
MUSE S5
EPISODE 33
S5 \~ MAIN
\~Nick merebahkan kepalanya pada cerukan leher Bella, menikmati aroma manis yang bercampur dengan kesegaran mint. Rambut halus di sekitar tengkuk Bella membuat Nick ingin menciumnya.\~
_________________________
AUTHOR POV
Bella menerima gandengan Nick begitu saja, rasa hangat yang menyalur membuat Bella merasa tenang dan aman. Mereka hanya diam tanpa kata sampai langkah kaki mereka berakhir pada sebuah rumah kecil di dekat pantai. Berdiri pada ujung bebatuan tebing. Separuh dindingnya dari kaca tempered tebal, separuh lagi perpaduan semen dan kayu bengkirai.
“Masuklah, Bella, maaf rumahnya berantakan.” Nick mempersilahkan Bella masuk ke dalam rumahnya.
Hal pertama yang Bella pandang adalah hamparan laut biru dan matahari sore yang mulai meredup. Matahari itu tak lagi keemasan, sudah berubah menjadi jingga kemerahan, masuk dan tenggelam pada lautan biru.
“WOW!!” Bella terkesima saat melihat pemandangan dari dalam rumah Nick.
“Kau melihat pemandangan menakjubkan ini setiap hari?” Bella menyatukan telapak tangannya di depan dada, terkesima.
“Iya, indah bukan? Matahari yang terbenam di kaki cakrawala?” Nick tersenyum ia membereskan kamarnya yang berantakan.
“Keren sekali, Nick!!” Bella memutar badannya, ia memandang ke arah lainnya. Matanya jelalatan ke seluruh ruangan.
Nick terkesiap saat menemukan majalah dewasa yang dibacanya beberapa hari yang lalu masih tergeletak di lantai. Nick bergerak perlahan untuk menyingkirkan majalah itu masuk ke dalam kolong kasurnya.
“Wah, ini semua koleksimu?” Bella beralih pada deretan action figur yang tertata rapi pada rak disply kaca. Ada ratusan model dengan berbagai macam karakter.
“Iya benar,” jawab Nick sembari menggeledah isi lemarinya.
“Ini totalnya berapa milyar, Nick?!” Bella mengamati semua koleksi mainan mahal itu.
“Entahlah, aku tak pernah menghitungnya. Ayo mandilah, ini baju kering dan handuk.” Nick memberikan setumpuk pakaian untuk Bella.
“Thanks.” Bella menerimanya dan bergegas membersihkan diri.
Setelah Bella masuk ke dalam kamar mandi, Nick langsung bergegas mengumpulkan semua majalh dewasanya dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur.
Shit!! Aku nggak mengira dia akan kemari, kenapa majalahnya banyak sekali, sih? Nick menggaruk kepalanya, baru sadar diri kalau kelakuannya gak punya akhlak! 😂
“Sedang apa, Nick?” Bella yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati Nick sedang berkutat sesuatu dengan kolong ranjang.
Duk!!
Kepalanya terantuk kolong.
“Aduh!” pekiknya pelan.
“Kau tak apa?”
“Ng—nggak kok!” gagap Nick panik.
“Kau tidak mandi?” Bella mengusap rambutnya dengan handuk.
“Oke, aku akan membersihkan diri.” Nick bangkit dan menyahut handuk dari jemuran.
Bella mengamati sekeliling kamar Nick. Melihat kamarnya yang sedikit berantakan membuat jiwa keibuan Bella meronta. Bella bergegas menata meja belajar Nick, ia juga merapikan dapur, dan membereskan ranjang.
“Apa ini?” Bella menemukan sebuah majalah di balik bantal Nick.
Mulut Bella mengangga terus tertutup kembali. Ia sedikit terkikih dengan hasil temuannya barusan. Ternyata walaupun pendiam Nick punya selera seperti ini.
“WAAA!!!” Nick menyahut majalah dewasanya dari tangan Bella.
“Sorry ... sorry ... nggak sengaja nemuin pas beres-beres.” Bella menahan tawanya.
Dih, malu banget!! Pikir Nick sebal karena ketahuan baca kaya gini di depan cewek yang di sukainya.
“Ini aku bikinin coklat panas. Maaf, ya aku sembarangan pakai dapurmu.” Bella menyerahkan satu gelas coklat panas pada tangan Nick.
“Th—thanks,” sahutnya masih dengan rasa malu.
“Puft ... wajahmu memerah!” Bella menunjuk pipi Nick dengan telunjuknya, membuat Nick gelagapan dan mundur ke belakang.
“Wah, kenapa kau kikuk sekali, Nick?!” Bella tertawa.
“Ck, siapa yang nggak kikuk berada di dalam satu ruangan dengan wanita secantik dirimu.” Nick membuang wajahnya yang menghangat. Ia mengambil hair dryer dari lemari penyimpanan di bawah rak kaca.
“Ck, kau bisa saja!” Bella menyesap coklatnya, wajahnya ikut menghangat.
“Kemarilah, Bella! Aku keringkan rambutmu.” Nick menarik tangan Bella, Bella menurut.
Bella bersila di lantai kayu, sedangkan Nick duduk di bibir ranjang. Tangannya sibuk mengeringkan rambut Bella yang basah. Setelah kering Nick mengambil sisir dan menyisir rambut Bella naik, menguncirnya dengan cekatan membentuk cepol. Setelah rapi Nick menancapkan hiasan rambut yang dibelinya tadi.
“Nah, selesai.” Nick memberikan kaca bulat pada Bella.
“Wah, Nick!! Kau terampil sekali?? Bahkan aku kalah rapi.” Bella terkikih.
“Aku punya adik perempuan, dia selalu memintaku menguncir rambutnya saat berangkat sekolah. Lama-lama jadi bisa,” jawab Nick bangga.
“Hiasan rambut ini bukankah ...?” Bella terkejut saat melihat hiasan rambut yang diberikan Nick. Saat perjalan pulang tadi Bella sempat meliriknya, namun dia tak membelinya karena harganya cukup mahal.
“Aku tahu kau menginginkannya.”
“Inikan mahal Nick.”
“Tapi sebanding untukmu, My Queen.” Nick mengelus kedua lengan Bella, ia sedikit membungkuk agar Bella bisa mendengarnya.
“Ach!!” Bella langsung melingsut lagi karena malu.
Nick terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memeluk Bella dari belakang. Ia ikut turun dan duduk di belakang Bella. Nick merebahkan kepalanya pada cerukan leher Bella, menikmati aroma manis yang bercampur dengan kesegaran mint. Rambut halus di sekitar tengkuk Bella membuat Nick ingin menciumnya.
“Maaf Bella. Aku memelukmu tanpa izin.”
...
Bella terdiam, entah kenapa perasaannya ikut larut saat merasakan tangan kokoh Nick melingkar di perutnya. Hembusan napas Nick yang panas membuat getaran halus mengalir dari tengkuk ke seluruh pembulu darah Bella.
“Ah, bagaimana kalau kita main?” Nick bangkit.
“Ma—main??” Bella agak bingung.
“Iya, main.”
“Ma-main apa?” Bella mundur.
“Main bareng, mengasyikan kok, kau pasti suka. Jangan menolak, ya, sudah lama aku nggak main.” Nick nyengir.
“Nick!! Aku diam bukan berarti mau menerima perasaanmu!!” Bella langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
“HAH??!” Nick bingung dengan respon Bella.
“Benar aku memang pekerja malam, tapi aku bukan wanita yang mau main dengan siapa saja?!” Bella bangkit dan hendak pergi dari pandangan Nick.
“Bella!! Tunggu!!!” Nick menahan sikut lengan Bella agar wanita itu mau mendengarkannya.
“Lepasin, Nick!” teriak Bella.
“Aku hanya ingin mengajakmu main ini!” Nick menunjuk konsole Playstation di depannya.
Bella mencelos, wajahnya memerah, ternyata dia salah sangka. Bella kira Nick mau mengajaknya main di atas ranjang.
“Eee ... main PS?” Bella memberjelas.
“Hoo, kau kira main apa? Main kuda-kudaan? Hahaha ...! Aku kira cuma Gabby wanita yang punya pikiran ngeres! Ternyata kau juga.” Nick tertawa lantang, membuat wajah Bella semakin merah.
“Ck!! Habis ucapanmu ambigu sekali!! Bilanglah mau main PS!” Bella nyolot, menyembunyikan rasa malunya.
“Dasar nggak mau ngakuin!” Nick menarik lengan Bella, mengajak Bella untuk duduk.
“Nick, aku tak pernah main game sebelumnya.” Bella duduk bersila, menatap layar monitor TV besar di depan ranjang Nick.
“Sudah, nanti aku ajari.” Nick memberikan kontrol gamer di tangan Bella.
Mereka berdua duduk di bibir ranjang. Bermain dengan riang. Pertama Bella sering kalah.
“Kalah terus, nggak mau main ah!” Bella merajuk.
“Sini aku ajarin!” Nick langsung menarik tubuh Bella agar duduk dalam pangkuannya.
Nick mengajarkan beberapa teknik bertarung pada Bella, menggenggam tangan Bella di atas stik game. Lama-lama Bella semakin ahli. Bella ketagihan memainkan game pertaruangan itu, membuat Nick sebal karena kalah beberapa kali dari Bella.
“Ah, kau pasti curang,” tuduh Nick.
“Kau saja yang payah.” Bella tertawa.
“Mengalahlah, Bella.” Nick menggelitik perut Bella.
“Tidak, masa cowok menyuruh seorang cewek mengalah?!” Bella cekikikan.
Nick dan Bella menikmati sore mereka dengan luapan perasaan dan rasa gembira. Nick tak sengaja menggulung tubuh Bella dan membuat mereka menggelinding jatuh dari ranjang.
BLUK!!
“Aduh!!” pekik Nick.
“Kau tidak apa-apa, Nick?” Bella menindih tubuh Nick.
“Tidak apa, hanya saja, em ... hanya saja lututmu menindih tepat di atas adik kecilku! Dan itu sakit Bella!” Nick menutup wajahnya dengan tangkupan tangan.
“WAAA!!! Maaf.” Bella langsung bangkit.
“Ach! Aduh!!”
“Sakit, ya?” tanya Bella sambil mengelus.
“Ja—jangan!!!”
“Ah, iya maaf.” Bella canggung, ia bergegas memutar tubuhnya, namun Nick menarik tangan Bella dan memeluknya.
Bella terbeblalak, Nick memandang Bella, ia mengelus wajah Bella dan mengangkat dagunya. Mereka saling mendekap dan memandang.
“Apa kau masih belum bisa membuka hatimu untukku, My Queen?” Nick mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Bella.
— MUSE S5 —
MUSE UP
AYO VOTE
AYO LIKE
AYO COMMENT
AUTHOR TU PENGENNYA DI KASIH SEMANGAT GT HLO 😘😘