MUSE

MUSE
S7 ~ TERTIDUR



MUSE S7


EPISODE 9


S7 \~ TERTIDUR


Leoni mendengar deruan detak jantung dan suara napas Levin yang berat dan kasar. Ternyata benar apa yang tadi pagi ia gumulkan. Levin, bocah remaja ini, sangat tampan.


________________


Hati Leoni berdesir saat mengingat peristiwa barusan. Tak dipungkiri kejadian itu adalah kejadian yang menakutkan, dia bisa saja kehabisan napas dan meninggal. Andai saja Levin tak menolongnya. Leoni pasti meninggal. Meninggalkan kedua orang tuanya dengan kesedihan yang begitu besar. Leoni menyesal, kenapa dia harus memprovokasi Jesca sampai membuat gadis menyebalkan itu menyakiti dirinya.


Leoni meringis saat menggerakkan pergelangan kaki, rasanya masih berdeyut, linu. Tendangan Jesca cukup menyakitkan, apalagi memar yang di dapatnya kemarin belum sembuh betul.


“Arg, sialan, kenapa aku selemah ini sih?!” Leoni berdecak sebal, lantas bukannya bercerita pada dokter kalau kakinya sakit, Leoni malah menyembunyikannya. Leoni mungkin takut kalau dokter akan menceritakan hal ini pada orang tuanya. Leoni tak ingin membuat papa dan mamanya khawatir karena semua hal ini terjadi juga karena mulut ember Leoni sendiri. Belum lagi ditambah tempramental papanya yang beneran mirip hewan buas, bisa-bisa Jesca dan Levin tercabik, mati mengenaskan.


“Sembodoh, ah.” Leoni berkelung dalam selimut putih kas klinik kesehatan.


Desir angin lembut masuk melalui kisi-kisi jendela. Sayup-sayup mata Leoni mulai redup, lelah karena terus meronta. Terlepas dari rasa takut, tenaganya memang habis terkuras. Beberapa menit kemudian Leoni mulai terlelap.


Bulu mata Leoni terlihat lentik, memberikan bayangan garis tegas pada tepi kelopak mata. Bibirnya sedikit pucat karena lelah, ada dengkuran terdengar saat Leoni tidur. Tidur Leoni yang kelewat nyenyak terusik dengan jamahan pelan pada kakinya. jamaahan itu terasa Dingin saat menyentuh kulit, Leoni langsung mengerjap, terbangun, rasanya aneh. Tangan itu masih mencekal pergelangan kaki Leoni dan mengelusnya pelan.


“Ka—kamu! Mau apa?” tanya Leoni kaget.


“Kenapa kau tidak bilang kalau kakimu terluka?” sergah Levin, Leoni langsung mendelik galak pada cowok tengil itu. Ternyata Levinlah yang bertandang siang-siang sebelum jam istrirahat ke ruang Klinik.


“Diem!! Jangan keras-keras ngomongnya!! Ntar kakak dokter itu denger!” Leoni membekap mulut Levin.


“Ya emang kenapa kalau dia denger?! Ya malah baguskan? Ini bengkak hlo, Singa!! Musti diobati.” Levin melepaskan diri dengan mudah dari bekapan Leoni.


“Jangan!! Bisa gawat kalau papa mama ku sampai tahu,” cerca Leoni.


“Kenapa?” levin tak habis pikir.


“Eum ... nanti kau bisa dibunuh sama papa.”


“Kok???” Levin syok, masa iya dibunuh, bukankah dia yang menolong Leoni tadi?


“Habisnya, habisnya ...,” terbata, Leoni kehabisan kata untuk menjelaskan.


“Habisnya apa? Bilang deh!! Atau aku sebarin video ini.” Levin mengambil ponsel dari saku celana, ia menghidupkan sebuah video yang langsung membuat mata Leoni membulat.


“Apa itu? Hah? Siapa cewek jorok itu?! Masa aku?” Leoni menutup mulutnya, gadis di dalam video terlihat sedang tidur nyenyak sambil mendengkur dan ehem ... ileran.


“Hehehehe,” kekeh Levin bangga. Sekarang ada satu lagi ide buat memojokkan Leoni.


“Brengsek, sini deh! Hapus atau kalau bggak nggak ...?!!”


“Atau nggak apa?!” Levin menjulurkan lidahnya.


“Atau ... nggak ... apa ya?!” Leoni berdesis sebal, tak ada ancaman baginya supaya Levin mau menghapus file video itu.


Hancur sudah image dan martabatnya. Susah payah hidup di sekolah, harusnya bisa menikmati masa-masa indah remaja. Kini, mau tak mau dia harus menanggung malu bila video itu menyebar luas.


“Kumohon jangan, Levin. Aku lakukan apa saja OK!! Tapi hapus filenya.” Leoni mencoba meloncat dengan sebelah kaki demi merebut ponsel dari tangan Levin. Tapi tak sampai, Levin mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Bilang dulu, ceritakan! Apa yang terjadi, kenapa namaku terseret?!” Levin mencekal pinggang Leoni dengan tangannya yang lain, mau tak mau tubuh mereka bersentuhan, hanya terpisah tipisnya pakaian seragam.


“Itu ... duh,” ucap Leoni ragu.


“Waktumu tiga detik, atau aku sebar saat ini juga, satu ..., du—“


“Ack!! Stop baik, baik, aku cerita.” Leoni membungkam mulut Levin, kini pandangan mereka bertemu, dalam satu garis. Wajah Levin terlalu dekat, terlalu menyilaukan.


“Jesca bertanya padaku apa aku menyukaimu. Aku menjawab iya aku menyukai Levin. Lalu gadis gila itu menendangku dua kali dan aku terjatuh. Tanpa aku sadari kakiku yang memar saat tercebur got kemarinlah yang terkena tendangan itu. Rasa linunya semakin kuat dan bertambah saat menyentuh dinginnya air. Lalu kakiku kram dan aku tenggelam. Jadi kalau Papaku tahu, dia pasti akan mencari Jesca dan Levin. Karena nama kedua orang itu yang ada di dalam ceritaku,” tutur Leoni panjang lebar. Levin melongo.


“Bisa-bisanya kau pakai namaku untuk memprovokasi Jesca?” Levin menatap tajam ke arah Leoni, membuat Leoni sedikit tak enak hati.


“Habis dia menyebalkan. Sudah tahu kita tak ada hubungan apapun. Kenapa terus menuduhku seakan-akan kau beneran suka padaku dan aku suka padamu?!” Wajah Leoni bersemu kemerahan. Agak aneh juga bercerita pada Levin kalau dia menyukainya.


“Dasar! Kalian para gadis memang gila ya. Bisa saling bunuh hanya karena ucapan?” Levin menggelengkan kepalanya.


“Sekarang hapus videonya.”


“Nggak jadi deh,” lirih Levin,


“Jangan begitu donk! Kaukan sudah janji, janji pria itu harga mati.” Leoni mengatakan pedoman milik Papanya.


“Kau benar; tapi kali ini kalian para gadis sangat keterlaluan.” Levin bergeleng, menolak permintaan Leoni.


Leoni menggigit bibirnya sebal, apa lagi yang harus ia lakukan untuk menghapus File itu? Tak ada ide yang terbesit.


“Dasar, padahal aku sudah menolongmu! Kemarin aku juga sudah menolongmu naik dari got, pagi ini aku juga sudah menolongmu dari rundungan Jesca. Lalu siang ini, aku juga menolongmu dari tenggelam!! Dan kau, bahkan tak mengucapkan kata terima ka—“


“Terima kasih,” sela Leoni, “terima kasih sudah menolongku. Terima kasih telah membuatku hidup kembali.” Leoni memeluk Levin, tak peduli dengan kakinya yang memar, tak peduli juga dengan keadaan mereka saat ini.


Bagaimana caranya merebut ponsel itu? Pikir Leoni. Hanya keinginan untuk merampas dan menghancurkan bukti saja saat ini yang melayang dalam benaknya. Leoni tak sadar, dia benar-benar memeluk Levin. Membuat jantung Levin berdebar tak karuan dan wajahnya menghangat. Merah merona.


“Kau mau apa, Singa?”


“Hah?”


“Kau memelukku, Singa!!”


“Hah?”


“Ini terlalu dekat.” Levin menelan ludahnya berat saat wajah Leoni mendongak ke atas dan membuat wajah mereka bertemu. Paling jaraknya hanya satu kilan.


Leoni mendengar deruan detak jantung dan suara napas Levin yang berat dan kasar. Ternyata benar apa yang tadi pagi ia gumulkan. Levin, bocah remaja ini, sangat tampan.


...— MUSE S7 —...


...Like dan comment gaes...


...Follow IG @dee.Meliana...