MUSE

MUSE
S2 ~ FEELING



MUSE S2


EPISODE 49


S2 \~ FEELING


\~ Aku begitu mencintaimu, Kalila. Izinkan aku mengisi hidupmu dengan rasa cinta yang tak pernah sempat aku berikan dulu.\~


Aku mengikuti langkah kaki Kalila masuk ke dalam palette cafe. Cafe mungil dengan interior yang cantik, penuh warna-warna lembut dan gambar-gambar yang terlihat lucu.


Aku mengamati sekelilingku, memandang betapa rapi dan terurusnya cafe ini. Sepertinya Kalila hidup dengan baik dua tahun belakangan. Mungkin sisa uang penjualan rumahnya, ia gunakan untuk membangun cafe ini dari nol. Aku cukup bangga pada kemandiriannya.


Aku melepaskan jaketku dan meletakkannya pada meja bulat dari kayu. Meja itu punya finishing terang dan juga glossy, mungkin Kalila memesannya dengan finishing glossy agar mudah untuk dibersihkan.


“Maaf, ya. Lantainya jadi basah semua.” Aku meminta maaf pada Kalila, air yang menetes dari bajuku membuat hasil kerja kerasnya berakhir sia-sia.


“Tak apa-apa, Tuan. Aku bisa mengepelnya lagi nanti.” Kalila berjalan menuju ke kamar mandi.


Fokusku beralih pada gambar-gambar dari goresan pensil arang dan juga pastel minyak. Potret wajah anak-anak sampai binatang tergambar begitu apik. Aku tertarik dengan sebuah gambar pria yang tak memiliki wajah, menunduk dalam diam.


“Kau yang menggambar semuanya?” tanyaku.


“Betul, Tuan.”


“Kau berbakat rupanya.”


Kalila lagi-lagi hanya tersenyum sebagai jawaban.


“Saya mandi dulu Tuan. Anda juga harus segera pulang untuk membersihkan diri.”


“Mandilah. Aku akan menunggumu.”


Aku menelepon Pak Gino, menyuruhnya mengantarkan baju kering dan juga sandal. Aku masih ingin bersama dengannya lebih lama.


“5 menit sudah harus sampai, Pak!”


“Siap, Boss.”


Aku mencium sisa-sisa aroma kopi yang wangi. Namanya juga kedai kopi, sudah pasti aroma wangi kopi selalu tercium pekat.


Aku kembali bertanya-tanya, bagaimanakah kehidupannya selama dua tahun belakangan? Apakah dia sudah memiliki pacar? Bagaimana dengan sekolahnya? Apa dia putus sekolah?


“Hallo, Aleina? Selidiki gadis bernama Kalila? Dia pemilik palette cafe. Aku mau laporanmu besok!” Aku menelpon Aleina agar dia mencarikanku informasi seputar kehidupan Kalila. Aku ingin tahu segala tentangnya, aku ingin mengenalnya lebih dalam.


“Baik, Tuan.” jawab Aleina.


Tak lama setelah mematikan panggilanku, Pak Gino datang, lengkap dengan sebuah paper bag di tangannya. Aku melepaskan celanaku di toilet cafe, menggantinya dengan pakaian kering. Aku memberikan baju basah pada Pak Gino dan menyuruhnya pulang.


Setelah mencuci muka dan mengelap rambut basah dengan handuk kering, aku kembali ke depan untuk memakai baju. Baru tiga kancing ku pasang dan Kalila sudah selesai membersihkan dirinya.


Aroma wangi sabun yang lembut dan rambutnya yang basah kembali membiusku dengan pesonanya. Kenapa aku bisa begitu berdesir hanya karena hal sepele semacam ini? Apakah aku benar-benar mencintainya begitu dalam?


Pikiran-pikiran liar kembali bermain dalam benakku. Aku menginginkannya, aku ingin ******* bibir indahnya dan bermain dengannya.


Aku tepis pikiran bodohku itu dan duduk di depan meja bar. Menunggunya menyeduh secangkir kopi. Aku tersenyum melihat keahliannya dalam meracik minuman penambah semangat itu. Tangannya yang lentik dan mungil dengan cekatan menambahkan susu agar latte art berbentuk daun tergambar di atas foam creamer.


Tanpa sadar aku tersenyum melihat kebolehannya itu, “aromanya wangi, kau pandai sekali membuatnya.”


Kalila tersenyum dan menaruh secangkir kopi dan makanan pendaping di depanku.


“Nikmatilah Tua—akh.., Kak.” ucapnya kikuk.


Kami berdua saling memandang dalam diam. Aroma kopi yang pekat dan suara detik jam dinding menemani pikiran kami masing-masing. Cukup lama kamu terbius dalam pikiran kami, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.


“Kalila, aku tahu kau pasti kaget melihatku saat ini. Tapi percayalah, aku benar-benar merindukanmu. Aku mencintaimu Kalila.” Aku bangkit untuk mendekatinya


Aku ingin dia tahu bahwa aku ada di sini benar-benar karena aku membutuhkannya. Benar-benar karena aku mencintainya, aku menginginkannya.


“Aku ingin tahu semua tentangmu, aku ingin lebih mengenalmu, Kalila.” Aku berdiri di sampingnya, wangi tubuhnya yang manis dan lembut kembali menarikku, seakan-akan menyihirku untuk terus ingin berada di dekatnya.


“Kak Arvin, tolong jangan begini. Kita bahkan tak cukup saling mengenal untuk bisa berkata rindu, apa lagi cinta.” Kalila menolak pernyataan cintaku, membuatku merasakan desiran panjang di dalam perutku.


“Maaf, Kalila. Maafkan aku yang terlambat menemuimu.” Aku menyesal tak mencarinya dari dulu, bukan salahnya meragukan perasaanku kini.


“Kalila, aku benar-benar cinta padamu.” Aku menyahut lengannya, menariknya masuk ke dalam dekapanku. Aku tak menyerah.


Kini tak ada jarak di antara kami. Pandangan mata dan bibirnya yang ranum membuatku tak sabar untuk segera memilikinya kembali. Aku ingin menciumnya, melumatnya sampai suara desahan itu kembali terdengar.


“HUUUAAA.. MAMI!!!” suara tangisan seorang bayi memecah keheningan. Kalila melepaskan diri.


Aku melepaskan dekapanku. Suara bayi itu terus terdengar dan terdengar semakin kencang. Membuatku ingin tahu, siapa yang menangis sekencang itu?


Aku yakin bola mataku pasti membulat dan pupilku mengecil karena terbelalak.


Apa bayi itu anak Kalila?


Apa dia anakku?


Seingatku memang aku tak pernah memakai pengaman saat berhubungan intim dengannya.


“Siapa dia, Kalila? Apa dia anakmu? Anak kita??!” tanyaku penasaran.


Kalau memang benar dia anakku, berarti doa Papa dan Mama terkabul. Aku akan membawa pulang menantu sekaligus cucu untuk mereka.


“Sssstt.. pelankan suaramu, Kak! Kau akan kembali membangunkannya.”


Aku menurut, aku tak mau membangunkan bayi itu. Aku memilih menunggu Kalila selesai menidurkannya lagi. Aku menutup pintu kamar itu pelan-pelan.


Perasaanku begitu berkecambuk, antara bahagia dan sedih. Kalau benar bayi itu anakku, betapa kejamnya aku membiarkan mereka berdua menjalanin kehidupan berat selama ini.


“Argh.. brengsek!!” Aku mengumpat pada diriku sendiri.


— MUSE S2 —


Aku langsung menyahut lengan Kalila begitu ia keluar dari kamar. Rasa penasaran ini bisa membunuhku kalau aku tak segera mendapatkan jawabanya. Sumpah, aku merasa menjadi laki-laki paling bejat di dunia ini kalau sampai benar bayi itu adalah anakku.


“Kalila, katakan apa bayi itu anakmu? Anak kita?”


“Keano anakku, tapi bukan anakmu, Kak.” senyum Kalila.


Ucapan Kalila membuatku tertegun, apa Kalila punya laki-laki lain selain diriku? Apa Kalila benar-benar wanita mu**han yang memang bisa tidur dengan siapa saja?


Shit!! Hatiku begitu sakit!


“Jangan bohong, Kalila!!” Aku menggoncangkan tubuhnya.


“Aku tidak bohong, Kak. Keano bukan anakmu!! Dan jangan coba berpikir macam-macam tentangku!” Kalila seakan-akan bisa menebak isi kepalaku yang menuduhnya sebagai seorang wanita mu**han.


“Lalu dia anak siapa?” tanyaku lagi.


“Dia anak Melody dan Raffa. Dia anak angkatku.” Kalila dengan sewot menepis tanganku dan berjalan kembali menuju belakang bar. Membereskan uang yang ada di dalam laci kasir.


“Anak angkat?” Aku bertanya seakan tak percaya.


“Benar, Kak! Apa perlu aku menelpon Mamanya agar kakak percaya?”


Aku menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Syukurlah Keano bukan anak Kalila, bukan juga anakku. Kalau sampai dia anak kami berdua, aku pasti akan sangat kecewa. Kecewa karena tak bisa menjaga Kalila saat ia hamil, menemaninya bersalin, dan juga membisikkan doa pada telinga anak itu saat ia terlahir ke dunia.


“E... Kak, sudah malam. Sebaiknya anda pulang!! Aku ingin beristirahat” Kalila membukakan pintu untukku.


“Aku akan kembali besok.”


Kalila hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Mungkin dia masih belum yakin pada perasaanku. Bisa saja dia masih menganggap bahwa aku adalah lelaki hidung belang yang mampu meniduri wanita manapun yang aku inginkan. Karena itu Kalila menganggap aku akan kembali memberikan rasa sakit padanya.


Oh... mana mungkin aku melakukannya? Aku begitu mencintaimu, Kalila. Izinkan aku mengisi hidupmu dengan rasa cinta yang tak pernah sempat aku berikan dulu.


“Good Nite, Kalila,” kukecup pelan hidung mancungnya.


“Good Nite, Arvin.”


— MUSE S2 —


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s, setara dengan merk gio**ano.


Thxque.. luv ya.. ❤️