MUSE

MUSE
S2 ~ SECERCA HARAPAN



MUSE S2


EPISODE 80


S2 \~ SECERCA HARAPAN


\~ Aku hilang akal karena Kalila menolakku. Dia tak lagi punya perasaan apapun pada diriku. Dan aku merana, aku membutuhkannya sama seperti aku membutuhkan udara untuk hidup.\~


•••


Waktu seakan telah mengatur kepergianmu dari sisiku.


Kenapa dulu aku meninggalkanmu?


Aku menyesal telah pergi meninggalkanmu lebih dari beribu mil jauhnya. Melewati birunya langit dan luasnya lautan. Meninggalkanmu sendirian, meratapi dinginnya hujan dan kelamnya kehidupan.


Aku menyesal, Kalila.


Kalau bisa aku ingin menitipkan pada angin yang berhembus. Namun tetap saja kau tak pernah mendengar suara angin yang membawa pesan penyesalanku padamu.


Aku terbangun tiap malam karena merindukanmu. Aku memimpikanmu.


Aku tak tahu apakah kita bisa berjumpa lagi di masa depan. Namun aku selalu berharap kau memaafkanku, memberikanku sebuah kesempatan lagi.


Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Walaupun aku harus menunggumu sampai matipun aku rela.


Namun...,


Saat ku buka mataku, aku melihatmu bersamanya. Menari dalam derasnya hujan. Rintikkan hujan kala itu menjadi saksi akan penyesalanku.


Kenapa dulu aku meninggalkanmu?


Hari demi hari yang telah berlalu, menutup indahnya bunga cinta yang pernah mekar di dalam hatimu, sampai akhirnya menjadi layu dan tak berwujud.


— MUSE S2 —


•••


Aku tak tahan melihat dirinya yang begitu cantik dengan balutan dress berwarna hitam. Sayangnya dia memakai baju secantik itu bukan untukku. Tapi untuk Tuan Arvin.


Kalila memang terlihat lebih cantik belakangan ini. Lebih cantik dari pada saat ia berpacaran denganku dulu. Senyumannya yang merekah begitu manis, wajahnya semakin terlihat dewasa dan anggun. Pembawaannya yang riang telah kembali, ia terlihat begitu bahagia.


Aku menyukainya. Ya, aku menyukai semuanya. Bahkan caranya berjalanpun aku suka.


Tapi sekali lagi, dia berdandan bukan untukku....


Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak mencuri pandang ke arah Kalila saat berada di dalam mobil. Dia begitu menawan, begitu cantik, dan aku begitu menginginkannya.


Aku yakin dia masih memiliki perasaan padaku. Sedikit saja, aku hanya perlu sedikit saja.


Tak mungkin bukan semua kenangan indah yang pernah kami lalui bersama berlalu begitu saja?





“Kalila aku mencintaimu.” Aku akhirnya memutuskan untuk kembali mengejarnya. Mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Membiarkan perasaanku meluap ke luar.


Tanpa meminta izinnya aku mencium bibirnya. Kalila menolak, dan aku tetap memaksanya. Mencengkram erat lengannya dan memaksanya menerima bibirku.


Kenapa dia menolak?


Dulu dia selalu meminta ciuman itu kepadaku? Kenapa sekarang dia begitu membenci ciumanku?


Aku hilang akal karena Kalila menolakku. Dia tak lagi punya perasaan apapun pada diriku. Dan aku merana, aku membutuhkannya sama seperti aku membutuhkan udara untuk bertahan hidup.


Obsesi? Mungkin iya, mungkin juga tidak.


Yang pasti aku tak bisa hidup tanpanya. Aku tak ingin kembali terbangun dimalam hari untuk menyesali kepergiannya lagi. Dia terlalu berharga untukku.


Terlalu berharga...





“Bajingan!!!”


Arvin melayangkan tinjunya ke arahku. Aku tak memungkiri rasa marahnya, karena akupun begitu marah mengetahui Kalila lebih memilihnya.


Kami baku hantam, aku kalah darinya. Tenaganya begitu besar. Aku ingin berusaha, kembali bangkit untuk menyerangnya. Walaupun kepalaku terasa begitu pening dan jantungku berdebar tak karuan, tapi aku tak bisa menyerah saat ini.


Arvin kembali memukulku, memberikan serangan di sekujur tubuh dan juga wajahku. Kalila berteriak agar kami berhenti, namun suara hujan membungkam suara dan isakkan tangis Kalila.


Sorot mata Arvin memang penuh rasa kebencian. Ia seakan-akan ingin membunuhku saat itu juga. Kalila berusaha menghentikannya dan mengusirku. Semula aku menolak, aku masih bisa meladeni pertarungan ini, aku belum menyerah.


Namun melihat ketakutan dan air mata yang mengalir deras pada kedua pelupuk mata Kalila membuatku menyerah. Setidaknya aku tak ingin menyakiti hatinya dengan melihat kami beradu tinju.





Aku menggebrak-gebrak setir mobilku selama perjalanan pulang. Aku merasa kalah, aku pecundang! Aku tak bisa mengalahkan Arvin dan merebut Kalila.


Darah segar mengalir dari hidung, sudut bibir, dan juga pelipisku. Semua badanku terasa sakit dan linu. Namun yang paling sakit adalah hatiku. Rasanya terlalu perih sampai membuat perutku mual.


“BR***SEK!!!!” Aku mengumpat pada diriku sendiri, aku bodoh, aku penuh kekurangan!! Aku bahkan tak bisa mengalahkan Arvin dan membuat Kalila menjadi milikku lagi.


— MUSE S2 —


•••


Pagi itu aku terbangun dengan lunglai, botol alkohol berserakan di bawah ranjang. Entah sudah berapa banyak yang ku habiskan tadi malam.


Kepalaku terasa begitu berat dan pening. Rasa pegar bercampur dengan lebam dan kaku. Aku masih memakai kemeja yang bersimba darah. Sebenarnya tidak terlalu merah karena hujan telah membasuhnya.


Klontak, Klang!!


“Ah, sialan. Kenapa pusingnya tak mau menghilang?!” gumamku sebal.


Aku berjalan menuju ke pantry, menuang segelas air dingin dan meminumnya dengan segera. Menghabiskannya dengan cepat sampai airnya ikut meluber membasahi tubuhku.


Aku berjalan kembali untuk melihat diriku pada pantulan cermin di dalam kamar mandi.


“Menyedihkan sekali diriku,” pikirku.


Aku membuka semua pakaianku dan bergegas membersihkan diri. Aku menghapus semua sisa darah yang mengering. Sesekali aku meringis karena luka lebamnya tak sengaja tersentuh.


“Mungkin aku harus ke dokter,” sekali lagi aku bergumam.


Aku mengeringkan diri dan mengoleskan salep pada luka-luka lebam dan obat merah pada luka yang terbuka. Lalu aku membuang bajuku yang kotor karena darahku sendiri.


Aku kembali memikirkan Kalila. Apa yang terjadi padanya setelah aku pulang? Apakah dia baik-baik saja?


“Haruskah aku kembali menemuinya?”


Aku menyahut kunci mobil dan bergegas menuju ke apartemen Kalila.





Aku menunggu di depan apartemennya. Aku masih belum yakin apakah yang ku lakukan ini adalah hal yang benar? Aku meyakinkan diriku bahwa aku hanya mencoba menunggu dan mengetahui kabarnya saja. Apakah dia baik-baik saja semalam?


Suara sirine terdengar keras.


Sebuah ambulan datang lengkap dengan seorang dokter. Beberapa perawat laki-laki menggelar ranjang dorong dan masuk dengan tergesa-gesa ke dalam apartemen.


Tak lama kemudian mereka kembali terlihat, berlari kecil dengan seorang pasien di atas ranjang dorong.


“Tuan Arvin?!”


Arvin adalah orang yang mereka bawa. Sepertinya dia pingsan. Aku sendiri tak tahu kenapa?


Aku lebih mengkhawatirkan keadaan Kalila. Aku bergegas menuruni mobil dan melihat ke arah lantai lima. Kalila berdiri di balkon. Memandang kepergian Arvin. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena memang jarak kami terlalu jauh.


Namun satu hal yang pasti, aku harus menyusul dirinya.


Aku berlari masuk, menekan tombol angka lima beberapa kali. Lift naik, aku berusaha tenang dan mengatur napasku.


“C’on..., C’on...,”


Aku hanya mengira-ira saja berapa nomor kamar Kalila. Aku mengetuk satu-per satu kamar yang berada di koridor yang sama. Beberapa kali aku salah alamat, sampai akhirnya aku berdiri tepat di depan dirinya.


“Kalila?!” Aku terbelalak kaget melihat dirinya yang penuh dengan luka lebam.


“Mau apa kau ke sini, Ngga?”


“Aku mengkhawatirkanmu,” jawabku jujur.


Baji**an itu?! Apa yang telah ia perbuat pada Kalila? Kenapa wajahnya penuh dengan luka memar. Sialan!! Ini semua juga salahku, andai saja aku menahan diriku untuk tidak menciumnya, Arvin pasti tidak akan memukulnya.


“Aku baik-baik saja.” katanya.


“Kau bohong!! Kau tidak terlihat baik-baik saja,” kataku sedikit keras.


“Kau benar, aku tidak baik-baik saja.” Kalila menangis. Hatiku terluka melihatnya menangis.


“Maafkan aku Kalila. Andai saja aku tak menciummu semalam.” Aku memeluknya.


Kalila terisak di dalam pelukkanku.


Aku menggandengnya masuk ke dalam kamar. Membantunya duduk, aku berjongkok di depannya. Berusaha untuk menyalurkan ketenangan.


“Kalau mau menangis, menangis saja, La. Aku akan menemanimu menangis.”


“Hiks..., hiks...,” air mata Kalila jatuh tak terbendung. Isakkannya terdengar begitu memilukan bagiku.


Aku marah, ingin rasanya aku memukul diriku sendiri. Gara-gara emosiku, gara-gara cintaku aku menyakitinya.


“Kalila, lihat aku!!” Aku menyentuh wajahnya agar menatapku.


“Hiks...,”


“Kau akan baik-baik saja tanpanya, Kalila.”


“Tidak, Ngga. Aku hancur tanpanya.” Kalila menangis. Padahal dulu dia tidak terlihat sesakit ini saat berpisah denganku.


Jadi benar, rasa cintanya pada Arvin melebihi rasa cintanya padaku dulu.


“Ssstt..., aku akan membantumu melupakannya,” kupeluk dirinya erat.


Aku memejamkan mataku untuk menikmati aroma tubuhnya yang manis dan lembut.


Kesalahanku adalah aku telah mencium dan membuatnya menderita seperti ini.


Kebenaranku adalah aku punya sedikit kesempatan, secerca harapan untuk mendapatkannya kembali.


“Kau akan baik-baik saja, La,”


Hanya tepukkan ringan dan juga pelukan hangat yang bisa aku berikan saat ini. Tapi percayalah Kalila, aku bisa memberikan cinta yang sama besarnya sama seperti Arvin mencintaimu.


— MUSE S2 —


MUSE UP..


Hiks, dukung saya dengan vote Muse ya.


Yuk naikin rangking Muse sama-sama..


VOTE KALIAN BERARTI BANYAK BUAT SAYA!!!LOVE YOU READERS!! ❤️❤️


LIKE, dan COMMENTnya ya..


Yang banyak!!!


Makasih.