
MUSE
EPISODE 8
JATUH CINTA
\~Ketidak sempurnaanmulah yang membuatmu sempurna\~
Akhirnya 1 minggu berlalu begitu saja. Kantonganku tetap dingin sedingin hatiku.
Aku jadi nggak bisa tidur semalaman karena memikirkan masalah uang. Aku menyerah, celengan babiku sudah ku sembelih tapi tetap tidak memuat uang sebanyak itu. Satu-satunya cara tinggal minta sama Papa.
“Kerja gitu aja nggak becus!! Sekarang jadi rugi banyakkan!!” Papa berteriak kepada bawahannya.
“Maafin saya, Pak.”
“Jangan cuma minta maaf!! Kita harus mencari cara penyelesaiannya bagaimana..?!” Papa kembali berteriak.
Aku menelan ludahku saat menguping di depan ruang kerja Papa. “Haduh suasana hati Papa lagi nggak bagus.”
Aku menyesal nggak pernah menabung uang sakuku selama ini, hikz.. aku selalu menghabiskan uang sakuku untuk beli tiket, koin komik online, main game online, dll. Sekarang aku hidup sengsara dengan kantong kering.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan kembali ke kamarku.
“Agh..” Aku mengacak-acak rambutku sendiri.
“Hmm.. apa aku terima saja tawarannya, ya? Mungkin nggak buruk juga kalau dengan Julius.”
Ah..Mikir apa aku saat ini???!! Sampai separah inikah moralku??!
“Sudahlah aku harus berangkat ke kampus.” Aku menyeret sling bag hitam dan turun dengan lemas.
“Sudah siap berangkat, Neng?” tanya pak Gino. Aku menjawabnya dengan anggukan lemas.
“Kenapa kok nggak bersemangat, Neng?” Pak Gino tampaknya menyadari perubahan sikapku.
“Butuh duit, Pak.”
“Hlah buat apa, Neng? Anak kecil kok butuh uang? Emangnya Bapak ga kasih uang saku?” senyumnya tergambar jelas di wajah pak Gino yang bulat.
“Itu dia Pak..tiap bulan di kasih, jadi nggak berani minta lagi.”
“Emang butuh berapa, Neng? Mau saya pinjami?” Pak Gino berusaha menghibur.
“Beneran??? Cuma 50 juta kok, Pak,” mataku berbinar senang.
“Cuma kok 50 juta, itu ma saya kudu jual sawah dulu, Neng!” Pak Gino cemberut.
“Yah, pak Gino.”
“Uang banyak gitu buat apa?”
“Tukerin motor orang, Pak.”
“Hah???”
“Nggak sengaja aku jatuhin.”
“Terus??”
“Ya lecetlah, Pak. Mana motor mahal lagi.”
“Cuman lecet aja 50 juta??? Dibohongi kamu, Neng.”
“Seriusan , Pak?”
“Orang mobil Pak Kai aja kemarin di serempet orang masuk bengkel cuman 10 juta. Padahal mobil Bapakkan mahal.” ocehan pak Gino menyadarkanku kalau aku telah di tipu.
“Sialan Julius!!” umpatku marah.
—MUSE—
.
.
.
Aku terkantuk-kantuk di bangku kuliah, kuliah hari ini sangat membosankan. Kenapa sih aku dulu ambil jurusan bisnis? Kenapa nggak kesenian aja, atau jurusan masak?? Eh..Emang ada jurusan masak di kampus ini.
“Akhirnya berakhir.” Aku menghela nafas lega karena dongeng penghantar tidur selesai diceritakan.
“Ngopi ah ke cafe, beli kopi buat ngilangin ngantuk,” padahal alasan aslinya adalah untuk bisa ketemu dengan Alex.
“Apa dia ada shiff sore ini?”
Aku masuk dan memesan es mochacino.
“Er.. Alexnya shiff nggak?” Kucoba memberanikan diri bertanya pada seorang pelayan lain.
“Shiff kok, td lagi ke belakang sebentar sama cewek.”
Degh..
Cewek?
Siapa?
Pacarnya?
Aku menelan ludah dan berjalan ke meja terdekat. Dengan sedikit gugup aku menunggu dan berharap kalau cewek itu bukan pacar Alex.
Tak lama Alex keluar dari pintu belakang menuju ke jalan raya. Alex menggandeng tangan cewek itu. Cewek cantik dengan senyum yang manis, matanya bulat seperti boneka, rambutnya yang panjang melambai tertiup angin. Alex membantu cewek itu merapikan rambutnya kemudian membukakan pintu mobil untuknya.
Wajah Alex terlihat bahagia. Apa hubungannya dengan cewek tadi? Apa betul dia pacar Alex? Pikiran-pikiran kalud menyelimuti benakku saat ini. Cup plastik mulai mengeluarkan embun dan mulai mencair. Aku sama sekali tak meneguknya. Seleraku langsung hilang setelah menyaksikan kejadian itu.
“Americano 1.” suara yang nggak asing terdengar di telingaku, mirip suara Julius.
“Pake ini saja.” Dia mengeluarkan tumbler dan meminta pelayan memasukan coffenya.
Ternyata benar dia Julius, orang yang paling nggak ingin ku temui malah bertemu denganku. Aku menutupi mukaku dengan buku pelajaran, berharap dia nggak melihatku ada di sini.
“Kosongkan? Boleh aku duduk di sini?” tanyanya dengan sopan.
“Banyak tempat lain yang kosong.” Aku menolak dan tetap bersembunyi.
“Aku maunya di sini, soalnya ada gadis kecil yang berjanji membayar hutangnya hari ini.” Julius tetap memaksa untuk duduk di depanku. Tangannya membalik buku pelajaranku, ternyata terbalik.
Aku cemberut dan menurunkan buku yang menutupi wajahku.
“Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”
“Apa kau tidak sadar kalau kau terlalu mencolok?” senyuman terkembang di wajahnya yang tampan.
Agh sial, ganteng banget, kalau nggak karena Alex aku pasti sudah meleleh dari tadi.
“Bagaimana kau tahu aku kuliah di sini?”
“Om Kai.”
“Agh Papa.”
“Bagaimana hutangnya?”
“Kau menipuku, aku nggak mau bayar.”
“Hm..bilang saja kau nggak ada uang.” ucapan Julius menohok hatiku, benar saja aku gadis kaya yang miskin.
“Aku hanya ada 15 juta saat ini.” Aku menyodorkan sebuah kartu ATM.
“Kau kira aku butuh uangmu? Uang 50 juta bagiku juga cuman recehan.”
“Idih amit-amit sombongnya.” pikirku dalam hati.
“Lalu kenapa kau memeras gadis malang sepertiku?” Aku melontarkan pertanyaan heran kepadanya.
“Ini.” Julius menunjukan sebuah gambar dari layar ponselnya.
“Kalung? Berlian?”
“Batu red ruby, design yang baru saja aku buat untuk brand perhiasanku yang baru.”
“Lalu apa hubungannya denganku?” sekarang aku semakin heran.
“Aku mau kau jadi modelnya. Bayar dengan tubuhmu.” Julius menegguk kopi dari tumblernya. Kulirik ada gambar Batman dan Robin, kekanakan sekali.
“Jadi yang kau maksud bayar dengan tubuh itu.... jadi model??” Aku meminta kembali penjelasan padanya.
Wajahku berubah menjadi sangat merah sangking malunya.
“Lagian aku nggak memerasmu. Kau sendiri yang berkata mau bertanggung jawab.” Julius menambahkan.
Aku tertohok 2 kali di hatiku... UGH..harga diriku.. malu-maluin..
“Bagaimana?” Dia masih menunggu jawabanku.
“O..oke,” jawabku lirih.
“Sip..aku hubungi saat akan mulai pemotretan.”
“Iya. Baiklah.”
Akhirnya aku menyanggupi permintaan Julius, setidaknya nggak terlalu buruk juga menjadi seorang model.
“Ngomong-ngomong kenapa bawa tumbler sendiri?” tanyaku heran melihat tumbler Batman di depanku, paduan hitam dan birunya terlalueye catching.
“Oh.. aku selalu minum dari tumbler yang ku bawa sendiri.” jawabnya.
“Kenapa?”
“Karena lebih higienis dan bisa mengurangi sampah plastik.”
“Tapikan hanya berkurang 1 biji?” tanyaku heran.
“Kalau sehari aku minum 2x sudah 730 sampah plastik berkurang dalam 1 tahun.”
“Bener juga sih.”
“Bayangin aja kalau ada 5 orang saja yang sepertiku, sudah berkurang 3650 cup sampah plastik.” jawabnya.
Aku mengangguk setuju.
“Setidaknya aku masih bisa mengundur kiamat dua-tiga tahun ke belakang.” jawabnya dengan tersenyum.
“Ahg.. anda hebat.” Aku menepuk tanganku setuju.
Sejenak obrolanku dengannya membuatku lupa kesedihanku hari ini. Aku melupakan Alex.
—MUSE—
Hujan turun dengan deras malam ini. Papa dan Mama lagi asyik mengobrol di ruang keluarga. Arvin meminum jusnya sambil bermain gadget. Aku masih asyik sendiri dengan lamunanku.
“Cewek tadi siapa ya?” pikirku penasaran.
Alex sama sekali tidak terlihat setelah kepulangan cewek itu. Akupun nggak terlalu memperhatikan kapan dia pulang karena sedang asyik ngobrol dengan Julius.
Tring
Nada dering dari ponselku berbunyi.
Alex:
Kau sudah tidur?
What???? Alex chat aku duluan. Seriusan?? Kenapa?
Aku langsung berlari menaiki 2 anak tangga sekaligus untuk bergegas masuk ke dalam kamar.
Lenna:
Belum.
Ada apa?
Duh masa begini aja sih? Tapi aku bingung harus chat bagaimana?
Alex:
Siapa tadi yang
Menemanimu di cafe?
Hah?? Ternyata Alex tahu aku duduk dengan Julius. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa?
Lenna:
Julius, kolega papaku
Nggak sengaja bertemu.
Kamu sendiri bagaimana?
Tadi bersama dengan seorang cewe
Pacarmu ya?
Ciye..
Nulis apaan sih aku??? Bodoh banget..
Alex:
Oh dia
Cuma sepupu kok
Kebetulan bertemu.
Lenna:
Sepupumu cantik sekali.
Alex:
Masih cantik kamu.
Apah??? Demi kerang ajaib milik Sponge Bob... dia bilang aku lebih cantik.
Lenna:
Kau bohong
Mana mungkin
Aku cacat.
Alex:
Ketidak sempurnaanmulah
Yang membuatmu sempurna.
Lenna:
Aku terharu.
Terimakasih. ><
Alex:
Tidurlah.
Nite
Lenna:
Nite Lex.
Aku mendekap ponselku di dada, senyum masih terkembang di wajahku. Aku merebahkan diri di kasur, berharap ini bukan mimpi, aku harap kenyataan ini nggak cepat berlalu.
Serius.. sepertinya aku semakin jatuh cinta.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Bagi Votenya readers ^^