MUSE

MUSE
S6 ~ BERMAIN API



MUSE S6


EPISODE 10


S6 \~ BERMAIN API


\~Krystal menikmatinya, rasa yang sangat ia rindukan itu kembali terasa memenuhi hati juga tubuhnya. Desiran halus menggelitik sekujur tubuhnya, menghujaninya dengan kenikmatan. \~


____________________


(Jangan lupa like dan vote, trus kasih komentar membangun setelah baca ya, gaes!!❤️)


•••


Beberapa hari yang lalu ...


Ivander sedang membaca beberapa dokumen perencanaan. Ia mengecek ada beberapa kejanggalan dalam rencana kerja yang diajukan.


“Kris, ke ruangan saya sekarang!” Ivander menyalakan intercom nya.


“Baik, Presdir,” jawab sekretaris Ivander.


Tak lama seorang wanita berkepala tiga masuk ke dalam. Ia memakai blezer outih dan sepatu heels tinggi. Dengan tangkas ia mendekati Ivander, hendak bertanya apa yang dibutuhkan oleh atasannya itu.


“Siapa yang merencanakan pembangunan cabang baru ini?” Ivander dengan geram melemparkan file case di atas mejanya. Membuat bunyi gaduh dan wanita itu berjengit ketakutan.


“Tu—tuan Adrian, Presdir,” jawabnya gelagapan.


“Ck, mau berulah apa lagi anak itu?! Tak tahukan dia kalau konsepnya mirip sekali dengan pihak pesaing?! Panggil dia kemari!”


“Baik, Presdir.”


“Anak itu!! Kenapa sembarangan sekali! Aku sudah mengarahkannya berkali-kali!” Ivander menjambak rambutnya, frustasi.


Zean meminta Ivander untuk menjaga Adrian, Ivander selalu menjadi pembersih masalah adiknya itu. Bukannya membaik semakin lama Adrian malah semakin tidak dewasa, tak bisa mengelola perusahaan dengan baik. Cenderung melakukan kesalahan-kesalahan kecil namun berakibat fatal.


Seperti kali ini, Adrian ingin membangun cabang baru dengan konsep yang mirip dengan pesaing. Alih-alih untung mereka pasti akan dituntut dengan tuduhan pencurian konsep. Belum lagi masalah dengan pihak pemerintah daerah. Izin pengerjaannya pasti susah di dapat karena Adrian membangunnya di wilayah padat penduduk.


“Kau memanggilku?” tanya Adrian.


“Apa-apaan ini, Adrian?” Ivander melemparkan file casenya ke arah Adrian.


“Itu perencanaan cabang baru,” jawab Ivander.


“Ck, apa kau tak berpikir jauh ke depannya? Bagaimana kita menjual barang di sana? Bagaimana tanggapan warga sekitar? Bagaimana tanggapan pemerintah? Lalu kenapa bisa konsep daganganmu mirip sekali dengan perusahaan pesaing???” Cerca Ivander, Adrian mengepalkan tangannya, menahan amarah.


....


“JAWAB AKU!” bentak Ivander.


....


Adrian masih terdiam, ia tak bisa membalas ucapan kakaknya karena memang itu salahnya. Ia tak mempelajari kondisi sekitar dan hanya percaya pada bawahannya merancang konsep tanpa mengeceknya. Adrian cenderung ceroboh, terlalu percaya pada bawahannya.


“Kau bisa menghancurkan nama baik perusahaan kita, Adrian! Mau sampai kapan aku menjadi baby sitermu?? Membersihkan semua kesalahanmu?? Mulailah belajar!! Mulailah mandiri!” tutur Ivander dengan nada tinggi, tujuannya hanya ingin mendidik adiknya.


“Kak, aku ...,”


“Sudahlah!! Sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku akan membuangmu ke kantor cabang yang paling plosok!” Ivander keluar dari ruangannya dengan geram.


“Sialan!!” umpat Adrian. Ia memandang nanar kepergian Ivander.


Adrian mengacak rambutnya sebal, nalurinya sebagai pembisnis memang tidak setajam Ivander. Seakan apapun yang ia lakukan selalu saja salah di mata Ivander, membuatnya muak dan patah semangat. Adrian memang sebenarnya tidak ingin berkuliah pada jurusan bisnis, bisnis bukanlah bakatnya. Sayangnya Mira terus mendorongnya menjalani kehidupan ini, demi ambisinya untuk mengambil seluruh hak waris kekayaan dari Zean.


“Kenapa hidupku suram sekali?!” Adrian menutup wajahnya dengan tangkupan tangan.


“Aku berharap bisa menyingkirkannya dari hidupku!!” geram Adrian.





Kekesalan Adrian seakan bertambah saat rapat umum tahunan para pemegang saham di perusahaannya diadakan. Mereka memilih rapat besar itu diadakan di ballroom hotel mewah keluarganya di kawasan tengah kota.


Hati Adrian kesal karena saat itu, Zean mengumumkan pengunduran dirinya dan mengangkat Ivander sebagai penerusnya. Ia memberikan semuanya kepada Ivander, perusahaan, aset, dan juga tonggak kepemimpinan. Adrian harus menahan amarah tergurat pada wajahnya agar tak mendapatkan cercaan dari para kolega bisnis dan pemegang saham.


Akhirnya rapat yang memuakkan itu berakhir. Sorak sorai pujian dan juga ucapan selamat mengalir deras untuk Ivander. Adrian mengendurkan dasinya lalu keluar dari ruang rapat. Wajahnya memerah karena menahan amarah.


Saat ia hendak masuk ke dalam lift menuju ke roof bar, Krystal tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Adrian?!”


“Krystal?!”


Pertemuan dengan sahabat membuat Adrian melupakan sejenak amarah dan juga kekesalannya. Ia berjalan dan mengobrol ringan dengan Krystal, bertanya seputar hal-hal umum tentang kehidupan wanita cantik itu saat ini.


“Kau sepertinya sedang geram akan sesuatu? Apa yang terjadi?” Krystal mengajak Adrian duduk bersama.


“Papa dan Kakakku membuatku muak! Sialan itu! Ingin rasanya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Adrian mengumpat, ia membanting tubuhnya pada sofa di lobby hotel. Krystal mengikutinya duduk.


“Siapa yang ingin kau bunuh?” Tiba-tiba sebuah suara keras membuat keduanya berpaling, melihat ke arah sumber suara itu.


“Ivander?!” Mata Krystal melebar, sebuah senyuman terulas di wajah cantiknya.


“Siapa kau?”


“Ck, Aku Krystal! Kau tak mengingatku? Jahat sekali!” decak Krystal.


“Ah, iya aku ingat, Si Rambut Coklat, maaf, kau sekarang sangat cantik, aku sampai tak bisa menggenalimu,” gombal Ivander.


“Tak apa, lagian sudah lama kita tidak bertemu,” jawab Krystal, ia tahu Ivander hanya merayunya, tapi entah kenapa Krystal tetap saja suka mendengarnya.


“Ayo pergi dari sini, Krys.” Ajak Adrian.


“Tunggu, Adrian!” Krystal mengehempaskan tangan Adrian dan mendatangi Ivander.


“Boleh aku minta nomormu lagi, Van?” Krystal mengeluarkan ponselnya.


“Sure, Mi Amore!” Ivander tersenyum, ia menerima ponsel Krystal dan mengetik nomornya.


“Thanks, bye, Van. Aku akan menghubungimu.” Krystal tampak bahagia.


“Bye, Krystal. Aku menantikannya.”


Adrian berdecis, baik Ivander maupun Krystal sama saja. Keduanya sangat memuakkan di mata Adrian. Yang satu arogan dan mata keranjang, yang satu naif dan buta karena cinta.


Sungguh pemandangan yang memuakkan dan menyebalkan. Ingin rasanya aku mengubur mereka berdua bersamaan. Pikir Adrian sebal.


— MUSE S6 —


Seperti janji Krystal pada Hyung, ia menjemput pria ramah itu malam ini. Mengajaknya makan malam. Krystal mengajak Gabby, entah apa yang sedang Krystal rencanakan malam ini.


“Kenapa kau mengajakku? Kaliankan sedang berpacaran?” tanya Gabby di dalam mobil, dia tak ingin menjadi pengganggu juga obat nyamuk saat Krystal pacaran.


“Hihihi, aku butuh bantuanmu untuk mengalihkan perhatiannya.” Kikih Krystal.


“Memangnya kau mau ke mana? Ada urusan apa? Ngapain?” cerca Gabby.


“Aku mau bertemu dengan Ivander.”


Cciiiittt!!!!


Gabby langsung mengerem mobilnya!!


“Auch!!” Krystal terantuk.


“Apaan sih, Gab?” Krystal mengelus jidatnya yang membekas merah.


“APA, KRYS? APA AKU TAK SALAH DENGAR?! IVANDER??!” teriak Gabby.


“Ck, masa harus aku ulangi?” Krystal melipat tangannya sebal.


“Kau jangan gila??!!”


“Ssstt ... sudah ayo menyetir saja.” Krystal menepuk pundak Gabby. Gabby kembali melajukan mobilnya. Mobil sedan mulus itu kembali membelah jalanan ibu kota.


“Krys, bukannya Hyung sudah melamarmu dan kau sudah menerimanya? Kenapa masih mencari masalah? Kenapa masih berhubungan dengan Ivander?!” Gabby mencerca Krystal, namun wanita berambut ikal ini malah menutup telinganya seakan tak mau mengindahkan nasehat Gabby,


“Gabby, kaukan tahu betapa aku mencintai Ivander.”


“Tapi, Krystal!! Dia b4jingan?!”


“Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali ini saja, Gabby. Setelah itu aku akan kembali pada Hyung seakan tak pernah terjadi apapun.”


“Sadar, Krystal. Itu berarti kau mengkhianatinya, kau akan membuatnya kecewa!!” seru Gabby.


“Tidak, kalau Hyung tidak tahu. Ku mohon, Gabby, sekali ini saja, bantu aku. Aku hanya ingin menemui Ivander sekali ini saja. Aku ingin menjawab rasa penasaran di dalam hatiku ini. Kumohon!!” Krystal mengiba, ia terus merenggek kepada Gabby.


“Krys, aku tak bisa mendukung tindakan bodohmu itu! Hyung pria baik dan kau akan menyesali tindakkanmu bila harus kehilangannya,” ucap Gabby. Sebenarnya hatinya juga tidak rela Krystal kembali menemui Ivander, dia hanya meminjam nama Hyung untuk menyembunyikan rasa cemburunya.


“Gab, aku tak pernah benar-benar bisa mencintai pria lain selain Ivander. Mereka hanya pelampiasanku,” tukas Krystal.


“Tapi dia mencintaimu.”


“Lebih baik dicintai dari pada mencintai.” Gabby melirihkan ucapannya, hatinya begitu tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, sakit dan menderita.


“Ah, sudahlah! Pokoknya bantu aku kali ini saja!! Aku janji ini yang terakhir kalinya aku menemui Ivander.” Krystal mengecup pipi Gabby, berusaha mencari simpatinya. Kecupan itu membuat hati Gabby luluh, ia tak lagi berkutik di hadapan Krystal.


“Aku tahan selama yang aku bisa! Segeralah kembali dan jangan berbuat macam-macam!” Gabby memperingatkan Krystal.


“Tentu saja, Gabby!” sorak Krystal girang.





Tak lama mobil berbelok pada basement parkir mobil di area hotel. Krystal dan Gabby bergegas naik ke lantai teratas, tempat restoran fine dinning terletak.


Mereka berdua duduk, menikmati hidangan yang telah dipesan. Krystal hanya memilih salad, sedangkan ia memesankan steak untuk Hyung. Gabby juga ikut memesan steak dengan sour cream dan juga lemon butter. Mereka bercakap sebentar, tak lama Krystal mulai sibuk dengan ponselnya.


“Gabby, aku pergi, beri aku waktu! Setengah jam saja.”


“Lama sekali?!” Gabby protes, alisnya tertaut.


“Aku akan kembali secepat mungkin.” Krystal kembali berbisik.


“Segeralah kembali!! Jangan aneh-aneh!! Bicara seadanya saja.”


“Kami tak bicara Gabby!!” Senyum Krystal, ia mengecup dahi Gabby dan juga Hyung bergantian.


“Sory, Oppa. Aku ke toilet dulu ya, perutku sakit.”


“Kau tidak apa-apa? Mau aku carikan obat?”


“Tidak perlu, hanya mulas.”


“Oh, baiklah.” Hyung mengangguk.


Krystal mengerling pada Gabby lalu meninggalkan keduanya. Gabby menghela napas panjang, ia terpaksa harus mendekati pria berbeda kebangsaan itu. Pertama memang sedikit canggung, tapi tak di sangka, Hyung adalah orang dengan wawasan luas dan sangat suka bercerita. Ia menceritakan semua pengalamannya, bahkan dia dulu pernah belajar menerbangkan pesawat tempur di pangkalan Angkatan Udara saat wamil. Cerita Hyung membuat Gabby tak kesusahan mencari bahan pembicaraan, waktu seakan mengalir begitu saja karena sikap ramah Jae Hyung.


Dalam hati Gabby merasa kasihan pada pria ini. Dia tak tahu bahwa saat ini Krystal tengan mengobrol dengan pria lain. Gabby sendiri tak tahu kalau nyatanya Krystal tak hanya sekedar mengobrol dengan Ivander.





KRYSTAL :


Di mana?


IVANDER :


Kamar no 1405


KRYSTAL :


OTW


Krystal memencet tombol lift pada angka 14, dengan segera ia berlari menyelusuri koridor dan berdiri di depan kamar no 1405. Krystal merapikan rambutnya sebelum mengetuk pintu.


“Halo, cantik,” sapa Ivander saat melihat Krystal. Bahu Krystal masih naik turun karena berusaha mengatur napasnya.


“Waktuku hanya sebentar.”


“Oh, ya?”


Tanpa basa basi Ivander menarik masuk tangan Krystal dan mendorongnya pada pintu. Membuat dentuman pelan saat pintu terkunci otomatis. Ivander langsung melumatt bibir tipis Krystal, meraupnya dengan cepat dan dalam. Krystal menikmatinya, rasa yang sangat ia rindukan itu kembali terasa memenuhi hati juga tubuhnya. Desiran halus menggelitik sekujur tubuhnya, menghujaninya dengan kenikmatan.


“Ahh ..., Van,” rancau Krystal saat Ivander mulai melucuti pakaiannya.


“Kau pintar merancau sekarang, huh?!” Ivander melepaskan kaosnya sendiri, menampilkan tubuh atletis yang selalu menggiurkan bagi para wanita.


“Ayo cepat lakukan! Puaskan aku, Van! Waktuku tidak banyak.” Krystal menyesaap perlahan bibir Ivander, Ivander membalasnya, memainkan lidahnya di dalam mulut Krystal.


“Baiklah!!” Ivander menggendong Krystal, melemparkannya ke atas ranjang.


Dengan segera ia membuka kedua kaki jenjang Krystal yang mulus dan mulai menghujamkan tubuhnya ke dalam tubuh Krystal. Cepat dan penuh gairah, membuat Krystal terus melayang dalam luapan rasa nikmat yang tak terlukiskan.


“Ah, aku sudah tak tahan lagi Van!” Rancau Krystal, ia menarik turun bahu Ivander agar pria itu mencium bibirnya saat mencapai puncak kenikmatan.


“Tahan sebentar lagi! Kita lakukan bersama, OK!” Ivander menggulumm mesra bibir Krystal, membuat wanita ini seakan begitu dicintai.


“Argh!!”





Krystal merapikan baju dan juga rambutnya. Waktunya bermain dengan Ivander ternyata lebih dari 30 menit. Krystal mengumpati dirinya sendiri, Gabby pasti marah padanya.


“Kau sudah punya tunangan?” Ivander memeluk Krystal dari belakang.


“Ah, iya.” Krystal melihat cincin yang melingkar pada jari manisnya.


“Kau sudah tak mencintaiku?”


“Siapa bilang? Aku sangat mencintaimu, Van, tapi kau membuangku dulu.”


“Dulu kau polos dan naif, Krystal. Kau membosankan, tapi kau yang sekarang berbeda. Begitu cantik, seksi, dan menggairahkan.” Ivander mengecup pipi Krystal.


“Apa kau serius dengan perkataanmu?” Wajah Krystal menghangat.


“Tentu saja, sayangnya kau milik orang lain.” Ivander melepaskan pelukkannya.


“Van, aku bisa memutuskannya asal kau mau menerimaku kembali.”


“Jangan bodoh, Krystal. Aku tak suka wanita yang suka berkhianat.” Ivander duduk, tangannya mengencangkan tali jubah mandinya.


“Bukankah tapi rasanya lebih seru bermain dengan seorang pengkhianat?” Dengan nakal Krystal menggoda Ivander.


“Kau benar.” Mereka kembali berpanggutan.


“Baiklah, aku harus pergi. Sampai bertemu lagi, Van,” pamit Krystal. Ivander mengangguk.





“Ah itu dia datang.” Gabby menunjuk ke arah Krystal yang berjalan cepat ke arah mereka.


“Sorry, Oppa! Perutku sakit sekali.” Krystal kembali duduk pada kursinya.


“Apa kau yakin tak perlu obat atau ke dokter? Keringatmu banyak sekali?” Hyung mengelapkan sapu tangannya pada dahi Krystal. Tentu saja dia berkeringat, permainannya dengan Ivander begitu panas.


“Aku tidak apa-apa, Oppa!” Krystal menepis tangan Hyung.


“Krystal!” Gabby menatap sebal pada Krystal, ia sudah mengkhianati Hyung dan kini malah bersikap kasar pada pria itu.


“Maafkan aku, Oppa, perutku sakit karena menstruasi, mungkin aku emosi karena PMS.” Krystal berbohong.


“Ah, begitu.”


“Baiklah, ayo kita pulang. Bukankah banyak tempat yang harus kita kunjungi besok?” Krystal beranjak dari tempatnya duduk.


“Krystal, kenapa dengan lehermu?” Hyung menyentuh leher Krystal yang berwarna merah kebiruan.


Mata Gabby mendelik, dengan cepat ia mengambil roll on minyak kayu putih dan mengoleskannya pada noda itu.


“Kau pasti di gigit nyamuk, ya?!” Gabby mengolesakan terus.


“Nyamuk?” Hyung bingung.


“Di Indo banyak nyamuk,” jawab Gabby dengan lugas, dia harus berbohong demi melindungi Krystal.


“I—iya nyamuk!” Krystal menutup lehernya dengan kerah.


“Kenapa kau bodoh sekali?!!” Gabby berbisik di telinga Krystal.


“Aku tak menyangka dia akan meninggalkan kiss mark padaku,” lirih Krystal sebal.


“Jangan bermain api lagi, Krystal! Kau tahu bahayanya!”


“Iya, iya, bawel.” Dengus Krystal.


— MUSE S6 —


Yukz di like, comment, and vote!!!


Hihihhi...