
MUSE
EPISODE 10
MODEL
\~Selama bisa bantuin orang lain kenapa nggak.\~
Aku melangkah masuk ke ruang ganti di sebuah studio foto. Banyak baju berwarna-warni dan berbagai macam assesoris. Seseorang wanita muda membantuku memakan pakaian, sebuah gaun model sabrina berwana peach polos dari bahan tile.
“Auch..” Aku mengaduh pelan saat wanita itu mengencangkan tali di belakang punggungku.
“Maaf.. tapi kalau ngga kencang ntar bodymu nggak kelihatan.”
“I..iya,” jawabku kikuk.
Baru kali ini aku menjadi sebuah model, rasanya benar- benar gugup. Semalam Julius menghubungiku dan memintaku bersiap untuk pemotretan. Tapi aku nggak nyangka bakalan siang ini dia menjemputku. Dan parahnya aku sama sekali nggak ada persiapan apapun.
“Oke sudah bagus, tinggal di make up in aja.” kata wanita itu, tangannya mendorongku pelan ke arah meja rias.
“Hei, Lan, ini modelnya, kau urus make up -nya, ya.” teriakannya membuat seorang wanita lain mendekatiku.
“Ah, kau cantik sekali.” pujinya kepadaku, suaranya terdengar lebih santai dibandingkan wanita yang pertama.
“Kulitmu halus dan putih. Mari kita lihat, oke mulai, ya.” wanita itu berguman sendiri saat mulai merias wajahku.
Aku hanya bisa pasrah dengan sentuhan-sentuhan di kulitku. Selama ini aku nggak pernah menggunakan make up lain selain lip tint. Selain karena kulitku yang spesial, aku takut kalau make up membuat kulitku iritasi.
“Wah susah ya, tone fondationnya banyak yang nggak masuk ke kulitmu.” ucapnya kebingungan.
“Su..susah ya..?” Aku mulai ikutan panik.
“Tunggu, aku nggak akan menyerah.” Dia berlari mengambil beberapa peralatan, dan botol-botol kecil berisi cairan make up yang aku nggak tahu apa namanya.
Setelah satu jam aku berdandan dan menata rambut, akhirnya tiba juga sesi foto.
Sebuah kalung bertahtakan batu ruby merah menyala dipasangkan ke leherku. Begitu cantik dan gemerlap, dalam hati aku merasa bangga juga memakainya.
“Oke, semua cek ya.. light.. 2nd camera?” seorang pria dengan kemeja biru terlihat mengatur barisan. Di lehernya terkalung sebuah kamera
Mereka menyorotkan lampu-lampu besar ke arahku, mataku sedikit menyipit untuk beradaptasi dengan cahayanya yang sangat terang.
“Maa..maaf tolong jangan terlalu terang,.” pintaku pada mereka.
Sang fotografer mengisyaratkan untuk menggeser lampu studio.
“Sudah siap?” tanyanya padaku.
“Sudah.” Aku mengangguk pelan.
Aku mulai berpose sesuai arahan dan gaya yang mereka ajarkan.
“Stop.. jangan terlalu kaku! Kita ulangi.”
“I..iya.”
Aku kembali mengulang gaya dari pengarah gaya.
“Haduh hasilnya nggak bagus, kurang natural.” Fotografer itu nampaknya mulai jenuh.
“Ma..maaf.”
“Jangan hanya meminta maaf, berusahalah.” bentaknya lagi.
Setelah beberapa kali pemotretan.
“Kenapa nggak pakai model profesional saja? Dia terlalu kaku.”
“Ini permintaan Presdir, Pak.”
“Hasilnya jelek semua.”
“Kita coba sekali lagi, Pak.”
Aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Ada rasa sedih yang menyeruak dari dalam hatiku,. Seakan- akan membangkitkan kenangan lama akan bullying dari teman-temanku dulu. Perutku mendadak menjadi mual dan berkeringat dingin.
“Kita istrahat dulu! 30 menit lagi take gambar ke 2.”
“Baik, Pak.” jawab semua kru.
Aku menghela nafas lega, masih menjaga agar air mataku tak mengalir keluar dan merusak make up -ku.
“Kau capek? Bisa tunggu di ruang rias.” Lanny, seorang MUA menyarankanku untuk istirahat.
Aku mencicing gaunku dan berlari menuju ruang make up. Kalau tahu akan seperti ini harusnya aku menolaknya. Harusnya aku nggak mau jadi modelnya.
“Ini minumlah.” Lanny memberikan segelas minuman hangat.
“Terima kasih.”
“Semangat ya. Semua model pernah mengalami pengalaman yang sama sepertimu.” Lanny menepuk pundakku pelan.
“Terima kasih, Kak,” senyumku.
“Keringatmu cukup banyak, kau sakit?” tanyanya lagi.
“Nggak, Kak, hanya gugup.”
“Kenapa gugup?”
“Banyak sekali orang yang melihatku, aku ngerasa nggak pede, Kak.”
“Hahahha.. coba tarik nafas panjang beberapa kali sebelum take foto.” Lanny tertawa dan memberiku masukan.
“Oke, Kak.”
“Semangat, kau pasti bisa.”
Aku membalas senyumannya.
Akhirnya fotografer kembali memanggilku masuk. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali aku melangkah masuk ke studio. Tanganku yang berkeringat dingin berangsur-angsur menjadi kembali hangat.
“Oke good, pertahanin posenya. Senyumnya lebih lebar lagi.” Fotografer memberi arahan sambil membidikan kameranya.
“Good, ganti posenya, lebih rendah dagunya, lebih naik pundaknya.”
Aku seperti menemukan semangatku kembali, setelah beberapa take dan pose mereka menyuruhku berganti baju.
“Kali ini dress hitam dengan potongan V neck tanpa lengan, di padukan dengan sarung tangan hitam.” asisten kostum kembali membantuku untuk memakai dress.
“Ada berapa baju lagi, Kak?” tanyaku.
“Kelihatnya 2 konsep lagi, jadi 2 dress lagi.”
“Apa?? Masih sebanyak itu???” Aku kaget mendengarnya.
“Yah begitulah, namanya juga model. Oke beres tinggal retouch make up.” Dia kembali mendorongku.
Aku kembali duduk menghadap sebuah kaca besar dengan lampu berjajar di sekelilingnya.
“Kelihatannya kamu sudah mulai dapet feelnya.” Lanny menghapus riasan mata dan bibirku.
“Lumayan, Kak, sudah nggak terlalu tegang.”
“Baguslah. Sekarang aku bikin agak tegas di area matanya.” Lanny mengoleskan eye shadow berwarna coklat dan maroon di sekitar mataku.
“Wah hebat, aku seperti orang yang berbeda.” Aku terkejut dengan perubahan yang terjadi pada wajahku.
“Dasarnya kamu sudah cantik, Len. Walaupun memang kulitmu spesial.” senyum Lanny.
“Ayo mulai take.” sahut assisten fotografer.
“Oke,” jawabku.
Aku kembali menapaki set dan properti dengan konsep lainnya, kali ini lebih terkesan berani dan menantang. Aku mengikuti arahan fotografer sebelum menentukan pose.
“Ntar agak mengdoak dikit, trus tangannya begini.”
“Oke..”
“Bisa dimulai?”
“Bisa, Pak.”
Akhirnya proses yang panjang dan melelahkan berakhir. Lanny membantuku menghapus make up dan berganti pakaian.
“Kau hebat untuk seukuran pemula.” pujinya.
“Hehehe.. terima kasih, Kak.” ucapku bahagia.
“Capek ya?”
“Iya capek sekali, lapar juga. Dari pagi aku nggak makan agar perutku kempes.” Ku pegang perutku sebagai isyarat lapar.
“Hahahah.. habis ini kau bisa makan yang banyak.”
“Iya.”
“Kau sudah punya pacar, Len? Pasti banyak yang suka padamu?”
“Itu pujian atau sindiran, Kak?”
“Pujianlah.”
“Kakak nggak lihat keadaanku? Orang seperti aku mana ada yang mau?”
“Apa aku menyakiti hatimu?” Lanny kembali bertanya.
“Lenna, semua orang berhak mencintai dan dicintai. Termasuk dirimu. Jadi jangan minder, suatu saat pasti ada orang yang mencintai dan menerima keadaanmu apa adanya.” Kak Lanny berjongkok di hadapanku, menggenggam erat jari jemariku.
“Terima kasih, Kak.”
“Oke sudah beres, kau bisa berkemas dan pulang.”
“Sekali lagi terima kasih.”
“Hati-hati.”
“Kakak juga.”
Akhirnya aku melangkah keluar dari gedung studi foto dan hendak menelfon pak Gino.
“Hei.. sudah selesai? Ayo aku antar pulang.” sebuah suara menghentikan niatku menelfon pak Gino. Ternyata Julius sudah menungguku di depan.
“Hah?? I..iya.” Aku menerima begitu saja ajakan Julius.
“Bagaimana pemotretannya?” Julius memulai pembicaraan kami sesaat setelah mobil melesat.
“Lumayan,” jawabku lirih.
“Kelihatannya kau cocok jadi model.”
“Nggak kok, gaya dan poseku masih kaku.”
Aku enggan untuk mengakui, takut dia akan memanfaatkanku kembali.
Kruyuk.... bunyi cacing yang telah berubah menjadi naga terdengar nyaring dari dalam perutku.
“Mau makan?” Julius terkikik pelan.
“Bo..boleh, aku lapar sekali.” Demi makanan aku membuang harga diriku.
“Kau mau makan apa?” tanyanya kembali.
“Burger, ayam, daging, pizza, semuanya terdengar menarik.” Aku nggak bisa memutuskan ingin makan apa karena semuanya memang terlihat menarik.
“Junk foodsemua??!”
“Kau nggak suka? Kan enak.” Aku memohon dengan mata anjing, jurus ampuh saat minta sesuatu ke Papa.
“Oke, terserah kamu mau makan apa.” Julius memutar stirnya dan berhenti di BK, resto cepat saji yang menyediakan hidangan utama burger dan kentang goreng.
“Mau pesan apa?”
“Beef burger 1, ekstra cheese, french fries, cola dan ice cream,” pintaku panjang lebar.
“Perutmu muat makan itu semua?” Julius memandangku heran.
“Muat.”
“Aje Gileee.. Mantab bener.” Dia mengacungkan ke dua jempolnya padaku.
“Kamu pesan apa?”
“Air mineral saja.”
“Apa? Kamu nggak makan?”
“Nggak, aku anti makan makanan seperti itu.”
Julius memesan makanan yang sama persis dengan apa yang ku ucapkan, di membayar semuanya dan hanya minum air mineral.
“Aku jadi nggak enak hati, nih, makan sendiri.”
“Perkataan dan kelakuanmu bertolak belakang.” katanya saat melihatku memakan burger dengan lahap.
“Huhisna ennak hehali. (Habisnya enak sekali)”
“Tolong kau telan dulu makanannya, muncrat semua.”
Julius masih memandangku dengan heran, tapi sorot matanya yang tajam memang sangat mempesona. Jadi aku nggak keberatan dia melirik ke arahku.
“Kenyang banget,” seruku bahagia.
“Sudah makannya?”
“Sudah, kamu beneran nggak makan apapun?” Aku mengulang pertanyaan yang sama.
“Aku nggak suka makan makanan sampah kaya gini, nilai gizi dan kalorinya nggak worth it dengan rasanya.”
“Idih.. trus bisa makan apa?”
“Sayuran, buah, daging atau ikan kukus, sup, dll.”
“Nggak enak banget.”
“Yang pentingkan sehat.”
“Nggak bikin happy. Nggak happy nggak sehat juga.” Aku meledeknya.
“Sudah ayo pulang.”
“Oke.” Aku meneguk cola terakhir dari gelas dan menyusul Julius berdiri.
Julius melihatku sebentar dan kembali ke meja, di mengambil nampanku dan membuang bungkus sisa makanan ke tong sampah dan mengembalikan nampannya di dekat kasir.
“Kenapa? Kan bisa di beresin pelayan,” tanyku heran.
“Selama kau bisa membantu mereka kenapa nggak?” Julius mencuci tangannya dan berjalan keluar.
Ternyata dia benar-benar pria yang unik, penuh perhatin dan orang yang hangat. Aku kira dia hanya orang aneh yang suka seenaknya sendiri, gila kerja, gila kebersihan, healty freak, dan pejuang tumbler. Ternyata dia lebih dari sekedar itu.
“Kau hebat.” Aku mengacungkan kedua jempolku, meniru caranya memuji nafsu makanku tadi.
“Nggak ada yang spesial kok. Selama bisa bantuin orang lain kenapa nggak.”
“Pemikiran yang luwar biyasah..”
“Ayo masuk!” ajaknya.
Aku kembali memasuki mobil sport hitam dan melesat menuju ke rumahku. Di dalam kami nggak banyak berbicara, dia berkonsentrasi menyetir sedangakan aku berkonsentrasi dengan ponselku.
“Alex lama ngga chat,” pikirku kesal, kesal dengan diriku yang hanya bisa menunggu.
“Sudah sampai.” perkataannya membuyarkan lamunanku.
“Oh sampai, ya.”
“Hasil fotonya akan keluar besok, kita pilih berdua.”
“Hah?? Aku agak gugup dengan hasilnya.”
“Tenang aja, kalau jelek tinggal foto ulang.”
“Apa??? Lagi??” Aku terkejut, ternyata bakalan ada babak ke duanya.
“Oke.. masuklah istirahat.”
“Terima kasih atas makanannya, saya pulang dulu, Om,” pamitku.
“Jangan panggil Om!” serunya sebal.
“Hla trus panggil apa?”
“Julius saja.”
“Nggak sopan donk.”
“Kalau gitu kakak saja.”
“Kau terlalu tua untuk ku panggil kakak, bayangin aja, aku TK kamu sudah kuliah.”
“Plis, beda cuman 12 th, nggak bisa juga dipanggil OM!!!” serunya lagi.
“Narsis juga kamu, Om!” godaku.
“Ingat hutangmu 50juta.”
“Iya ampun kakak, saya budak anda,” dengusku sebal.
“Sana..pulang sana..”
Aku membanting pintu mobil dengan agak keras.
“Hei.. ntar kalau lecet hutangnya nambah hlo.”
“Week.. bodo amat.” Aku menjulurkan lidahku dan berlari masuk ke dalam rumah.
Julius menyapa Papa dengan lambaian tangannya sebelum meninggalkan kompleks rumahku. Papa juga kelihatan sedikit heran karena aku bisa pulang dengan Julius.
“Darimana tadi? Kok bisa barengan sama Julius.”
“Oh.. bertemu di jalan, Pa.” Aku mengunggah senyum manis dan langsung berlari naik. Takut Papa menanyakan hal-hal lainnya.
— MUSE —
Like dan comment Readers
Bagi vote buat muse ya..
Biar muse tambah femes
❤️❤️❤️