
MUSE S3
EPISODE 97
S3 \~ KELUARGA
\~Ia mengusir semua masalah demi masalah yang menghimpit hatiku. Memberikan kekuatan baru. \~
________________
Aku bangkit, menata lagi baju dan juga rambutku. Keluar dari ruangan gelap itu dan berjalan menuju toilet. Setelah memastikan wajahku tak lagi kacau aku kembali ke tempat Zean saat mengobrol dengan pamannya tadi. Aku melihat Zean tengah bersandar seorang diri sambil melihat katalog karya.
“Apa sudah selesai, Zean?” Aku mendekatinya perlahan.
“Sudah, Kanna. Ada barang yang kau inginkan?” Zean mengalihkan fokus pandangannya kepadaku.
“Tidak ada. Aku tidak tertarik,” tolakku, aku tak ingin berhubungan lagi dengan Leon saat ini.
“Ok, kita bisa cari di tempat lain.” Zean menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
•
•
•
Zean langsung melumatt bibirku begitu kami tiba di depan rumah, ia menciumku begitu lekat, dalam, dan tanpa jeda. Tangannya terus memeluk dan mengelusku tubuhku. Ciumannya berpindah pada sekitar leher, dan terus turun ke arah dada. Aku langsung mendorongnya menjauh begitu teringat akan kiss mark yang diberikan Leon siang tadi.
“Stop, Zean!! Jangan,” tolakku dengan panik.
“Kenapa? Aku hanya ingin sedikit bermesraan denganmu.” Zean sedikit menarik tubuhnya, memberiku sedikit jeda untuk mengatur napas dan alasannya.
“Orang-orang bisa melihat kita.”
“Biasanya juga tidak apa-apa? Lagi pula kaca mobilku pakai lapisan film yang gelap, tak akan ada yang melihat kita, sayang.”
Zean tak menunggu alasanku, ia kembali memeluk pinggangku dan menciumku lagi. Aku kehabisan alasan, namun Zean tak boleh tahu akan hal ini.
“Kanna!!!” panggilan Mama terdengar lirih dari luar mobil.
“Zean..., Zean..., Mama kemari.” Aku menepuk punggungnya, mencoba menghentikan kelakuannya.
Zean langsung menghentikan cumbuannya dan merapikan rambut. Dalam hati aku merasa lega. Untung saja Mama datang, jadi aku tak perlu menolaknya dan mencari-cari alasan lain.
“Mama...,” panggilku saat turun dari mobil.
“Nak, Zean.” Mama menyapa Zean.
“Hallo, Ma.” Zean turun untuk menyapa Mama, mereka bercipika-cipiki dan saling menebar senyum.
“Mau masuk dulu?” tawar Mama.
“Tidak, Zean masih harus kembali ke kantor.” tolak Zean dengan halus.
“Kembali ke kantor?” Aku berdencis dalam hati. Itu hanya alasannya menghindari keluargaku. Nyatanya dia masih ada waktu untuk mencumbuku. Yah, aku tak bisa menyalahkan Zean bertindak seperti itu, sih. Keluargaku memang memuakkan, dirinya pasti juga mulai jenuh dengan renggekan dari keluargaku.
“Aku pulang dulu, Kanna.”
“Hati-hati, Zean,” ku majukan pipiku agar dia bisa leluasa memberikan kecupannya.
“Bye.”
“Bye.”
Kami saling beradu lambaian tangan sebelum Zean kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia meninggalkan kompleks perumahan, berbelok pada ujung jalan dan akhirnya menghilang.
“Tumben Mama sampai keluar?”
“Mama mau bicara sesuatu, mendesak.” jawabnya. Mama memutar tubuhnya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Aku sempat menghentikan langkahku dan memandang pada rumah kosong di samping rumahku. Dulunya itu rumah Leon, dia adalah tetanggaku. Kami sering bermain bersama saat masih kecil. Rumah itu masih terlihat terawat walaupun tak berpenghuni. Semua jendelanya terlihat gelap, hanya lampu teras yang menyala.
“Ayo, Kanna!” ajak Mama.
“Iya, iya, ini jalan,” gerutuku.
Aku langsung disambut dengan kehadiran kakak laki-laki pertamaku begitu pintu kayu terbuka. Wajahnya menegang, matanya memerah, dan rambutnya acak-acakkan.
“Kali ini masalah apa lagi?!” pikirku gusar, tak sekali dua kali kakak pertamaku ini kembali ke rumah kami untuk meminta pertolonganku.
“Kakak ditipu, Kanna. Modal yang kau berikan kemarin dibawa lari.” Kak Reza bangkit dan berdiri di depanku.
Hah, aku bosan mendengarnya, lagi-lagi mau meminta uang. Mana alasannya hanya itu-itu saja. Nggak Papa, nggak Mama, nggak ke dua kakak laki-lakiku. Semuanya sama!! Mereka hanya datang kepadaku saat butuh uang, memangnya aku mesin ATM? Kalau Papa dan Mama okelah aku bisa mengerti, sudah kewajiban anak memberi pada orang tua. Tapi kakak-kakakku ini sudah keterlaluan! Mereka hanya tau meminta, meminjam, dan tak pernah belajar dari kesalahan.
“Please, Kanna. Hanya 50 juta. Kakak harus membayar cicilan bank rumah, juga mobil.” renggeknya.
“Dari mana aku punya uang 50 juta, Kak?!” tanyaku kesal.
“Bagaimana kau tidak punya? Tas yang kau pakai saja harganya hampir 30 juta! Belum sepatumu!! Lalu kalungmu...,” mata Kak Reza berbinar saat melihat kalung pemberian Zean. Aku langsung menggenggam bandulnya untuk melindungi dari ketertarikan Kak Reza. Kalau dia tahu harga kalung ini, bisa gawat.
“Tolonglah Kakak, Kanna. Akan Kakak kembalikan bulan depan.”
“Kau selalu berkata seperti itu, Kak! Tapi mana? Mana? Uangku tak pernah kembali!!” Aku akhirnya meninggikan suaraku.
“Tolong, Kanna. Hubungi Zean, dia pasti bisa meminjamkan uang pada kakak.”
“Tidak, itu memalukkan!!” tolakku lagi.
“Dasar adik tak tahu diri, kau berlagak sombong setelah jadi cantik, Hah!!!” Kak Reza berteriak dan hendak menamparku. Beruntung Mama langsung menghentikan aksi Kak Reza yang mulai kesetanan.
“Kak Reza dan Kak Rezi sama saja!! Sama-sama SAMPAH!!!!” umpatku sebelum masuk dan membanting pintu kamar.
Aku mengunci pintu kamar dan menangis. Bagi mereka aku hanyalah sapi perah, bekerja untuk menghidupi gaya hidup mereka yang berlebihan. Kenapa mesti mencicil mobil kalau memang tidak mampu membayarnya? Kenapa mesti membangun usaha kalau sama sekali tidak mengerti seluk beluk bisnisnya???
Bodoh! Sombong! Ceroboh! Itulah kata-kata yang bisa aku gambarkan untuk mereka.
Baik Kak Reza dan Kak Rezi dua-duanya sama saja. Mereka hanya datang menjenguk orang tuaku ketika mereka butuh uang. Mereka mentok dan tak ada lagi jalan keluar. Mama sampai menghabiskan tabungannya, semua dana pensiun Papa yang seharusnya cukup untuk hidup mereka berdua sampai tua kini telah habis.
Bodohnya mereka!! Terperdaya anak sendiri.
Dan akhirnya kini aku yang harus bekerja untuk mereka, menghidupi mereka. Bahkan mereka memaksaku menerima lamaran Zean karena dia kaya raya. Bisa membantu keluarga, bisa menafkahiku dengan berlimpah, bisa menjadi sandaran Kakak-kakakku.
Hah... , Apa bagi mereka aku ini hanyalah barang dagangan?!
Shit!!! Seandainya aku tak secantik dan selangsing ini?! Apa Zean mau menerimaku?! Bagaimana nasibku besok kalau aku tak lagi cantik?
Tok... Tok... Tok...
Pintu diketuk, itu pasti Mama. Kak Reza pasti meminta bantuan pada Mama agar membantunya membujukku. Dia tahu aku lemah terhadap orang tua, terhadap renggekan Mama.
“Kanna!! Buka pintunya, sayang!”
Memanggilku sayang saat ada masalah pada anak kesayangannya. Yah, sudahlah. Tak ada alasan bagiku untuk kurang ajar pada orang tuaku.
Aku membuka pintu kamarku, Mama berdiri dengan wajah penuh kelegaan. Ia masuk dan menarik tanganku agar duduk di sampingnya.
“Kanna, tolonglah, Kakakmu.” pinta Mama.
“Tapi, Ma! Kalau terus dibiarkan seperti ini, kapan Reza akan belajar?!” Aku geram, kenapa dia begitu melindungi anak pertamanya itu?!
“Dia pasti akan belajar, Kanna. Mama mohon, setidaknya berikan saja setengah dari kebutuhannya saat ini. Supaya cicilannya tak terbengkalai. Kasihan Fifi kalau dia harus kepanasan karena tak lagi punya mobil.” Mama menjadikan Fifi keponakkanku sebagai alasan.
“Baiklah, akan aku berikan,” helaan panjang keluar dari mulutku. Aku malas meladeni mereka lagi. Toh, aku baru saja mendapatkan uang dari Zean. Rencananya uang itu untuk membeli perabotan, aku bisa meminjamnya dulu sembari menunggu gajiku cair.
“Terima kasih, Kanna. Kau memang anak baik.” wajah Mama yang semula tegang kini tampak girang dan berseri-seri.
“Ya, Ma.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman sumbang dan memilih untuk membenamkan diri pada selimut.
•
•
•
Malamnya aku duduk termenung pada kusen jendela. Menatap jendela pada rumah sebelah. Dulu aku selalu mengobrol dengan Leon saat sedang ada masalah. Kami saling mengulurkan tangan dan bergandengan. Perumaah yang sempit membuat jarak antar jendelanya tidak terlalu jauh.
Saat Leon mengulurkan tangannya ada rasa yang begitu hangat dan nyaman. Ia mengusir semua masalah demi masalah yang menghimpit hatiku. Memberikan kekuatan baru.
Aku kembali mengulurkan tanganku saat ini, namun aku hanya menangkap udara kosong. Tak ada lagi tangan yang menyambutku, tak ada lagi rasa hangat dan juga kenyamanan hati. Tak terasa air mataku menetes, hatiku sakit.
“Leon...,” tanpa sadar namanyanya yang aku sebut saat ini, bukan Zean.
“Aku merindukanmu, Leon. Andai saja kau tahu, betapa aku merasa bersalah kepadamu.”
— MUSE S3 —
Apa yang pernah terjadi dalam masa lalu mereka berdua?
Next episode, ya readers...
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️