MUSE

MUSE
SESAK



MUSE


EPISODE 27


SESAK


\~Bagaimana mungkin aku seegois ini.


Aku menghancurkan hatinya.


Aku menundukan kepalaku, menghindari tatapannya yang menusuk jiwaku\~


“Ok kerja bagus.” teriak fotografer di sambut riuh semua tim.


Take selesai, aku menghela nafas lega. Pemotretan hari ini menguras banyak tenaga. Banyak baju yang harus ku pakai untuk foto, sampai eneg rasanya. Aku melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 1 dini hari.


“Ini minum.” Jessi menyodorkan sebuah minuman dingin.


“Trims.” Aku meneguk terus sangking hausnya.


“Sudah sebulan ini Alex tak mengirimimu bunga.”


“Iya, aku lega.”


“Julius sudah nggak terlihat mengekor kamu lagi?” Jessi tertawa.


“Aku menyuruhnya berhenti, diakan harus bekerja juga.” Aku menenggak habis seluruh isi botol.


“Mau bersihin make up?” tawar Jessi.


“Boleh.”


Aku duduk di depan meja rias, Jessi mengoleskan milk cleanser dan memijat lembut kulit wajahku sebelum membasuhnya dengan face toner. Rasa dingin toner sangat nyaman di kulitku. Aku menikmati kenyamanan ini, setelah beberapa hari aku merasa paranoid karena Alex.


“Jes..”


“Huung??”


“Kapan jadwal kontrak kerja dengan Alex?”


“Masih 1 bulan lagi.”


“Dia tidak menghubungi ke kantor atau dirimu tentang konsep atau temanya?”


“Tidak. Belum mungkin.”


“Aku takut dia kelewatan.”


“Hei, Lenna.” Jessi memutar kursiku dan berhadapan dengan wajahnya.


“Apa?”


“Kau harus menyelesaikan semuanya, jangan menghindar terus dan ketakutan setiap hari.” Jessi menyerahkan tas dan jaketku.


“Iya.”


“Aku pasti mendampingimu. Yuk pulang aku mengantuk.” ajak Jessi.


Benarkan menemui Alex dan bicara baik-baik akan menjadi solusi terbaik dalam hubungan kami?


—MUSE—


Aku memandang keluar jendela mobil, jalanan mulai sepi karena sudah lewat jam tidur. Hanya remang-remang cahaya lampu jalan yang masih nampak setia berpenjar memberikan suasana hidup di kegelapan malam.


Entah kenapa tubuhku terasa sangat lemas, aku nggak bisa menahan kantukku. Aku tertidur karena lelah di dalam mobil.


CiiiiiT....!!!!!


Jessi mengijak dalam rem mobil membuat tubuh kami meloncat ke depan. Untung saja ada sabuk pengaman kalau nggak mungkin kepalaku sudah benjol segede bakso terantuk dashboard mobil. Jessi mengerem karena ada mobil sedan hitam yang memotong jalan tepat di depan mobil kami. Mobil itu berhenti.


“Jessi kamu nggak pa-pa?”


“Lenna kepalaku pusing?!”


Aku sangat kaget melihat Jessi yang terkulai lemas karena kepalanya membentur setir mobil. Aku berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya supaya tetap sadar.


“Jessi jangan pingsan. Jessi!!”


Aku panik, aku harus segera menelfon ambulan. Aku mengrayangi isi tasku untuk mencari ponsel. Seorang pria dengan masker hitam keluar dari dalam mobil dan mendekat.


Aku sangat ketakutan, dengan gemetaran aku memencet tombol apapun yang bisa kubisa.


Julius.. hanya namanya yang teringat di benakku.


Aku harus menghubunginya.


Tanganku gemetaran saat menyelipkan ponsel di dekat telingaku. Pria itu semakin mendekat dan kini tepat berdiri di sampingku. Perawakanya sangat tinggi, dia memakai pakaian serba hitam, aku tidak bisa melihat wajahnya karena topi dan masker hitam.


“Cepat angkat.. kumohon Julius.. cepat angkat.”


“Lenna.” akhirnya lelaki itu membuka maskernya.


Alex..


Aku membeku, bisa kulihat wajah Alex terpampang tepat di depanku. Spontan ponselku terjatuh, air mata dan keringat mengucur membasahi wajahku. Aku sangat terkejut melihat Alex, sampai-sampai tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutku.


PRAANK!!!


Alex memecahkan kaca jendela mobil dan membuka pintunya.


“KYAAA!!!” Aku berteriak. Dengan refleks aku membungkuk untuk menghindari pecahan kacanya.


“Ikut aku Lenna.” Alex menggenggam pergelangan tanganku.


“Tidak!! Jangan!!” Aku meronta.


“Ikut aku.” Alex menyeretku, tenaganya terlalu besar untuk aku lawan.


“TOLONG!! TOLONG AKU!!” Aku berteriak sekuat tenaga untuk minta bantuan. Namun jalanan tetap sepi, tidak ada seorangpun yang melintas.


Alex yang terlihat tak sabar menarik tubuhku dan membopongku masuk ke dalam mobil. Di mobil dia mengikatku dengan tali dari kain dan menutup mulutku dengan lakban.


Aku terus meronta dan menangis, namun Alex sama sekali tak menggubrisnya. Suara mesin mobil kembali hidup, Alex menyetir mobilnya masuk kembali ke dalam jalanan dan melaju dengan kencang. Hanya isak tangis yang terdengar selama perjalanan kami. Aku bahkan tidak tahu ke mana dia akan membawaku pergi.


—MUSE—


Aku terbangun setelah lelah semalaman menangis. Aku mengamati sekelilingku untuk mencari tahu keberadaanku. Aku ingat, ini adalah apartemen tempat tinggal Alex saat kuliah dulu. Berarti kami kembali ke kotaku. Apartemen itu tak berubah, tetap bersih dan rapi.


“Ugh..” Aku mencoba menarik tanganku, tapi sia-sia, tanganku masih terikat dengan kencang di headboard ranjang. Kakiku tidak diikat, aku menarik kakiku mendekat, berusaha membangun pertahanan terakhir.


“Kau sudah bangun?” Alex melihatku dengan tatapan yang lembut.


Wajahnya yang tampan dan imut menjauhkannya dari kesan kejam. Aku benar-benar nggak menyangka dia bisa berbuat sekejam ini dengan wajahnya yang imut.


“Lepasin aku, Alex!” Aku kembali meronta.


Alex tersenyum dan mendekat, dia memeluk tubuhku dan mencium pundakku.


“Kenapa kau ingin sekali pergi dariku?” tanya Alex.


Aku terdiam..


“Jawab, Lenna!”


“Aku membencimu,” jawabku marah.


Alex bangkit berdiri dan tertawa dengan kencang, suaranya memenuhi semua ruangan. Aku hanya bisa bergidik karena takut.


Tiba-tiba Alex memegang kepalanya dan tersungkur ke bawah, tangannya gemetaran. Dengan cepat dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa kapsul. Tanpa takaran Alex melahap obat-obat itu dan meminum segelas air. Air meluap jatuh membasahi kemeja putihnya.


“Ciuman itu adalah ciuman perpisahan! Aku mengajaknya berpisah karena aku menemukan cinta yang lain!!” setelah tenang karena efek obat suara Alex terdengar.


“Tapi kenapa??? Kenapa kau malah menolakku??” suaranya semakin lantang.


“Bahkan semenitpun kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya!! Untuk meminta maaf!!” Alex semakin mendekatiku, sampai akhirnya berlutut di depanku.


“Alex.. aku tahu aku salah, jangan begini.”


“Kau yang membuatku seperti ini!! Kau yang membuatku gila.” Dia mengelus pipiku dengan lembut, matanya memandangku dengan lekat. Hasrat dan obsesinya terlihat nyata melalui tatapannya, membuatku merinding.


“Alex.. aku mohon..”


“Aku minum obat setiap hari untuk menjaga perasaanku, menjaga otakku agar tidak hancur!!” Dia terisak di dadaku.


“Aku hancur Lenna!! Aku hancur tanpamu...” Alex menangis di dadaku.


Tanpa aku sadari aku juga menitikkan air mata.


Seharusnya dulu aku mendengarnya. Mendengar permintaan maafnya yang tulus.


Tapi aku lebih memilih untuk mengobati sakit hatiku sendiri dengan berpacaran dengan Julius.


Bagaimana mungkin aku seegois ini.


Aku menghancurkan hatinya.


Aku menundukan kepalaku, menghindari tatapannya yang menusuk jiwaku.


“Kembalilah bersamaku.” Alex mengangkat wajahku.


Aku diam saja, masih menangis, tak membalas pertanyaannya.


“Aku akan mencintaimu melebihi Julius mencintaimu.” Alex menempelkan dahinya di dahiku.


“Maafkan Aku Alex.. aku nggak bisa,” jawabku terbata-bata.


“Alex.. aku mohon. Lepaskan aku! Carilah cinta yang baru, jangan rusak hidupmu.” Aku terisak, seandainya saja tanganku tak terikat, aku pasti mengelus wajahnya.


“Aku hanya mau kamu, Lenna. Aku hanya mencintaimu.” Alex kembali merenggek dengan tatapannya yang sayu.


“Tapi aku sudah memiliki Julius di hatiku Alex. Aku mencintainya.”


Seketika itu juga Alex beranjak, dia berdiri dan membanting setiap barang yang tergeletak di atas meja. Aku kembali takut dan gemetaran.


“Kau harus menjadi miliku, Lenna.” Alex melepaskan kemejanya, tubuhnya yang dulu kurus kini terlihat lebih berisi dengan otot-otot yang kencang.


“Tidak, aku mohon jangan Alex.” Aku bergidik takut.


Alex meloncat naik ke atas tubuhku, aku sangat takut dengan situasi ini.


“Jangan Alex!! Lepasin.” Aku meronta- ronta saat Alex mulai mencium mulutku.


Dengan paksaan dia merobek bajuku, beberapa kancing terlempar dan menghilang. Aku menendang-nendangkan kakiku, namun tubuhnya jauh lebih berat dari dugaanku.


“Alex, hentikan..!!! TOLONG!!!” Aku berteriak.


“Padahal dulu kau pertama kali melakukannya dengan sangat lembut di sini. Kenapa sekarang kau menolakku seperti ini??” Alex kembali mengangkat wajahnya.


“Lepaskan aku!!!” Aku bersikeras.


Alex hanya diam sebentar dan kembali meluapkan hasratnya di atas tubuhku. Jamahan demi jamahan terasa menjijikan dan sangat menyakitkan. Penolakan, tendangan, cacian, dan tangisanku sama sekali tidak ada artinya.


“Sakit!!! Alex!!!” Aku hanya bisa merintih menahan perih dalam kesesakan.


“Seseorang kumohon tolong aku.”


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^


Kasih Votenya readers..