MUSE

MUSE
S7 ~ FAREL



MUSE S7


EPISODE 14


S7 \~ FAREL


Bengkel tak menghasilkan banyak uang. Mereka kadang juga mengikuti balapan liar agar mendapatkan uang taruhan. Juga dengan modifikasi motor, setidaknya bertahun-tahun menggeluti area balap membuat pria itu punya keahlian.


__________________


Satu Minggu yang lalu.


Hujan turun dengan deras. Leoni baru saja selesai memeriksakan kakinya. Matahari pun telah tumbang, mulai menghilang di balik awan kelabu. Leon terlihat sibuk mengurus administrasi sambil sesekali menerima panggilan telepon.


“Kanna, bisa kau gantikan aku mengurus administrasi? Pembeli dari Jepang terus meneleponku. Sambungannya sedikit sulit di dalam sini.” Leon memberi kode pada istrinya. Memang benar sinyalnya sedikit sulit dalam tebalnya dinding keramik rumah sakit.


“Oke,” jawab Kanna.


“Tunggu di sini ya Sayang! Mama urus administrasi dan tebus obatmu.” Kanna mewanti-wanti Leoni.


“Leoni ke toilet sebentar, ya, Ma.” Kanna mengangguk memberi ijin.


Leoni dengan sedikit tertatih menuju ke toilet yang terletak pada ujung koridor. Membuang hasrat yang terpendam sembari tadi. Sekalian membersihkan sepatu yang terciprat oleh air hujan.


Saat keluar dari pintu toilet, seorang bocah lelaki yang wajahnya tidak asing berlari dari tikungan koridor melewati Leoni. Bajunya basah kuyup karena hujan, rambut ala spartan-nya basah dan kempes. Masih mengenakan baju seragam yang sama dengan Leoni.


“Ack!! Farel?!” Panggil Leoni.


Farel mengerem, lalu menoleh, ia melihat Leoni. Lalu kembali berlari, acuh. Bukannya sombong, tapi memang ada hal mendesak yang harus segera ia kejar.


“Dia kenapa?” Leoni lantas mengambil inisiatif untuk mengejar Farel.


Leoni berlari mengikuti jejak air yang menetes pada lantai keramik. Sudah pastilah air itu dari seragam Farel yang kuyup. Jejak itu benar-benar membawa Leoni menemui Farel, Teman sekelasnya. Temannya itu berdiri di depan ruang operasi.


Farel terlihat ngos-ngosan, bahunya naik turun mengatur napas. Sepertinya bocah remaja itu benar-benar berlari sepanjang jalan menuju ke rumah sakit.


“Ayah bagaimana, Kak? Kenapa bisa terjatuh?” tanya Farel pada seorang remaja lain yang jauh lebih tua. Kira-kira seumuran Nick, abangnya Levin.


“Kakak juga nggak tahu, Dek! Tadi Ayah bilang mau ikut temannya yang kerja di pembangunan. Mau cari tambahan uang karena bengkel sedang sepi.” Firza menepuk pundak adiknya, wajahnya terlihat sama pucatnya.


Ayah Firza dan Farel memiliki sebuah bengkel otomotif kecil. Ayahnya adalah seorang mantan pembalap yang telah pensiun karena cidera lutut parah akibat kecelakaan dalam lapangan. Lalu setelah karirnya gagal, istrinya kabur dengan pria lain sampai akhirnya bercerai.


Farel sering mengalami kekerasan fisik dari ayahnya saat kecil. Kehilangan sosok istri dan ibu dalam rumah tangga membuat mental ayah Farel menjadi labil. Ia sering marah-marah dan menjadikan Firza dan Farel sebagai sasaran kemarahannya.


Setelah bisa melupakan istrinya. Pria itu berusaha menata diri. Membuka kembali lembaran kehidupan bersama kedua anaknya yang masih remaja. Bengkel itu adalah uang sisa kemenangan terakhir ayah Farel. Firza kakaknya putus sekolah dan membantu Ayahnya bekerja di bengkel.


Bengkel tak menghasilkan banyak uang. Mereka kadang juga mengikuti balapan liar agar mendapatkan hasil uang taruhan. Juga dengan modifikasi motor, setidaknya bertahun-tahun menggeluti area balap membuat pria itu punya keahlian.


Dan kemarin, area balap digrebek oleh polisi, banyak yang tertangkap. Pastinya tak akan ada pertandingan untuk beberapa hari ke depan. Bengkel juga sedang sepi karena tanggal tua. Terpaksa ia pergi meminta pekerjaan pada seorang teman. Menjadi kuli pekerja bangunan pun mau. Tapi naas, bukannya memperoleh upah, karena hujan ia tergelincir dan jatuh dari lantai dua.


“Tadi pas jaga bengkel tiba-tiba mandor lapangan menelepon Kakak. Ia bilang ayah mengalami kecelakaan kerja.” Firza menyesal harus menyampaikan hal ini pada adiknya.


“Begitu aku sampai dirumah kalian tidak ada, Bibi penjual nasi bungkus bilang Ayah kecelakaan.” Farel hampir menangis.


“Sudah-sudah! Ayah pasti baik-baik saja.” Firza mengelus pucuk kepala Farel.


“Bagaimana dengan biayanya, Kak?”


“Karena Ayah bukan pekerja tetap, Ayah tak bisa mendapatkan jaminan sosial keselamatan kerja dari perusahaan kontraktor itu. Jadi kita harus menanggungnya sendiri, Rel.” Firza menurunkan bahunya, begitu pula Farel.


Leoni menguping pembicaraan mereka dari balik tikungan koridor. Dengan perlahan Leoni beranjak dari sana. Gadis remaja itu tahu betul bahwa Farel sedang membutuhkan bantuannya. Leoni berlari kembali kepada kedua orang tuanya.


“Ya ampun Leoni!! Papa dan Mama mencarimu ke mana-mana.” Kanna berkacak pinggang, gadis itu sudah tahu kakinya sakit. Izin ke kamar mandi malah keluyuran entah kemana. Membuat panik dan bingung saja.


“Perutmu sakit? Kenapa lama sekali ke toilet?” Leon ikutan gusar.


“Tidak, Pa, Ma. Leoni mau cerita!”


Jadi begitulah, Leoni menceritakan kesulitan yang dialami Farel teman sekelas mereka pada orang tuanya. Akhirnya Leon dan Kanna memutuskan untuk membantu biaya pengobatan Ayah Farel.


...— MUSE S7 —...


Koridor rumah sakit begitu suram dan sunyi. Detik demi detik yang terdengar berasa bertahun-tahun lamanya. Farel terduduk di lantai, bersandar pada dinding keramik. Menanti Ayahnya keluar dari balik pintu baja ruang operasi. Firza sedang mengurus administrasi bersama dengan Leon dan Kanna.


“Hei,” sapa Leoni. Ia duduk di samping Farel.


“Hei,” Farel tak tahu harus mengatakan apa, dia sering sekali mengejek Leoni di sekolah karena ikut-ikut Levin. Dan kini, lihatlah, gadis itu duduk di sampingnya, bahkan memberikan bantuan saat dirasa tak ada lagi harapan.


“Bajumu basah. Kau bisa masuk angin,” ujar Leoni.


“Hmm, tak apa. Tidak terlalu basah, lagi pula seragam ini tipis. Pasti cepat kering,” kata Farel.


Leoni melepaskan jaket berwarna ungu pastel dari tubuhnya. Ada gambar unicorn yang imut. “Pakailah! Jangan sampai masuk angin, kau masih harus menjaga Ayahmu kan.” Leoni menyodorkan jaket itu pada Farel.


“Tidak usah.”


“Kenapa? Apa karena warna dan gambarnya?”


“Bu—bukan.”


“Ya sudah, pakai saja! Toh aku hanya meminjamkannya, kau harus mengembalikannya padaku.” Leoni tersenyum.


“Cepat ganti bajumu! Pakai jaket itu.” Leoni bangkit meninggalkan Farel.


Tak lama keduanya kembali bertemu. Leoni terkikih pelan melihat penampilan Farel. Cowok yang biasanya tengil dan juga serampangan itu bisa juga terlihat imut dalam balutan jaket perempuan.


“Kenapa tertawa? Pasti aneh ya?” Farel menengok penampilannya.


“Tidak kok, aku hanya merasa geli karena kau sangat imut.” Leoni terkikih. Ia kembali duduk di samping Farel.


“Kau bawa apa?” Farel tergelitik dengan aroma yang muncul dari barang bawaan Leoni.


“Kata Mama ini akan menyita banyak waktu. Jadi aku membeli makanan untuk kita berdua.” Leoni mengeluarkan dua buah mi cup instan beserta dua gelas teh panas.


“Dapat dari mana?”


“Mini market 24 jam.” Leoni mengeluarkan sumpit dan juga sendok plastik.


“Baunya enak.”


“Tentu saja, aku menambahkan telur. Lihat, aromanya menggiurkan.” Leoni membuka cup pembungkus mie. Uap air panas yang beraroma lngsung merebak memenuhi koridor. Membuat perut Farel berbunyi.


“Makanlah! Kau pasti laparkan karena kedinginan.” Leoni juga membuka miliknya.


“Terima kasih ya.” Farel menerima mi instan dari tangan Leoni.


“Enakkan? Aku paling suka ditambah telur dan sosis. Tapi Mama sering cerewet kalau aku makan mi instan terlalu banyak.” Leoni mengupas sosis siap makan masuk ke dalam mi panas Farel.


Mereka berdua menikmati mi instan sambil ditemani gemericik bunyi tempias hujan. Keduanya mengobrol cukup asyik, suasana sudah tak lagi mencekam. Farel terlihat jauh lebih ceria. Keduanya bercerita tentang kehidupan masing-masing yang bertolak belakang sangat jauh.


“Satu hal yang sama dari kita. Kita sama-sama bodoh.” Leoni terkekeh, keduanya pada posisi rankking tiga dan dua dari bawah.


“Benar.” Farel ikut terkikih.


Tak lama ruang operasi terbuka. Seorang dokter dengan pakaian serba hijau membuka maskernya. Lalu tersenyum pada Farel.


“Halo, Nak. Ayahmu baik-baik saja. Kakinya yang patah telah tersambung kembali. Walaupun terlihat bengkak tapi tidak ada pendarahan internal pada dadanya, untuk jaga-jaga kami memasang korset. Dan cidera di kepalanya juga tidak parah. Hanya luka luar.” Dokter itu menepuk pundak Farel. Membuat Farel melemas karena kelegaan yang membuncah.


“Terima kasih dokter.”


“Sama-sama.” Dokter itu pergi meninggalkan Farel yang hampir menangis bahagia.


“Papamu baik-baik saja, Farel!! Hore!!” Leoni riang dan memeluk Farel.


“I—iya,” gagap Farel, wajahnya menghangat.


“Ack!!” Leoni terpekik, sangking senangnya ia lupa kalau kakinya masih sakit.





Beberapa hari kemudian Farel datang menjenguk Leoni, mengembalikan jaket yang telah dicuci bersih. Farel bahkan merendamnya dengan satu sachet pewangi pakaian.


“Terima kasih, Singa,” ucap Farel tulus.


“Sama-sama, Farel.”


Mereka berdua menjadi dekat sejak peristiwa itu. Lalu beberapa hari kemudian, saat ayah Farel keluar dari rumah sakit. Keluarga Farel kembali bertandang. Mengucapkan rasa terima kasih pada keluarga Leon.


“Tidak, tidak merepotkan. Anak kami sekelas dengan anak Anda. Kita keluarga. Dan keluarga harus saling tolong menolong. Lain kali berhati-hatilah, Tuan. Anak-anak Anda masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang Ayah.” Leon mengutarakan isi hatinya sebelum pergi ke Jepang.


“Terima kasih, Leoni.” Farel dan keluarganya hendak pamit.


“Hei!! Apa kau hanya bisa berkata terima kasih?” Leoni tertawa.


“Apa kakimu sudah sembuh?”


“Sudah.”


“Baguslah, kapan kau akan masuk sekolah?”


“Mungkin hari Senin.”


“Aku akan menantimu,” ucap Farel malu-malu.


“Oke. See you at school.”


Namun lusanya, saat hari Minggu malam, Farel malah telah bertemu dengan Leoni pada stan bengkel miliknya. Leoni datang bersama dengan Levin. Bagaimana Farel tidak panik dengan penampilannya saat ini?


“Apa mukaku sudah bersih?!” tanya Farel.


...— MUSE S7 —...


...Ah, Farel So cute!!!...


...Come to mommy baby 😘😘😘...