MUSE

MUSE
S3 ~ CERAI



MUSE S3


EPISODE 130


S3 \~ CERAI


\~ Hidup bagaikan tulisan pada selembar kertas, kau bisa menulisnya dengan rapi dan indah. Kau juga bisa menulisnya dengan buruk dan penuh coretan kasar. Semua tergantung dari bagaimana caramu menulisnya.\~


_______________


Aku menyahut kasar jas dari sandaran kursi, tanpa menunggu lagi aku bergegas menuju ke rumah sakit. Aku harus melihat keadaan Kanna, sudah hampir seharian penuh dia sendiri.


Hari ini aku mendekam di kantor polisi bersama dengan si br*ngsek itu. Dia mengaku bahwa putri kami adalah putrinya. Dia bersikeras ingin membawanya pulang dan memakamkannya di desa T, tempat keluarganya berada.


Kami bertengkar hebat dan membuat kekacauan di RS, sampai akhirnya masalahnya harus sampai ke kepolisian. Aku berhasil keluar setelah pengacaraku menyelesaikan semuanya. Secara hukum Leon tak bisa mengalahkanku karena aku adalah suami Kanna yang sah.


— MUSE S3 —


•••


“Kanna...,” namanyalah yang pertama kali ku sebut setibanya di dalam kamar rawat inap.


Namun kamarnya kosong. Aku memutar mataku ke setiap sudut ruangan, berharap menemukan sosok istriku, sosok bidadariku. Tapi Kanna benar-benar menghilang. Ku cari di dalam kamar mandipun tidak ada.


“Darah?” bisa ku lihat tetesan darah yang menetes di berbagai tempat seperti jejak.


Itu pasti darah Kanna, dia mencabut jarum infusnya dengan paksa dan meninggalkan jejak darah pada tiap langkahnya.


“Kanna? Mau apa kau?” rasa khawatir berkecambuk dalam benakku.


Aku berlari mengikuti tetesan darah. Jejaknya berakhir di depan pintu besi pada atap rumah sakit. Malam semakin larut, hanya ada segelintir perawat yang berlalu lalang, yang lain lebih memilih duduk pada pos mereka masing-masing. Tak heran mereka sama sekali tak menyadari kepergian Kanna.


“Semoga belum terlambat, Tuhan.” Aku masih sempat berdoa sebelum mendorong pintu itu sekuat tenagaku.


Benar saja, Kanna sedang berdiri di ambang beton pembatas. Aku bergegas berlari, tanpa menghiraukan apapun aku menyahut tangannya dan menariknya turun.


“Jangan, Kanna!”


“Kenapa kau melarangku?” tanyanya lirih.


“Bukankah kau senang kalau aku tiada? Aku akan menemui putriku. Jadi lepaskan!!”


“Jangan bodoh! Jangan tinggalkan aku!”


“Aku ingin bersama dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya, Zean.” jawab Kanna.


“Kanna!!” hatiku mulai kembali merana, gara-gara aku, putri kami meninggal. Kanna pasti depresi saat ini, kenapa aku begitu bodoh terbutakan oleh nafsu sesaat.


“Kenapa kau melarangku???!!!” teriak Kanan, airnya mengalir deras, ia masih terus meronta di dalam pelukkanku.


“Karena aku tak bisa hidup tanpamu, Kanna.” Aku terus mengelus rambutnya, mencoba untuk menenangkan Kanna dan mengakui kesalahanku.


“Aku bersalah padamu, Kanna. Aku membunuh anak kita,” ciumanku mendarat pada pucuk kepalanya.


“Dia bukan anakmu, Zean.” kata Kanna lirih.


“Apa?”


“Maaf aku membohongimu selama ini. Anak yang ku kandung bukan anakmu. Dia anak Leon.” lanjutnya. Aku masih tak bisa percaya dengan ucapannya, bukankah dulu dia menunjukkan tespack saat hamil anakku?


“Kanna? Kau berbohongkan? Kau pasti bohong!! Kau berbohong karena kau benci padaku. Karena kau melihatku bersama Orela. Benarkan?!” Aku menggoncang tubuhnya, memandang matanya yang terus tergenang oleh air mata. Tanpa sadar air mataku ikut menetes, hatiku begitu sakit.


“Maafkan aku, Zean. Dia bukan anakmu.” Kanna tertunduk.


“Kanna? Kenapa? Kenapa kau begitu tega padaku?” Aku menangis, aku mencintainya dengan sepenuh hatiku.


“Benar, Zean, aku begitu tega padamu. Aku tak punya malu, Zean. Bahkan disaat terakhirku sebelum menikahpun aku masih menyebut nama laki-laki itu.” penuturan jujurnya semakin membuatku merana.


“Jangan diteruskan!” Aku tak tahan mendengarnya, mendengar kisah cinta mereka membuatku muak.


“Aku tak pernah mencintaimu, Zean!!” isak Kanna, suaranya semakin serak.


“Hentikan!! Aku bilang hentikan!!!” Aku mencium bibir Kanna. Melumattnya sampai dia mau diam, sampai dia mau menghentikan kisah cintanya dengan si brengs*k itu.


“Izinkan aku mati, Zean. Izinkan aku melompat dan bertemu dengan anakku.” Kanna masih tetap bersikeras pada pendiriannya, ia terus meronta dalam dekapanku.


“Tidak, Kanna!! Kau istriku. Kau tak berhak pergi dariku.”


“Carilah wanita yang mencintaimu, Zean. Aku tak pernah bisa memberikan cintaku padamu. Sekuat apapun aku belajar mencintaimu, aku tetap tak pernah bisa melakukannya.” Kanna terus terisak.


“Hanya kau satu-satunya, Kanna.”


“Tolong, Izinkan aku pergi, Zean.”


“Kalau bersama dengan pria itu bisa membuatmu mengurunkan niat bunuh dirimu, aku akan melepaskanmu.”


“Zean!! Akupun tak ingin kembali bersamanya, aku hanya butuh anakku.”


“Kanna, kenapa kau begitu egois? Melihatmu meninggalkanku jauh lebih sakit daripada melihatmu bersama dengan dirinya,” ku beri jeda untuk mengambil napas, “kalau kau mati, aku ikut!! Bawa aku juga!!”


“Zean!!” bentak Kanna.


“Aku bersalah padamu, Kanna. Aku bersalah padamu. Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku.”


Darah terus mengucur dari luka di pergelangan tangannya, membuat piyama rumah sakit menjadi merah, dan seakan-akan kami menangis darah.


“Aku akan menceraikanmu, Kanna. Kau bisa hidup bahagia dengan Leon. Tapi ku mohon! Jangan berusaha untuk mati, jangan pergi dariku. Biarlah aku bisa melihatmu dari kejauhan,” pintaku.


“Mengamati senyummu dari tempat jauhpun sudah cukup bagiku.,” lanjutku.


Kanna hanya diam dan terisak, ia menghapus air mataku. Aku langsung memeluknya dengan erat. Melepaskannya adalah keputusan tersulit dalam hidupku. Namun melihatnya depresi dan ingin bunuh diri lebih menyakitkan dari pada bercerai dengannya.


“Zean, kenapa aku tak bisa mencintai laki-laki sebaik dirimu!”


“Tak apa, Kanna. Tak apa. Cukup aku yang mencintaimu. Cukup aku yang sayang padamu, asal hiduplah dengan bahagia.”


Aku melepaskan cintaku padanya. Malam itulah malam terakhir aku menjadi suaminya.


— MUSE S3 —


•••


Akhirnya, seminggu kemudian Kanna telah diperbolehkan pulang. Kami semua menguburkan Leona di sebuah pemakaman umum di kota J. Leon menerima begitu saja permintaan Kanna yang tak ingin jauh dari makam putrinya.


Mereka menamai putrinya Leona, singkatan dari nama Leon dan Kanna. Aku tak bisa memungkiri bahwa itu adalah nama yang cantik. Semoga dia bertumbuh menjadi bidadari yang sebenarnya di surga sana.


Leon sama sekali tak menanggapi keberadaan Kanna dan keluarganya. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari Kanna. Aku juga tak bisa menyalahkan hati Leon yang mulai membenci Kanna. Dia bahkan tak pernah tau kalau memiliki seorang anak sampai anak itu meninggal. Belum lagi hinaan dari keluarga Kanna dan juga bagaimana dia menjalani hidup dengan hati yang penuh dengan dendam selama bertahun-tahun.


Sebenarnya aku hendak marah, tapi akupun punya andil besar dalam meninggalnya anak mereka. Lagi pula sekarang aku bukan suami Kanna lagi. Aku hanya bagian dari masa lalunya, bagian dari kisah hidupnya yang pelik. Tak ada kata yang bisa aku katakan pada Leon selain kata maaf. Seandainya kami bertiga tak pernah terjebak dalam rasa cinta ini, mungkin Leona akan hidup dan merasakan cinta dari kedua orang tuanya.


“Aku antar pulang. Tubuhmu masih terlalu lemah.” Aku menyelimutkan syal pada bahu Kanna. Kanna saat ini terus bersandar di bahu Mamanya.


“Baiklah.” Kanna mengiyakan tawaranku. Aku membantunya bangkit dan menggandengnya masuk ke dalam mobil.


Leon yang bersama tunangannya hanya bisa memandang kepergian kami dengan mata merah dan amarah yang memuncak. Namun Leon tak berkata apapun. Dia telah berjanji juga untuk melepaskan cinta dan juga rasa bencinya pada Kanna asal Kanna bisa hidup saat itu. Dan sepertinya dia memang memegang kata-katanya.


Sungguh ironi yang menyesakkan...,


Hidup bagaikan tulisan pada selembar kertas, kau bisa menulisnya dengan rapi dan indah. Kau juga bisa menulisnya dengan buruk dan penuh coretan kasar. Semua tergantung dari bagaimana caramu menulisnya.


Tulisan pada kertas kami saat ini mungkin memang buruk dan penuh dengan coretan kasar.


Tapi...,


Kedepannya kami akan belajar dari pengalaman dan menulis pada lembar sebaliknya. Sebuah lembaran baru...,


Kali ini dengan guratan yang rapi dan indah.


— MUSE S3 —


Semangat Kanna.


Thanks Zean.


Yuhuu Leon.


Selamat idul fitri semuanya


Mohon maaf lahir dan batin.


Maaf ya, novel saya banyak kekurangannya.


Semoga nggak bosan-bosannya membaca MUSE dan juga menikmati alur ceritanya.


Tolong kasih bintang 5


Bantu saya dengan comment dan like. Supaya MUSE bisa dipasang di beranda.


Comment titik pun boleh. 🤭🤭


Pliss banget nget nget nget....


Author rengginan berharap jadi author femes. 🤣