MUSE

MUSE
S4 ~ KEN & RA



MUSE S4


EPISODE 4


S4 \~ KEN & RA


\~ Walaupun aku masih belum bisa mempercayai telingaku. Satu hal yang aku tau, baik Ken dan Ra adalah Keano. Dan alasan itu bagiku sudah cukup untuk mencintai kedua priabadi itu.\~


____________________


“Turun!!” Keano menyuruhku turun dengan kasar, bukan Ken sih, lebih tepatnya Ra.


“Kasar banget!!” protesku padanya.


“Inget, ya! Besok lagi jangan bikin orang lain rugi gara-gara tingkah konyolmu.” Ra menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.


“Ken..., kau salah makan apa?!” sumpah aku benar-benar keheranan dengan perubahan sikap Ken yang begitu ekstream.


“Dibilang aku Ra!! Bukan Ken!! Budeg atau oon, sih?” umpatnya padaku, kata-katanya kasar sekali. Padahal Ken sama sekali tak pernah berkata kasar padaku.


“Kasar banget!” pikirku keheranan.


“Trus kalau kamu Ra, di mana Ken?” Aku berusaha menanggapi lelucon konyol Keano.


“Dia tidur di sini!” Ra menunjuk dadanya.


“Apa? Kau gila, ya?” Wah, bisa-bisa aku ikut ketularan gila, nih.


“Di jawab malah nyolot. Sudah, ah, males ngeladenin, aku mau pulang!” Ra kembali menyetarter motor vespanya, suara cempreng mesin motor langsung menggema di depan rumah mewah keluargaku.


“Pergi sana!! Besok nggak usah jemput!!” Aku menendang motor vespa kuning cerah miliknya itu.


“Siapa juga yang mau jemput?!!” liriknya sebal karena aku menendang motor kesayangannya.


Ra melesat pergi menyisakan asap kendaraan yang cukup tebal. Dia sengaja membuat asap itu mengepul untuk membalasku.


“Ohok!! Ohok!!” asapnya membuatku terbatuk.


Aku mendengus pelan, belum pernah aku bertengkar dengan Keano sebelumnya. Itu karena Ken terlalu lembut, dia selalu mengalah saat aku ngambek ataupun marah. Kini hatiku sedikit sakit lantaran cowok yang biasanya sangat lembut itu bisa berubah jadi begitu keras.


“Ck, Kenapa dengan Ken? Apa kepalanya sedikit oleng karena pukulan si muka badak?” Aku berdencis sambil berpikir keras.


Aku kembali acuh dengan pikiranku tentangnya. Aku bergegas masuk ke dalam rumah, tak sabar memakan masakkan Mommy. Perutku keroncongan karena MOS yang menjemukan. Mana aku masih harus melewati dua hari lagi masa orientasi siswa itu.


“Mom, laper.” seruku lantang.


“Inggrid, sopan sedikit, sayang. Kau itu anak perempuan.” Mommy Kalila bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke meja makan.


“Hari ini masak apa?” tanyaku antusias.


“Pepes jamur, ikan goreng, sama sayur bening.” Mommy mengambil sepiring nasi dan memberikannya kepadaku.


“How is your day, baby?!” tiba-tiba Daddy memeluk Mommy dan mengecup dahiku.


“Arvin! Kau pulang cepat?” Mommy kaget.


“Yup, sekalin jemput Nick (13), Gabby (11), dan Levin (8).” jawab Daddy. Di belakangnya mengekor adik-adikku, haduh mereka masih seperti anak bebek saja.


“Kau tampak sewot, girl? Bagaimana sekolahmu di hari pertama?” Daddy mengulangi pertanyaannya.


“Kelihatan?” tanyaku, aku memang kepikiran dengan perubahan sikap Keano.


“Mau cerita?” Mommy ikut menunggu.


“Nope!! I can handle it by myself.” Aku tak mungkin bercerita pada mereka bahwa Ken berubah menjadi Ra. Mereka akan mengira Keano dan Inggrid sudah s*nting.


“Ok, selesaikan makan siangmu, girl.” Daddy merangkul Mommy dan hendak menggiringnya masuk ke dalam kamar.


“Ini masih siang!” Mommy mengetok kepala Daddy dengan sendok.


“Ck.” decak Daddy sebal keinginannya tak dipenuhi, namun tetap saja memaksa Mommy.


Aku menggelangkan kepalaku melihat kelakuan mereka. Sepertinya hanya aku yang sudah mengerti dengan apa yang akan mereka lakukan. Aku mengamati Bi Iyem sibuk menyiapkan makan siang untuk adik-adikku. Mereka duduk dengan rapi dan mulai makan.


“Kak Inggrid! Apa kau tau kalau Daddy dan Mommy tiap hari bermain bersama?” Levin, adik terkecilku membuka pertanyaan.


“Uhuk... uhuk,” pertanyaannya sukses membuatku tersedak, cepat-cepat aku meminum air putih.


“Mommy berteriak setiap malam, memangnya mereka main apa, Kak?” tanya Levin sambil mengunyah nasinya.


Brruusshh!!!


Aku menyemprotkan air yang ku minum. Bi Iyem juga sama melongonya mendengar pertanyaan polos Levin.


“Mereka main tembak-tembakan!!” jawab Nick sambil cekikikan.


“NICK!!!” bentakku.


“Ck, bener kok.” Nick tersenyum licik, anak ini sudah mengerti rupanya.


“Sudah jangan nanya lagi! Kakak juga nggak mengerti! Makan saja!” jawabku.


“Kenapa Mommy dan Daddy bermain tapi tak mengajak kita?!” Gabby ikutan bertanya.


“Gabby!!! Makan!” bentakku.


Oke, fix, lebih baik aku kabur sebelum para krucil ini menghujaniku dengan pertanyaan yang tak bisa ku jawab. Dan lebih baik aku memberi tau Daddy dan Mommy untuk lebih mengontrol hubungan mereka. Adik-adikku lebih kritis dibanding yang mereka tau.


— MUSE S4 —


•••


Aku merebahkan diri di atas kasur empuk. Rasa segar sehabis mandi membuatku mengantuk. Tapi aku tak bisa tidur, aku masih kepikiran dengan perubahan sikap Ken siang tadi. Ingin tau alasannya tapi aku malas menghubunginya terlebih dahulu. Dasar cewek! Maunya apa?


“Arg!! Sebal!!” Aku melingsut ke kanan dan ke kiri, mencari posisi yang pas untuk tidur. Namun pikiran tentang Ken dan Ra kembali muncul.


Aku kembali bangun, menyahut jaket jeans dan juga topi baseball. Tak lupa tas berisi peralatan perang dan juga skuba masker. Aku mengendap-endap turun ke bawah, memastikan Daddy dan Mommy tidak ada di ruang keluarga.


“Yes, mereka nggak ada!” cepat-cepat aku memakai sepatu kets putih dan mengambil sketboardku.


Aku memacu papan seluncur itu di jalanan datar, mengayunkan kakiku beberapa kali supaya papan itu mendapatkan daya dorong. Aku memindahkan kakiku ke depan lalu kebelakang, kadang ke kanan, lalu ke kiri. Tergantung bagaimana kondisi jalan dan arah yang mau aku tempuh. Sesekali aku menginjak bagian belakangnya untuk mengerem di penyebrangan jalan.


Tak butuh waktu lama saat aku menghampiri sekelompok anak muda dengan tampilan eksentrik. Penuh tatto, penuh tindikan, dan rambut berwarna-warni. Yup, mereka sama sepertiku, anak-anak pecinta freedom art, mereka sama kurang kerjaannya denganku.


Di luar penampilan mereka yang serampangan, mereka sangat baik hati. Mereka tak membedakan status dan juga golongan. Setidaknya aku merasa nyaman berteman dengan mereka dibandingkan dengan teman-teman SMP ku dulu. Saat SMP temanku selalu saja bertanya apa merk bajumu, merk tasmu, dan apa mobil yang kau pakai. Padahal aku tak pernah pergi ke sekolah dengan mobil, selalu dengan sketboardku karena jarak rumah dan sekolahan cukup dekat. Lagi pula sketboard lebih ramah lingkungan dan tak menimbulkan polusi.


“Hai, Inggrid!! Sudah lama nggak kelihatan?” Niel mengajakku berhigh five.


“Iya, kami merindukanmu, nuna!” Nael ikutan memelukku.


Mereka si kembar Nael dan Niel, si ganteng dari Ausi. Selain mereka ada Karen, Momo, dan Ara, para gadis dengan sifat yang hampir sama denganku. Kami berenam adalah anak-anak penuh dengan kreativitas dan imajinasi.


“Bodyguardmu nggak ikutan?” tanya Momo.


“Ken?”


“Biasanya dia selalu mengikutimu seperti anak bebek.” Momo terkikih.


“Momo naksir, andai saja dia bukan milikmu, Kak! Momo pasti sudah mendekatinya.” bisik Ara.


“Ck, jangan bikin Kak Inggrid salah paham donk!” senggol Momo. Sebenarnya kami satu angkatan, tapi karena aku terlahir di bulan januari jadi mereka memanggilku nuna/kakak perempuan.


“Ayo kita mulai, ada spot bagus di belakang kantor walikota.” ajak Karen, dia seorang mahasiswi jurusan arkeologi. Dia yang paling tua di antara kami.


“Oke,” jawabku antusias.


Kami berenam memacu papan seluncur, otoped, dan juga e-bike kami masing-masing menuju ke belakang kantor Walikota. Karen bilang dinding yang memutari perkantoran itu sangat putih dan mulus seperti kulit sapi. Mudah untuk di gambar.


“Tidak Kak, aku sudah menyuruh orang mematikan CCTV mereka.” ujar Nael, Ah, aku lupa, Nael dan Niel adalah orang kaya. Papa dan Mama mereka lebih kaya dari Daddy dan Mommyku.


“Oke deh.”


“Ini pake.” Niel membagi masker sebelum kami melancarkan aksi kami.


Seperti biasa, Nael dan Niel bertugas mengoplos cat, Momo dan Ara membersihkan dinding, aku dan Kak Karen membuat sketsa gambar sebelum kami memindahnya ke dinding.


Jalanan terlihat sangat sepi. Ara memindahkan sket gambar dan menggambarnya pada dinding. Niel memangku Ara pada pundaknya agar tubuh mungil Ara bisa menyentuh bagian yang tinggi. Niel adalah pacar Ara, mereka baru saja jadian beberapa bulan belakangan.


Kami bercanda sesekali saling menggoda. Tak lupa bermain cat semprot dan menyemprotkannya ke dinding. Membuat gradasi warna-warna yang cantik. Merah, biru, ungu, kuning, dan banyak warna tajam lainnya.


Hari ini kami menggambar tree of life, di bawahnya ada sebuah kalimat. A tree for two yang artinya satu pohon bisa memberikan kehidupan pada dua orang manusia. Jadi sayangi pohon, sayangi alam, karena pohon yang memberimu oksigen untuk hidup.


PRRRIIITTT!!!!


tiba-tiba suara peluit satpol PP mengagetkan kami. Sepontan kami menoleh dan menelan ludah.


“Ayo cepetan kabur!!” Ajak Karen.


“Cepetan!!” Seruku pada semuanya.


Namun sudah terlalu terlambat untuk kabur. Mereka berhasil mengejar kami. Terpaksa kami menyerah dan mengikuti mereka ke kantor polisi.


“Kalian bilang sudah mematikan CCTV nya?” tanyaku sewot pada Nael dan Niel.


“Sudah kok! Mungkin mereka lagi berpatroli.” Niel menggerutu sebal.


“Ck, kalian ma enak tinggal telepon pengacara! Aku mau telepon siapa?” Aku menendang krikil kecil saat digiring masuk ke mobil tahanan. Benar sih Daddyku kaya raya, tapi dia sudah bilang tak akan lagi menolongku kalau aku kembali masuk ke tahanan anak-anak.


“Telepon Kak Ken. Suru dia jadi penjaminmu, Kak.” usul Momo, idenya boleh juga. Tapi aku masih takut, bagaimana kalau Ken masih sekasar tadi?


“Dari pada mendekam di kantor polisi dan ketauan Graps Arvin.” Ara terkikih, Ara sebenarnya masih saudaraku. Dia anak Kak Arron. Walaupun seumuran tapi kami beda pangkat.


“Baiklah,” nampaknya aku memang tak punya pilihan.


Sesampainya di kantor polisi dan memberikan beberapa keterangan. Mereka memberiku izin untuk menghubungi anggota keluarga yang bisa menjaminku. Sebenarnya aku malu mau menghubungi Ken, lantaran tadi siang dia sudah membentakku dan berkata dengan mata tajamnya, “Inget, ya! Besok lagi jangan bikin orang lain rugi gara-gara tingkah konyolmu!”


Dih, nyebelin banget sih? Walau sebal aku tak punya pihan. Aku memencet tombol hijau pada nomor ponselnya.


“Hallo, Inggrid.” sapanya lembut, apakah Ken sudah kembali normal?


“Ken, apa kau bisa menolongku?” tanyaku langsung.


“Ada apa? Kau di mana?” cerca Ken panik. Ah, manisnya, dia mengkhawatirkan diriku.


“Aku di kantor polisi, Ken,” jawabku agak malu.


“Kau tertangkap lagi?!”


“Iya, aku butuh penjamin. Ken tolong aku, kaukan sudah punya KTP.” Aku mengiba padanya.


“Baiklah, tunggu aku ke sana, ya.” Ken menutup teleponnya.


Aku tersenyum, Ken sudah kembali lembut padaku. Membuatku perasaanku kembali bahagia.





Setelah beberapa laporan dan wejangan panjang, pihak kantor kepolisian melepaskan kami. Nael, Niel, Ara, dan Momo sudah lebih dahulu keluar. Karen masih bersama dengan pacarnya, proses penjaminannya cukup lama karena Karen dianggap sudah dewasa.


“Huft..., berhenti membuatku khawatir Inggrid!” Ken mendenguskan napasnya.


“Maaf, habisnya aku nggak bisa tidur. Aku baper, kau marah padaku siang tadi!” Aku mengikuti langkah kakinya, sedikit menunduk juga karena malu. Ken menghentikan langkah kakinya, membuatku spontan menabrak punggungnya


“Apa, Ra, menyakitimu?” Ken memandangku dengan mata hitamnya dari balik kaca mata.


“Ken!!” bentakku, kenapa masih membahas soal Ra lagi?!! Sepertinya dia belum puas bercanda seharian denganku.


“Inggrid, aku mau ngomong sesuatu.” Ken menarik tanganku untuk duduk dibangku taman.


“Kenapa?” Aku heran karena wajah Ken terlihat sangat serius.


Ken mengambil napas panjang, seakan-akan sedang menyiapkan hatinya. Aku ikutan menelan ludahku beberapa kali, tubuhku ikutan menegang.


“Aku punya satu lagi kepribadian, namanya Ra.” Ken membuatku mengangkat alis karena keheranan.


“Ini leluconkan? Kau hanya menggodakukan, Ken?”


“Tidak, Inggrid. Ra sudah muncul dari saat aku kehilangan Papa. Selama ini aku terus berusaha menekan Ra. Tapi akhir-akhir ini dia terus muncul.” Ken menutup wajahnya dengan telapak tangan, seakan frustasi dengan keadaannya.


“Jadi ini serius?” Aku menjatuhkan sketboardku.


“Iya, Ra semakin sering muncul. Dulu hanya saat aku melepaskan kaca mataku dia muncul. Sekarang tanpa melepaskan kaca matapun alter ego -ku bisa dengan mudah mengambil alih tubuhku.” Ken mengangkat wajahnya, alisnya menurun, seakan memintaku untuk percaya padanya.


“Jadi Ra itu nyata?? Dia bagian dari dirimu?” tanyaku kembali dengan heran. Aku menggoncangkan tubuhnya.


“Iya, Inggrid. Dan aku takut dia menyakitimu. Dia pernah berkata padaku kalau dia tak menyukaimu.”


“Omo!!” kututup mulutku yang mengangga.


“Please, Inggrid. Kalau aku berubah menjadi Ra, jauhi saja.” Ken bangkit dan memelukku.


“Ken. Mana bisa? Aku mencintai semuanya yang ada pada dirimu. Kalau Ra juga adalah bagian dari Keano. Tentu aku juga akan mencintainya.” Aku membalas dekapannya.


“Inggrid? Ken dan Ra berbeda sifat.” Ken mengelus wajahku dengan tangannya.


“Tapi mereka berdua sama-sama Keano.” Aku menggenggam tangannya yang menyentuh wajahku.


“Maafkan aku, Inggrid.”


“Kenapa meminta maaf?”


“Aku bukan manusia normal.”


“Siapa bilang? Kau sangat normal, Ken?”


“Kepribadian ganda bukan hal yang normal Inggrid! Jangan menyangkalnya!” Ken menunduk malu.


“Kita perbaiki, OK. Kita cari jalan keluarnya.” Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.


Walaupun aku masih susah mencerna ucapan Keano. Walaupun aku masih bingung dengan situasinya. Walaupun aku masih belum bisa mempercayai telingaku. Satu hal yang aku tau, baik Ken dan Ra adalah Keano. Dan ku kira alasan itu sudah cukup bagiku untuk mencintai kedua pribadi Keano.


Namun aku salah...., karena ternyata Ra sangat menyebalkan!!!!!!


— MUSE S4 —


Ada yang tau Nael dan Niel anak siapa? Saya kasih cium kalau tau. 🤣😂


Bagi VOTE gaes


Bagi LIKE gaes


Bagi COMMENT gaes


Bagi BINTANG 5 Gaes


Jangan lupa share ya,


Love dee ❤️❤️❤️