku mengambil ponselku dan mengetik nomor ponselnya. Tanpa ragu aku tekan tombol hijau, nada dering mulai terdengar.
“Hallo, Diana.”
“Siapa ini?” tanya suara lembutnya.
“Aku Arvin. Er— aku ingin meminta maaf padamu.” Aku langsung to the point pada maksudku menghubunginya.
“Brengsek kau, Arvin!! Masih berani kau menghubungiku.” teriakannya terdengar memekakkan telinga. Ingin rasanya aku membentaknya kembali. Tapi pandangan Papa dan Mama membuatku mengurungkan niat itu.
“Sekali lagi maaf, Diana,” tanpa menunggu jawabannya aku menutup panggilan.
Papa dan Mama memandangku sambil menghela napas mereka panjang. Mungkin mereka tak habis pikir dengan kelakuanku yang terbilang seenaknya sendiri.
“What? Apa lagi? Aku sudah meminta maaf padanya.” Ku angkat bahuku mencari jawaban.
Akhirnya Papa dan Mama menyerah, mereka memilih untuk diam dan kembali ke kamar mereka. Aku pun langsung menaiki beberapa anak tangga sekaligus, untuk mempercepat langkahku kembali ke kamar. Kulitku terasa begitu lengket dan kotor, aku harus membersihkan diri.
Aku berlama-lama menikmati guyuran air shower. Hangatnya air membuat tubuhku terrasa lebih relaks dan nyaman. Kepalaku juga mulai sedikit membaik. Aku menyabun setiap permukaan kulitku yang terasa sedikit gatal dan kasar.
•
•
•
Aku telah berganti kaos oblong berwarna hijau army dan celana panjang kain katun yang nyaman. Dengan segera aku merebahkan diriku ke atas ranjang. Menikmati nyamannya kasur, dan juga selimut tebal.
“Kalila.” Aku memanggil namanya lirih. Senyuman terkembang jelas di wajahku.
“Kalila,” ish.. kenapa aku ingin terus menerus memanggil namanya?
Aku kembali mengingat pertemuan kami hari ini. Oh, Tuhan, aku benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Ternyata segala usaha dan uang yang aku keluarkan tak terbuang sia-sia. Dengan cepat aku bisa kembali menjumpainya.
“Aku pasti akan membuatmu mencintaiku, Kalila.”
Aku masih memandang langit - langit kamar. Melamunkan bayangan wajah cantiknya. Memikirkannya sebelum mencoba untuk terlelap. Berharap kembali menjumpainya di alam mimpi.
Ya, Tuhan belum berpisah sehari saja aku sudah begitu merindukannya.
— MUSE S2 —
“Bangun, Arvin!!” Mama membuka paksa gorden untuk membangunkanku.
“Ma.. apaan, sih? Arvin masih mengantuk,” protesku.
“Ini sudah siang!! Sudah jam 10!! Bangun, terus ikut Mama minta maaf sama Mamanya Diana.”
Ucapan Mama langsung membuat mataku terbuka lebar. Kenapa harus meminta maaf lagi?! Bukankah kemarin aku sudah meminta maaf padanya?
“Ma, Arvinkan sudah minta maaf. Kenapa lagi harus ke sana?” Aku kembali melayangkan protes. Lagi pula aku ingin segera menemui Kalila.
“Cepetan nggak usah banyak nanya!”
“Ck.. besok aja, ya!” Aku mengusak asik rambutku sendiri.
“Diana itu masih kerabat kakakmu, Julius. Kan nggak enak! Lagian kasihan kak Lenna kalau dia mendapat cibiran dari keluarga besar suaminya karena keteledoranmu.” lagi-lagi Mama lebih memikirkan perasaan Kak Lenna dibandingkan perasaanku.
“Iya.. iya..”
“Cepet mandi!!”
BLAR..!
Mama membanting pintu kamarku.
“Shit!! Bikin repot aja sih tu cewek,” gerutuku sebal.
Dengan malas aku bangkit untuk menuruti kehendak Mama.
•
•
•
Aku membantu Mama menaiki beberapa anak tangga pada teras rumah Diana. Rumah dengan gaya romawi itu terlihat begitu megah. Beberapa ukiran kusen dan juga patung terlihat menghiasi interiornya.
Seorang wanita seumuran Mama muncul menyambut kami. Ia langsung memeluk dan bercipika-cipiki ria dengan Mama. Di samping wanita itu sudah ada Diana, wajahnya cantik dan pembawaannya anggun sama seperti saat pertemuan pertama kami.
“Ini tante Elli, Vin. Ayo beri salam!” Mama menepuk pundakku.
“Wah, tinggi dan tampan, ya! Benar-benar mirip dengan Kai waktu muda. Nggak heran Diana langsung jatuh cinta.” puji tante Elli.
“Ih..., Mami ngomong apa, sih?” bisa ku lihat wajah Diana bersemu merah karena ucapan Mamanya yang memujiku terang-terangan. Apa lagi menyuarakan isi hati Diana di depan laki - laki yang dia taksir.
“Ayo duduk dulu. Kita ngobrol di dalam.”
Mama ngobrol bersama dengan tante Elli, sedangkan aku mengekor mereka di belakang bersama Diana. Diana masih diam, entah dia masih marah, atau masih malu dengan perkataan Mamanya.
“Maaf, ya. Kemarin aku menurunkanmu di tengah jalan,” sekali lagi aku mengulangi permintaan maafku pada Diana.
“It’s OK, Vin. Aku yakin kau punya alasanmu sendiri.” Diana nampaknya sudah memaafkanku.
“Thanks, Din.”
Kami duduk di sofa pada ruang keluarga. Mereka bertiga mengobrol sambil tertawa riang. Sesekali Diana melirik dan tersenyum padaku. Bisa ku lihat wajah Mama dan juga tante Elli berseri-seri bahagia.
Aku tak menggubris pembicaraan mereka, aku terus melirik ke arah jam dinding. Aku merindukan Kalila. Oh Gosh.. Kapan obrolan ini akan berakhir? Aku ingin segera pergi dan menemuinya di cafe.
“Jadi kapan kalian menikah??” goda tante Elli.
“Menikah???” tanyaku syok.
“Mami.. jangan bikin Arvin bingung, donk. Kami kan nggak pacaran. Masa disuruh menikah.” protes Diana, aku setuju.
“Kalau gitu kalian pacaran dulu saja. Saling mengenal.” ucap tante Elli.
“Benar, begitu kalian sudah saling cocok langsung menikah saja. Usia Arvin sudah kepala 3.” Mama ikut-ikutan setuju dengan ide konyol temannya. Wah... kenapa aku malah merasa jadi anak yang dijual oleh Mamanya sendiri demi persahabatan?
“Ma, jangan aneh-aneh, deh,” bisikku.
“Mama mau kamu me-ni-kah!!” bisiknya penuh intonasi.
“Arvin sudah punya pacar.” Aku berbohong. Aku belum berhasil mendapatkan hati gadis pujaanku. Tapi tetap saja aku harus membungkam mulut Mama saat ini.
“Benarkah?” mata Mama berbinar antusias.
Ck.. orang tua memang aneh, mengetahui anaknya punya pacar saja seperti habis mendapatkan sebongkah berlian.
“Benar, Ma, sekarang ayo kita pulang!” bisikku lagi.
“Baik, Mama pamit dulu.”
Mama tersenyum sebelum akhirnya bangkit, “benar katamu, jeng, biar anak-anak saling mengenal dulu. Kita berdoa yang terbaik buat mereka, ya.”
Aku terkikih pelan, mulut Mama memang manis seperti biasanya. Nggak heran Papa kepincut dengannya.
“Sudah mau pulang, jeng?”
“Iya, Arvin ada kerjaan yang harus dia urus.” jawab Mama.
“Baik, hati-hati, ya.”
Kami berpamitan. Aku membantu Mama menaiki mobil sport oranye milikku. Mobil ini memang terlalu pendek untuk Mama.
“Kau benar-benar sudah punya pacarkan? Bukan hanya untuk membungkam mulut Mama sajakan, Vin?” tanya Mama di sela-sela kegiatanku menyetir.
Wow.. ituisi seorang Ibu memang pantas diacungi jempol. Mama langsung bisa tahu aku sedang berbohong.
“Su—sudah kok, Ma.” Aku gelagapan.
“Kalau begitu, ajak dia bertemu Papa Mama besok.”
“Besok???”
“Kenapa?”
“Nggak bisa, Ma. Dia di kota J.” Aku berkelit. Kalila tak akan setuju aku membawanya menemui orang tuaku besok.
“Hm.. benarkah?” sekali lagi pandangan Mama menyipit tak percaya.
“Benar, Ma.”
“Gini aja, kalau kau memang mencintai pacarmu kita lamar dia minggu depan.” ucapan Mama langsung membuatku berkeringat dingin.
“Ma, kenapa sih buru-buru banget? Arvin aja masih betah hidup sendiri,” protesku.
“Mama, Papamu itu sudah tua, Arvin. Kami punya dirimu disaat sudah berumur. Apa kau mau melihat Papa dan Mama mati penasaran gara-gara nggak lihat kamu menikah?”
“Huft—” Aku menghela napas panjang.
Ayolah, menikah bukanlah akhir segalanya, bukan juga awal dari sesuatu yang baik. Kenapa orang tua selalu berpikir untuk segera menikahkan anaknya? Bagaimana kalau mereka belum siap? Bagaimana kalau mereka ternyata gagal dan akhirnya bercerai?
“Lagian dari pada kelamaan pacaran malah bikin dosa.” sambung Mama.
“OK.. Kasih waktu Arvin buat bicara sama dia.” dan akhirnya aku berbohong lagi.
For the sake of God!! Aku bisa mendapat nominasi oscar karena acting bohongku saat ini.
— MUSE S2 —
GAESKUH.. REDERSKUH.. SAYANGKUH
TOLONG DI LIKE DAN COMMENT YA!! (Author-nya nge-gas!! Wkwkwk)
VOTE JUGA.. BERHADIAH!!!
Kapan lagi Vote bisa dapet giveaway?
Makasih hlo sayang-sayangkuh..
Jangan lupa kurangi penggunaan plastik
Sayang i bumi..
Sayang i dunia..
Go green.. and save the earth..
❤️❤️❤️
Pray for covid-19 juga
Berdoa wabahnya segera tuntas baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.
God bless us