MUSE

MUSE
S6 ~ ALUR PEMBUNUHAN



MUSE S6


EPISODE 25


S6 \~ ALUR PEMBUNUHAN


\~ Aku hanya ingin bahagia, tolong jangan melakukan kesalahan yang sama denganku, Gabby. Dan maafkan aku ...\~


_______________________


“ADRIAN!! Teganya kau!!” Gabby menjerit histeris saat mengetahui siapa dalang dibalik pembunuhan Krystal. Orang itu tak lain adalah sahabatnya sendiri, orang yang paling dekat dengan dirinya.


“Kenapa? Kenapa, Adrian? Huhuhu ...! Padahal aku mempercayai semua ceritamu.” Gabby menangis, ia terisak keras, masih belum bisa menerima semua kenyataan ini, mereka sudah bersama lebih dari 6 tahun, mereka bertiga.


“Why?? Kau terlalu bodoh, Gabby. Percaya begitu saja ucapanku, semua ceritaku itu kebohongan belaka. Hanya kelurgaku yang tahu kamar itu tak ada CCVT -nya! Jadi sudah pasti pelakunya hanya ada di antara aku dan Ivander.” Adrian memutar kursinya, duduk kembali di depan Gabby. Ia memainkan ujung pisaunya di atas dada sintal Gabby, membuat setetes darah menetes perlahan.


“Apa alasanmu membunuh Krystal dan memfitnah Ivander?”


“Kau yakin mau mendengar alasannya?” Adrian mencium pipi Gabby dengan begitu mesra, Gabby membuang muka, tak sudi merasakan kulit Adrian yang menyentuh wajahnya.


“Katakan Adrian!! Katakan!!” Gabby memandang Adrian dengan nanar.


“Baiklah, dengarkan baik-baik kenapa dan bagaimana caraku membunuhnya.” Adrian mengecup lagi pipi Gabby sebelum bercerita.


(Real Flashback on)


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat pada pipi Adrian, hari ini RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) yang diadakan pada hotel keluarga miliknya. Zean memberikan semuanya untuk Ivander. Mira yang merasa kecewa melampiaskannya pada Adrian, anaknya.


“Dasar anak tak berguna! Percuma aku berharap banyak padamu! Kini bersiaplah menjadi gelandangan!! Anak haram itu pasti akan mengusir kita!” Mira meninggalkan Adrian dengan geram.


Adrian mengendurkan dasinya dengan sebal, ia begitu membenci Ivander yang telah mendapatkan semuanya, merebut segalanya dari Adrian.


“****!!” umpat Adrian, ia mengacak-acak rambutnya, memukul dinding kamar mandi, dan menangis.


Tak lama Adrian bisa mengotrol emosinya, ia keluar dari kamar mandi, pada tikungan koridor lift baru saja terbuka, Krystal keluar dari pintu. Mereka mengobrol selayaknya teman pada umumnya. Sampai Ivander datang dan Krystal memilih untuk bersamanya.


Adrian berdecis, baik Ivander maupun Krystal sama saja. Keduanya sangat memuakkan di mata Adrian. Yang satu arogan dan mata keranjang, yang satu naif dan buta karena cinta.


Sungguh pemandangan yang memuakkan dan menyebalkan. Ingin rasanya aku mengubur mereka berdua bersamaan. Pikir Adrian sebal, Adrian yang saat itu baru saja kehilangan segalanya menjadi pria yang penuh emosi.


“Jangan bermain-main dengan Ivander lagi, Krystal! Kaukan tahu bagaimana perasaan Gabby kepadamu?” geram Adrian, ia menggandeng Krystal dengan kasar. Mereka berbelok pada koridor sepi arah pintu emergency exit.


“Auch, sakit, Adrian! Lepasin!” Krystal mengibaskan tangannya sampai genggaman Adrian terlepas.


“Jangan nekat dan menghubungi, Ivander, lagi.” Adrian memperingatkan Krystal, ia tak ingin Krystal kembali menyakiti hati Gabby, Adrian memiliki perasaan yang tak tersampaikan kepada Gabby.


“Kenapa kau begitu perhatian padaku, Adrian? Apa kau menyukaiku?” tanya Krystal, ia maju selangkah, membuat tubuhnya semakin lekat dengan tubuh Adrian. Krystal mengelus naik dada bidang Adrian sampai ke pundaknya.


“Jangan coba merayuku, Krystal.” Adrian menatap tajam pada Krystal, muak dengan kelakuan murahan Krystal.


“Kau semakin tampan Adrian, semakin hari kau semakin mirip dengan Ivander. Apa kau mau menggantikannya? Memanjakanku?” bisik Krystal nakal pada telinga Adrian. Mungkin pribahasa yang bisa melukiskan perasaan Krystal saat itu adalah tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada Ivander masih ada Adrian, wajah dan perawakan mereka mirip.


Adrian menatap nanar Krystal, ia begitu membenci Ivander, dan lagi-lagi ada orang yang membandingkannya dengan Ivander. Muncul pemikiran dalam hati Adrian, menyingkirkan keduanya dalam satu kali tepukan. Tanpa ragu Adrian mengajak Krystal cek in pada kamar 1405, kamar yang selalu dipakai oleh keluarga Zean saat menginap di hotel itu. Siang itu mereka bercumbu, merasakan kenikmatan dan persatuan yang hangat. Penuh nafsu serta gairah, tak ada cinta.


“Jangan ceritakan hal ini pada Gabby, OK!” Adrian memakai kembali pakaiannya. Adrian tahu perasaan Gabby terhadap Krystal, jadi tak mungkin ia menyakiti hati Gabby.


“OK!” Krystal melakukan hal yang sama, ia berbenah diri.


“Bye, Adrian.” Krystal mengecup bibir Adrian sebelum meninggalkan kamar 1405. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tak sengaja melihatnya saat pintu lift tertutup. Adrian yang juga ingin turun bergegas membuka pintu lift, ia masuk ke dalam.


“당신은 누구입니까? 왜 그와 함께있어?” tanyanya dalam bahasa Korea.


(Siapa kau? Kenapa kau bisa bersamanya?)


“Krystal? 나는 그녀의 연인이다!” jawab Adrian.


(Krystal? Aku kekasihnya.)


Jae Hyung terkejut, Adrian bisa berbahasa Korea dengan fasih. Kini mereka bercakap, Adrian mengatakan pada Jae Hyung bahwa Krystal tak hanya punya satu orang kekasih di Indo.


“Kau berbohong! Aku tunangannya.”


“Kau telah ditipunya, kekasihnya adalah kakakku, kalau tak percaya datang saja ke kamar 1405 malam ini.” Adrian menyeringai.


“Kau brengsek!!”


“Oh, ya, tolong jangan bilang pada siapapun kalau aku juga mencicipi kekasih kakakku! Sebagai gantinya aku akan selalu menyediakan kamar suite untukmu menginap saat stay di Indo.”


“Bagaimana kau tahu pekerjaanku?”


“Krystal yang menceritakannya. Sudah, berpisahlah dari Krystal. Dia milik kakakku! Tak ada kesemptan untukmu.” Adrian meninggalkan Jae Hyung yang merosot lemas di dalam lift, padahal niatnya untuk mencintai Krystal begitu tulus.


Jae Hyung curiga saat Krystal tak kunjung kembali saat makan malam, ia pamit pada Gabby untuk ke toilet. Namun, ia berlari, membuktikan ucapan Adrian. Menuju ke kamar 1405, menempelkan telinganya pada daun pintu. Samar-samar memang ada suara rancauan Krystal bersama seorang pria. Hati Jae Hyung hancur, kini dia hanya tinggal menunggu Krystal mengatakan yang sesungguhnya kepadanya, sampai akhirnya mereka berpisah.


Waktu berjalan dengan cepat, Adrian semakin membenci Ivander karena semena-mena padanya. Ivander tak pernah mengizinkannya unjuk gigi pada Zean. Menurunkan status direkturnya pada jabatan setingkat manager saja. Adrian semakin geram, ia berjanji akan menghabisinya dan merebut semuanya dari Ivander. Terbesit kembali pikiran untuk menyingkirkan Ivander. Mengatur adegan itu.


Ivander kembali menolak Krystal untuk kedua kalinya. Alasan kehamilan pun tak bisa menempatkan Krystal pada posisi pertama di dalam hati Ivander. Dua hari sebelum kematiannya, Krystal minum dibar bersamaan dengan Adrian. Mencurahkan isi hatinya, supaya menjadi lebih baik.


Akhirnya sebuah kesempatan muncul, menyingkirkan Ivander dan juga Krystal. Mengubur keduanya secara bersamaan.


“Kakakmu memang b4jingan, Dri!!” Krystal menenggak habis isi di dalam gelas mungilnya.


“Kan sudah aku bilang! Kau yang terlalu bodoh!” ledek Adrian.


“Aku bahkan melepaskan pria sebaik Hyung demi dirinya.” Krystal menaruh dagunya di atas meja bar, kecewa.


“Kau yang bermain api, Krystal. Jangan kecewa, sudah menjadi resiko untukmu terbakar habis.” Adrian meminum bir langsung dari botolnya.


“Kau sepertinya tak mau membantuku?” Krystal mencibir.


“Baiklah aku akan membantumu, besok aku akan buat janji pada Ivander di kamar 1405, kau pakailah baju yang paling sexy dan rayu dia kembali.” Adrian tersenyum.


“Kau memang sahabat terbaikku.” Krystal mengecup pipi Adrian sebelum bergegas pergi.


“Krystal!!” Panggil Adrian.


“Kau tahukan kalau aku begitu mencintai Gabby?” Adrian menghampirinya.


“Tahu.” Angguk Krystal.


“Relakan dia bersamaku!” Adrian menepuk pelan pipi Krystal, Krystal kebingungan.


“Baiklah, terserah kau saja. Aku hanya cinta pada Ivander.” Krystal tersenyum, ia mengakhiri perjumpaannya dengan Adrian malam itu. Adrian tertawa kecil, tak menyangka rencananya berjalan terlalu mulus.


Esoknya Krystal cek in berkat bantuan Adrian, di kamar 1405. Adrianpun diam-diam membajak ponsel Ivander, mengirimkan pesan pada Krystal untuk menunggunya malam ini di kamar itu. Lalu Adrian menghapus chatnya, Ivander terlalu banyak mengirim chat pada para wanitanya, tentu saja menghapus salah satunya tak akan berpengaruh banyak.


ADRIAN:


Jangan lupa pamit pada Gabby


Jangan kecewakan dia.


KRYSTAL:


Sudah kok.


Thanks, Dri.


Tiga jam sebelum kematiannya Krystal bercerita pada Gabby. Ia akan kembali pada Ivander lagi, akhirnya dia tak harus meminum obat tidur karena kebahagiannya telah kembali.


Ting Tong!


“Itu pasti Ivander.” Krystal meloncat riang dari tempat tidurnya. Ia hanya memakai pakaian dalam sexy, secepat kilat ia membuka pintu kamarnya.


“Hai!”


“Adrian??? Di mana Ivan ... hemp ...!” Adrian membekap mulut Krystal, membuat wanita itu kaget sekaligus bingung.


Adrian mengunci pintu kamar, ia menghempaskan tubuh Krystal sampai membentur lantai, membuat kepalanya berdarah. Dengan segera Adrian mencari botol berisi obat tidur, ia meminumkannya pada Krystal, membut gadis itu mengenggaknya dengan paksa.


“Sorry, Krystal, plan B!!” Bila Ivander tak berhasil di penjara, setidaknya Krystal akan dianggap telah membunuh dirinya sendiri.


“Uhuk ... uhuk ... uhuk,” batuk Krystal, ia gelagapan karena perlakuan Adrian.


“Apa yang kau lakukan Adrian?! Apa yang ingin kau lakukan padaku?!” Krystal mundur beberapa kali, ia ketakutan.


“Kemari kau j4lang!!” Adrian menarik kaki Krystal, ia memukul tubuh wanita itu beberap kali agar tidak memberontak.


Begitu lemas, Adrian menyeretnya ke kamar mandi, membersihkan semua cap sidik jarinya. Adrian mengambil dan memakai sarung tangan karet sebelum menarik kedua kaki Krystal.


Krystal masih menggeliat pelan, ia ketakutan, namun tubuhnya terlalu lemas untuk melawan.


“Ke—kenapa, Adrian? Aku percaya padamu?!” Krystal tergagap, ia tak percaya akan meregang nyawa di tangan sahabatnya sendiri.


“Karena kau Gabby tak mau membuka hatinya padaku, Krystal! Dalam otaknya hanya ada dirimu!! Hanya ada namamu!!”


“Kau menyalahkanku karena hal itu?” Krystal menangis, seakan tak percaya dengan pendengarannya.


“Tidak hanya itu, aku begitu membenci Ivander! Aku ingin membuatnya mati dengan memanfaatkan perasaan Gabby padamu! Bagaimana? Ironi bukan?” Adrian tertawa lantang.


“Kau benar-benar iblis, Adrian.” Jantung Krystal berdetak begitu cepat dan keras, ia semakin ketakutan.


“Benar, aku iblis!! Kalian yang membuatku jadi seperti ini! Tunggulah, Ivander akan menghadapi ajalnya, Gabby akan membunuhnya untuk membalaskan kematianmu. Dan aku akan mendapatkan segalanya, perusahaan, kepercayaan Ayahku, dan juga cinta Gabby.”


“Kau gila!!” umpat Krystal, ia berusaha merangkak menjauh dari Adrian.


“Aku akan menguburkan Ivander bersama denganmu! Bukankah kau menyukainya?” Adrian menjambak rambut Krystal.


“Sa—sakit, Le ... paskan,” iba Krystal.


“KATAKAN KAU MENYUKAINYA!!” bentak Adrian.


“Lepaskan, Adrian!!” Krystal menangis.


Adrian menjambak rambut Krystal, menyeretnya. Krystal meronta kesakitan, ia terus menangis dan memohon ampun pada Adrian. Adrian tak mempedulikannya lagi. Ia mengambil pisau dari pantry, pisau itu sudah ia siapkan pagi ini. Tajam dan bergerigi, mengiris langsung ke dalam dadanya.


Adrian membekap mulut Krystal, dengan kejam ia mengayunkan pisaunya, menancap dengan sempurna di tengah-tengah dadanya. Darah muncrat, membasahi lantai dan juga sofa, Krystal kejang, tubuhnya menggelepar tak berdaya dan jatuh ke atas sofa, ia meregang nyawanya perlahan-lahan, merasakan rasa sakit itu sampai darahnya habis.


Adrian bergegas turun dari kamar melalui emergency exit. Ia menarik napas sepanjang mungkin, membuang semua bukti kejahatannya pada pembakaran sampah. Dengan segera ia berlalu menuju ke pintu depan. Berlagak tidak terjadi apa-apa, menyapa semua pegawai hotel seperti biasa, naik lift, dan menuju ke kamar 1405. Ia pura-pura membawa dokumen yang diminta Ivander.


Sesampainya di sana, Adrian menghubungi kepolisian dan juga Gabby. Samar-samar Krystal masih bisa mendengar suara Adrian yang melimpahkan semua kesalahannya pada Ivander.


Aku hanya ingin bahagia, tolong jangan melakukan kesalahan yang sama denganku, Gabby. Dan maafkan aku ...


Lalu dengan penuh penyesalan Krystal menghembuskan napas terakhirnya.





Seperti yang Adrian duga, Gabby masuk ke dalam rencananya. Ia berharap untuk menyingkirkan sendiri Ivander dengan tangannya. Sedangkan Adrian, bermain peran sebagai adik dan sahabat yang baik, mencegah Gabby bertindak gegabah, padahal dalam hatinya ingin segera Gabby menghabisi Ivander.


Namun, sekali lagi Adrian menelan pil kekecewaan. Bukannya membenci Ivander, Gabby malah mencintai pria itu. Lalu bukannya berhenti untuk menyelidiki kematian Krystal, Gabby malah semakin gencar. Ia bahkan mencari foto-foto bukti, yang paling menonjol adalah bukti tancapan pisau, menyerong ke kiri, bukan ke kanan. Itu berarti orang yang menancapkannya punya tangan kidal, dan Adrian menulis dengan tangan kiri. Ia harus segera menyingkirkan Gabby sebelum menemukan kebenaran ini dan semakin merusak namanya.


(Real Flashbak off)


“Jadi begitulah ceritanya, aku mencintaimu, kau mencintai Krystal, Krystal mencintai Ivander.” Adrian berjongkok di depan Gabby. Gabby menangis tersedu-sedu, ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit di dadanya saat Adrian menceritakan dengan detail bagaimana caranya membunuh Krystal.


“Kau b4jingan!!”


“Benar, aku memang b4jingan. Kau salah satu yang membuatku menjadi seperti ini.”


“Jangan salahkan orang lain atas kekuaranganmu sendiri, brengsek!!” Gabby meronta dari ikatannya, rasa-rasanya ingin menghajar Adrian dengan tangannya sendiri.


“Jangan buang-buang tenagamu, Gabby. Simpan saja untuk mengucapkan perpisahan denganku.” Adrian mengangkat pisaunya, Gabby mendelik.


“Harusnya aku tahu! Kau kidal, pisau itu menancap serong ke kiri. Aku terlambat mengetahuinya.” Gabby terisak, menyadari kebodohannya.


“Sudah terlambat, Gabby. Sudah terlambat! Menangislah di neraka, Sayang.” Adrian mengecup kening Gabby.


“Adrian, tolonglah, berhenti melakukan semua kebodohan ini. Kau hanya akan semakin terperosok pada jurang penyesalan.” Gabby mencoba meraih perhatian Adrian, ia mengulur waktu.


“Penyesalah? Aku sudah tak memilikinya sejak Ivander merebut segalanya dariku. Padahal aku berharap setelah kau menyingkirkan Ivander aku akan melamarmu, Gabby!! Tapi kau mengkhianatiku!! Kau membuatku kecewa! Dengan mudahnya kau jatuh cinta padanya!” tutur Adrian, Gabby bergeleng pelan.


Adrian mengangkat tangan kirinya, ia menggenggam erat pisau dan menyeringai ke arah Gabby.


“Akan ku buat Ivander menemanimu juga!!” Adrian mengayunkan pisaunya.


“KYYAAA!!!!” teriak Gabby.


— MUSE S6 —


Like


Comment


Vote


Sya smpai malas nulis, karena ga ada feedback semangat dari kalian gaes 🤧🤧😭😭😭😭