
MUSE
EPISODE 20
BITTER LOVE
\~Aku nggak mau papa menghina Alex, aku mencintainya dan aku tahu Alex juga mencintaiku\~
Suara detak jantung yang saling bersahutan..
Aroma manis yang tercium dari tubuhnya..
Panasnya suhu tubuh yang saling bersentuhan..
Desahan pelan..
Rintihan rasa sakit..
Hentakan pelan..
Banyak orang bilang yang pertama akan terasa sangat sakit. Aku juga takut kalau bakalan terasa sakit, tapi entah kenapa aku nggak mau menghentikannya..
Aku kembali merangkul punggung Alex, menarik tubuhku untuk mendekatinya. Peluhpun keluar dari tubuhnya mengalir membasahi tubuhku.
Bersatu..
Seirama..
Desahan..
Hentakan..
Rasa sakit..
Kata-kata biasa namun membuatku benar-benar hidup, membuatku benar-benar menikmatinya.
“Lenna..” bisikan Alex terdengar sendu, perasaanku meluap-luap mendengarnya memanggil namaku.
“A.. Alex..”
“Aku senang saat kau memanggil namaku.” Alex tersenyum dan mencium tanganku.
“Alex.” Aku mengulanginya. Aku berpaling ke kanan, mataku terpejam menahan rasa panas dan perih di bawah sana.
“Mendesahlah Lenna, jangan kau tahan.” Alex mengangkat tubuhku, kini aku yang berada di atas tubuhnya.
“Aku malu.” Aku membuang muka, tanganku berpegangan di pundak Alex, dan tangan satunya menutup dadaku. Aku tahu Alex sudah melihat semuanya, tapi tetap saja aku malu kalau terang-terangan menunjukannya seperti ini.
“Kau sangat cantik Lenna.” Alex merangkulku mendekat, mencium lembut bibirku dan beranjak pelan ke arah leher.
“Ahg..” Aku tak bisa lagi menahannya.
—MUSE—
Aku mengendap-endap saat masuk ke dalam rumah, jam sudah menunjukan pukul 12 malam, dan aku nggak ijin kepada Papa Mama akan pulang selarut ini. Hal bodoh yang ku lakukan dengan Alex berlangsung sangat lama, tiba-tiba saja sudah malam.
Baru kali ini aku merasa bersalah dan takut untuk pulang. Aku takut Papa dan Mama mengetahui kebodohan dan kenaifanku. Aku takut kalau mereka tahu aku kehilangan keperawananku hari ini.
“Huft.” Aku menghela nafas lega saat masuk ke dalam kamar. Aku menutup pelan pintu kamarku.
Bagaimana ini? Aku melakukan sebuah kesalahan. Kenapa aku baru menyesal sekarang?? Harusnya dari tadi aku menolaknya.
“Tapi rasanya sangat manis.” Aku terduduk di balik pintu kamar, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Aku menyentuh leher dan bibirku, masih terngiang jelas di benakku rasa dan kehangatan bibir Alex. Aku tersenyum mengingatnya, tapi kembali meringis saat merasakan sakit di area kewanitaanku.
—MUSE—
Sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarku, padahal aku sudah menutup kordennya. Kenapa masih bisa masuk?
“Kau sudah bangun.?” suara Mama menyadarkanku.
“Mama?!”
“Semalam kamu pulang jam berapa? Pergi ke mana? Sama siapa?” tanya Mama, pertanyaan yang ku takutkan terjadi juga.
“Ih mama.. satu- satu donk tanyanya.” Aku kembali masuk ke dalam selimut.
“Jawab mama Lenna, Papamu marah-marah semalaman.”
“Lenna cuman ke kampus kok. Liat Festival sama temen-temen.” Aku berbohong, sejak kapan aku bisa berbohong dengan selancar ini?
“Betul?”
“Iya, Ma. Lagian kalian dulu suru aku cari temen yang banyak. Kenapa sekarang aku pergi sama temen-temen kalian marah?” Aku menyibakan selimut.
Maafin Lenna mama, Lenna nggak mau ketahuan berbohong.
“Oke Mama percaya, tapi masih ada Papa yang harus kau buat untuk percaya.” Mama melipat tangannya di dada.
“Iya, Ma, nanti Lenna jelasin ke Papa.” Aku mencoba tegar, padahal sangat takut.
“Oke, mandi dan turun sarapan. Anak gadis kok jam segini belum bangun.” Mama meninggalkan kamarku.
“Oh shit!” Aku mengumpat sebal kepada diriku sendiri, kenapa aku bisa bodoh banget!?
Aku bergegas mandi, masih ada sedikit bercak darah di celana dalamku. Menyesalpun sudah nggak ada artinya, keperawananku sudah hilang.
Sekarang bukan waktunya menyesal, yang ada aku harus bersikap seperti biasanya dan minta maaf ke Papa.
“Pagi, Pa.”
“Ini sudah siang.” Papa menutup korannya. Matanya tajam mengamatiku.
“Lenna minta maaf, Pa, semalam nggak ijin ke Papa Mama kalau pulang malam.” Aku duduk di sebelah papa.
“Ke mana kamu semalam?”
“Ke festival kesenian, Pa.”
“Sama siapa?”
“Teman-teman.”
Papa masih menatap tajam ke arahku, aku menahan nafasku. Rasanya seperti orang yang diadili dan siap dijatuhi hukuman berat.
“Kau pacaran?”
“Apa?” Aku tersentak kaget dengan pertanyaan Papa.
“Kau punya pacar?”
“Nggak pa.. nggak..” Aku menggelengkan kepalaku.
“Papa nggak mau ada orang yang menyakitimu Lenna. Kalau sampai ada laki- laki yang membuatmu menangis Papa nggak terima.”
“Nggak, Pa, lagian siapa yang mau sama Lenna?” Aku kembali membawa-bawa kelainan genetikku.
“Lenna!” Mama menyahut.
“Iya, Ma, maaf.” Aku menundukan kepalaku.
“Papa juga nggak mau kamu berhubungan dengan Alex.”
“Alex?”
“Dia nggak akan bisa memberimu apa-apa Lenna.”
“Kenapa??? Karena dia miskin? Nggak berasal dari keluarga kaya?”
“Papa nggak suka saja!” bentak Papa, kelihatannya Papa marah karena reaksiku yang berlebihan.
Kadang aku heran dengan Papa, padahal dia tahu aku terlahir seperti ini. Memangnya ada pria terpandang yang mau menerima keadaanku apa adanya?
“Lenna benci Papa!” entah mengapa aku malah marah, aku membangkang Papa untuk pertama kalinya.
Aku nggak mau Papa menghina Alex, aku mencintainya dan aku tahu Alex juga mencintaiku.
Aku mengambil tas dan berlari keluar dari rumah, bergegas masuk ke dalam mobil untuk pergi ke kampus.
“Padahal hari ini nggak ada kuliah. Tapi rasanya malas berada di rumah,” pikirku.
“Ke mana, Neng!?”
“Kampus, Pak.”
Aku menutup pintu mobil dan berjalan- jalan di sekitar kampus, langkahku berhenti di sebuah bangku dekat air mancur. Menghabiskan waktu dengan melamun dan sesekali menghela nafas.
“Kenapa aku jadi begini?” Aku memandang pantulan wajahku di kolam.
Apakah aku marah dengan Papa hanya untuk menyembunyikan kebohonganku? Atau aku beneran marah sama Papa karena dia melarangku berhubungan dengan Alex?
Akhirnya aku menyerah dengan pemikiran-pemikiran yang terus melayang di benakku.
“Apa aku ke tempat Alex aja ya?”
Baru semalam berpisah tapi aku sudah merasa sangat rindu dengannya. Memikirkan hal yang terjadi kemarin membuat tubuhku berdesir geli.
Aku berjalan beberapa blok dari kampus untuk sampai ke apartemen Alex. 1405, aku membaca no kamar yang tertera di depan pintu, memastikan aku tidak salah kamar.
“Hmm..kok pintunya kebuka sedikit?” Aku kaget melihat pintu yang sedikit mengangga.
Aku mendorong pelan pintu kamar Alex, mencoba untuk mengintip ke dalam. Bertanya-tanya apakah Alex ada di dalam.
“Alex.” Aku memanggil namanya pelan.
Aku terbelalak kaget, Alex terlihat memeluk dan mencium mesra seorang wanita. Tangannya melingkar di pundak Alex, rambutnya yang hitam panjang sedikit menutup wajahnya. Walaupun samar aku msih bisa mengenalinya, dia pasti adalah Amanda.
“Alex itu..” Amanda menyadari kehadiranku.
Alex memalingkan wajahnya dan melihatku. Mata kami bertemu, tubuhku membeku menatap matanya. Padahal baru kemarin aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena dia mencintaiku. Ternyata memang semua ini hanya mimpi belaka, tidak ada pria normal yang akan mencintaiku apa adanya.
Air mataku meleleh pelan.
“Lenna.” suara Alex terdengar, menyadarkan tubuhku yang membeku.
Aku nggak mau melihatnya..
Aku nggak mau mendengarnya..
Aku nggak mau tahu..
Aku berpaling dan berlari sekuat tenaga. Dadaku sangat sakit, sakit sekali. Aku benci diriku.. aku benci perasaan ini, aku benci kebodohanku.
“Lenna!!” Panggilan Alex terdengar nyaring.
Aku bersembunyi di balik pilar, Alex mencariku dan berlari ke arah lain.
Teriakan Alex saat memanggil namaku masih terus terdengar.
Aku menutup telingaku.
Aku terus berlari sampai kakiku sakit, sampai jantungku terasa akan meledak. Aku jatuh tersungkur di trotoar. Krikil kecil menggores lututku, darah merah membasahi kulitku yang putih.
Sakit..
Perih..
Air mata mengucur deras, aku tak bisa menahannya.. aku nggak bisa..
Aku masih diam dan tak beranjak.
Tubuhku bergetar hebat.
Hatiku hancur..
Harusnya aku tahu.. hanya Amanda yang dicintainya..
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^